Road to PKK (1)

Adhe Mirza Hakim

 

Hai Baltyrans….kali ini aku akan berbagi kisah seputar liburan kami akhir Desember 2011 yang lalu, musim hujan memang sedikit mengurangi kenyamanan menikmati liburan, ditambah liburan yang kami ambil bertepatan dengan hari Natal, lengkaplah sudah. Ada beberapa lokasi kuliner  dan objek wisata yang tutup, tetapi hal ini tidak boleh mengurangi kebahagiaan kita menikmati waktu bersama keluarga bukan?

Judul trip kami kali ini “Road to PKK” kependekan dari nama 3 kota yang  telah kami kunjungi, yaitu Pontianak, Kuching dan Kota Kinabalu. Ide untuk menghabiskan liburan di 3 kota ini, sedikit terinspirasi dari keinginan untuk melintasi Borneo (Kalimantan) dari Barat ke Utara. Sebelumnya aku sudah melintasi Borneo dari Selatan ke Timur walau via udara hehe…

Karena liburan ke PKK ini tidak melibatkan pihak travel, maka semua urusan pesan tiket pesawat, bus dan carter mobil berikut hotel dilakukan by online payment, khusus untuk Kota Kinabalu kami memakai jasa travel agensi untuk mengantar kami ke objek-objek wisata di sana, sebelumnya aku sudah browsing terlebih dahulu tempat-tempat yang ingin kami kunjungi.

Keuntungan independent traveling  (IT) ini, kita bisa mengatur waktu dan tempat yang ingin kita kunjungi tanpa terikat dengan itinerary pihak travel yang suka menyisipkan wisata belanja, nah…khusus untuk yang satu ini aku agak alergi, karena belanja bukan tujuan wisataku, kecuali bela-beli souvenir khas daerah wisata yang kami kunjungi masih bisa aku terima.

Kelemahan IT , sudah jelas biaya yang lebih besar dari paket tour, kecuali gaya backpacker yang bisa meminimalisir pengeluaran sampai serendah-rendahnya, bisa dimaklumi, kalau perginya hanya sendirian, berbeda jika liburan ala keluarga dengan membawa anak-anak, tentu ada ‘faktor kenyamanan’ yang harus diutamakan, sesuatu yang nyaman tentu memerlukan ‘cost’ lebih bukan?

Setelah browsing dan bertanya ke teman-teman yang bermukim di kota-kota yang akan kami kunjungi (thanks buat Dini Dipayuda dan Tri Retno Hartiningsih yang ada di Kota Pontianak serta mba Dewi Meong yang mukim di kota Kuching) kecuali Kota Kinabalu, kami berhubungan dengan pihak tour agent di sana, aku menyusun itinerary Road to PKK, aku terpaksa men-skip Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam) dari itinerary ku karena beberapa faktor, utamanya faktor waktu liburan yang sempit hanya 7 hari termasuk waktu dalam perjalanan serta faktor budget yang semakin membengkak, apalagi setelah aku check via internet objek wisata di Brunei Darussalam tidak lah banyak, hanya di seputar kota BSB, yaitu Masjid, Istana (tidak boleh masuk), Museum dan Kampung Air. Mungkin next time ya…jika ada rizki lagi dan badan yang sehat, aamiin.

Selanjutnya membereskan semua pembayaran online, setelah itu giliran packing traveling bag dan ransel, khusus untuk semua baju kami packing dalam saru traveling bag, khusus untuk keperluan yang ringan aku tempatkan dalam tas-tas ransel. Berhubung aku membawa anak-anak, yang utama harus diperhatikan adalah Obat-obatan, makanan ringan dan mainan buat pengusir bête selama di jalan, sedang aku sendiri harus mempersiapkan aneka charger dari ponsel, camera, tablet maupun handycam, halaaah….hahaha riweh banget emak satu ini buat ber-narsis ria nya. Jangan lupa menghubungi pihak provider seluler untuk aktivasi roaming ponsel dan koneksi internet, syukurlah salah satu provider yang kupakai memberi gratisan roaming paket data selama 3 hari, so…bisa updates traveling selalu. Tanpa berpanjang kata lagi, aku akan mulai dari hari keberangkatan ke Pontianak.

