[Roman Sepicis] Kau Patahkan Hatiku

Dian Nugraheni

 

Kisah sebelumnya:

Deja Vu

Dua Diana

 

Ketika akan pulang ke kota, dari Pondok Mr. Smith di Snowshoe, daerah wisata luncuran salju yang kembali aku kunjungi Winter kemaren, sebelumnya, Mr. Smith membawaku ke ruang tempat tinggalnya di lantai 3. Ruangan yang semuanya terbuat dari kayu ini nampak hangat, di sana-sini ada perabotan dan pernak-pernik bertema Christmast yang mengimbangi kehangatan ruang itu menjadi sedikit ceria.

“Duduklah Dayana.., ini berkaitan dengan ceritamu soal bertemu dengan Ghorghe, berdansa dengannya, dan seterusnya. Dan semua kamu alami di pondokku, sungguh aku tak mengerti apa yang sedang kau alami, sejujurnya, aku pun ingin tahu, kalau bisa, ingin membantumu memecahkan persoalan ini, tapi aku tidak tau caranya. Nahh, ini barang-barang milik Diana, nenek buyutku, ada beberapa yang aku ingin berikan padamu, kalau kamu nggak keberatan…,” kata Mr. Smith panjang lebar.

“Tentu saja saya nggak berkeberatan, Mr. Smith.., apakah tidak ada yang akan mencarinya suatu hari, keluarga besar Mr. Smith misalnya, bila barang-barang itu akan Mr. Smith kasihkan padaku..?” tanyaku.

Mr. Smith menggeleng, “tak kan ada Dayana, sejak jaman dulu kala, hanya aku yang mengurus rumah ini beserta isinya, keluarga besar kami sudah berpencar, sebagian besar tinggal di kota, mereka tak mau lagi tinggal di pedesaan begini, apalagi mengurus barang-barang tinggalan keluarga besar kami.”

“Give me your hand Dayana, your right hand, please..,” pinta Mr. Smith.

Dan aku mengulurkan tanganku kepada Mr. Smith, lalu Mr. Smith menyematkan sebuah gelang selebar pita, yang terbuat dari jajaran mutiara dengan beberapa ornamen seperti emas putih. Mutiara betulan atau bukan, aku tak peduli, tapi ketika gelang itu terpasang di tanganku, kerongkonganku terasa tercekat, hawa kesedihan menyusup kembali di hatiku…

“Tidakkah ini terlalu berharga, Mr. Smith..? Saya khawatir ini barang mahal, mengapa haarus diberikan kepadaku..?” tanyaku.

“Dayana, aku tak tau lagi harus memberikannya ini pada siapa, sungguh keluarga besar kami nggak akan peduli soal seperti ini. Take it, please… Juga ini, rupanya masih tersimpan sebuah buku catatan milik Diana, aku bahkan tak pernah membukanya…, would you…, please..?” kata Mr. Smith. Dan aku pun menerimanya begitu saja, saat itu tak ada alasan bagiku memberikan penolakan untuk kedua kalinya.

Demikianlah, kemudian aku dan kawan-kawanku turun ke kota, besoknya sudah menemui rutinitas seperti biasa, kerja seharian, pulang kerja, santai sebentar, tidur, besoknya bangun, kerja lagi…he..he..he..Tapi beberapa kali kusempatkan untuk membuka-buka buku harian milik Diana yang diberikan Mr. smith padaku. Tak banyak yang bisa aku dapatkan dari situ, karena lembaran-lembaran kertasnya saling berlengketan, hanya di halaman terakhir yang dia tulis aku dapatkan sebuah puisi, puisi yang sedih, aku rasa. Begini bunyinya,

bila kau bisa melihat
air mataku berjatuhan tak terhenti
setelah ku tau kau menghilang dariku…

kekasihku,
masih banyak yang ingin kulakukan bersamamu
berdansa di bawah salju yang berhamburan

ingin terus kurasakan, 
indahnya berada dalam pelukanmu
akankah…
kapankah… 
kita akan bisa bersatu dalam cinta…

___________________________________

Tak terasa, setelah Winter kemaren bertemu Mr. Smith, kemudian Spring, musim Semi telah menjelang, sejuta warna bunga bermekaran tak alang kepalang, suasana gembira meliputi hati-hati yang mencintai keceriaan. Tapi bagiku, Spring biasa saja, berlalu tanpa makna yang mendalam, bahkan jujur saja, bunga-bunga yang tertawa di mana-mana ini terlalu berlebihan mengungkapkan kegembiraannya. Dan sesuatu yang berlebihan rasanya tak akan bisa membuatku nyaman.

Kurang lebih tiga bulan kemudian, Summer, musim Panas pun tiba, hari terang menjadi lebih panjang daripada hari gelap, alias, datangnya matahari pagi, sangat awal, dan pulangnya matahari senja pun, akan sangat terlambat. Pagi jam 8 masih akaan nampak seperti jam 4 pagi, dan senja akan tiba ketika jam menunjukkan pukul 8 malam lebih.

Sore itu, sepulang kerja, aku sengaja pergi ke sebuah taman kota di kawasan Mc. Phearson Square. Taman kota ini cukup luas, dan ketika Summer begini, banyak orang, tua, muda, anak-anak dengan para orang tuanya menghabiskan hari di taman, berkejaran, bermain air, atau sekedar duduk-duduk mengharapkan angin segar datang, sedikit mengusir hawa panas yang kadang terlalu menyengat dan terasa “humid’. Humid adalah hawa panas yang bercampur dengan uap air, sehingga sering kali akan membuat kita sesak nafas jika kelamaan berada di luaran.

Aku pilih sebuah bangku kosong yang tak terlalu nampak dari jalan raya, duduk sambil membaca kembali sebuah buku yang sudah ratusan kali aku cermati kalimat demi kalimatnya. Yaa, aku hanya punya beberapa buku berbahasa Indonesia di sini, tak banyak, maka sering aku baca ulang…

Tak lama berselang, bangku di depanku didatangi seseorang. Mataku sedikit mengintipnya, kulihat seorang lelaki yang kemudian duduk dan mengeluarkan sebuah buku dari tas kulitnya. Tas kulitnya nampak lusuh dan tua. Dan ketika pandanganku sampai pada sosok utuh lelaki itu, hatiku tiba-tiba berdesir keras, seperti pernah melihatnya.

Tapi kemudian aku kembali menunduk, mencoba menikmati buku bacaanku. Semenit, dua menit dan bermenit-menit kemudian, aku simpulkan bahwa aku tak mampu lagi menikmati bukuku, pikiranku terpecah, ada rasa yang kuat yang membuatku ingin sekali lagi melihat wajah sosok yang sedang duduk hanya dua meter di depanku, dan aku pun mengangkat mukaku untuk melihat padanya sekali lagi, ternyata lelaki itu sedang menatapku dengan senyuman di bibirnya. Tapi bukan hanya bibirnya yang tersenyum, semua bagian di wajaahnya, tersenyum. Rambut blondenya diikat ke belakang, dan sebagian rambutnya tergerai-gerai dipermainkan angin menutupi mukanya. Dengan tangannya, dia menyibak-nyibak rambut depannya.

“Hai..,” sapanya, masih dalam senyum.

Masih tertegun, tanpa ekspresi aku menjawab sapanya, “hai..”

“Nice weather hari ini yaa, Summer kali ini rasanya nggak begitu panas, hanya aku ingin angin segar datang berhembus. Buku bagus tentu saja yang kamu baca..?” katanya memulai percakapan.

“Ya, buku bagus, sangat bagus..,” kataku kaku.

Lalu lelaki itu beranjak, jeansnya sudah belel, dan dia berkemeja warna khakhi. Lelaki itu mendekatiku, “may I..?” sambil menunjuk sisa bangku panjang yang hanya aku duduki sendiri. Aku mengangguk.

