Domba Berbulu Serigala

Dian Nugraheni

 

Karlina merasa hidupnya sudah mendekati titik akhir, ketika, peristiwa-peristiwa mengenaskan datang bertubi-tubi padanya. Berita yang tiba-tiba mengabarkan bahwa Ibunya sakit parah, dan dokter secara terus terang mengatakan, bahwa secara medis, usia Ibunya tak akan panjang lagi. Padahal, kesehariannya, Ibunya tak pernah nampak sakit atau mengeluh sakit, hanya memang, dari hari ke hari nampak semakin kurus dan agak batuk-batuk.

Kemudian, caci maki Dosen Pembimbing Skripsinya yang “kementhus”, dosen yang sok, yang mengobrak-abrik judul skripsi yang diajukannya siang ini, hardikannya sama sekali tidak tertuju kepada substansi usulan judul yang Karlina sampaikan, tapi lebih bersifat melecehkan Karlina sebagai mahasiswi. Apa maksudnya ini..? Benar-benar bikin muak.

Ditambah, beberapa hari lalu, ketika malam-malam Karlina berboncengan motor dengan Sisi, kawan kosnya untuk membeli makanan, dia memergoki Anton, pacarnya sedang berboncengan mesra dengan seorang gadis. Selama ini Karlina nggak tau, setelah apel di kos Karlina sampai jam 9 malam, habis itu, Anton akan ngapeli gadis lainnya, ya gadis yang diboncengkannya malam itu. Dan ini sudah Karlina konfirmasikan kepada Anton, Anton tak bisa mengelak, dan Karlina memilih mundur saja.

Dan karena Ibunya sakit parah, Karlina memilih menghabiskan waktunya di rumah, pulang kampung, menunggui dan mengurus Ibunya, itu berarti, satu semester ini Karlina absen dari kegiatan di kampus.

Benar seperti apa prediksi Dokter, hanya tersisa waktu beberapa bulan sampai Ibunya meninggal. Anehnya, setelah Ibunya meninggal, Bapaknya yang nggak kenapa-kenapa, hanya sesekali tensi darahnya meninggi, tapi masih dalam kendali, tiba-tiba stroke berat, dan sejak itu hanya diam tak mau bicara sepatah kata pun, sebelum akhirnya, Bapaknya meninggal juga sebelum hari ke seratus ketika Ibu Karlina meninggal.Ohh, tega bener Ibu dan Bapaknya pergi berturutan dalam waktu yang tak terlalu lama, keluh Karlina dalam hati. Tapi Karlina juga akhirnya menyadari, bahwa itu, mungkin suatu pertanda bahwa Ibu dan Bapaknya memang sehidup semati…

Selesai mennyelesaikan semua urusannya yang berkaitan dengan meninggalnya orang tuanya, Karlina kembali ke kota di mana kampusnya berada, tapi rasanya dia hanya membawa tubuh tanpa jiwa, melayang tak tentu arah, tak jelas tujuan apa yang akan dilakukannya. Pelahan pandangannya menjadi kosong, wajahnya nampak bengong, dan memang Karlina terdera depresi parah.

Untunglah banyak teman baik di kosnya, mereka saling bergantian menghibur Karlina, terutama Sisi, gadis manis ini bahkan selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mengurus Karlina, menyodorkan sepiring mie goreng, mengajaknya nonton film, dan lain-lain.

Sisi, gadis bertubuh jangkung dan kurus, wajahnya selalu riang, di tangannya selalu tersulut sebatang rokok Bentoel Biru, dan di sela-sela obrolannya, dia nampak asyik mengepul-ngepulkan asap dari mulutnya. Lama-lama, Karlina pun ikutan mencobanya sebatang, ternyata tidak membuatnya terbatuk-batuk seperti yang dikatakan Sisi, “Awas, kalau kamu masih baru pertama kali merokok, pasti terbatuk-batuk…”

Akhirnya, Karlina menjatuhkan pilihannya pada rokok mentol, rokok rasa mint yang menyegarkan. Sisi tidak pernah melarang, tapi juga tidak pernah menyarankan pada Karlina, untuk memulai atau berhenti merokok, semua berjalan begitu saja. Jelas, ritual sulut tembakau ini menjadikan Karlina lebih dekat dengan Sisi. Kadang Sisi tidur di kamar Karlina, atau sebaliknya.

Hari itu, Sabtu siang, Sisi berkata pada Karlina, seperti orang dewasa bicara kepada anak kecil, “Aku pulang kampung, sehari doang, ambil jatah bulanan yaa.., kamu baik-baik di sini, jangan aneh-aneh…”

Maka sore menjelang malam itu Karlina hanya berdiam saja di kamar Sisi, dia sedang berpikir keras tentang judul skripsinya, apakah dia akan teruskan dan menemui dosen kementhus itu, atau dibatalkan saja, ganti judul, dan minta diberi Dosen Pembimbing lain. Dan ketika sedang berpikir-pikir demikian, tiba-tiba Karlina melihat sebuah botol gepeng yang berisi cairan warna coklat bening, vodka, minuman keras. Setelah dibacanya sesaat keterangan yang tertera pada stiker yang menempel di botol tersebut, maka, diteguknya sedikit demi sedikit cairan itu. Pahit, aromanya tak sedap, tapi kemudian hangat yang menjalar, kemudian Karlina mendapati dirinya bernyanyi, tapi tak bisa henti.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk, Mbak Pipit, teman kosnya bilang, “Dek, dicariin temenmu tuh di ruang tamu..”

“Ohh yaa, makasih mbak Pipit..,” kata Karlina sambil berjalan ke ruang tamu.Karlina dalam keadaan setengah mabok karena menenggak vodka.

Nampak Seno, sudah duduk di sebuah kursi rotan di ruang itu, “hai Karlina, lagi ngapain..? kok mukamu merah gitu, ehh, kok mau jatuh sih…, yang bener dong…”

Karlina hampir saja jatuh terduduk ke lantai, dibantu Seno, kemudian Karlina duduk di kursi berhadapan dengan Karlina.

“Naik..naik…ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, kiri..kanan kulihat saja, banyak pohon cemara..aaaa..kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemara…” begitu Karlina bersenandung, ketika lagu habis, diulanginya lagu yang sama, terus menerus.

Seno melihat gelagat ini, kemudian mendekat, “Ayo ikut aku Karlina, pakai sepatumu, pakai jaketmu…, pakai topi kesayanganmu.., cepat..!!”

Anehnya, Karlina menurut, dia kenakan sepatu kets putihnya, dikenakannya jaket almamaternya, dan sebuah topi menutupi kepalanya, masih tetap bersenandung naik-naik ke puncak gunung…

Seno memboncengkan Karlina dengan sepeda motor hitamnya, “Mana tanganmu Karlina, dua-duanya, pegang pinggangku erat-erat, aku nggak mau kamu jatuh di jalan…” Karlina masih menurut, malah disandarkannya kepalanya di punggung Seno, masih tetap bersenandung naik-naik ke puncak gunung.

Seno menghentikan motornya di depan penjual kelapa muda, tidak turun sama sekali, hanya berteriak pada penjualnya, “Mas, tolong kelapa ijo, airnya aja, nih, temenku keracunan, cepet ya Mas, sorry lho aku nggak turun, temenku ini lemes bener…”

Dengan cepat, si Mas penjual kelapa muda melayani apa yang diminta Seno, tapi mukanya nampak sedikit heran, melihat Karlina yang dibilang keracunan, tapi kok bersenandung tiada henti. Seno nampak tak peduli, Kemudian Seno meneruskan perjalanan, dibelokkannya arah motor menuju kos-kosannya.

Karlina pun turun, jalannya sempoyongan, dan tetap bersenandung, maka Seno memapahnya menuju lantai dua, ke arah kamar Seno. Setelah pintu dibuka, Seno mendudukkan Karlina di lantai yang beralas karpet plastik bermotif bercak-bercak hijau samar, membuat ruangan menjadi nampak bersih dan tambah luas.

Dengan sedotan di plastik pembungkus air kelapa hijau, Seno menyodorkan minuman itu pada Karlina, “Minum Karlina.., habiskan…” Karlina menurut, diteguknya air kelapa hijau itu, dan memang rasanya dia haus benar.

“Kalau kamu mau muntah, nih ada ember..,” kata Seno menyodorkan ember kecil. “tapi kalau kamu masih kuat, muntah di kamar mandi yaa, bilang, nanti aku papah…” Karlina mengangguk-angguk antara mengerti, setengah sadar, dan perasaan tak bisa mengendalikan dirinya secara penuh. Masih meneruskan senandungnya yang hanya satu lagu itu, naik-naik ke puncak gunung.

Tiba-tiba Karlina berasa mau muntah, dia masih sempat berlari ke kamar mandi yang berada di kamar Seno, tapi, tak secuil pun sesuatu keluar dari perutnya. Beberapa saat karlina di kamar mandi, “Karlina, kalau sudah, keluar, pintu jangan dikunci lho…,” kata Seno.

Karlina keluar, dan langsung menjatuhkan dirinya di kasur pembaringan milik Seno, perutnya sakit, kepalanya sakit, dan dia merasa kedinginan, lemas.Menggigil…

“Karlina.., tidurlah…,” kata Seno sambil mengusap dahi Karlina, menyibakkan rambut yang menutupi muka Karlina dan membentangkan selimut pada tubuh Karlina. Seno menatap wajah cantik yang lemas tak berdaya di pembaringannya, muka Karlina sangat membuat Seno tak bosan untuk selalu menatapnya. Kulit Karlina, sehat berkilat, wajahnya bening bersinar, rambut hitamnya yang kriwil membuat gadis itu nampak lucu sebenarnya, tapi matanya terlalu sedih, dan Seno tak tega melihat Karlina menjadi semakin surut.

Karlina tertidur, ada mungkin tiga jam, dan ketika terjaga, terasa kepalanya masih sakit ditambah berputar-putar. Karlina kembali memejamkan mata, sambil menata kesadarannya. Pelan-pelan dibukanya matanya agar tak terasa terlalu pusing, menengok ke sebelah kanan, dia lihat Seno sedang duduk bersila sambil membaca buku, “Seno..,” panggil Karlina dengan suara lemah.

Seno mendekat, dielusnya dahi Karlina, “gimana rasanya..?”

“Rasanya apa..?” tanya Karlina.Karlina mulai menangis pilu, tapi suaranya ditahannya agar tidak terdengar dari kamar-kamar kos yang lain.

“Ya rasanya apa, kok malah tanya aku. Pusing..? Mual..? apa enak..? Sudah jangan nangis…,” goda Seno.

Masih berurai air mata, Karlina mencoba mengingat-ingat, “kenapa aku di kamarmu, Seno, jam berapa ini..? Aku bakal nggak dapat pintu pulang ke kos..”

“Ini sudah jam 11 malam, ini hari Sabtu, malam minggu, kamu tidur saja di sini, aku sudah bilang Ibu kos, aku bilang kamu sakit, nggak ada yang ngurusin, maka dia ijinkan aku mengurus kamu..,” kata Seno.

“Yaa, tapi aku sakit apa..?” tanya Karlina bengong.

“Kamu mabok, Karlina, tadi malam aku ke kosmu mau ngajak kamu jalan-jalan, yang ada malah nemu gadis mabok lagi nyanyi naik-naik ke puncak gunung.., nggak berhenti nyanyimu.., kamu minum apa sih..?” tanya Seno.

“ohh, yaa, aku inget, tadi aku nemu minuman di kamar Sisi, aku coba-coba aja..,” kata Karlina.

“Besok lagi, jangan suka coba-coba kalau kamu nggak ngerti bener, bisa fatal akibatnya, tau..?” kata Seno.

Setelah berdiam sejenak, Karlina berkata, “Aku harus pulang, Seno, antarkan pulang..”

“Lah katanya gak dapet pintu kos-kosan sesudah jam 9 malam, gimana..? Sudah nggak apa, tidur sini aja..” kata Seno.

Karlina mencoba duduk di lantai, berhadapan dengan Seno. Dirapihkannya rambutnya yang kusut, dan dikuncirnya menjadi sebuah ekor kuda.

Seno menatap Karlina dengan senyuman yang tidak terlalu gampang diartikan. Demi menyadari hal itu, Karlina pura-pura menggeser duduknya menuju arah rak buku, dan mengambil salah satu majalah koleksi Seno. “Nggak usah pura-pura baca majalah, aku tau kamu takut sama aku..tapi percayalah aku nggak seperti yang kamu pikirkan….” kata Seno.

Karlina terkejut, tapi berusaha disimpannya sendiri, ditatapnya wajah Seno. Seno itu kakak angkatannya di kampus, kadang-kadang Karlina dan Seno duduk bersebelahaan ketika mengambil mata kuliah yang sama, dia kenal baik dengan Anton, bekas pacarnya, dan tau persis masalah yang terjadi antara Anton dan Karlina. Wajah Seno dipenuhi cambang dan brewok,tubuhnya enggak tinggi-tinggi amat, menurut Karlina, gaya bicara Seno agak feminin, bahkan cenderung agak kemayu.Maka cambang dan brewoknya sama sekali tidak membuatnya nampak macho. Ternyata, macho dan tidaknya seorang lelaki enggak tergantung pada ciri-ciri kelelakiannya, seperti tubuh atletis, cambang, brewok, bahkan bulu dada.., he2.., tapi tergantung pada sikap lelaki itu sendiri.

Seno menyodorkan segelas teh hangat, “Minum, Karlina. Terus, makan ini, nasi goreng, tadi ada yang lewat aku beli buatmu, terus..nih Dunhill hijau, suka..? Jangan Kansas melulu, Kansas itu rokok murahan..,” kata Seno, sambil dirinya sendiri menyulut Marlboro merah yang dia ambil dari softpacknya.

Karlina membuka bungkusan nasi goreng, dan makan sesuap demi sesuap. Malam telah menuju sangat larut, hanya bunyi jangkrik dan binatang-binatang malam yang sedang bersahut-sahutan memamerkan keindahan suaranya di luaran. Terdengar suara penyiar dari Radio Rakossa terdengar dalam volume lirih, yang sedang berkirim-kirim salam buat para pendengarnya, dan menjanjikan sebuah lagu dari Roxette, Fading Like a Flower akan diperdengarkan setelahnya.Karlina merasa sedikit takut, bingung, tak enak pikiran, dan seterusnya. Cerminan rasa tak nyaman.Ya, tetap aja nggak enak malam-malam ada di kamar laki-laki.

“Gimana skripsimu..?” tanya Seno tiba-tiba memecah lamunannya.

“Nggak tau..,” jawab Karlina.

“Ehh, mau nggak, nih, aku kasih bahan, sederhana saja kok, kamu juga bisa contek skripsi sebelumnya yang sudah ada kalau mau, tapi kalau aku sih ogahh, aku mau bikin yang orisinil.., gimanaa..?” kata Seno sambil memberikan sebuah majalah Tempo yang dibacanya, Seno sedang membaca artikel tentang kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita.

“Gimana, tertarik nggak..? Ntar kamu ganti Dosen aja deh, si Nindya itu memang tengil, sok pinter, makanya suka ngomong seenak wudelnya sendiri, ntar aku temenin nemui Dosen yang pinter, dan baik.., mau yaa..? Nanti kita bikin skripsinya bareng-bareng ya Karlina..,” kata Seno.

“Nanti aku pikirkan dulu, Seno, aku bener-bener nggak tau apa yang harus aku lakukan. Apakah aku masih bisa hidup, apa enggak, juga aku nggak tau, rasanya aku sakit, mungkin sakit yang sama dengan Ibuku, dan aku akan mati dalam bilangan beberapa bulan ke depan..,” kata Karlina, air matanya kembali menetes.

Seno mendekati Karlina, didekapnya gadis itu dari arah belakang, masih dalam posisi duduk di lantai, “Ayo Karlina, kamu harus hidup, jangan merasa sakit, jangan menyerah, aku akan bantu kamu, bener.., sungguh…,” kata Seno.

Karlina sedikit merinding merasakan cambang dan brewok Seno yang mengkili-kili leher belakangnya, tapi rasa sedih dan sesuatu yang menggantung berat di dalam hati, mengalahkan pikiran tentang cambang dan brewoknya Seno.

“Aku sendirian, Seno…, aku nggak punya siapa-siapa…huuu…hu….,” suara tangis Karlina tambah pilu.

“Ssst, jangan keras-keras nangisnya Karlina, sudah malam… Percaya aku, Karlina, aku akan membantumu, bener, kita akan lalui ini bersama, kita akan wisuda bareng, yaa.., yaa.., sudah jangan nangis. Udud aja yuk.., aku suka melihat gayamu udud,” kata Seno. Kemudian Karlina melepaskan diri dari dekapan Seno, menuju pembaringan, dan membenamkan mukanya ke bantal, menangis sesenggukan. Suaranya tertahan-tahan sangat memilukan. Seno hanya duduk di sebelah kasur, dan membelai-belai punggung Karlina.

Setelah tangisnya reda, Karlina kembali bangkit dan duduk bersila di karpet bersama Seno, kini, mata Karlina sudah benar-benar terlihat sembab akibat kelamaaan menangis, hidungnya memerah. Karlina kembali makan nasi goreng sesuap demi sesuap, menyeruput tehnya yang tak lagi hangat, kemudian, disulutnya sebatang Dunhill, dan mulai menikmati aroma asap yang memenuhi mulut, kerongkongan, dan hidungnya.

Seno memandang Karlina dengan tatapan senang, “tau nggak Karlina, gayamu merokok itu membuatku kecanduan untuk selalu pengen melihatmu merokok…, temen-temen cewek lain juga banyak yang merokok, Karlina, ketika merokok, ada yang gayanya mirip penyanyi dangdut, ada yang gayanya mirip nenek-nenek, ada yang gayanya kayak lelaki, ada yang gayanya kayak WTS, kayak p*l*c*r.., tapi kamu lain.., gayamu saangat elegan, sangat tingkat tinggi.., aku suka…'” Seno nampak sedikit ekstase melihat Karlina merokok. Karlina hanya tersenyum, sedikit terhibur mendengar sanjungan Seno yang terasa aneh, tapi masih nampak pahit senyumnya.

Demikianlah, sejak hari itu, Karlina hampir selalu nampak bersama Seno, di kampus, di perpustakaan, di kantin, di mana-mana… Karlina pun nampak semakin membaik dari hari ke hari, sudah bisa lebih banyak tertawa dan bercanda, kalau sore tiba, hampir selalu Seno datang untuk mengajaknya makan malam berdua, kadang mereka makan nasi kucing, nasi goreng, atau pecel lele dekat Swalayan Cemara Tujuh di daerah Kenthungan, utara kampus, arah ke lokasi wisata Kaliurang.

Juga Seno menepati janjinya, membantu dan mendampingi Karlina hingga Karlina menyelesaikan skripsinya, sampai selesai ujian pendadaran. Begitu pun dengan Seno, seperti apa katanya, bahwa dia akan menyelesaikan skripsinya berbarengan dengan Karlina, keduanya akan wisuda dua bulan lagi.

Setelah satu bebannya tentang kuliah terselesaikan, Karlina baru sempat memikirkan hubungannya dengan Seno selama ini. Menyenangkan, saling bersinergi, tapi ada yang terasa ganjil, entah apanya…

“Karlina, ayo aku antar booking salon buat dandan wisuda, kalau lagi musim wisuda, mereka penuh lho, harus jauh-jauh hari dulu.., ” ajak Seno sore itu. Karlina mengiyakan, sekalian dia akan sewa pakaian yang akan dikenakannya pada saat wisuda.

Semalam sebelum wisuda, Seno datang ke kos Karlina bersama seorang pemuda tampan, tinggi, dengan kemeja yang sedikit terbuka kancing bagian atasnya, hmm, dadanya berbulu… Senyum pemuda itu sangat hangat dan ramah, sikapnya nampak dewasa. “Ayo makan malam, kenalkan, ini Andrew, Andrew, ini Karlina..”

Malam itu Seno mengajak Karlina makan di restoran mahal, bukan di warung makan yang biasa mereka sambangi ketika makan malam. Kali ini, enggak juga berboncengan motor dengan Seno, karena Sang pemuda tampan dan keren itu membawa sedan berwarna merah.

“Besok pagi, aku jemput, aku drop kamu ke salon, habis itu aku jemput lagi, langsung ke Gedung yaa, nomor kursi kita kan sebelahan,” kata Seno. Aku cuma mengiyakan.

Dan besoknya, tibalah hari Wisuda, Karlina hanya didampingi Sisi dan beberapa kawan kosnya yang lain, sedangkan Seno, hanya didampingi si pemuda tampan nan keren yang semalam makan malam bersama Karlina dan Seno.

Setelah upacara wisuda usai, tibalah waktu untuk ambil foto di sekitar gedung tempat wisuda, Seno menggandeng tangan Karlina keluar gedung, di luar sudah menunggu beberapa teman membawakan karangan bunga kecil sebagai ucapan selamat, Karlina merasa sangat bahagia.

Kemudian, dilihatnya Andrew, sang pemuda tampan nan keren itu pun, membawa rangkaian bunga mawar merah, wuihh, itu sih bunga mahal, batin Karlina. Kemudian Andrew menghampiri Karlina dan Seno, kemudian mengerling sedikit ke arah Karlina, “Pinjem Seno sebentar yaa..?” Karlina mengangguk sambil tersenyum.

Andrew membawa Seno agak menjauh dari kerumunan, pandangan mata Karlina terus mengikuti ke arah Andrew dan Seno menuju, di bawah pohon Ketapang yang cukup rimbun, Seno dan Andrew nampak tertawa-tawa gembira, terdengan suara Seno sedikit memekik kemayu, kemudian Andrew memberikan rangkaian bunganya kepada Seno, memeluknya dan menciumnya dengan mesra….

 

Virginia,
Dian Nugraheni,
Jumat, 30 Desember 2011, jam 1.57 siang..
(Teringat saat-saat pada sebuah tanggal di bulan Agustus 1994, di Kampus Biru yang enggak Biru…)

 

12 Comments to "Domba Berbulu Serigala"

  1. Linda Cheang  5 January, 2012 at 01:01

    eh, terbalik, deh. mestinya domba berbulu serigala. tapi teteup aja enggak rela jadi = husky.

  2. Linda Cheang  5 January, 2012 at 01:00

    oh, jadi serigala berbulu domba itu = husky? enggak rela, ah!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.