Sang Jingga Bersama Lembayung Bali

R. Wydha

 

Menatap lembayung di langit Bali
dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
bebas berandai memulang waktu
Hingga masih bisa kuraih dirimu
sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu 
oh cinta

Teman yang terhanyut arus waktu
mekar mendewasa
masih kusimpan suara tawa kita
kembalilah sahabat lawasku
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
tegar melawan tempaan semangatmu itu
oh jingga

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbangun dari khayal keajaiban ini
oh mimpi

Andai ada satu cara
tuk kembali menatap agung surya-Mu

 

Lembayung Bali

Akhir bulan April 2009 beramai-ramai bergemuruh wisata ke Pulau Dewata. Pukul 21.00 WIB tiga bis pariwisata membawa rombongan mahasiswa dengan kompak. Satu… Dua … Tiga…. Let’s Go!!!!! Saya berada di bis no dua, beramai nyanyi seiring petikan gitar akustik seorang kawan.

Adapula yang terlelap dalam mimpi hehehehe…….. Tak terasa sudah sampai rumah makan di Jembrana jam lima pagi daerah Bali. Menikmati santapan masakan khas Bali salah satunya ayam betutu dan segelas teh hangat tanpa gula. Sedaaapppp mantaap…..hehehe…. sesudah menikmati makan pagi, perjalanan dilanjutkan cek in hotel di daerah Sanur. Tiga jam perjalanan dari Jembrana ke Sanur akhirnya sampailah di Hotel Pura Nusa Indah. Waktu tiga jam diberikan oleh dosen untuk kami beristirahat dan beraktifitas santai lainnya. Sudah selesai kami pun lanjut perjalanan ke Kantor Dinas Pariwisata Bali, Tempat Wisata Budugul, Pasar Sukowati, Wisata GWK, Kantor Bupati Jembrana, Pantai Tanah Lot, dan tidak ketinggalan lagi Distro Joger daerah Kuta.

Dua hari full terasa begitu cepat kegiatan hari-hariku di Bali bersama teman-teman. Malam terakhir di Bali, saya luangkan waktu jalan-jalan berempat bersama kawan ke Pantai Kuta. Menikmati malamnya Pantai Kuta hehehe…. Jarak hotel kami dengan Pantai Kuta cukup jauh dan kami kesana naik taksi.

“Bli, tiang lakar melali. Atehin Tiang ke pasih Kuta,” tanganku melambai isyarat ke sopir taksi yang melaju depan hotel kami menginap. Driver sopir itu tersenyum , kami pun masuk ke taksi itu. Tak lama kemudian kami sampai di Pantai Kuta.

“ Bli, Matursuksama,” ucapku ke driver taksi itu dan menutup pintu.

Hemm…… menghirup udara malam di Pantai Kuta membuat hati adem. Suara debur ombak yang berlomba-lomba seolah memberikan semangat tinggi di malam itu.

“ Hemmm… begitu terasa tenang duduk di tepi pantai nikmati malam ini. Membuang kejenuhan dan kepenatan. Merasakan damainya dunia ini, “ hati ku berkata sambil memejamkan mata.

Ups dari belakang ada yang memukul pundak saya, dan memanggil “ Jegeg”, ucapnya kepadaku.

“ Hey bli… “, saya tertegun dengan wajah kaget. Karena saya sering bertemu dengan bli Made namanya. Karena dia seorang guide yang menemani rombongan kami keliling tempat wisata di Bali. Tapi dia tak tahu nama saya dan bertanya,

“ Sira adane? “ ucapnya.

“Adan tiang Wydha, bli. Bli juga senang main ke Pantai Kuta? Bukannya udah sering yaaa kesini? Tapi tak bosan juga hehehehe…” candaku. Dia ketawa tersipu dan berkata,

“ Saya ingin bertemu kamu sebentar saja, boleh? “ ucapnya

“ Inggeh bli. Hehehehe….”