PONTIANAK

24 Desember 2011 Jakarta – Pontianak

Penerbangan pagi hari berjalan lancar, pukul 9.30 pagi pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Supadio kota Pontianak, kami dijemput oleh de’ Anti sekeluarga (keponakan kami). Sebelum menuju tempat-tempat yang wajib dikunjungi selama di kota Pontianak, kami mampir dulu ke rumah de’ Anti. Melalui daerah-daerah perumahan di kota ini membuatku teringat dengan kota Palembang, ada sedikit kemiripan kondisi geografisnya, yang penuh rawa-rawa. Di depan setiap rumah selalu disiapkan bak penampungan air hujan untuk keperluan minum dan mandi, karena air sumur maupun ledengnya agak payau, lha kalau musim kemarau ya alamat kering kerontang. Buat masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Kapuas ataupun anak-anak sungai yang ada, tentu tidak ada masalah untuk ketersediaan air.

Setelah brunch di rumah de’ Anti, kami memulai perjalanan menapaki tempat-tempat yang akan kami kunjungi, walau hanya singgah 12 jam saja, prinsipnya harus maksimal dalam memanfaatkan waktu yang ada. Berlibur dengan anak-anak selalu ada hal-hal yang menggelikan, baru saja tiba di Pontianak, my Mirza sudah ngambek minta dibelikan ayam goreng KFC, diminta sabar masih tetap ngotot, akhirnya sebelum menelusuri objek-objek wisata di kota Pontianak, kami mampir terlebih dahulu di resto KFC, my Mirza tampak senang sekali. Barulah kami menuju ke lokasi “Rumah Betang”.

Rumah Betang

Letaknya di jalan Sutoyo, Kota Pontianak, rumah adat suku Dayak ini sangat khas…panjang, tinggi dan terbuat dari kayu yang solid, di dalamnya dipenuhi dengan corak ornament yang eye catchy, aku memotret setiap sudut Rumah Bentang ini. Sempat kopdar dengan seorang fesbuker asal kota Pontianak, Tri Retno Hartiningsih, berhubung waktu sangat terbatas ketemuannya sebentar saja ya… awalnya mau ketemuan di Tugu Khatulistiwa, tapi karena schedule kunjungan ke Rumah Bentang terlebih dahulu kopdar ikut menyesuaikan waktu dan tempat. Thanks ya Tri sudah mau berjumpa walau hanya sekejap.

 

Masjid Jami “Sultan Syarif Abdurrahman”

Jika ingin berkunjung kesini bisa ke jalan Tanjung Raya, di kelurahan Beting, lokasinya melalui perkampungan dan pasar, untuk mencapai tempat ini bisa naik mobil melintasi jembatan yang terbentang diatas sungai Kapuas, atau jika ingin melalui jalur sungai bisa menaiki perahu getek. Kami hanya melihat selintas masjid Jami, bangunannya terbuat dari kayu yang kokoh walau sudah tua tetap terlihat menarik. Banyak anak-anak kecil yang keluar dari masjid, sepertinya habis mengikuti pelajaran mengaji. Sungai Kapuas terletak persis didepan masjid ini, mungkin jika bertandang ke masjid ini di bulan Ramadhan suasananya sangat meriah. Ada dermaga kecil dimana para penduduk bisa naik dan turun dari perahu.

 

Istana Kadriah

Selanjutnya kami menuju Istana Kadriah yang terletak tidak jauh dari masjid Jami, penduduk setempat ada yang menyebutnya keraton. Sama dengan masjid Jami, bangunannya terbuat dari kayu, suasana di tempat ini sedikit kurang terawat, tidak jelas apakah Pemda setempat membantu pemeliharaan situs kebudayaan ini. Sebenarnya keberadaan istana Kadriah ini cukup menarik, sebagai salah satu objek wisata yang bersejarah, dari tempat ini bisa diketahui bagaimana perkembangan kota Pontianak di masa lalu. Tampilan luar bangunan agak sedikit kusam walau eksterior bangunan ini cukup klasik.

Masuk ke dalam istana, terlihat benda-benda peninggalan keraton, tidak banyak yang tersisa dari kebesaran istana Kadriah di masa lampau. Ada kursi singgasana kerajaan yang menjadi center point interior di dalam ruang utama, beberapa foto-foto keluarga keraton, termasuk foto Sultan Muhammad Al-Kadrie yang masih ada keturunan dari daerah Hadra Maut (Yaman), ada cermin seribu pantulan yang dibeli dari Perancis pada tahun 1928, aku perhatikan bagaimana cermin itu bisa memantulkan 1000 bayangan, ternyata cermin itu di frame dengan pinggiran pecahan kaca yang jumlahnya banyak sekali, bisa diandaikan dengan seribu pantulan.

Di belakang ruang utama ada satu ruangan yang berisi beberapa set furniture tua. Sedang di sisi samping bangunan ada kamar yang berisi ranjang kerajaan. Warna dalam interior ruangan didominasi warna kuning cerah. Ada 1 lemari dan 1 set kursi tamu yang dipajang dalam ruangan itu berikut beberapa benda-benda pecah belah, mengingatkan aku kepada furniture dan benda-benda yang terdapat di rumah nenekku. Sepertinya benda-benda itu berasal dari tahun 30-an.

Setelah puas memotret dan berbincang dengan seorang ibu yang menjaga istana tersebut, namanya ibu Syarifah Zuhrah binti Pangeran Haji Ibrahim dengan ibu Ratu Citra, yang masih keturunan istana Kadriah, kami menyempatkan diri membeli 2 kain sarung khas Pontianak dan 1 topi Peci yang dijual oleh ibu Syarifah dan kerabatnya di salah satu ruangan yang letaknya di bagian depan istana, kami juga mengisi kotak sumbangan sukarela buat pemeliharaan istana.

Saat kami keluar istana kami masih harus memberi  sedikit tips buat penjaga halaman istana, seorang bapak tua yang meminta upah menjaga sepatu kami, dia bilang upah itu bukan buat dirinya sendiri tetapi buat anak-anak kecil yang ada di lokasi istana, benar saja setelah kami memberikan sedikit tips ke bapak tua itu, dia langsung memberikannya kepada anak-anak kecil yang tampak sedang bermain di halaman istana.

 

Tugu Khatulistiwa

Pergi ke Pontianak tanpa menyempatkan diri ke Tugu Khatulistiwa sama saja jika ke Jogjakarta tanpa mengunjungi jalan Malioboro, ya… ini adalah icon pariwisata di kota Pontianak. Walaupun aku tidak banyak memotret  seperti di tempat-tempat sebelumnya, tetapi ada kepuasan tersendiri telah mengunjungi “Titik Khatulistiwa” di tanah air tercinta Indonesia. Terletak di jalan Khatulistiwa, di kelurahan Siantan Hilir, kota Pontianak, untuk masuk ke lokasi objek wisata ini, tariff masuk yang dikenakan “cukup seikhlas” yang mau member di “Kotak Sumbangan”, aduuh….bener-bener Indonesia sekali, sebelumnya hal yang sama terjadi di Istana Kadriah. Jadi jika kondisi tempat wisatanya cukup bersahaja ya harap maklum namanya juga “seikhlasnya”, unsur komersialisasi agak dipinggirkan (hal ini jauh berbeda saat aku berkunjung ke Kuching dan Kota Kinabalu, tunggu catatan selanjutnya ya…).

Tugu yang dibangun di luar gedung adalah tugu imitasi dari yang aslinya, sedang monumen yang aslinya dibuat tahun 1928 tersimpan rapih dalam satu ruangan yang fill AC, layaknya museum Khatulistiwa, di dalamnya banyak dimuat foto-foto dan keterangan-keterangan seputar monumen Khatulistiwa ini, hanya sayang saat aku meminta brosur tentang sejarah Tugu Khatulistiwa ini, pihak penjaga gedung sedang kehabisan brosur, jadi jika mau tau lebih jelas tentang monument ini silahkan baca di Wikipedia aja ya, hihihi…. Ntar kalau aku jelaskan lebih rinci catatan liburan ini akan makin panjang. Di dalam gedung dijual benda-benda souvenir berupa miniature tugu khatulistiwa, aku hanya melihat selintas, tidak berminat membeli, bagiku yang penting bisa berkunjung langsung dan memotret tugu ini sudah lebih dari cukup.

 

Wisata Kuliner

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, sudah waktunya makan siang, sebenarnya aku sudah memegang beberapa list tempat-tempat kuliner yang khas kota Pontianak dari temanku, berhubung saat aku dan keluarga berada di sana pada tanggal 24 Desember, harap maklum terima nasib tempat-tempat kuliner itu pada tutup semua, alamak….nyengir deh hihihi.

