Munajat Seorang Perindu

Khrisna Pabichara

 

Malam hari,
sebelum huruf-huruf berangkat tidur,
rinduku kehilangan rumah

Tuhan, Kekasih, akan mengabulkan doa
yang dirapalkan para perindu, yang setia
menyuburkan cinta sejati di hatinya.

Sepi dan kenang bersekutu membangun
jembatan rapuh menuju masa silam,
masa yang di sana ada kamu, tersedu.

Masih ingatkah kamu makna “bahagia”?
Sepertinya kita mulai lupa cara terbaik
untuk menikmati mukjizat kata itu.

Kekasih, dadaku, seperti senja, cukup lapang
menampung gelap dan cahaya: yang melinang,
yang melengang di sayu matamu

Tuhan, yang kamu cintai,
adalah yang secara rahasia mengajariku
cara mencintaimu.

Bogor, September 2011

 

4 Comments to "Munajat Seorang Perindu"

  1. Linda Cheang  8 January, 2012 at 11:12

    aku memang sedang rindu…

  2. Dj.  7 January, 2012 at 18:39

    Hebat….!!!
    Dj. hanya bengong, mikir…bagaimana orang bisa mencari dan menyusun kata-kata seindah ini.
    Salam,

  3. James  7 January, 2012 at 10:01

    Tie Ie…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.