Jogjakarta

Dewi Aichi – Brazil

 

Hei kawula Jogja..dan kawula bukan Jogja…! Suka mancing ngga? Kalau suka, ada tempat yang asik buat mancing. Mancing ikan lho..kalau mancing dolar dimana ya?Pengen mancing ikan? Tuh di Boyong Kalegan atau Moro Lejar..! Tempatnya asik dan semilir, itu lho jalan menuju ke arah Kaliurang…! Dari Yogya, ikuti saja jalan Kaliurang dan terus naik sampai menjelang masuk daerah Pakem. Lalu belok kiri atau ke barat di pertigaan jalan alternatif menuju Turi dan jalan raya menuju Magelang. Ikuti terus jalan alternatif yang naik-turun dan belak-belok ini hingga sampai pada jembatan sungai Boyong, dimana di sisi kiri dan kanan sebelum jembatan ada terlihat pondok-pondok rumah makan. Nah, “Boyong Kalegan” ada di sisi yang kanan. He he..yang kawula bukan Jogja pasti bingung ya..?!

Jogja memang gudangnya tempat-tempat ciamik dan dahsyat (kota-kotaku sendiri, wajar dong dibanggakan he he..), mau makan juga masih banyak tempat-tempat yang murah meriah. Kalau mau makan bakmi bikinan Pele…ngga usah jauh-jauh ke Brasil..cukup ke alun-alun utara sebelah selatan (nah, bingung ngga?), bakmi pak Pele deket SD Keputran 1, tapi buka malam, hmm..lezat..bisa lesehan dan menikmati pengamen yang juga pinter nyanyi beneran..!

Di sepanjang jalan Palagan, kanan kiri banyak sekali tempat makan, mau yang elite sampai yang biasa. Juga sepanjang jalan Kaliurang, banyak resto yang menyajikan seafood, deket Mirota Bakery, berseberangan, ada bakso uleg lombok ijo, enaknya ngampleng (bukan nendang).

Masih ada, oseng-oseng mercon bu Narti, di jl. KH. Ahmad Dahlan, wow..mantap benar…., Belum lagi menu menu yang lain, seperti burung dara, puyuh, lele, bebek dan ayam yang penyajiannya disesuaikan dengan selera pembeli, tinggal pilih dibakar atau digoreng.

Angkringan juga makin keren saja di kalangan kawula muda, dengan menu utama “sego kucing” ! Banyak juga yang menyajikan bebek goreng. Siomay dan batagor ada di perempatan Kentungan, ini yang kurasa paling enak di Jogja.

Hmm..apalagi ya tentang Jogja…oh..itu, pantainya! Ngga cuma Parangtritis yang eksotik! Masih banyak yang layak untuk dikunjungi, Kukup, Baron, Goa Cerme, Drini, Depok, Jungwok, Sedahan dll…hanya saja akses menuju ke sana yang kurang memadai, ini adalah salah satu hambatan. Ada juga pantai Ngobaran, selain panorama yang indah, di sini ada pura, dan masjid yang menghadap ke selatan. Kuliner? Ada landak laut goreng (eh..aku belum pernah nyoba sih)! Masih di kawasan Gunung Kidul, Pantai Ngobaran berlokasi di desa Kanigoro kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Dari Wonosari yang merupakan kabupaten Gunungkidul berjarak sekitar 35 km ke arah selatan dan dari arah Yogyakarta sekitar 65 km.

Jogjakarta, sebagai ikon kota pelajar, kota budaya, kota wisata, kota gudeg, sedikit demi sedikit mengalami pergeseran. Mungkin dikarenakan pengaruh budaya dari para pendatang, yang ikut meramaikan kota Jogjakarta. Tetapi, di hatiku, Jogja tetap memberikan kenyamanan seperti pada semboyan Jogja berhati nyaman, juga tempat yang memberi banyak inspirasi.

Kawula muda mempunyai tempat-tempat favorit untuk sekedar meluangkan waktu bersama teman-temannya. Diskotik dan tempat-tempat dugem yang asik, seperti Hugo’s, Liquid, dan lain-lain. Ada juga Sarkem, tempat lokalisasi yang sangat terkenal, yang berada di sebelah selatan stasiun Tugu. Cafe-cafe yang asik buat begadang.

Nah..ada lagi tempatnya kawula muda menghabiskan malam, yaitu Seturan…tempat ini semakin ramai dan padat, banyak lesehan, bagiku, ini adalah suasana Jogja di malam hari yang tidak membosankan. Semrawut sih iya..tapi bagiku, enjoy saja sih..!

Photosahabatjogja.com

Ke Jogja Ku Kan Kembali

Bagi orang Jogja yang sudah bertahun-tahun merantau seperti saya ini, ada ngga sih keinginan untuk kembali ke tanah kelahirannya? Atau kembali ke tempat dimana kita telah melewatkan masa kecil? Jawabanku “iya!” Ada banyak alasan tentunya kenapa aku jawab iya.

Kota Jogja adalah kota tempat dimana aku lahir, menghabiskan masa kecil, masa sekolah, dan juga tempat dimana seluruh keluarga berada. Banyak sekali perubahan yang terjadi di Jogjakarta. Di akhir tahun 70-an hingga 80-an, Jogja masih adem, kalau pagi hari di kampungku masih sering berkabut, udara sejuk, suasana nyaman. Kini setelah 20 tahun aku meninggalkan Jogja, begitu banyak perubahan yang ada. ya memang harus berubah dong..! Masa dari dulu hingga sekarang ngga berubah, sepertinya hal yang ngga mungkin.

 

Jogya adalah “My Kind of Town”

Jogja memiliki adat dan budaya lokal yang sangat khas. Seperti halnya daerah lain yang juga memiliki adat dan budaya lokal. Bahasa lokal yang khas, bahasa pergaulan kawula Jogja yang khas. Bahasa Jawa logat Jogja yang khas yang sangat aku sukai.Jogja itu kota yang dimiliki banyak orang mengukir kenangan indah…kecuali yang punya kesan tidak indah he he…sopo ayo ngaku aja tuh orang Semarang!Pasti kalau orangnya baca ini akan bilang “emang iya!”..tapi temanku ada yang bilang “memang Yogya kota indah dan banyak kenangan di sana…..walaupun orang-orangnya rada rada ndablek…kwekwkekwkekwkek…rapopo, seng penting kan mendem dab…hehehehe..!”

“Leres sanget, dalem sampun hijrah saking Jogja wiwit taun 1996, tapi hati dan raga ini setiap mendengar kata-kata “Yogyakarta”, rasane koq mak nyes langsung menusuk ke lubuk hati yang paling njero. Opo maneh yen ono kesempatan mulih Jogja, wah seneng banget (walaupun cuma setaon sekali pas bodho). Sekalipun dalem sampun gadah KTP mBetawi, nanging ati kulo sampun tertambat dateng Ngayogyakarta Hadiningrat,” begitu kata temanku mas Dhanang  dalam suatu percakapan.

Selain infrastruktur dan perumahan perumahan elite, banyak sekali resto-resto baik masakan lokal maupun internasional. penyajian dan gaya yang semakin apik dan modern. Ini sangat menunjang sektor pariwisata Jogja, apalagi sekarang ini jaman wiskul-wiskul-an, ngetrend…! Jogja adalah salah satu tujuan wisata domestik. Begitu liburan sekolah, bus bus wisata ukuran besar akan ngantri masuk kota Jogja. Berjubel bersama kendaraan roda 2 yang memang memadati jalan raya kota Jogja.

Perkembangan budaya dan intelektualitasnya yang kurasa sangat pesat. Beragam budaya dari berbagai daerah terutama karena berdatangan para pelajar yang menimba ilmu di kota Jogja, sangat memberi ragam kehidupan, sangat menambah warna kehidupan kota Jogja. Bagiku hal itu sangat menyenangkan, kota Jogja jadi semakin banyak cerita. Hubungan sosial dan kehidupan sosial masih terasa hangat, terutama di pedesaan. Dan tidak “ndeso” lagi lho…sudah banyak tempat-tempat berkelas, dari hotel sampai resto-resto, dari model rumah sampai mall mall…!

Jogja unik dan antik… merga golek pangan sing kelas pincukan karo hotel berbintang selawe yo ono (karena mencari makanan yang masih dibungkus daun pisang dan juga makanan kelas hotel berbintang duapuluhlima juga ada). Tonggo teparo isih ramah semanak koyo jaman mbiyen (tetangga masih ramah tamah seperti dulu). Lan sing paling penting kanggoku, pergaulan neng Jogja ora tau mbedakke status sosial, agama, pendidikan lan liya-liyane. Kabeh isa guyub, uwonge seneng guyon. Bab guyonan jiannn..marakke kemekelen tenan, pisuhan itu tanda sayang ..dadi ora ono acara loro ati mergo dipisuhi utowo guyon…! guyone isih orisinil tenan..! (dan yang paling penting untukku, pergaulan di Jogja  tidak membedakan status sosial, agama, pendidikan daln lain-lain).(Semua kompak, suka bercanda, tidak ada acara sakit hati).

Ekonomi Jogja tampak semakin menggeliat. Meskipun kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa “Jogja itu bisa untuk hidup, tapi tidak bisa untuk mencari kehidupan. makane nek wis sukses dari perantauan, njur pengen bali dan menghabiskan waktu pensiun di Jogja (makanya kalau sudah sukses merantau, tetap ingin balik dan menikmati masa pensiun di Jogja). Para perantau membeli rumah di Jogja untuk masa tuanya. Dan selama di perantauan, rumah bisa dikontrakkan ke mahasiswa mahasiswi asal luar Jogja, ato juga disewakan untuk pasangan kumpul kebo..kali aja he he…. dadi yo menyumbang angka prosentasenya  soal “Virginitas” di Jogja… warakadah…. kapokmu kapan…. ha ha..!

Jusuf Kalla aja dulu pernah punya ide mau bikin rumah susun sewa (rusunawa), dan rumah susun milik (rusunami). Ayo sapa yang setuju?? Entah rencana tersebut masih ada atau tidak, akan terlaksana atau tidak…aku sendiri tidak rela Jogja akan dibangun bangunan-bangunan pencakar langit…jangan niru-niru Jakarta ahhh…mengko nek Jogja banjir piye jal?

Jogja kan kota kecil, semua dekat, apa-apa masih murah ya tergantung ekonomi seseorang. Tapi untuk hidup sederhana, ya masih bisa dijadikan pilihan. Kalau harga tanah memang semakin mahal, bahkan di beberapa tempat sudah mengalahkan ibukota untuk harga per meter persegi. ya itu tadi, kota kecil tapi diminati..!

Jogja memang eksotik, apalagi di malam hari, kawula muda Jogja dan juga kawula muda yang berasal dari luar Jogja selalu meramaikan suasana malam di kota Jogja. Banyak lesehan tempat nongkrong. Banyak angkringan yang semakin hari semakin kerennnnn..! Jogja ki pancen .. ciamik.. tiada duanya.. ngalor gunung adem mak nyess.. ngidul angin semilir pantai.. kulon sawah ijo royo-royo.. ngetan bukit cadas nan elok, gagah perkasa.. tengah kota sansoyo maneh wuiiihhh.. pepak tenin… arep nggambleh.. mbajuli cewe-cewe, ato cowo-cowo.. madang nganti kemlekeren mergo isih murah meriah, sego kucing .. wis.. pokoke ono kabeehhhh.. ! (Jogja memang ciamik, utara gunung adem, selatan semilir angin pantai, barat sawah hijau, timur bukit cadas nan elok, tengah kota lebih lagi, lengkap benar, semuanya ada semua)

Kalau pagi-pagi, sekarang nih, mondar mandir motor banyak sekali antar jemput anak-anak sekolah.Ibu-ibu pada ke pasar. Tukang jualan apa saja keliling kampung. Jogja juga punya Djaduk, Butet, Didik Nini Towok, Marwoto, Yati Pesek ditambah lagi Obrolan angkring TVRI..! Ngomong Jowo ki nyaman, ora ono padanane dalam bahasa lain..!

Kalau yang merantau semua pengen balik ke Jogja, wah…blaik..!! Nek wong asli Jogja sing isih neng Jogja ya tetep neng Jogja….Njur sing asli Jogja, merantau…sesuk pensiun yo njur hari tua di Jogja…Sing wis tau sekolah, kuliah, kerja neng Jogja ya njur neng Jogja wae nganti dhut..Malah ketambahan sedulur seka luar Jogja ya dho menikmati pensiun neng Jogja….Iki lak ya dadi ruwet…Pas awak isih gagah, iso ngabdi mengembangkan daerah…dho lungo mbasan wis tuwek bali Jogja! Pejabat-pejabat wis wiwit investasi rumah dinggo menikmati hari tua …edan tenan iki…he he he…Jogja iso dadi “PANTI JOMPO!”..mas Nur Mujahidin temanku satu ini ki jian lucu tenan..!

(Kalau orang asli Jogja, masih di Jogja, ya tetap di Jogja. Yang asli Jogja, merantau, nanti pensiun hari tua di Jogja. Yang sekolah, kuliah, kerja di Jogja, ya di Jogja saja sampai mati. Malah ketambahan saudara dari luar Jogja, menikmati pensiun di Jogja, khan malah jadi ruwet. Pas masih gagah, bisa mengabdi mengembangkan daerah malah pergi, setelah tua malah balik Jogja. Pejabat-pejabat investasi rumah untuk menikmati hari tua…gila bener ini. Jogja bisa jadi panti jompo)

Arti paragraf di atas adalah intinya kalau orang Jogja, tetap banyak yang menetap di Jogja, para pendatang juga banyak yang tadinya hanya belajar, malah menetap juga di Jogja bahkan bawa sanak saudara untuk menetap, jika yang merantau, lalu pulang ke Jogja setelah usia tua, maka di Jogja lama-lama menjadi panti jompo he he

Begitulah pada akhirnya, orang Jogja yang meninggalkan Jogja pasti tak akan pernah bisa melupakan Jogja, gimana mau lupa, setiap mengisi biodata pasti mencantumkan kota asal kelahiran, setiap dokumen pribadi, pasti tercantum nama kota asal beserta alamatnya. Ke Jogja aku akan kembali..KTP ku Sleman he he..SIM..Sleman juga..! Chemistry..!

foto-foto by www.kratonjogja.com

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

63 Comments to "Jogjakarta"

  1. probo  13 January, 2012 at 21:15

    isine gula pasir dhing mbak……

  2. Dewi Aichi  11 January, 2012 at 08:36

    Ohh…bu gucan…berarti ndog gludhuk itu gethuk goreng..iya to? Cuma kok dikasih gula ya? Soalnya..gethuk itu kan sudah manis, ahhh….jadi pengen gehtuk….

  3. probo  5 January, 2012 at 10:01

    bukan…cemplon kan tela diparut njur diglindhing-glindhing diisi gula jawa,
    ndhog gludhug wis dadi tela mateng, didheplok, diisi dula njur digoreng….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *