The Broken Heart Club (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Donny terbangun dari tidurnya, dia tidak tahu sekarang jam berapa, kamar tidurnya kacau balau. Tirai tebal di jendela kamarnya masih tertutup rapat. Sudah 3 hari ia mengurung diri di kamarnya, tidur belasan jam dan tak melakukan apa apa.

Dengan lunglai ia turun dari tempat tidurnya, kepalanya terasa berat. Tubuh 1/2 telanjangnya sudah 3 hari tak terkena air. AC kamar non-stop menyala seolah menjadi alasan agar dia tak perlu mandi. Dengan langkah diseret dia masuk ke dalam kamar mandi. Disekanya wajahnya dengan air dari wastafel, ia juga menggosok gigi seadanya. Air membasahi sekitar wastafel juga lantai. Shower box juga whirpool terlihat kering karena 3 hari tak dipakai. Di dalam whirpool berserakan botol shampoo, botol sabun cair dan handuk.

Donny kembali beringsut menuju tempat tidurnya, dia menjatuhkan diri diranjang dengan posisi tengkurap dan kembali tertidur. Kamar Donny bagai kapal pecah, semua berserakan. Lelaki berusia 29 tahun ini terkenal rapih namun kondisi di sekelilingnya saat ini seolah menunjukan bahwa ia lelaki jorok, sangat jorok dan frustasi.

*****

Anton dan Dina sepasang kekasih, keduanya adalah sahabat dekat Donny. Mereka sudah 3 hari tak mendengar kabar Donny, berulang kali datang ke cafe resto milik Donny tetap tak nampak batang hidungnya. “Bapak sudah 3 hari tidak ke sini mas” Jawab Manager. “Ditelpon ke HP juga tidak bisa, ditelpon ke rumah tidak diangkat, mungkin bapak ke luar negri” lanjut Manager mengira-ngira. Anton dan Dina tidak yakin Donny ke luar negri tanpa pesan, tiap hari pasti mereka saling berkirim kabar, baik telpon, sms atau bbm. Sungguh ada yang nggak beres.

Kedua sejoli sudah berada di depan rumah Donny. Bangunan bergaya etnik modern itu senyap. lantai satu sebagai area parkir nampak lengang, demikian juga lantai dua dan tiga. Anton memegang kunci serep dan dibukanya pagar. Saat membuka pintu garasi dilihatnya 2 buah mobil Donny terparkir. Hanya saja BMW serie 1 yang biasa dipakai Donny terparkir tidak serapih biasanya, bahkan dalam keadaan tidak terkunci.

Taman samping juga terlihat agak kotor, daun kering di atas lantai batu candi terlihat berserakan, demikian kolam renang seperti tak tersentuh dengan banyak daun kering terapung. Di sudut lantai 1 itu ada tangga dengan lantai kayu yang terlihat berdebu. Apa iya pembantu Donny yang datang tiap pagi pulang sore sudah berhenti bekerja ?

Di hall lantai 2 terlihat meja konsol dengan vas berisi mawar yang sudah layu dan mengering. Dina berkaca sejenak dikaca bentuk bundar yang menempel di dinding diatas meja konsol itu. Lampu hall terlihat menyala, padahal waktu sudah jam 10.45.

Anton membuka pintu kayu dengan kunci serep dan segera dilihatnya ruang yang sepi dan agak berantakan. Ruang duduk bergaya klasik modern tampak senyap, pantry di bagian tengah terlihat tak disentuh. Setumpuk piring dan gelas berserak di dalam ‘sink’ dan meja pantry. Di atas meja tergeletak kotak kue yang di dalamnya terdapat 3/4 blueberry cheese cake yang mulai berjamur. Ruangan bergaya studio itu menyala semua lampunya. Anton ingin sekali menyantap blueberry cheese cake itu namun plototan Dina menghentikan niatnya, “kaya nggak pernah makan aja, sakit perut baru nyaho” Gerutu Dina.

Semua tirai pintu dan jendela kaca tampak terbuka, sepertinya di ruangan ini tidak ada aktifitas sejak Donny menghilang. Ruangan yang ditata indah dengan gaya ekletik klasik modern itu terdiri dari ruang duduk menyatu dengan pantry, lalu satu kamar mandi tamu, satu kamar tamu yang di sebelahnya ada tangga menuju lantai 3. Bangunan rumah Donny memang 3 lantai namun sebenarnya tidak terlalu besar juga. Design ke atas dipilih demi mendapat taman yang lebih luas saja. Kebetulan tanah Kavling di daerah Sentul itu memungkinkan bangunan dengan model seperti itu.

Anton dan Dina saling berpandangan di depan pintu kamar Donny. Mereka merasa tak mampu menebak ada apa sebenarnya. Anton membuka pintu kamar itu pelan-pelan. Hawa AC menyerbu keluar. Lampu sama seperti di ruang ruang lain, menyala. Aroma keringat dan pengab langsung menyergap, belum lagi aroma aneh dari makanan juga sesuatu yang harusnya tak disimpan lama, Dua sejoli itu melongo melihat kamar yang bagaikan kapal pecah. Di atas sofa berwarna biru langit nampak bantal kursi yang berantakan, sebagian berada di lantai kayu. Di atas coffee table terlihat satu bungkusan makanan yang sudah basi dan satu cup coffee ukuran venti yang sudah rusak, dan sepertinya tidak sempat disentuh.

Cucian kotor dari kemeja, kaos, celana dalam berhamburan di lantai kayu. Sepatu pun terserak di sana sini. Meja nakas terlihat miring dan salah satu lampu meja jatuh tergeletak di lantai. HP Donny dalam posisi mati, satu di lantai kayu satu lagi di sofa. Tubuh kekar Donny nampak di atas ranjang dengan posisi tengkurap hanya memakai boxer. Sprei terlihat sangat kusut dengan selimut yang sudah ada di atas lantai kamar. Bantal berhamburan dan satu yang dipakai Donny.

“Wahh kenapa ni anak ? Si goblok kenapa gak nelpon kita ya ?” Ujar Anton kesal

Dina pun tak menemukan alasan yang tepat berkaitan dengan keadaan Donny, “lho Debby kemana ? Masa’ gak tau pacarnya kaya gini ? Dari kapan aku telp HP-nya gak aktif terus beib” Dina bicara sambil memegang lengan Anton.Sungguh keduanya tak tahu ada apa dengan Donny.

Anton menuju ranjang ukuran queen itu, membangunkan Donny yang tak bergeming. Dibaliknya tubuh Donny, semua terlihat baik-baik saja kecuali tubuh Donny yang agak berbau keringat saja. Mata sipit Donny bagai dilem, seperti berat untuk dibuka. Anton menemukan sebotol obat tidur yang terselip di antara gulungan selimut kusut.

“Ahh pantasnya dia gak bisa bangun, untung dia gak over dozis ya bebi” Gumam Anton pada Dina.

Dina mengosongkan sofa dan Anton memapah Donny ke sofa. Donny dipaksa duduk namun selalu terguling ke kiri atau kanan. Anton memanggil-manggil Donny, namun tak ada guna, mata Donny tetap terpejam. Anton menggetok Donny pakai gulungan majalah Time, tetap tak ada reaksi.

Dina melihat semua itu dengan gemas, didekatinya Donny, “PLAAKKKK” , Dina menampar Donny. “Beib kamu getok dia pake majalah tipis gitu mana ada efeknya ? Ditampar deh biar syarafnya jalan” ujar Dina dan “PLAAK” ditamparnya Donny sekali lagi, di luar dugaan Donny bereaksi, ia berusaha membuka matanya.

“Wahhh sayangku, kamu sadis amat ? Itu tamparanmu kencang lho sampai perih bayanginnya” Ujar Anton sambil memaksa Donny membuka mata, kumis, jenggot dan cambang Donny mulai tumbuh liar di wajahnya.

Dina menyodorkan sebotol air mineral yang diambilnya dari kulkas kepada Anton. “Ehh aku emang sengaja kok, pertama ini saatnya aku menghajar Donny yang suka ngelatahin aku dan kedua aku tadi juga bayangin nampar kamu yang kadang nyebelin banget” Sahut Dina dengan tawa berderai.

“Hahahahahaha” Anton tertawa, sambil memaksa Donny minum air es dari botol plastik ukuran satu liter yang tadi disodorkan Dina.

Dina mengerutkan dahi, “Masyaallah Anton Subrata !!! Kenapa kamu paksa dia minum ? Emangnya bayi ? Nih maksud aku tadi” Ujar Dina kesal sembari mengambil botol isi air es dari tangan kekasihnya dan mengguyur wajah Donny.

Donny bagai disetrum dan reflek tersadar. Dinginnya air es menjadi alat kejut bagi dirinya yang 1/2 teler. Donny mengejap-ngejapkan matanya, samar-samar dia melihat dua bayangan wajah di hadapannya. Satu berjongkok di depannya dan satu duduk di sebelahnya. Entah kenapa tiba-tiba ada rasa sesak di dadanya, lagi-lagi ia ingin menangis, dengan reflek ia berusaha memeluk orang yang duduk di sebelahnya dan orang itu Dina. Spontan Dina melompat.

“Aduuhhh beib kamu aja tuh urusin Donny, aq enggak nahan sama bau badannya. Aku sih mending beresin ruangan ini deh” Kata Dina sambil menguncir rambutnya. Anton sudah tak sempat menghindar karena Donny sudah memeluknya dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. “Kamu emang sahabatku tapi sumpah badanmu bau sekali” Jerit Anton dalam hati.