Tak lama kemudian kami sudah berbicara soal buku, dan duduk bersebelahan, sambil sedikit memutar tubuh agar bisa saling sedikit berhadapan. Hanya itu, di hari itu. Bagiku, ternyata lelaki itu sangat ramah dan menyenangkan ketika menceritakan soal buku, dan rasanya, aku seperti sudah mengenalnya sejak lama…

_________________________

Hari-hari berikutnya di Summer time, sering aku gunakan untuk duduk-duduk di taman itu sebelum akhirnya pulang ke apartemen. Anehnya, aku selalu bertemu dengan lelaki yang berpenampilan old fashioned itu, dan anehnya juga hanya bicara soal sepele-sepele, cuaca, angin yang berhembus, buku bacaan, bahkan kami tak saling tau nama, tapi aku harus jujur bahwa aku selalu berharap bertemu dengannya….

Sampai suatu hari, ketika dedaunan sudah mulai berubah warna, tanda Fall, musim Gugur telah tiba. Suasana menjadi lebih sejuk, warna-warni dedaunan, coklat, merah, orange, kuning, dan sebagian lain masih hijau, sangat memikat pemandangan mata, tapi langit lebih sering berwarna abu, sehingga membawa suasana sedikit gloomy, murung dan sedih. Ketika aku duduk sendiri di bangku yang sama dengan hari-hari lalu, tiba-tiba aku dikejutkan ketika seseorang yang membekap kedua mataku dari belakang, dan sebuah ciuman mendarat di leherku, yang kebetulan hari itu, aku mengikat rambutku menjadi sebuah ekor kuda. “haiiii., ha..ha..ha., kaget ya..?”

“Hhhhh, yaa, kaget dong, ini kan tempat umum, masak kamu kagetin aku dari belakang gitu sih.., kalau ternyata yang menyentuhku seorang penjahat, bagaimana..?” kataku sedikit marah karena kaget, tapi ciuman kilatnya yang mendarat di leher belakangku masih membuat aku deg-degan. Mungkin mukaku memerah, karena wajahku terasa panas.

“I’m sorry.., aku nggak bermaksud begitu..,” katanya sambil memberiku setangkai Mawar.

Aku menengadah, melihatnya menjulang di hadapanku, tapi kemudian dia berlutut tepat di hadapanku, “Please..?”  Dia memintaku untuk menerima setangkai Mawar pemberiannya.

Aku tersenyum, ada rasa yang berkebat-kebit dalam hatiku, antara senang, sedih, terharu, dan juga was-was, setangkai Mawar, bahkan ketika kami nggak saling kenal nama, dan sering bertemu hanya sebagai sebuah kebetulan, bukan bertemu dengan perjanjian…

“Thanks.., mawar Coklat, dari mana kamu dapatkan ini..?” tanyaku.

“Aku beli di depan stasiun kereta Farragut West.., suka..?” tanyanya ceria.Aku mengangguk, dan setetes air mata jatuh di pipiku.

“Mengapa menangis..?” tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng.

“Don’t cry, please, aku tau ini Mawar kesukaanmu..come on…!” katanya dengan mantap, tapi terselip sedikit khawatir. Demi melihat hal itu, dengan cepat aku menata perasaanku, berusaha mengembalikan suasana ceria.

Kemudian seperti biasa, kami duduk berdampingan, tapi tidak saling merapat. Biasanya kami bercerita tentang banyak hal, tapi kali ini seperti tak ada bahan yang bisa kami obrolkan, “give me your hand, please..?’ pinta lelaki itu. Rambutnya yang berkibar menutupi sebagian mukanya menggelitikku untuk mengulurkan tanganku, membantu menyibakkannya agar sebelah matanya tidak tertutup oleh rambutnya. Lalu dia menangkap tanganku dengan lembut, dipegangnya dengan erat, “Gelang yang indah, di tangan yang indah…,” katanya sambil tersenyum, nampak benar hari ini dia bersuasana ceria. Hari ini aku mengenakan gelang mutiara yang diberikan oleh Mr. Smith. Aku mengangguk, dan malah kembali terisak.

“Aku bahkan tak tau siapa kamu, aku bahkan tak tau namamu..,” kataku pilu, teramat sedih.

Kudengar dia menghela nafasnya, agak berat. Apakah pertanyaan soal nama ini membuatnya tak nyaman..? “But, it’s okay kalau kamu nggak mau sebutkan namamu, toh kamu juga nggak tau namaku..,” kataku.

“Tentu saja, aku sudah lama ingin mengatakan namaku paadamu, hanya tampaknya kamu nggak butuh tau namaku. Mungkin bagimu, bertemu secara kebetulan saja setiap kali kamu ke taman ini, sudah cukup..,” elaknya.

“So..what’s your name..!” aku sedikit emosi ketika mengatakan ini. Sebenarnya siapa yang keterlaluan kalau sudah begini, dia atau aku, atau kami berdua..?

“Calm down, please…,” katanya meredakan emosiku. “My name is Ghorghe…,” katanya sambil menatapku tepat di bola mataku, “and your name is…?” lanjutnya.

“Dayana.., yaahh, my name is Dayana..,” kataku. Rasaku, sekali lagi, aku seperti terperangkap dalam suatu keadaan di mana aku tak pernah merencanakannya, tapi juga tak kuasa menolaknya, ketika harus berada di lalam suasana ini. Kembali beberapa memori berkelebat, kenapa harus mawar Coklat, kenapa Ghorghe lagi…Ghorghe lagi.., kenapa harus dalam suasana musim yang gloomy, mendung abu dan mencekam.

Kemudian lelaki yang menyebut namanya Ghorghe ini tersenyum kepadaku, “senangkah kamu sekarang Dayana.., kita sudah bertukar nama..?”

“Yaa.., yaa.., tentu saja aku senang..,” jawabku, berusaha menjadi lebih gembira. Sebenarnya aku ingin bertukar nomor telepon, atau saling bertanya, di mana tinggalmu. Tapi selama ini aku tak pernah melihatnya mengeluarkan, atau menyimpan di sakunya, sebuah cellphone pun. Dan akhirnya memang pertanyaan-pertanyaan macam itu akan sangat bersifat pribadi, dan di sini, di Amerika ini, hal-hal yang bersifat pribadi tak akan saling dipertanyakan bila hubungannya tidak jelas atau tidak sangat dekat. Diam-diam aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.., ternyata aku yang terlalu cepat jatuh cinta pada lelaki ini, yang bahkan tak aku kenal ini, sedangkan dia, mungkin biasa-biasa saja, seperti menemukan seorang teman ngobrol ketika dia ingin duduk-duduk di taman kota. Huhh..!! Setelah pertemuan ini, aku berjanji tidak akan menemuinya lagi di taman kota ini.

__________________________________

Memang benar, selama lebih 2 bulan, aku tak pernah lagi ke taman kota itu. Apalagi suhu udara di musim Gugur sudah semakin menurun, angin cukup kencang sudah sering bertiup. Hanya tak bisa aku pungkiri, ada sebagian hatiku yang terasa sangat kosong, ketika lama tak bertemu Ghorghe, aku sungguh merasa kehilangan senyumnya, kehilangan tatap matanya yang sejuk namun tajam menghujam, pandangan matanya itu yang sering membuatku tertunduk, tak kuasa menatapnya terlalu lama. Ada perih-perih yang berdesir di hati ketika mengingatnya. Aku jatuh cinta, bahkan pada seorang stranger..!!

Dan ini, sudah memasuki Winter, musim Dingin. Suhu sudah selalu di bawah 32F, mesti bermantel ke mana-mana, belum lagi kalau ditambah windy, berangin, maka hawa yang sudah dingin akan terasa tambah dingin. Sore ini sepulang kerja, tiba-tiba aku merasa ada dorongan kuat untuk menuju taman kota di Mc. Phearson, maka berjalan kakilah aku ke sana, hanya beberapa blok dari tempatku kerja.

Sesampainya di sana, di bangkuku, bangku yang biasa aku duduki bersama Ghorghe, kulihat seseorang duduk diam. Dari belakang, nampak dia berjaket kulit, dan bertopi kulit yang cukup lebar. Hatiku berdetak semakin keras, dan tanpa basa-basi aku menghampirinya, “Ghorghe..!”

Ghorghe sedang hanya duduk dan melamun, bukan membaca buku di situ, dan sungguh bukan suatu kebiasaan duduk-duduk baca buku di taman ketika musim Dingin begini.

“Sedang apa kamu di sini..?” tanyaku. Wajah Ghorghe kali ini terlihat pucat, bahkan sangat pucat, mengingatkanku pada sebuah wajah Vampire dalam sebuah film yang baru beberapa waktu lalu aku tonton di gedung bioskop. Apakah dia sakit.., ahh, aku jadi khawatir dan sungguh sedih, aku ingin melihatnya tertawa seperti Summer beberapa bulan lalu.

“Menunggumu, Dayana, lama sekali kamu tak pernah ke taman ini lagi.., kenapa..?” tanyanya. Aku tak menjawab, hanya menggeleng.Kulihat sekuntum mawar Coklat ada tergeletak di sebelah tas kulitnya.

Kemudian aku duduk bersebelahan dengannya. “Give me your hand…, please..,” pintanya, dan aku tak menolak, masih saja wajah indahnya dihiasi rambutnya yang tertiup angin.

Kuberikan juga tanganku kemudian dia mengajakku berdiri, tangan kanannya memeluk pinggangku, tangan kirinya memegang tangan kananku, “kau suka berdansa, bukan.., mari berdansa..,” ajaknya.

Aku tertawa, aku merasa senang tiba-tiba menemukan Ghorghe lagi, “Hmm, coba dengarkan yang ini..,” kataku sambil mengeluarkan cellphone dari saku matelku. Ketika melihat aku mengeluarkan cellphone, Ghorghe nampak agak sedikit terkejut, tapi aku tak ingin bertanya. “Tunggu.., aku putarkan lagu kesukaanku, lalu kita akan berdansa dengan lagu ini…Westlife.., nahh, ini, judulnya My love.. tau lagu ini kan..? suka kan..?” tanyaku.

Ghorghe sedikit menggeleng, tapi kemudian tersenyum, “apa pun lagumu, Dayana, akan sangat indah…” katanya.

Lagu aku putar, aku dan Ghorghe berdiri berhadapan, sangat dekat, berdansa di taman, ketika tak lama kemudian, salju lembut berjatuhan dari langit. Udara semakin membeku, tanganku terasa kedinginan, ketika kemudian Ghorghe memelukku dengan cukup kuat. “kamu kedinginan Dayana…”

Mulutku sudah tertangkup rapat menahan dingin, ketika Ghorghe yang jangkung itu memeluk, dan dia menciumi tengkuk dan belakang telingaku di bawah salju.

“Ahh.., Ghorghe…” kataku, tanpa tau, harus bilang apa selanjutnya. Yang ada adalah, aku memeluknya semakin erat.

“Just feel it, Dayana.., please…” aku pun menurut…

“Ingat kah kau Dayana, kamu selalu bilang bahwa kamu ingin berdansa, berdansa, dan terus berdansa dengaku. Di hutan, di padang rumput, di bawah salju, hanya di sebuah ballroom yang kita belum pernah lakukan. Bahagikah kamu Dayana..?” kata Ghorghe.

Tiba-tiba tubuhku tambah menggigil, mendengar apa yang Ghorghe katakan, “Whaat..?” tanyaku, tapi aku tak bisa melepaskan diri dari pelukannya, lagu dari Westlife dari cellphoneku pun belum usai mengiringi kami berdansa di bawah salju.

“Ya, Dayana, kita berdansa setiap musim waktu itu, di sela-sela waktuku mengurus kuda-kudamu, ingat..? Di sela-sela waktuku mengantarkanmu ke hutan memetik Mawar, buah Berry, atau bunga rumput…”

Rasanya aku marah, rasanya aku kecewa, rasanya aku telah dipermainkan. Entah siapa yang mempermainkan aku seperti ini, keadaan, takdir, atau memang inilah perjalanan kisah cintaku..?

Aku melepaskan diri dari pelukan Ghorghe, senja sudah mulai turun, senja akan lebih cepat datang di musim dingin, tapi wajah pucat Ghorghe semakin nyata di hadapanku, “lalu sebenarnya, siapa kah kamu..? Mengapa kamu selalu menemuiku di mana saja aku berada..? Mengapa kamu membuatku jatuh cinta..? Untuk apa kamu datang padaku..?” kataku setengah berteriak bercampur isak tangis yang tak kuasa kucegah.

Wajah Ghorghe nampak sangat sedih, menatapku putus asa… Aku mundur beberapa langkah menjauh darinya.

“Dayana.., please.., don’t go…, aku sudah mencarimu kemana-mana, rentang waktu yang panjang, kesakitan hatiku, dan kecintaanku padamu, tak menghentikan ini semua. Percayalah Dayana, aku tak pernah berniat meninggalkanmu, dalam keadaan apa pun. Hanya mereka memaksaku untuk pergi.., dan mereka membuatku harus meninggalkanmu. Ketahuilah, kisah ini belum usai, Dayana…”

Dalam dingin yang membekukan tubuhku, aku menangis dan berteriak keras-keras, “aku bukan Dayana yang kau cari, Ghorghe.., aku bukan Dayanamu.., pleaseee.., jangan temui aku lagi, jangan cari-cari aku lagi, jangan biarkan aku jatuh cinta pada sesuatu yang bukan untukku… kau menyakiti hatiku..Pergi…, Ghorghe..pergilah..!”

Ghorghe menggeleng, “Dayana, I’m not something, I’m still someone, yang selalu akan kamu cintai, dan kamu tau, aku tak pernah berhenti mencintaimu.., please…,” Ghorghe meneriakkan kata-kata itu, masih berjarak denganku. Aku tau dia tak pernah ingin menyakitiku, aku tau dia sangat mencintaiku, tapi bukan aku yang kini. Dayananya adalah Diana, Dayananya bertahun-tahun silam di sebuah desa bernama Snowshoe…

“Ghorghe.., kau pergi..atau aku yang pergi..!” ancamku.

“Nooo…, jangan menjauh Dayana.., aku sudah menemukanmu…, please…” Ghorghe berseru, nampak air matanya mengalir di wajahnya yang sangat pucat. Hampir saja aku tak tega.

Aku menggeleng keras, tak kalah, air mataku pun berdesakan membasahi pipiku, sesenggukan aku tak mampu menahan sedihnya hati, menemukan rasa jatuh cinta yang hanya sesaat, dan kemudian harus melepasnya begitu saja, tapi inderaku selain lima indera yang biasa dipakai orang awam, mengatakan, Ghorghe ini adalah Ghorghe nya Diana, bukan Ghorghe untukku. Alam kami sudah berbeda, dan aku nggak mungkin berjalan bersamanya…

“Ghorghe, aku pergi..please, jangan mencariku…,” sambil berkata begitu, aku berlari mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat. Masuk ke dalamnya, “Clarendon Boulevard, please..” kataku pada sopir taksi. Kemudian aku menangis, ketika kutatap dari kaca jendela taksi, nampak Ghorghe berdiri mematung menatap kepergianku, dengan wajah sedih yang teramat putus asa. Di tangannya dipegangnya sekuntum mawar, dan melambai ke arahku, seakan dia berkata, “Mawarmu, ketinggalan, Dayana…”

Dan aku menangis sejadinya di dalam taksi, “are you oke, Miss..?” tanya sopir taksi sambil mengintaiku dari kaca spion dalam mobil.

“No, Im not oke, just fine…I will be fine..,” kataku. “Clarendon Boulevard please..” aku menyebutkan lagi tempat tujuanku.

“Yes, Miss, I gachyaa..”

______________________________________

 

Butuh waktu yang panjang untuk merenungi, apa sebenarnya yang telah terjadi, sejak kejadian bertemu “Ghorghe” ketika pertama kali menginap di pondok Mr. Smith, kemudian peristiwa kedua ketika aku kembali menginap di pondok Mr. Smith Winter yang lalu, di mana aku mendapat penglihatan, ketika Diana, Dayana-nya Ghorghe berlari-lari di sebuah hutan, menggenggam beberapa tangkai Mawar Coklat, disusul oleh Ghorghe di belakangnya, dan berakhir ketika seorang pemuda berkuda bernama Maxi, memaksa Diana pulang, sambil mengancam-ngancam Ghorghe agar menjauh dari Diana. Kemudian Winter sekarang ini ketika benar-benar aku bertemu seseorang yang mengaku bernama Ghorghe di Mc. Phearson Square…

Sepanjang waktu itu pula, aku tak pernah  mampir duduk di taman mana pun di tengah kota Washington, DC, ini, dari tempatku kerja, aku akan langsung menyeberang ke stasiun Farragut West, menunggu Orange Line Train menuju Clarendon.

Seperti sore ini, ketika aku duduk menunggu kereta, seorang pemuda dengan senyum ceria, menenteng sekuntum Mawar warna  merah Mirabella, merah jambu agak tua yang begitu cantik. “Excuse me, seseorang memintaku untuk memberikan bunga ini kepadamu..,” katanya.

“What..? Hhmm, I mean, pardon me..?” tanyaku, tentu saja dengan terkejut.

“Yeahh, someone wanna give you this, he said, your name is Dayana.., aku harap aku nggak salah orang, pemuda yang memberimu bunga ini tadi hanya menunjuk ke arahmu, maka aku kejar kamu ke sini..,” kata pemuda berwajah ceria itu.

Begitu dia menyebut nama Dayana, aku tak bisa menolak pemberian setangkai Mawar yang dibungkus plastik bening itu, “thanks..,” kataku pendek.

“You’re welcome.., beautiful Rose, huhh..?” tanyanya sambil tersenyum, mengulurkan tangan sambil berkata, by the way, I’m Daniel, nice to meet you…” bla..bla..bla… Ruangan stasiun bawah tanah yang berupa lorong yang cukup gelap ini nampak semakin menggelap…, dan aku berusaha untuk tetap terjaga, aku nggak mau pingsan di sini…

Salam Sekuntum Mawar Merah Mirabella…

 

The End…

 

Virginia,
Dian Nugraheni,
Selasa, 27 Desember 2011,
(Hujan, plus lagu “My Love” dari Westlife, kupaksa membuat “mind”ku menjadi romantis, tapi kayaknya nggak berhasil..maafkan daku yang tidak romantis yaa…he..he..)

 

 

13 Comments to "[Roman Sepicis] Kau Patahkan Hatiku"

  1. J C  1 January, 2012 at 14:37

    Bentar, bentar, kesimpulannya gimana ini? Reinkarnasi bukan? Kisah cinta masa silam/kehidupan sebelumnya yang tersambung lagi di masa sekarang?

    Happy New Year 2012, Dian…all the best wishes buat dikau sekeluarga ya…

  2. Kornelya  1 January, 2012 at 01:04

    Dayana-dayana kekasihku… bilang pada orang tuamu….. Dian, romantis sekalee!!

  3. Dewi Aichi  1 January, 2012 at 00:21

    Dian…top banget ceritanya..wuih mantap…..mantap…..ditunggu kisahnya mas SENO wkwkwk….biar makin termehek mehek penulisnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *