Alami dan Buatan Manusia

Anwari Doel Arnowo

 

Kejadian apa saja, sebagian besar, adalah di luar kekuasaan saya dan manusia pada umumnya. Setuju ataupun tidak setuju terhadap hal ini akan memberi hasil yang bisa menghabiskan waktu berbincang, berbicara, berdebat dan bersengketa sepanjang hidup kita di dunia di alam raya ini.  Mari kita buka saja  cara pandang kita dengan lebih mengamati kehidupan kita sendiri lebih mendalam dari yang paling kecil sampai ke hal-hal yang menyangkut Planet Pluto yang nun jauh di sana. Ternyata kita bisa saja terkejut-kejut mendapati hal sepele tetapi cukup besar sekali masalahnya.

Saya pernah memikirkan seperti ini: SEMUT. Apa yang saya dapati? Saya melihat semut ada di tengah hutan Kalimantan dan juga di jalan besar Ginza di Tokyo, atau di halaman Hotel Grosvernor di London, ada juga mereka ini yang merambat dan berbaris di The Beaches di Danau Ontario bagian Utara. Di kota Blitar ada, juga di Sorong, Papua kita jumpai mereka ini. Kita, manusia sering sekali menganggap remeh mereka ini, demikian pula terhadap mereka yang kecil-kecil bentuknya seperti bakteri dan tungau (bahasa Jawannya: TENGU). Apa sebenarnya misi kehidupan dari adanya bentuk makhluk kecil seperti semut ini di seluruh dunia kita? Aha, saya bukannya usil, tetapi alangkah bagusnya apabila kita mau mengubah mindset kita semua, mendalami untuk apa mereka tercipta dan siapa sangka akan bisa bermanfaat bagi semua makhluk.

Bagaimana? JANGAN MENGANGGAP REMEH TEMEH ATAU SEPELE, itu saja!!

Mengapa harus memikir soal bakteri atau tungau? Ya kalau kita mampu berpikir, gunakanlah pikiran itu dan bila ogah atau tidaksudi atau tidak perduli juga tidak apa-apa. Saya sendiri meskipun terbatas kemampuan saya untuk lebih perduli, saya sudah melakukan sesuatu sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Apa itu??

Saya sudah pernah menuliskan masalah ini, yaitu bahwasanya saya SUDAH menghentikan membunuh semut, nyamuk, kecoa dan hampir semua makhluk yang ada di dunia ini. Apakah saya seorang vegetarian ?? BUKAN. Saya makan daging hewani dan tumbuhan. Tetapi yang menyembelih dan menyiapkan semua makanan itu saya tidak ikut campur, saya hanya makan yang ada di hadapan saya, dengan kepastian bahwa hewan yang dagingnya saya makan itu adalah hewan piaraan bukan hewan liar yang diburu dan ditembak atau dipanah dan sebagainya. Itu saja yang saya anut, berdasarkan oleh pemikiran pribadi, bukan dari manusia lain atau malah bukan oleh karena dipengaruhi oleh ajaran spiritual dan ajaran agama apapun.

Saya pikir toh bukan hanya saya saja yang berbuat seperti itu, pasti ada juga yang lain. Terus terang saja saya amat iba hati bila datang Hari Raya Kurban, bahkan termasuk juga Thanksgiving yang kurbannya adalah binatang turkey, meskipun dulu sekali saya selalu berkurban dengan membayari pengadaan hewan kurban, perasaan iba hati itu sebenarnya sudah ada sejak saya masih muda. Ketika datang keberanian saya untuk mengubah mindset  saya secara begini, saya lakukan saja. Saya beranikan diri saya karena ini hanya untuk diri saya, tidak berusaha mempengaruhi orang lain untuk berrbuat apapun seperti itu.

Beberapa bulan yang lalu, saya baca bahwa ada sebuah LSM dari belanda {(?) saya lupa} mengadvokasi binatang yang akan disembelih untuk konsumsi makanan manusia. Mereka berpendapat bahwa binatang yang disembelih dengan cara seperti dianut selama ini adalah melanggar peri kebinatangan dan tentu saja juga peri kemanusiaan, karena rasa sakit yang diderita untuk menghadapi maut yang meninggalkan tubuhnya sebelum disembelih tuntas. Caranya? Binatang itu harus dibius total sebelumnya, itu anjurannya. Saya saat ini, meragukan apakah LSM ini akan bisa berhasil. Undang-undang yang mengarah ke perbaikan peri kemanusiaan saja terus menerus dilanggar oleh manusia sendiri, baik secara nasional maupun internasional. Apalagi peri kebinatangan?!

Siapapun manusianya, bebas saja melakukan apa yang dia ingini, asal tidak akan menimbulkan gangguan bagi orang lain.

Apa yang saya saksikan di Toronto, Kanada adalah sebagai berikut. Di situ bermukim banyak Moslem dari asal bangsa, yang mungkin sekali mencapai lebih dari seratus asal bangsa yang beremigrasi ke khususnya Propinsi Ontario Kanada. Macam-macam jenis Moslem bahkan yang Achmadiyah pun banyak, di sana disebut dan menyebut dirinya Ahmadiyya. Mereka ini, para Moslem tersebut,  tidak terdengar oleh saya bermusuhan satu sama lain, semua bebas melakukan ibadah dengan cara masing-masing.

Bagaimana dengan menyembelih hewan kurban?? Di sinilah yang saya lihat amat berbeda dengan kebiasaan kita di Tanah Air Indonesia. Di sekitar saya merasuk dan menyebar bau amis anyir dan menusuk dari darah hewan dan terlihat jelas tidak terpelihara kebersihan dan kesehatannya. Apakah kaum miskin dan papa itu boleh diberi risiko dengan cara MENGONSUMSI daging dari hewan yang sedang sakit atau mengandung penyakit tanpa pemeriksaan terlebih dahulu?

Mari kita tiru apa yang terjadi di Toronto ini dan mungkin juga di negara lain selain Tanah Airku ini. Di Toronto, Pemerintah Kota Toronto, juga tentunya di seluruh wilayah Kanada, turun tangan dengan agak cerewet: Hewan hanya boleh disembelih di tempat yang ditentukan, yakni di tempat pemotongan resmi dan berijin dengan benar. Benar? Ya tentu saja pasti benar karena menggunakan doa yang telah ditentukan, meski saya tidak pernah menyaksikannya sendiri. Yang melakukan kurban akan menerima daging dan bagian lain yang boleh dan biasa dikonsumsi oleh manusia penduduk Toronto sehari-harinya. Terserah sekarang bagi yang memberikan/mengadakan  hewan kurban itu, ke mana diserahkan hasil yang diterimanya. Mungkin kalau menghendaki bagian otak, usus, atau babat, maka harus memesan dahulu, karena tiga bagian ini bukan gampang didapat di toko daging, bukan saja di Kanada tetapi juga di negara-negara lain seperti Jepang juga.

Mindset saya juga saya sesuaikan dengan banyak hal, misalnya mengenai bencana alam atau munculnya Burj Khalifa {yang tingginya 829.84 m (2,723 ft)} di Dubai, yang pernah menjadi bangunan tertinggi buatan manusia atau jalur kereta api ke Tibet yang adalah jalur kereta yang tertinggi letaknya di dunia. Juga saya sesuaikan mindset saya dengan kejadian Tusnami besar di Aceh di Atlantik serta di Jepang di Pasifik  baru-baru ini. Kedua kejadian  ini sama sekali bukan buatan manusia. Contoh yang lebih kecil ada juga yaitu seperti orang yang terkena keracunan makanan di sebuah pesta dan juga tentang ambruknya jembatan di Kutai Kartanegara di Kalimantan. Ada unsur di luar kekuasaan manusia dan ada unsur abai oleh manusia. Kita bisa saja kecewa, bisa juga marah dan bahkan mencak-mencak meluapkan rasa tidak suka, tetapi semua itu ada batas-batas, yang seharusnya kita mampu sendiri dalam mengelolanya.

Saya merasakan damai dengan kejadian yang mengejutkan maupun kejadian yang biasa bisa terjadi, meskipun di luar kekuasaan manusia. Sayapun hanya terheran-heran terhadap taktik yang digunakan waktu ada pesawat menabrak gedung WTC di New York. Berita ini setara dengan film buatan Hollywood  yang menayangkan bagaimana tentara Amerika yang memuntahkan peluru sekian puluh buah dalam satu menit ke arah musuhnya yang orang Vietnam Utara. Saya bukan memendam dendam kepada USA, tetapi dalam menilai beritanya saya merasakan bahwa kedua berita itu dapat disamakan dan setara.

Anda juga mampu kalau merasakan rasa damai seperti telah saya rasakan, karena itu tidak terlalu sulit, toh sebagian besar hanya karena kemauan pribadi bukan karena disuruh oleh pihak atau unsur lain.

 

Anwari Doel Arnowo – 2012/01/02

 

12 Comments to "Alami dan Buatan Manusia"

  1. anoew  6 January, 2012 at 03:15

    Wah…, kok penangkapan saya tentang artikel pak Doel lain sendiri ya? Saya sih nangkepnya ‘damai’..

  2. Dj.  6 January, 2012 at 00:17

    Cak Doel….
    Terimakasih untuk ulasannya yang bagitu baik dari kehidupan pribadi Cak Doel…
    Dj. juga berpikir demikian ( mirip cak Doel…. )
    Mengenai membunuh binatang, Dj. juga tidak tegaan, kecuali kalau binatangnya lebih besar dan
    harus memilih, dibunuh oleh binatang atau membunuh binatang… Atau lari….!!! Hahahahaha…!!!
    Nah satu pilihan yang sulit tentu, namun untuk bertahan hidup, mau tidak mau ya harus berusaha
    untuk hidup aman.
    Karena Dj. hobby mancing ikan di kolam, Danau atau laut, jadi satu kegemaran juga.
    Jujur sudah beberapa tahun ini juga tidak mencing, karena dipengaruhi pikiran yang seperti cak Doel alami.
    walau di Jerman, untuk memancing ikan harus punya ijin dan harus sekolah dan bahkan ujian negara.
    Disini, seperti yang cak Doel tulis, ikan yang di pancing juga harus segera dibunuh.
    Dan caranya , harus membius si ikan dengan menusuk jantung ikan, agar pinsan, seterusnya kalau ikan dibunuh, dia tidak merasa kesakitan. ( nah disini pemancing harus paham akan anatomi ikan, harus tau letak jantung ikan )
    Memancing juga merupakan sport… Kok bisa…???
    Lha kami diajar, mengail ikan dibibir, sebelum kalil masuk mulut ikan dan bibir ikan seperti kuku menusia yang tidak ada syarafnya, jadi tidak merasa sakit.
    Bila ada pertandingan memancing, disamping besar ikan atau jumlah ikan atau berat ikan, juga dimana kail tersngkut di mulut ikan.
    Terimakasih…!!!
    Salam Sejahtera dari Mainz…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.