Kawai (durian hutan)

Namun aku cukup bersyukur pada kunjungan ku yang pertama ke Pontianak ini bisa menyicipi “Durian Hutan”, pedagangnya menyebut nama durian ini dengan “Kawai” (dalam bahasa Jepang, Kawai itu artinya cakep ya?) ceritanya saat kami ingin menuju salah satu resto (yang ternyata tutup saudara-saudara…!) kami melewati pedagang durian, anakku Hakim dan suamiku sangat suka makan durian, jadi mampirlah kami untuk sekedar membeli buah durian untuk dicicipi, berhubung belum makan siang jadi tidak boleh makan banyak. Tumpukan buah durian begitu “memabokkan mata”, tapi mataku tertuju pada tampilan buah durian yang warnanya unik sekali yaitu “Oranye” bukan warna “Krem” yang biasa kita temui di buah durian pada umumnya.

Setelah bertanya berapa harganya disebut Rp. 5.000/buah, aku langsung memutuskan membeli 1 buah untuk mencicipi rasanya (teringat dulu Pak Handoko pernah memuat tulisan tentang buah Durian Hutan di Baltyra). Tampilan buahnya si Okeeh banget, tapiiii…………saat aku merasakan buahnya, alamak! Nggak dua kali deh! Hehehehe….cukup sekali aku mencobanya, mau tau rasanya? Aneh….itulah jawabanku, perpaduan antara rasa durian mentah dan buah kesemek! Kalau ada pembaca Baltyra yang belum pernah merasakan buah kesemek, mungkin tidak bisa membayangkan rasanya hehe…

 

Restoran Ale-Ale

Berhubung lokasi kuliner local banyak yang tutup, keponakan kami mengajak makan di Resto Ale-Ale yang ada di A Yani Mall, ini adalah mall yang terbesar di kota Pontianak, saat masuk ke mall ini berasa ada di Jakarta, kata de’ Anti, orang-orang yang bermukim di sekitar kota Pontianak sebagian besar menghabiskan weekend di sini. Pantes aja nyari lokasi parkir susah banget!

Resto Ale-Ale yang kami tuju menghidangkan aneka makanan seafood yang menggugah selera, berikut ini foto-foto yang bisa aku bagikan… mohon maaf jika foto-foto ini “mengganggu selera” makan anda, hehe..

Setelah perut terisi kenyang, kami memutuskan segera pulang ke rumah de’ Anti untuk segera berkemas-kemas mempersiapkan keberangkatan kami ke kota Kuching di Serawak, Malaysia. Kami sudah memesan tiket bus 2 minggu sebelum keberangkatan, satu tiket harganya Rp.165.000 ,- dengan jarak tempuh kurang lebih 9 jam. Berangkat pukul 21 malam tiba di Kuching sekitar pukul 7 pagi waktu Kuching.

Malam sebelum berangkat ke Kuching, sempat-sempatnya anakku Hakim minta makan durian, karena saat siang hari sebelumnya aku melarang makan durian, karena perutnya masih kosong belum makan siang, benar-benar pesta durian deh, rata-rata harga durian perbuah dipatok dari harga Rp.5.000,- sampai dengan Rp.10.000,- murah bukan?

Berbeda dengan Hakim yang suka makan durian, anakku yang bungsu Mirza justru tidak suka buah durian, alhasil dia minta makan mie ayam malam itu, hehehe….dan acara makan mie ini akan terus berlangsung sampai ke Kota Kinabalu. Jauh-jauh liburan ke Pontianak ujung-ujungnya masih makan mie ayam “Jakarta” juga.

 

24 Desember 2011 (malam) Pontianak – Kuching

Akhirnya waktu sudah mendekati pukul 21 malam, kami segera bergegas ke agent bus SJS, buat de’ Anti dan de’ Happy, terima kasih yang tulus kami ucapkan,  karena sudah mengantar kami dan mentreat makan sampai kenyang, mudah-mudahan di lain waktu kami mempunyai kesempatan yang sama untuk menjamu de’ Anti sekeluarga, aamiin.