Kami bercanda bareng, berlarian, sharing bareng, dan dia menyanyikan sebuah lagu lambayung Bali dengan petikan gitar akustik untukku di pinggir pantai sambil menikmati es buah kelapa. Terharu senang saya mendengarkan lagu itu. Entah mengapa hati saya merasa tenang di dekat dia walau hanya bertemu dan mengenal dalam beberapa hari saja di Bali. Tapi dia menampakan aura dewasa seorang lelaki.

Dia lah seorang kawan baru yang saya kenal di Bali dengan cerita kehidupan dan mengenalkan saya tentang agama hindu dan juga adat Bali hanya sekedar untuk tahu dan kenal. Apa yang dia kata? Apa yang dia ucap begitu menyayat dalam otak dan hati saya yang menyadarkan akan arti rasa bersyukur dan semangat. Karena bli Made ini di Bali tidak mempunyai kedua orang tua lagi dan dia punya penyakit yaitu leukimia atau biasa di sebut kanker darah. Tapi dia memiliki semangat tinggi untuk menikmati masa-mas hidupnya dengan senang, tegar, dan damai. Tak lupa dia rajin pula beribadah ke Pura. Hari sudah malam saya, bli Made, dan ketiga kawanku kembali pulang ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk besok pagi pulang ke Jawa.

Keesokan harinya jam delapan pagi, saya dan rombongan pulang kembali ke Jawa. Sebelum saya naik ke bis pariwisata itu, bli Made datang kembali memanggil saya di depan pintu hotel itu. Saya menghampirinya karena bli tidak bisa lagi jalan. Dia duduk manis di kursi roda dengan wajah pucatnya.

“ Bli Made saya pulang dulu ya. Matursuksma Bli atas nasehat dan cerita tadi malam.” Ucapku sambil menetes air mata.

“ Sama-sama. Jika ada waktu luang, kembali lah main ke Bali ya. Tapi maaf jika kamu ke Bali saya tidak bisa bertemu dengan mu lagi, kamu jangan sedih. Tapi saya yakin kita akan bertemu di Lembayung Bali. Di situlah saya berada jika kamu mendengarkannya. Satu hal lagi, ingat jangan mencari kesamaan dalam pribadi orang lain yang sama dengan pribadi akan tetapi perbedaan harus disatukan. Karena kasih Tuhan indah tanpa ada kata benci. Baik-baik ya di sana. Tiang tresna adi, demen jak adi “ ucapnya sambil memegang tangan saya.

“ Iya bli Made. Matursuksma. Bli juga hati-hati yaa.. cepet sembuh, “ ucapku dengan air mata dan melambai tangan untuk menandakan kepergianku.

Tak lama kemudian, saya dapat kabar dari salah satu perawat bli Made mengatakan bahwa dia sudah menutup mata selamanya. Begitu tertegun saya mendengarnya dan meneteskan airmata selama perjalanan pulang. Iya kadang teman yang baru kenal lah adalah teman terbaik dan terdekat yang memberikan inspirasi kehidupan.

Senyumannya seakan memberikan suntikan semangat tuk jalani hari-hari yang berat penuh ujian. Mendengarkan celotehannya dapat menerbitkan bahagia yang sempat tenggelam dalam aktivitas hidup ini. Perpisahan pun adalah suatu janji untuk bertemu lain kali. Seakan tak ingin menafikan masa-masa itu, aku coba hadirkan kembali catatan perjalanan indah hidup kita yang terhimpun dalam sajak lagu “Lembayung Bali”.

Kita tak tahu, sebanyak apa waktu yang kita miliki saat ini. Berbuatlah sebaik dan semaksimal mungkin tuk mengukir tinta emas prestasi kehidupan, entah itu terkait dengan persahabatan, belajar, pekerjaan, lingkungan dan lainnya. Kelak, kerja-kerja itu yang akan membuat kita tersenyum dan bangga karena telah mengukirnya dengan begitu indah. Dan sebaik-baik saat untuk mengenang masa-masa indah itu adalah saat kita di surga Allah nanti. Amin

 

19 Comments to "Sang Jingga Bersama Lembayung Bali"

  1. gugi  15 April, 2012 at 10:37

    wow, ceritanya menyentuh banget
    itulah bedanya bali dengan pariwisata yang lain, begitu bisa mengikat
    *no offence ya, itu pendapat pribadi saya

  2. R. Wydha  30 December, 2011 at 09:49

    yuk rame2 ke Bali hehehehehe……………….

  3. Linda Cheang  30 December, 2011 at 09:39

    ke Bali, ah..

  4. R. Wydha  30 December, 2011 at 09:17

    pak DJ : iyaa pak,,,bnr pak jrg ukiran di Bali malah bnyak tmpat wisata anak2 muda cafe2 baru gtu pak,,,hemmm dulu ke Bali beli ukir2an di bedugul ama di rumah galuh batik hemmm,,,itu saja tak bisa ditawar lain halnya di sukowati hehehehe…… Bali mmg tmpat wisata fav,,, hehehehe……

    M. JC : daerah utara Bali?? di Grenland bkan??? iyaaaa thanks

    mbk Kornelya : hehehehe,, yups kembali salam

  5. Kornelya  30 December, 2011 at 03:02

    Wah Widya, baca judulnya aku kira, ini kisah pengantin baru Lembayung & Octa bulan madu ke Bali. Bali selalu berkesan dan menyenangkan . Salam.

  6. J C  29 December, 2011 at 21:01

    R. Wydha, saya ingin mengajak keluarga ke Bali bagian utara yang konon lebih sepi, sunyi dan asik untuk benar-bener beristirahat keluar dari segala hiruk pikuk modern sehari-hari kita…terima kasih untuk artikelnya yang apik ini…

  7. Dj.  29 December, 2011 at 19:19

    Mbak Wydha….
    Pernah kami ke Joger, Susi masuk, Dj. hanya nunggu diluar dekat kolam ikan.
    Tidak lama kemudia dia juga keluar, tidak tahan, terlalu suk-suk an, seperti yang mau dapat gratisan…
    Hahahahahahahaha….!!!
    mungkin juga karena kami sudah tua, jadi merasa stress ditampat yang terlalu rame.
    Kalau Pasar Sukowati, kalau bukan hari libur, mendingan, banyak barang yang aneh dengan harga bisa ditawar.
    Pernah anak-anak malah beli slimut batik bali. Untung orangnya pinter membungkusnya, sehingga bisa jadi kecil.
    dan biiasanya kami beli ukiiran, untuk hadiah taman. Sekarang ukiran sudah jarang di Bali, hanya ada di tempat-tempat tertentu saja.

    Ini photo saat ajak mertua ke Bali… ( di tanah lot )

  8. R. Wydha  29 December, 2011 at 16:45

    Pak DJ (Mainz)

    hehehehe,,,, iyaaaa pak sama2,,,, Bali secuil kenangan ,,, tempat fav berwisata.. hehehehe kalau di joger memang ramai nya mnta ampun ,, berjubel,,, hehehe… kalau pasar sukowati pas bgt belanja2 dengan tawar menawar hehehehe

  9. Dj.  29 December, 2011 at 16:36

    Mbak Wydha……
    Terimakasih untuk cerita liburan yang menydenangkan, sekaligus mengharukan….
    Jadi semakin ingat akan liburan-liburan kami di Bali….
    Semoga tahun depan masih ada waktu untuk berlibur ke Bali lagi.
    Yang jelas tidak ke Distro Joger, sangat bising, untuk anak-anak muda, memang sangat menyenangkan.
    Pasar Sikowati, kalau hari Sabtu dan Minggu juga sangat berjubel….
    Tapi Bali tetap ngangeni….
    Salam manis dari Mainz….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *