[Cinta di Atas Awan] Mencari Seorang Peri

Hennie Triana Oberst

 

Artikel sebelumnya:

[Cinta di Atas Awan] Suatu Ketika

[Cinta di Atas Awan] Alberta

[Cinta di Atas Awan] Vancouver

 

“Bagaimana Edmonton, benar seperti yang aku katakan nggak?”, tanya Marc sambil tersenyum.

Ketika berada di pesawat dia sempat bertanya ke kota mana tujuanku, sewaktu kukatakan akan terbang ke Edmonton, dia tertawa-tawa sambil berkata.

“Ngapain ke sana, di sana masih beku, dingin. Orang-orangnya juga murung semua.”

“Well, kamu benar Marc, di sana dingin. Tidak terlalu banyak manusia aku lihat, kecuali di rumah makan dan pusat perbelanjaan yang aku kunjungi. Memang begitukan, katanya suasana hati dan mimik orang berubah-ubah sesuai musim”, jawabku panjang lebar dan sok tau sambil tertawa.

Aku belum pernah hidup di Negara empat musim, hanya sering mengunjunginya, tapi tidak lebih dari tiga minggu. Sangat singkat bagiku untuk menganalisa perubahan situasi seseorang atas dasar musim yang berganti.

“Kita mampir ke Cafe ya, udara bagus begini enaknya duduk di luar menikmati matahari sambil ngopi tentunya“, ajak Marc ketika kami baru saja meninggalkan persimpangan jalan tempat tinggal Hazel.

“Aku dengan senang hati akan ikut Marc. Lagian kamu yang lebih tahu kota tercintamu ini, aku akan nikmati liburan dengan pemandu wisata yang tepat“, jawabku yang membuat Marc tertawa lebar.

Wajah tampannya dan senyum yang selalu hadir membuatku tak sanggup menolak kebaikannya. Aku hanya selalu berusaha tidak berburuk sangka. Aku memiliki perasaan yang lumayan sensitif, dan biasanya hampir selalu tepat. Entah kenapa aku nyaman berada di dekat Marc, tak ada kekuatiran yang mengusik.

Sekitar dua jam duduk di teras Cafe, kami menuju kediaman Marc. Satu rumah di kawasan yang sangat nyaman. Menurut Marc di sekitar tempat tinggalnya ini banyak juga karyawan yang bekerja di perusahaan yang sama, di tempat kami mengumpulkan duit.

Rumah yang lumayan besar dengan halaman di bagian belakang yang ditanami beberapa pohon buah-buahan, tertata rapi dan sangat bersih. Rumah dua lantai tersebut memiliki empat kamar tidur yang lumayan besar tiap ruangnya, ada dua kamar mandi dan satu toilet yang disediakan di dekat ruang tamu yang bersatu dengan dapur. Aku dibolehkan memilih kamar mana saja yang aku suka. Pilihanku jatuh pada satu kamar di lantai atas, dengan jendela menghadap taman, menambah kenyamanan pandangan ke luar.

“Besok aku tak bisa menemanimu jalan-jalan, tapi sore hari aku sudah di rumah lagi. Ini kunci rumah aku tinggalkan untukmu. Boleh kamu bawa pulang bersama ke tanah airmu. Kapan saja kamu mau datang, silakan, ini sekarang rumahmu juga“, Marc bicara dengan lembut tapi menyesakkan dadaku.

“Maksudmu apa Marc?“, tanyaku yang mungkin kedengaran bodoh.

“Aku ingin menjadikanmu istriku. Kalaupun kamu nggak mau nikah segera, kita pastikan saja bahwa kita adalah sepasang kekasih. Setiap aku terbang ke Asia, kuusahakan mengambil waktu mengunjungimu, itu pasti“, lanjutnya sangat serius menjawab pertanyaanku.

“Marc, kita baru saja kenal beberapa hari lalu. Darimana kamu tau kalau aku ini wanita yang tepat sebagai istrimu?“, tanyaku berbalik.

“Aku tahu dari detik pertama melihatmu. Aku perhatikan kamu ketika aku melintasi ruang tunggu sebelum masuk pesawat. Makanya aku berusaha mencari di mana kamu duduk. Kalau ada bangku kosong di kelas bisnis saat itu sudah pasti aku tawarkan untukmu, aku jatuh cinta ketika pertama melihatmu.“

Kalimat panjangnya bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Laki-laki lembut dan murah senyum ini begitu menakjubkan mengeluarkan kata-katanya.

Mestinya aku tersanjung mendengarnya. Lelaki yang aku taksir tingginya hampir 190 cm ini dulunya adalah seorang model. Sempat kulihat koleksi album fotonya, indah dengan tubuh yang aduhai.

“Marc, kita mencoba menjajaki dulu pertemanan kita ini ya. Aku belum bisa memutuskan untuk lebih jauh dari hanya teman. Aku tau kamu baik sekali, harusnya aku langsung terima tawaranmu. Tapi aku juga tidak mau membohongi dirimu dan diriku sendiri. Kamu terlalu baik untuk dikecewakan“, pernyataanku memang terlalu terus terang, seperti aku sebenarnya.

Liburanku kali ini adalah mengalihkan luka yang baru saja aku derita (sedih, remuk redam sendiri). Patah hati ceritanya, karena seorang lelaki yang begitu aku cintai. Lelaki yang aku yakin sangat mencintaiku. Entah kenapa kami berdua tak bisa mewujudkan impian bersama, hubungan jarak jauh lebih dari tiga tahun yang dilewati dengan tangis dan tawa ternyata menguap begitu saja. Ini mungkin yang dinamakan bahwa kami tak berjodoh. Aku tak ingin mengenang, karena tiap ingat namanya aku masih ingin menangis. Tak ingin kututup satu cerita dengan menghadirkan cerita baru yang masih membingungkanku.

Marc sedikit kecewa, tetapi tetap bersikap ceria. Dia merasa punya harapan besar, karena dia tahu aku tidak memiliki seseorang saat ini, sama seperti dia.

~~ OOO ~~

Jadwal terbang bersama ke Hong Kong sesuai dengan yang kami rencanakan. Seperti janjinya Marc menempatkanku pada kelas bisnis. Hampir semua crew yang bertugas menganggapku adalah teman istimewa Marc (entah bagaimana itu bisa terjadi). Hal tersebut malah menguntungkanku.

Aku harus menginap semalam di Hong Kong sebelum melanjutkan perjalanan ke tanah air melalui Singapura esok harinya. Kami menginap di hotel yang sama di Hong Kong, juga melewati waktu bersama dengan beberapa crew yang bertugas di penerbangan tersebut. Mereka akan melanjutkan penerbangan ke Tokyo esok harinya.

~~ OOO ~~

Kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas sehari-hari. Hari ini aku terima satu kartu post yang dikirim dari Jepang, pengirimnya tak lain adalah Marc. Kali lain aku terima dari Israel, ketika ia sedang berlibur di sana. Kali lainnya dari Kanada, juga beberapa negara lain yang sempat dikunjunginya. Telfonnya yang tidak rutin tetapi sering menjadi media penghubung pertemanan kami. Aku tidak jatuh cinta kepada Marc, walaupun aku tau begitu sayangnya dia terhadapku. Tak akan aku paksakan perasaanku. Aku telah belajar menjalani hidup dengan kenyataan, tanpa berusaha membangun impian terlalu tinggi. Dan tak akan pernah kuberikan harapan kosong pada orang lain, apalagi lelaki sebaik Marc.

Klik di antara kami sepertinya tak juga menghampiriku. Mungkin ada seorang wanita yang akan mencintainya di masa depan, entah siapa, yang pasti bukan aku. Undangannya untuk berlibur bersama kuputuskan untuk tak aku penuhi.

Seandainya aku bisa mengirimkan seorang Peri Cinta, pasti akan kukirimkan untuknya. Agar si Peri menghadirkan seorang wanita yang tepat dan baik hati yang kelak mendampinginya untuk selamanya.

 

Untuk Marc – Semoga saat ini kau bahagia.

 

170 Comments to "[Cinta di Atas Awan] Mencari Seorang Peri"

  1. HennieTriana Oberst  16 January, 2012 at 19:57

    Bener Anoew, ternyata tau juga kan

  2. anoew  16 January, 2012 at 18:41

    Hen, sensitif? Hmm iya ya.., memang ternyata kacang itu sensitif..

  3. HennieTriana Oberst  16 January, 2012 at 18:16

    Anoew, baru tau kan. Karena mereka sangat sensitif

  4. anoew  15 January, 2012 at 19:40

    Oooh baru tau, ternyata peri gk punya kacang ya, Hen?

  5. HennieTriana Oberst  15 January, 2012 at 18:14

    Anoew, Perinya sedang beli kacang

  6. anoew  15 January, 2012 at 17:24

    Lho? Belum ketemu kacangnya eh, perinya?

  7. HennieTriana Oberst  15 January, 2012 at 17:04

    Sifana, terima kasih sudah mampir.
    Boleh saja, tapi jangan lupa mencantumkan sumber dan penulisnya ya.

  8. sifana  15 January, 2012 at 07:49

    Ceritanya bagus2…dan penuh inspiratif…, boleh dong sy copas untuk group saya….

  9. Lani  14 January, 2012 at 12:30

    HENNIE : klu kelamaan kg dibuka ya apeg baunya spt bek-pek punya mpek DUL kkkkkk

  10. HennieTriana Oberst  14 January, 2012 at 10:39

    Lani, hahaha… masak sih sampe bau apeg

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *