Cerita Akhir Tahun 2011 & Tahun Baru 2012 dari Singapura & Malaka

GC/Raras – Batam

 

Hallo semuanya, selamat tahun Baru 2012 untuk pembaca Baltyra dimanapun berada, Semoga Tahun 2012 lebih baik dari tahun 2011, dan yang kenthir bin sudrun segera sembuh dan kembali ke jalan yang benar, amin.

Rencana liburan akhir dan tahun baru sudah saya rencanakan lama bersama teman saya, dia sudah mendapat tiket promo dari Surabaya – KL dari sebelum Lebaran 2011. Dia meminta saya untuk menemuinya di Singapura, karena dia sudah beberapa kali ke Singapura dan pernah ke KL maka dia  lebih memilih ke Singapura karena Singapura lebih banyak yang harus dijelajahi. Tiket  promo pesawat yang murah hanya ada tujuan Surabaya-KL, maka itulah yang dia pilih dengan pertimbangan KL-Singapura dekat dan bisa naik bis untuk sampai di Singapura.

Untuk saya tidak ada masalah, jatah cuti masih ada dan tiket ferry Batam-Singapura masih sangat terjangkau, hanya khawatir suami saya tidak bisa ikut, karena masalah kerjaan. Jauh-jauh hari saya bilang ke suami untuk atur waktu kerja dan ijin cuti dan ke teman saya, saya sampaikan bagaimana kalau kita bertahun baru di Malaka saja, dengan pertimbangan karena dia dan saya sudah beberapa kali ke Singapura, walaupun tidak tepat pada tahun baru tapi masih sering, kemudian tiket promo ke Singapura pasti akan banyak dan terus ada, dan saya dengar Malaka kotanya bagus banyak peninggalan sejarah jaman penjajahan Portugis dulu, dan Malaka adalah kota warisan Dunia yang sudah ditetapkan oleh UNESCO. Saya sampaikan kita berangkat dari Singapura, jadi liburan di dua tempat, waktu yang tidak lama kita gunakan untuk menjelajah tempat yang banyak, jangan hanya di Sigapura saja, maka kami pun sepakat dan tidak sabar menunggu tanggal 30 Desember 2011 untuk bertemu di Singapura dan memulai perjalanan ke Malaka.

Sedikit dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Melaka tentang Malaka :

Kota Melaka (bahasa Melayu: Bandar Melaka) adalah ibu kota negara bagian Melaka di Malaysia.  Melaka yang berupa hasil reklamasi dapat dicapai dengan kendaraan bermotor dari kota ini. Jarak Kota Melaka dengan daerah Muar ialah 40 km.

Sejarah

Kota ini dahulu merupakan ibu kota Kesultanan Malaka dan pusat peradaban Melayu pada abad ke-15 dan 16. Bangsa Portugis menaklukkan Melaka pada tahun 1511. Antara tahun 1641-1795, Melaka dikuasai Belanda. Kemudian Melaka dikuasai Britania Raya pada tahun 1820-an sampai kemerdekaan Malaysia pada tahun 1957. Britania Raya menyerahkan Bencoolen kepada Belanda dan sebagai gantinya mereka mendapatkan Melaka.

Setelah menginap semalam di Singapura, maka tanggal 31 Desember sekitar jam 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke Melaka dengan bis. Oya, teman saya sudah membelikan tiket untuk kami (saya dan suami saya yang akhirnya bisa ikut, senangnya) dari ketika dia naik bis dari KL-Singapura via Johor Baru, karena ini perjalanan Tahun baru maka pasti akan sangat ramai, daripada kehabisan tiket maka diputuskan untuk membeli dulu satu hari sebelumnya, dengan resiko telat atau ketinggalan karena proses imigrasi tidak bisa diprediksi. Harga tiket Bis dari Johor baru ke Malaka adalah RM19, atau sekitar Rp. 57.000,-

Jam 10.00 kami sudah turun dari MRT Kranji, menunggu di halte bis yang akan membawa kami ke Johor Baru, bis yang kami tunggu adalah bis nomor 170. Kami sudah menunggu hampir setengah jam, dari yang menunggu hanya sekitar lima orang, menjadi puluhan orang. Kami mulai khawatir karena bis Johor Baru – Malaka yang sudah dibeli oleh sahabat saya berangkat pukul 13.00 (tidak ada perbedaan waktu antara Singapura, Johor Baru dan Malaka), perjalanan dari Singapura ke Johor Baru, ditempuh dalam waktu sekitar 60-90 menit (tergantung proses imigrasi dan ketersediaan bis). Beberapa kali bis nomor 170 lewat tapi tidak berhenti karena sudah penuh, teman saya mulai mencari tahu dan bilang kalau kita naik 160 saja, sepertinya bisa. Maka beberapa menit kemudian datanglah bis nomor 160, tanya ke supir dan di bilang bahwa bis 160 bisa ke Johor Baru, kami tidak dapat tempat duduk tapi tidak masalah yang penting sudah ada transportasi yang membawa kami ke Johor Baru.

Ketika naik bis Johor Baru, kami harus turun dua kali untuk proses Imigrasinya, untuk keluar Singapura dan memasuki wilayah Malaysia (Johor baru dan malaka adalah wilayah bagian Malaysia). Proses Imigrasi tidak terlalu lama, jadi kami bisa tiba di Johor Baru lebih cepat dari waktu yang dipredksi, tidak sampai 60 menit saudara-saudara. Sampai di terminal Larkin, Johor Baru masih sekitar jam 12.00, maka kami memutuskan untuk makan dulu sambil menunggu bis yang akan membawa kami ke Malaka. Suasana terminal Larkin, sama dengan terminal-terminal di Indonesia, tapi masih lebih bersih dan bagian dalamnya ber AC, karena ada mini plasa.

Jam 13.00 kami sudah menunggu di platform C43 tempat bis Mayang Sari, iya Mayang Sari nama bisnya..hahahaha..yang membawa kami ke Malaka, info teman saya Johor Baru – Malaka akan ditempuh dalam waktu empat jam. Sekitar 5-10 menit menunggu, maka bis Mayang Sari datang, penumpang langsung naik dan bis pun berangkat.

Keluar dari wilayah Singapura, suasana sepanjang Johor Baru – Malaka sama dengan Indonesia, sepanjang jalan tol, kanan kiri banyak pohon kelapa sawit dan bukit-bukit dan terik sekali, sepanjang kami pergi cuaca sangat bersahabat dan cenderung panas, saya bersyukur karena sebelum pergi, di Batam tiap hari hujan deras sekali berhari-hari. Dan teman saya di Surabaya pun juga bilang, jangan lupa bawa payung karena musim hujan, dan ternyata membawa payung hanya membuat penuh ransel saja..hehehe.

Dalam bis kami tidur, karena tanggal 30 kami tidur larut malam dan tanggal 31 harus bangun pagi-pagi untuk melanjutkan sightseeing Singapura sebelum berangkat ke Malaka. Jam 04.00 sore teman saya mulai membaca rambu di jalan dan bilang kita sudah masuk wilayah Malaka, kami bengong, lho katanya empat jam, baru tiga jam kok sudah hampir sampai, dan ternyata benar tidak berapa lama kami sudah masuk terminal Melaka Sentral. Tambah senang hati kami karena, bisa lebih awal tiba di Malaka dan masih panas, Matahari masih bersinar jadi sore ini begitu tiba di guesthouse kami bisa langsung jalan-jalan. Jalan di seputaran attraction tidak terlalu lebar, sampai mobil pun parkir di trotoar!

Menuju guesthouse di jalan Portugis, kami naik bis lagi, sekitar 15 menit kami sampai di jalan utama. Teman saya bilang, semoga kita tidak tersesat ya, karena ini kan baru pertama kalinya menginap di guesthouse tersebut, dengan kaki yang sudah mulai sakit, saya tersenyum getir tapi tetap semangat dan senang..hahahaha. Benar saja, sudah baca peta dan putar-putar hampir 1 jam, guesthouse tidak kami temukan. Bertanya dan buka peta lagi, akhirnya sudah sampai di jalan yang benar, tapi kok tidak ada PLANG nama guesthouse tersebut, saya sudah diam di tempat, kaki saya sakit minta ampun, suami saya dan teman saya yang kesana-kemari cari alamat, saya menunggu saja dibalik plang sambil berteduh, karena walaupun hampir jam 06.00 petang, cuaca masih terik. Setelah bolak balik di jalan itu, teman saya teriak ini dia..dan kami pun tertawa karena PLANGnya kecil sekali dan tertutup oleh plang-plang di kanan kiri nya.

Pemilik guesthouse sangat ramah, tempatnya lumayan bersih begitu check in langsung masuk kamar dan mandi, 40 menit kemudian kami langsung keluar dan tujuan pertama adalah naik Melaka River Cruise, sungainya sangat bersih, Clarke Quay di Singapura kalah bersih warna airnya. Tiket Melaka River Cruise adalah RM30 atau sekitar Rp. 30.000, dengan lama perjalanan 45 menit. Kami beruntung karena bisa mendapatkan suasana masih terang dan malam hari. Teman saya sempat bilang bahwa di hari biasa, kehidupan di Malaka hanya sampai jam 08.00 malam, maksudnya sangat sepi. Tapi karena tanggal 31 Desember adalah hari sabtu dan malam Tahun Baru, maka suasana lebih “hidup”. Setelah selesai dengan Melaka river cruise kami lanjut jalan kaki ke Jonker Street tempat segala macam orang jualan ada di sana. Di hari biasa Jonker Street adalah jalan umum dan sepi tapi di malam hari dan setiap sabtu menjadi tempat jualan pedagang makanan, asesoris, oleh-oleh, dan banyak lagi.

Sepanjang Jonker Street rame sekali, kami membeli pernak pernik dan makanan, semuanya enak dan murah. Jam 09.30 malam, kami lapar dan mencari tempat makan yang kira-kira enak, maka kami mampir ke Luiz Café, di Jonker street juga. Tempatnya tenang tapi dalamnya sudah ramai, beruntung kami dapat tempat duduk, kami pun pesan nasi lemak, sayap ayam dan minuman, semuanya sangat enak, total makan bertiga hanya RM 24 sekian, sekitar Rp. 75.000 tapi sangat memuaskan, bersih dan enak sekali.

Lanjut kami ke riverside, menunggu detik-detik tahun baru di sana, benar saja sekitar pukul 11.00 malam, sudah banyak yang tutup, di ujung jalan kami menemukan satu café yang masih buka, tapi sepi sekali, kami masuk tidak ada orang, lurus saja kami jalan tembus ke bagian riverside, ketemu pemiliknya juga, dan hanya ada 3 pelanggan di sana, lumayan lah..hahaha. kami pesan minuman saja, selain sudah kenyang, pemilik café juga bilang bahwa hanya bisa order minuman tidak melayani makanan lagi.

Menjelang pergantian tahun, pemilik café membagikan satu paket berisi, terompet kecil, terompet panjang kecil, topeng dan mainan berbentuk telapak tangan untuk bunyi-bunyian semuanya dikemas dalam plastik dari merk beer warna hijau dengan huruf depan “C”.  Teman saya dengan bersemangat langsung mengelurkan semuanya dan memakainya, oya selain kami bertiga, ada pasangan dari India, dan pasangan Bule entah dari mana, pemilik café dan dua pelayannya serta satu tamu lagi. Tidak ramai tapi cukup menyenangkan karena sepanjang sungai masih berlalu lalang river cruise-nya.

