Pengalaman Tinggal di Cairo (5)

Titin Rahayu

 

Setelah terlambat kurang lebih sekitar 2 minggu dari perjanjian awal kapan kita bisa  menempati rumah kita, akhirnya tibalah saat itu, pindahan !! dari tempat sementara ke tempat tinggal kita yang permanen.

Sedikit cerita lucu dengan petugas bea cukai; kita mempunyai printer berwarna biasa, bukan yang laser dan mereka bilang kalo printer kita gak boleh masuk ke Cairo dengan alasan kalo mereka takut printer itu kita buat nyetak uang.  Setelah uang bensin diberikan akhirnya container kita termasuk printer di dalamnya dilepas sama bea cukai.

Orang Indonesia terkenal dengan jam karetnya tapi orang-orang di Cairo jauuuhhhh lebih ngaret dalam hal apapun. Dari perusahaan pindahan yang disewa perusahaan bilang kalo container tiba jam 10 pagi di tempat baru kita, tapi ternyata mereka baru datang jam 3 sore. Suami  sudah sangat gondok dengan hal itu, dia orangnya yang selalu tepat waktu harus menunggu selama itu tanpa bisa berbuat apa-apa sementara kerjaan di kantor numpuk.

Kita menempati rumah yang baru jadi, segalanya serba baru tapi jangan tanya soal kualitasnya, pintu yang gak bisa nutup dengan benar, kalo gak di banting gak bisa nutup, oven yang  gak bisa di pakai  (sampai kita pindah, 2 tahun kemudian pun, oven itu tetap baru, belom pernah dipakai), 80 prosen dari total jendela gak bisa dibuka, 3 bulan setelah kita tinggal di sana pemanas air mulai bocor, air yang mulai merembes di tembok, kolam renang yang bocor ke kamar mesin, mesin kolam renang yang selalu bermasalah, lupa memasang gagang di laci kamar tidur (gimana bisa buka laci kalo gak ada gagangnya) dan seribu satu list yang gak  bisa aku sebutin satu persatu di sini.

Setelah beberapa bulan di sana, kita baru menyadari kalo orang-orang itu benar-benar malas berfikir, malas kerja, tukang ngeyel, sok tahu dan keras kepala, dan juga malas mandi, kalo musim dingin sih gak masalah tapi kalo sudah musim panas. . wwuuuiiihhh BB nya, gak nahan !! Sekolah tingkat dasar dan menengah di Cairo sangatlah murah tapi banyak sekali anak-anak yang gak sekolah, orang tua mereka lebih senang kalo anaknya kerja cari duit, biasanya mereka kerja di pasar bantuin ibu-ibu yang bawa belanjaan banyak.

Saat aku complain soal jendela, pemilik rumah bilang kalo yang masang jendela mau datang buat memeriksa jendela yang bermasalah.  Setelah dia terlambat sehari kemudian, dia tanya ke aku jendela mana yang bermasalah, setelah aku sebutkan jendela mana saja, dia mulai  bekerja membetulkan jendela yang aku maksud.  Dia yang memasang jendela tersebut  tapi tetap saja jendela yang aku maksud gak bisa di buka dan dengan entengnya dia bilang kalo jendela itu gak usah dibuka saja.

Sebulan setelah kita tinggal di tempat yang baru, baru aku tahu kalo jendela memang gak perlu dibuka, percuma saja di buka, debu bakalan masuk ke rumah … Aku yang sempat ngeyel soal itu jadi terdiam gak bisa lagi komentar apa-apa.

Dengan pintu juga demikian, dibetulkan seribu kali pun, pintu utama itu tetap gak bisa nutup dengan semestinya. Aku nyerah saja, biarin seperti itu. Sama seperti hal yang lainnya, yang selalu bermasalah, aku sudah capek, capek komplain melulu, biar saja seperti itu.

Sama seperti dengan mobil, yang tiap bulan harus masuk bengkel karena ada saja masalahnya.

Suatu pagi, setelah bis jemputan anakku datang dan dia pergi sekolah, aku lihat keluar “ kok tumben, mendung. . mendungnya coklat dan berangin lagi, aneh. . ” kataku dalam hati. Selanjutnya aku balik lagi masuk selimut, aku keluar dari kamar sekitar jam 10an, aku lihat  di atas sofa hitamku sudah ada lapisan debu di atasnya, seperti donat yang di taburi gula bubuk di atasnya, tapi itu warnanya coklat tanah.

Aku ke dapur …oohhh Tuhanku !! Seluruh dapurku penuh dengan debu, piring-piring bersih yang semalam aku cuci dan aku taro di atas rak itu juga penuh debu, di atas microwave, di atas mesin kopi, di meja, semua seperti ditaburi debu. Aku gak ngerti apa yang sedang terjadi, aku telpon salah seorang temanku dan  aku ceritakan soal dapurku sambil tertawa dia bilang kalo ada badai debu hari itu.

Dia mengajakku minum kopi di mall terdekat, aku bilang kalo aku harus bersih-bersih dapurku, tambah kencang di tertawa, “  kemungkinan badai debu itu akan selesei nanti malam, kalo kau bersihkan sekarang, 5 menit kemudian juga kotor lagi, percuma !! “ kata temanku.  Gak lama kemudian suami nelpon, bertanya  aku masak apa buat makan malan nanti, aku bilang “ kentang tumbuk dengan campuran debu padang pasir  “.

Pelan tapi pasti aku mulai mengikuti ritme kehidupan di Cairo, suami yang gak pernah libur di bulan-bulan pertama, sekarang dia mulai ambil libur meskipun cuman hari Jum’at dan hari Sabtu dia harus masuk kerja.  Akhir pekan di Cairo adalah Jum’at dan Sabtu.

Di Cairo tidaklah gampang membawa anakku pergi ke kaffe yang menjual bir, sedangkan kebiasaan kita adalah ngaffe tiap akhir pekan, untungnya ada satu tempat yang biasa kita datangi yang mengijinkan anakku masuk. Di tempat itu lah kita bertemu orang-orang yang juga kerja di Cairo, kebanyakan mereka kerja di perusahaan minyak. Dari mereka juga aku tahu kalo Cairo bukanlah tempat terkotor dan terburuk, ada yang lebih kotor dari Cairo, “ India “ kata salah satu dari mereka. Mereka menjelaskan  kalo aku sebagai perempuan juga masih beruntung tinggal di Cairo, sebagai perempuan aku masih punya banyak kebebasan yang aku miliki di bandingkan perempuan expat yang harus tinggal di Saudi Arabia.

Setelah di fikir-fikir mungkin ada benarnya juga, ada banyak juga perempuan yang bawa mobil sendiri, biaya hidup seperti bahan makanan juga lebih murah daripada di Eropa. Gaji sopir, pembantu, babysitter juga cukup murah. Hampir sepanjang tahun matahari bersinar, mereka yang suka main golf bisa main sepanjang tahun, lambat laun pun sampah-sampah dan gedung-gedung yang tak terawat  itu gak begitu lagi mengganggu pemandangan mata. Harga mobil jauh lebih mahal daripada di Indonesia, karena mereka mengimportnya dari Indonesia, harga baju juga 30 prosen lebih mahal dari pada di Eropa.

Seperti ceritaku sebelumnya kalo lalu lintas di Cairo sangat mengerikan tapi cuman seminggu saja suami mau disupiri oleh sopir selebihnya dia bawa sendiri, kata dia lebih aman bawa sendiri dari pada disupiri. Buatku butuh waktu hampir setahun buat berani bawa mobil sendiri.

Kalo suami ada waktu dia selalu ngajak kita jalan-jalan lihat kota Cairo dari dekat, aku dulu yang selalu ketakutan lihat tempat-tempat yang aku lihat di balcony hotel itu sekarang kita sedang melewatinya dengan dengan mulut yang ternganga. . sambil tertawa suami bilang “ unbelievable “. . Terlihat  mobil-mobil yang di parkir berderet begitu dekat satu sama yang lain, hampir gak ada celah buat lewat. Aku sempat terheran-heran gimana mereka bisa mengeluarkan mobil-mobil itu sampai aku lihat si tukang parkir mendorong mobil itu maju ke depan sampai si supir punya celah buat masuk ke dalam mobilnya…eehhhmmm pintar juga. Di Cairo banyak juga tempat parkir yang kita harus menyerahkan kunci mobil kita ke mereka semacam valet parking tapi tidak secara resmi.

Salah satu tempat yang kita kunjungi di Cairo adalah Al-Azhar park, taman cantik yang lumayan besar dan hijau. Banyak juga muda-mudi yang lagi pacaran (saling mendekat, menempel, bisik-bisik dan tertawa cekikikan) atau pun yang sedang jalan-jalan dengan bergandengan tangan (sedikit kebebasan yang ada di Cairo). Sebagian besar penduduk Cairo adalah Muslim  yang terlihat dari kerudung dan burka yang mereka kenakan (buat perempuannya), dan yang kedua adalah Kristen koptik, perempuan Kristen gak pake kerudung, mereka sangat modis dengan rambut mereka yang sebagian besar dibiarkan memanjang. Laki-laki Kristen sebagian besar punya tattoo salib  di pergelangan tangan,  tidak dengan laki-laki Muslim.

Kita mulai  bisa tersenyum dan menertawakan kemalangan kita, serta menikmati keunikan dari penduduk Cairo.

Bersambung…

 

17 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (5)"

  1. syafiah  20 June, 2013 at 21:56

    Mba titin mta emailx yaa

  2. Linda Cheang  5 January, 2012 at 00:53

    baru tahu ternyata ada warga negeri yang lebih malas lagi dari warga negeri sendiri. amazing!

  3. Titin  4 January, 2012 at 20:42

    Mas Pam,aku sangat bersyukur karena internet sangat lancar, sejak awal sampai kita pindahan gak ada banyak masalah dengan internet
    Pak DJ, memang benar mereka tidak mengeluh karena memang lahir dan di besarkan dengan keadaan yg seperti itu dan mereka juga gak punya pilihan lain dan gak pernah tahu apa yg lebih baik dari pada yg mereka punya, tapi orang-orang Cairo yg sudah pernah keluar negri jangan tanya deh , keluhan mereka dari sabang sampai tokyo

  4. [email protected]  4 January, 2012 at 11:22

    internet gimana?…. lancar? cepat?

    kalo jaman sekarang kan biasa tuh, gak perlu buka jendela, ga perlu buka pintu….. as long as internet jalan terus….

  5. Dj.  3 January, 2012 at 23:44

    Mbak Titin….
    cairo memiliki budaya yang sangat tinggi.
    Lihat saja jamannya Cleopatra….
    Banyak bangunan megar seperti Piramide dan yang lainnnya….
    Denagn keluhanya mbak Titin alami itu, baik jam karet, atau malas berpikir atau malas kerja, atau kerja asal-asalan…
    Itu semua menunjukan akan kesabaran mereka.
    Lihat saja, hidup ditengah padang gurun, mana harus hidup dengan debu dimanapun, Harus hidup di panasnya terik matahari. Hidup ditempat yang banyak sampah…
    tapi satu yang Dj. salut… MEREKA TIDAK MENGELUH…!!!
    Hebat kan…???
    Mereka menjalani hidup dengan sabar, walau jendela tidak bisa dibuka, pintu tidak bisa ditutup, ofen tidak bisa dipakai, ya…bahkan mandipun mereka harus jauh mencari air. Jangankan untuk mandi, mungkin untuk minum juga sudah sulit….
    Olehnya , hiduplah seperti mereka juga, maka mbak Titin pasti akan merasa nyaman….
    Kan ada pepatah…
    Dikandang kambing, kita mengembek…dikandang kucing, mengeon… Hahahahahahaha…!!!
    salam Damai dari Mainz….

  6. Titin  3 January, 2012 at 21:44

    Trimakasih buat semua komentarnya
    Pak Hand, mas Anoew, tunggu saja edisi selanjutnya, akan terjawab pertanyaan di atas

  7. Lani  3 January, 2012 at 15:44

    DA 1: wakakakka…….nah, untung msh mau mengakui ke ndesoan-mu sodara kenthirku……..tp yo mmg kdg klu kacanya sgt bening, kemplink…….ndak keliatan……..

    TITIN : akhirnya sdh bs cuek dan mulai adaptasi…….tp aku ngakak2 lo bacanya…….lucu banget je! tuh kang Anuuuuuu minta foto yg mulus2

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.