Pengalaman Tinggal di Cairo (4)

Titin Rahayu

 

Idul fitri 2009, hari itu adalah hari libur nasiaonal, suami ngantor seperti biasanya. Suasana di luar biasa saja, cuman agak sepi, tidak seperti di Indonesia yang selalu meriah di hari raya idul fitri.

Ku tengok luar dari jendela apartment, terlihat beberapa polisi itu sedang sholat di pinggir jalan dengan beralaskan kardus bekas dan tak seberapa jauh dari mereka sampah menumpuk, eehhhmmmmm… gak tahu harus berkomentar apa.

Tiba-tiba terlihat butiran-butiran air jatuh,   hujan !!!! Yeah…  seumur-umur gak pernah namanya aku nangis karena hujan tapi hari itu, aku benar- benar tersedu sedan, perasaanku jadi teramat sangat sedih dan juga sangat senang karena  hujan turun.

“Lihat dirimu Titin, sekarang kau terdampar di tempat yang gak kau sangka sama sekali keadaannya, dan kau juga gak tahu kapan akan keluar dari tempat ini …” kata hatiku. Sebuah perasaan yang sangat menakutkan, perasaan kalo aku bakalan terjebak di tempat yang kotor dan penuh debu ini untuk waktu yang sangat lama.

Ku lihat sekelilingku, kardus berserakan di mana-mana, dan debu-debu itu. . .

“Aku harus bersih-bersih, mungkin kalo tempat ini bersih akan membuatku sedikit lega “  kataku pada diriku sendiri. Mulailah aku bersih-bersih, ngelap dan ngelap lagi, seluruh ruangan dan almari, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi serta dapur.

Aku keluarin semua piring yang ada di laci dapur dan aku semprot mati para kecoak itu.   Sentuhan terakhir adalah ngepel. . . eeehhhhmmmmm aku mulai bisa tersenyum, aku sudah gak ingat lagi kapan terakhir kalinya aku tersenyum seperti hari itu.

Ku lihat jam di dinding, hampir jam 2. 30 siang, aku turun ke bawah, ku lihat mobil ada di parkiran, terlihat sangat kotor dan berdebu, supir sedang ngorok di dalamnya. Mina namanya, pemuda usia 20 an, dan masih kuliah.

Aku  bangunkan dia dan aku tanya kenapa dia gak membersihkan mobil, dia cuman menunjuk ke atas sambil terpatah-patah dia bilang “ water “.   Aku cuman bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal, “ ayo pergi, car wash “ kataku, tampaknya dia ngerti.

Setelah muter-muter, akhirnya ada satu tempat cuci mobil  yang buka. Aku harus bayar sekitar 30 ribu rupiah di tambah tips sekitar 8 ribu. Yang bikin aku senyum-senyum adalah gimana cara mereka membersihkan mobil  (lihat di foto).

Di Indonesia  aku gak pernah punya mobil jadi aku juga gak bisa membandingkannya dengan  cuci mobil di Indonesia.

Setelah beberapa hari tinggal di apartment mulailah kita mencari tempat tinggal permanen buat kita, berpuluh-puluh rumah dan apartment kita  kunjungi, tapi semua menakutkan buat ditinggali, sangat kotor, berdebu  dengan perabot tua di dalamnya, dan tembok-tembok itu penuh dengan wall paper dengan motif ala timur tengah yang rame, dan harga sewa yang sangat fantastis.   Apa yang kita mau juga bukanlah hal yang sulit, tempat tinggal dengan 3 kamar tidur, sedikit taman dan bersih, tapi buat mendapatkan itu bukanlah hal yang mudah.

Aku yang sudah bisa tersenyum beberapa hari yang lalu, pelan tapi pasti didera rasa putus asa lagi. . . aku gak mau tinggal di tempat-tempat yang kita kunjungi beberapa saat yang lalu. Aku sama sekali gak ngerti kenapa di tempat yang kotor seperti itu, kita harus membayar 3 kali lipat lebih mahal dari harga pasaran di Eropa. Aku gak suka tinggal di area di mana kita tinggal saat itu, tapi semua orang bilang kalo Maadi adalah area yang paling exclusive di Cairo, kalo area yang paling exclusive saja keadaannya kayak gini, gimana dengan tempat lain ???

Lebih dari tiga minggu kita mencari tapi gak ada satupun yang nyangkut di hati, capek rasanya dan benar-benar putus asa.

Setelah berunding dengan suami akhirnya kita memutuskan buat nyari tempat di luar Maadi area, di area New cairo di mana sekolah anakku berada, beberapa hari kemudian  para makelar rumah itu membawa kita memasuki sebuah perumahan di New Cairo, eehhhmmmm bersihnya, dan hijau. Kesan pertama sangat menyenangkan, aku sama sekali gak menyangka, kejutan yang sangat menyenangkan.

Mereka membawa kita ke sebuah apartment yang belom jadi, saat memasukinya aku sudah punya perasaan kalo di sinilah aku mau tinggal, tapi suamiku masih mau lihat-lihat tempat yang lain.

Setelah membuat kesepakatan bersama soal harga, kapan selesainya tempat itu dan pembayaran,   akhirnya di tanda tangani lah kontrak sewa itu.   Area tempat tinggal ada di foto no 3.

Gak punya tetangga, kanan, kiri dan depanku adalah gedung apartment yang sedang di bangun.

Cairo terletak di pinggir Sungai Nil, daerah yang hijau dan subur cuman  kurang lebih 5 km sebelah kanan sungai Nil, dan kurang lebih 5 km sebelah kiri sungai Nil, selebihnya adalah padang pasir serta pegunungan batu yang tandus.

Satu-satunya sumber mata air buat Cairo adalah sungai Nil, kalo sampai mereka gak mau menjaga sungai Nil tetap bersih, sama artinya dengan bunuh diri.

Sungai Nil juga bukan hanya buat kehidupan mereka tapi juga buat turisme. Cukup menyenangkan berlayar di sungai Nil, sebuah pengalaman yang berkesan.

 

Bersambung

 

26 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (4)"

  1. Titin rahayu  31 December, 2011 at 12:42

    Setelah membaca semua komentar di sini, cuci mobil ala Cairo ternyata juga gak normal di mana-mana, tapi kenyataannya setelah di cuci dengan cara seperti itu di dalam mobil jadi terasa lebih segar dan nyaman,gak berdebu lagi dan juga gak jeblok juga di dalamnya

  2. Lani  31 December, 2011 at 06:52

    baru aku perhatikan…….pdhal udah liat, mosok mencuci mobil pake sabun sampai kedlm mobil……apa mobilnya ndak becek kkkkkkkkkk……..ini mah bukan cuci bikin bersih, tp sebaliknya jebrolllllllll ambrollllllll montore kkkkkkkk……..ada2 aja mungkin ini hanya di CAIRO YA Tin???? ngakak waelah……..

  3. Dj.  30 December, 2011 at 18:11

    Hahahahahahaha……!!!
    Mas Anooew….

    Ini ada cerita Suroboyoan, silahkan, mungkin juga pernah baca ya….

    Bondet turu ngeloni Sablah, bojone. Pas enak-enak turu, Sablah
    dhadhak ngelindur celuk-celuk pacare.
    ”Mas Gempil . . . aku kangen mas. Mas Gempil peluklah aku mas …”
    Krungu ngono Bondet malih cemburu ngamuk-ngamuk gak karuan,
    Sablah langsung diseret nang jedhing.
    ”Hayo ngomongo !!! Awakmu pingin pethuk ambek Gempil tah ???!!!,”
    jare Bondet mbentak bojone.
    ”Iyo cak . . . ” jare Sablah.
    Langsung sirahe Sablah didelepno nang banyune bak mandi, cik kapok
    pikire Bondet.
    Mari oleh sak menit Sablah gelagepen, ambek Bondet sirahe diangkat
    terus ditakoni maneh.
    ” Wis saiki ngomongo maneh !!! Awakmu sik pingin pethuk ambek Gempil
    tah ???!!!,” jare Bondet maneh.
    ”Iyo cak . . .” jare Sablah.
    Langsung sirahe Sablah didelep nang bak mandi luwih sui maneh, sik
    gak kapok ae arek iki pikire Bondet.
    Mari oleh rong menit Sablah gelagepen, ambek Bondet sirahe diangkat
    terus ditakoni maneh.
    ”Hayo ngomongo maneh !!! Awakmu sik pingin pethuk ambek Gempil
    tah ???!!!,” jare Bondet maneh.
    ”Iyo cak . . .” jare Sablah.
    Bondet tambah muntap. Pas arep didelepno nang banyu maneh,
    Sablah berontak terus takon nang Bondet.
    ”Sik tah cak, sampeyan yakin tah lek mas Gempil onok nang njero banyu?”

    Salam,

  4. anoew  30 December, 2011 at 15:57

    Jujur, untukk mengcounter komen. Pak Dj saya sampai hapus lagi sampai 4x, ini yg kelima kali..

    Ooo jadi logo mercy yg di belakang dan depan harus dikasih busa ya? Atau berbusa?

    Waaah opo to ikiiiiy…

    Salam hangat, pakdhe Dj..

  5. Dj.  30 December, 2011 at 14:40

    Mas Anooew….
    O…begitu ya….
    Logo dimobil merci Dj. tidak pernah basah, karena hanya diisemprot dengan cockpit spray saja.
    Di Mainz, untuk cockpit mobil, mana ada yang di guuyur air dengan busa seperti photo diatas….
    Tapi logo merci yang didepan dan dibelakang mobil, ya haarus diiguyur air dengan shampoo, bahkan disikat, kalau perlu biar banyak busanya dan bersih…..
    Hahahahahahahaha….!!!
    Mas anoew ki omong opo tho yo….???

  6. anoew  30 December, 2011 at 14:31

    Pakdhe Dj, logo mercy itu memang akan basah kalau dicuci, apalagi dalemannya, waaah bisa kuyub nanti…, seperti tentara jalan di blethok…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.