Bersambung…………

 

AMH, BDL 3012012

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

40 Comments to "Road to PKK (1)"

  1. Adhe  8 January, 2012 at 05:04

    @cik Lani, asliii kalo pullam nanti aku tunggu dirimu buat nyanyi lagu Lei hihihi…..

  2. Lani  7 January, 2012 at 14:08

    ADHE : klu sampai nemu syair lagune mengko aku nyanyi buat kamu…..dgn suara yg kayak blek pecah kkkkkkk

  3. Adhe  7 January, 2012 at 11:06

    @mba Lani, thanks ya informasi tambahannya. Lagu Lei aku blum pernah denger lho….hehe, mau kalo mba Lani yg menyanyikan.

    @mba Mawar, makasih yaa sudah sempatin baca, mba nggak ketinggalan koq ini baru part 1, masih ada bbrp part lagi. Tetap tunggu di Baltyra ya….mengenai dodol durian aku nggak sempat beli,hanya beli durian mentah.

    @pakde DJ, hahaha…..bisa aja pakde ini.

  4. Adhe  7 January, 2012 at 10:58

    @Linda, bener soal kuliner Indonesia sangat beragam, dari alam (tumbuh2annya), maupun dari pola makan dan masakan khas daerah masing2, tdk akan habis dibahas.

  5. Dj.  7 January, 2012 at 05:39

    anoew Says:
    January 5th, 2012 at 19:18

    @Dj: pakdhe, apa itu yg buat saya? Ayolah.., sesama penggemar kerang bagi-bagi dong…

    ——————————————————————————–

    Mas Anoew…
    Selain kerang dan durian yang ada di photonya mbak Adhe….
    Silahkan mas Anoew ambil sepuasnya ya….
    Hahahahahahaha….!!!
    Salam,

  6. Mawar09  7 January, 2012 at 01:28

    Adhe : terima kasih ya sudah di ajak jalan2 ke PKK, seru banget. Duren dan makanannya menggiurkan!! Aku doyan duren tapi ngga doyan permen atau ice cream duren. Dodol duren dari Pontianak kan terkenal enak, beli ngga?? Sorry nih aku sudah ketinggalan banyak…. ngga sempat baca artikel jalan2mu yang lain, nanti deh aku rapel kalau lagi sempat. Salam dari jauh!

  7. Lani  6 January, 2012 at 13:30

    ADHE : nambahi arti LEI dr mbak Nuk…….bs diartikan wreath apa ya boso Indo nya……contohnya untaian bunga yg dipajang dipintu rumah pas hari natal…….

    ato bs jg roncean kembang di Hawaii utk menyambut tamu…….

    sekrng baru tau mengapa mbak Nuk menamakan anaknya dgn Lei……krn ktk hamil tinggal di Hawaii dan anak perempuannya diberi nama Lei……nama yg indah…….

    spt namaku ditambah Lei didepannya………ada lagu yg sgt terkenal dgn judul yg sama………..

  8. Linda Cheang  6 January, 2012 at 09:18

    Adhe, rumah – rumah asli Indonesia memang menarik, artistik. Tapi yang lebih asyik dari Indonesia itu adalah kulinernya, hahaha….apalagi durennya. wuih.

  9. adhe  6 January, 2012 at 08:16

    @Pak Han, sepertinya ada lambang Singa di atas kursi singgasana Sultan, bisa di zoom pada foto singgasana sultan yg ada dlm artikel ini. Jadi ingat dg lambang negara M’sia yg memakai Harimau Malaya. Thanks info tambahan dari Pak Han.

  10. Handoko Widagdo  6 January, 2012 at 07:25

    Cik Dhe, apakah dikau sempat memotret lambang kesultanan? Apakah lambangnya juga memakai harimau/singa? Saya mengamati lambang-lambang kesultanan yang ada di Kalimantan hampir semua memakai harimau atau singa. (Padahal di Kalimantan tidak ada harimau dan singa). Konon -menurut teman saya, lambang tersebut didisain oleh seorang seniman dari Itali yang didatangkan oleh Benlanda untuk membantu kesultanan-kesultanan di Nusantara membuat lambang kerajaan dan pakaian kebesaran raja/sultan.

    Tentang kebenaran cerita seniman Itali, kita tunggu tulisan Mas Iwan yang memelopori Mahzab Kamah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.