Tepat jam 12.00 malam, petasan dan kembang api mulai dinyalakan, kami pun meniup terompet bersama-sama. Jangan dibayangkan kembang api yang banyak dan lama seperti di kota-kota besar, bahkan dibandingkan pesta kembang api di Batam Tahun Baru 2011 kemarin tidak ada apa-apanya, hahahaha. Jam 12.20 pemilik sudah mulai beres-beres, mengusir secara halus, kami pun memutuskan untuk kembali ke guesthouse karena besok paginya harus pulang ke peraduannya masing-masing, saya kembali ke Batam via Singapura dan teman saya kembali ke Surabaya via KL.

Tanggal 1 Januari 2012, jam 08.00 pagi kami keluar dari guesthouse dan lanjut sightseeing ke gereja dan bukit St. Paul. Mengunjugi yang dekat-sekat saja karena pertimbangan tidak mau ketinggalan bis.  Saya dan suami sudah check in last ferry dari Singapura  ke Batam yaitu pukul 09.10 malam. Untuk ke Johor Baru bis kami berangkat jam 10.00, lebih baik menunggu daripada terlambat karena melalui Imigrasi yang tidak bisa diprediksi. Teman saya pesawatnya ke Surabaya juga malam, tapi sama-sama kami memutuskan jam 10.00 sudah memulai perjalanan kembali ke kota masing-masing.

Semuanya menyenangkan, Malaka benar-benar bersih dan tenang, makanannya enak-enak dan semuanya murah..hahahaha. Oya sewaktu mau ke terminal Sentral Melaka untuk kembali pulang, kami menggunakan taxi, supir taxi bilang di hari biasa Malaka sangat sepi, orang-orang tidak suka keluar rumah, untuk hari Minggu seperti ini mereka keluar jam 12.00 untuk makan, setelah jam 03.00 sore akan sepi kembali. Demikian juga untuk hari-hari kerja. Malaka hanya ramai di hari Sabtu saja. Sebuah keberuntungan, malam Tahun Baru tepat di di hari Sabtu, entah kalau hari Senin, apakah akan sepi juga?

Secara keseluruhan liburan kami sangat menyenangkan, walaupun low budget tapi tidak sengsara sama sekali..hehehehe, bisa makan-makan enak, belanja sedikit dan tidur di tempat yang bersih, transportasi yang nyaman. Walaupun Malaka memberi kesan yang baik sepertinya cukup sekali kesana, karena dengan satu malam kami sudah puas berjalan-jalan, mendapat banyak cerita dan kesenangan, tapi siapa yang tahu ya kaki ini melangkah kesana lagi… ^.^

Foto air sungai di Clarke Quay, Singapura

 

Dan foto special buat pembaca Baltyra semua

Salam ketek :p

raras

 

50 Comments to "Cerita Akhir Tahun 2011 & Tahun Baru 2012 dari Singapura & Malaka"

  1. GC  11 January, 2012 at 16:19

    ^Nia, lha kok nang Malaka nyebrang? nyebrang zebra cross yo maksud e…hahahaha…nglindur po piye? :p
    JB ya biasa saja, Malaka yang apik menurutku…
    Mudik nang endi?

    ^yuLANI, sopo sing ndekem di pakem????? wih, hampir 4 tahun yo…nek bocah cilik umur 4 tahun dan anak e kang Anu, wis piawai ngomong “dingklik” kuwi…hahahahaha :p

  2. Lani  11 January, 2012 at 14:08

    GC : ^yuLani, wooo..jadi tahun berapa terakhir pulkam yu? opo ga pengen ketemu suhu sudrun yu? hahahahaha :p
    +++++++++++++++

    mudik terakhir taon 2008, sapa yg kau maksud dgn SUHU SUDRUN disini????? apakah yg pernah ndekem di PAKEM???????? kkkkk

  3. nia  11 January, 2012 at 13:56

    halo GC… akirnya baca jg cerita taon baruanmu hehe… sori abis mudik jd telat baca…
    sy blm pernah dan gak nafsu buat nyebrang kesana. diiming2i temen blanja di JB murah ttp gak tertarik… mending belanjain uang di Spore ato Indonesia aja

  4. GC  9 January, 2012 at 08:40

    ^ciLinda, hahahahaha…membuka kenangan lama ya…jadi emang dari dulu nomornya ga berubah ya, tetap nomor 170 ke JB via singapore…
    benar emang suasana terminalnya masih sama lah ya dengan terminal-terminal di kota-ota besar di Indonesia, bedanya ya ber AC, pake RM dan bahasa melayu..tapiiiii…kemarin banyak ketemu orang dengan bahasa jawa!!! hahahahaha

    ^mbaAdhe, tempat mana yang mba Adhe belum pernah kunjungi ya kira-kira??
    iya masih sepi, untungnya kan malam tahun baru pas hari sabtu jadi rame…kembang apinya pun juga ala kadarnya masih lebih meriah pesat kembang api di Batam, jauuuhhh :p
    tapi overall buat saya masih menyenangkan mengunjungi Malaka, mba…

    ^yuLani, wooo..jadi tahun berapa terakhir pulkam yu? opo ga pengen ketemu suhu sudrun yu? hahahahaha :p

  5. GC  9 January, 2012 at 08:34

    ^mbaMawar, iya terima kasih kembali, semoga bermanfaat ulasan apa adanya ini..heheheh…semoga nanti bisa berkunjung ya, kalau meunggu suami pensiun sepertinya cocok mba, karena tempatnya sepi, hanya ramai di hari sabtu malam, kan tidak semua mencari keramaian seperti saya..hahahaha :p untuk yang menikmati masa-masa pensiun sepertinya cocok ke Malaka
    iya benar, Maju Insaf itu salah satu nama bis mba Mawar….

  6. GC  9 January, 2012 at 08:29

    sori semuanyaaaaa….kalau hari sabtu-minggu di rumah koneksi tidak bagus, jadi baru bisa reply hari ini

    ^mba Henni, Maju insaf itu nama salah satu bis-nya jadi di tiap-tiap platform itu tidak hanya berisi 1 bis tapi bisa banyak bis, rata-rata 3 nama armada bis

    ^cenilBROT, embeeerrrrr…capek deh kakiku!

    ^Pak Djoko, saya tidak tahu juga, karena tidak ada yang bisa ditanya di sekitar lokasi, hanya beberapa bule dan wisatawan asia lainnya, yang saya yakin mereka juga pasti tidak tahu…hehehehe..
    iya Malaka sepi hanya ada kehidupan di sabtu malam (info dari supir taxi yang mengantar kami ke terminal )

    ^OmSUK, iyooo…namanya juga hari PLANGkangan sedunia (nyomot istilah kang Anu), jadi pas kalau banyak sebut kata PLANG di sini..hahahahaha :p

    ^mbaKornelya, waduh padahal udah deket ya mba…sayang sekali, semoga lain waktu bisa kesampaian ya…memang bagus mba, namanya juga kota warisan dunia, yang menetapkan juga unesco makasih sudah mampir mba…

  7. Lani  7 January, 2012 at 14:11

    37 MAS DJ :

    ketek=ketiak
    ketek = monyet
    kethek = makanan dr ampas kelapa wah enak je nek dibacem

  8. Lani  7 January, 2012 at 14:10

    34 GC : betooooool….pdhal wes cedak…ora mampir JKT…….

  9. Adhe  7 January, 2012 at 10:52

    Raras, thanks ya sharing kisah liburan tahun barumu, pernah ke Malaka tapi sdh lama banget the 2005 yg dulu. Ternyata masih Sam a sepinya hehehe.

  10. Linda Cheang  7 January, 2012 at 09:11

    karena GC sedikit cerita tentang Terminal Larkin di JB, jadi inget kenangan di sana. Sudah berkali-kali ke JB via Singapore pakai bus 170 juga.

    Suasananya memang mirip terminal bus Leuwipanjang di Bandung, lengkap dengan segala kios jualan dan para awak bus yang berseru-seru jurusan tujuan bus.

    Yang bikin beda adalah di Larkin ada AC dan pakai Bahasa Melayu, trus bayarnya pake RM.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.