Dina mondar mandir dari lantai 2 ke lantai 3. “Untung nomer telpon si mbak ada di notes di pintu kulkas, udah aku telpon biar bersih-bersih. Jadi aku cuma beresin lantai 3 nih” Gumam Dina pada dirinya sendiri. Ia sudah memakai celemek dan sarung tangan karet juga satu keranjang peralatan obat pembersih ruang.

“Beib aku beresin sini dulu nah kamu suruh Donny mandi dan bantu dia cukur wajahnya yang udah kaya penjahat tuh, liatnya bikin sakit mata tauk” Perintah Dina pada kekasihnya.

“Oke bebi, tapi ingat beresin ala hotel alias total, bukan kaya asrama yang asal-asalan” Sahut Anton sambil membimbing Donny menuju kamar mandi.

Dina cemberut, “Maksudmu semua ini dibersihin total ?” Ujar Dina ngeri. Anton tersenyum penuh kemenangan.

“Yaa itung-itung belajar bebi, kamu mau nanti dicap orang orang sebagai istri yang jorok ? Malas beresin rumah ? Hayoo semua diberesin sampe pintu dan jendela juga dilap, lagian Donny pasti butuh bantuan kita di situasi gini” Sahut Anton santai.

Tidak sampai 1 jam 20 menit kamar itu kembali indah, semua sudah rapih, ruang pakaian yang bersebelahan dengan kamar mandi juga sudah rapi. Pintu kaca double doors yang menghubungkan balkon dibuka Dina, udara sejuk mengalir ke dalam kamar. Dina menyiram bunga flame of irian yang merambati pagar balkon sambil melihat si Mbak lagi menyapu halaman di sekitar kolam renang. Flame of irian dengan bunga merah dan ungu begitu indah dipandang dari dalam ruang.

Lilin aroma theraphy warna ungu, hijau dan maroon dinyalakan di atas coffee table, sungguh aromanya menenangkan jiwa. Tak lama Donny dipapah Anton keluar dari kamar mandi, Donny sudah terlihat segar, wajahnya kembali tampan karena sudah bercukur. Memakai celana pendek warna biru tua dengan kaos warna biru muda. Donny masih terlihat layu dan berpandangan kosong namun setidaknya tak seburuk pertama kali ditemukan.

Dina merapihkan kamar mandi, peralatan spa disusun rapi di rak dekat whirpool, shower box sudah dibilas dan dikeringkan dan meja rias berikut wastafel-pun sudah rapi. Berbagai produk perawatan wajah milik Donny sudah tertata rapi di rak, juga sekitar 23 botol minyak wangi yang disusun Dina secara rapi. Dalam hati Dina penasaran kemana perginya Debby, kekasih Donny, harusnya dia ada di sini saat Donny tiba tiba seperti kacau hidupnya.

Pesanan makanan sudah diantar dan Anton siap menyuapi Donny. Buru-buru Dina ambil alih, “Beib sini biar aku yang suapin, kamu bantuin si mbak yaa ngelapin aneka koleksi antik di lantai bawah” ujar Dina sambil membuka bungkusan.

Anton membantah, “ehhh enak amat, tadi aku yang kamu suruh urus Donny, katanya kamu mending beres-beres ruang bebiiiiiiiii ??????!!!!”

Dina menarik nafas, lalu berkata sambil menyuapi Donny soup cream ayam, “beib itung-itungkan kamu latihan, kalo kita nikah terus aku hamil apa kamu tega liat aku beres-beres, kalo keguguran gimana hayoo, terus kamu dicap sebagai suami brengsek gak punya hati, mau gitu ?”

Anton menghilang ke lantai bawah sambil ngedumel. Dina dengan sabar menyuapi Donny yang bagai bayi. Tiba-tiba mata Dina menangkap sampul undangan berwarna hijau pupus yang tersembul di bawah sofa. Dan entah kenapa Dina penasaran akan undangan itu.

 

 

6 Comments to "The Broken Heart Club (1)"

  1. Wara  21 November, 2018 at 07:45

    Sambungannya gan

  2. J C  29 December, 2011 at 20:52

    Sepertinya ini tidak sekoplak dan sekenthir Tumpuk Artati dan Jennifer…

  3. Straight_Line  29 December, 2011 at 11:01

    kasiaaan….

  4. nu2k  28 December, 2011 at 15:51

    Hmmm…Yang kutrima undangan, esok akan mengikat janji….Selamat berburu kembali..gr. Nu2k

  5. Linda Cheang  28 December, 2011 at 10:27

    patah hati, sakit hati, tapi belum sakit jiwa, kan?

  6. Kornelya  28 December, 2011 at 09:56

    Broken Wallet. Numero uno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.