Kaya

Anwari Doel Arnowo

 

Orang mengetahui bahwa kaya itu kan macam-macam.

Ada kaya materi, kaya ilmu pengetahuan, kaya hubungan sosial serta kaya wawasan dan kaya segala macam. Kaya apapun sebenarnya, tanpa pengelolaan diri pribadi yang mantap, bukan selalu akan membawa kesenangan, malah bisa sebaliknya, menjadi beban.

Anda bayangkan apa yang pernah saya renungkan di sebuah tempat yang terpencil antara desa Pemantang dengan desa Pasir Putih di Kecamatan Kuala Kuayan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Waktu itu kalau saya pergi ke tempat itu dari Jakarta akan memakan waktu sekitar dua hari, meskipun perjalanan bisa dicapai dengan kapal terbang. Route normal biasanya adalah Jakarta – Banjarmasin dan Banjarmasin – Sampit, kemudian dengan speed boat (dua buah mesin tempel 40 PK) selama empat jam, disambung lagi dengan sepeda motor mungkin sekitar dua jam lebih. Di tempat sejauh itulah saya berada, dimana harga benzine adalah Rp.1000 per liter.

Harga bensin di Jakarta pada waktu yang sama hanya sekitar Rp.300an saja. Harga sebotol air Aqua di daerah itu jauh lebih mahal dari pada harga bensin seliter.

Saya berkemah di situ untuk mengawasi pekerjaan eksplorasi tambang yang meliputi daerah sebesar 10.000 hektar. Bukan mudah seperti mengelola sebuah kantor di kota, karena alat komunikasi belum seperti yamg ada sekarang. Contohnya untuk mengetahui garis bujur dan lintang yang nanti akan menyatakan koordinat titik dimana saya sedang berada, harus digunakan alat (Doppler) untuk dapat dihubungkan dengan satelit di angkasa, yang mengelilingi bumi sebanyak 27 kali putaran, baru diperoleh hasil. Saat ini dengan alat GPS, pekerjaan semacam itu dapat diketahui hampir seketika, atau dalam hitungan detik saja. Malah alat seperti ini sekarang sudah dapat dimasukkan kedalam Cellular Phone atau Hand Phone umum.

Di depan kemah saya tinggal ada sebuah keluarga dengan rumah khas orang Dayak. Tetapi rumah yang satu ini adalah rumah yang menyendiri letaknya dari belasan rumah lain yang berkumpul lebih rapat. Ternyata keluarga ini, menurut cerita karyawan perusahaan di mana saya bekerja ini, adalah termasuk Dayak Kaharingan, yang tidak banyak bergaul dengan masyarakat di sekitarnya di situ. Entahlah, itu urusan mereka yang menyangkut masalah Kepercayaan tertentu yang tidak ada minat saya untuk mendalaminya. Bapak dari keluarga ini, bekerja sebagai pengumpul hasil hutan yang dapat dijual sebagai penopang hidup rumah tangganya.

Istrinya yang cantik dan berbadan yang menarik bentuknya, telah merepotkan saya dengan terpaksa memberi peringatan kepada para karyawan, agar bersikap sopan dan menjaga jarak yang pantas.

Masalahnya sang Bapak itu kalau pergi ke hutan, bisa memakan waktu tiga minggu lebih lamanya dan tidak kembali barang satu haripun.

Kalau sang Bapak ini berada di rumahnya setelah mendapat hasil, maka uang hasil penjualannya dibelanjakan barang keperluan hidupnya dan dia beristirahat. Saya melihat masa istirahatnya ini lumayan lama, bisa dua minggu tanpa mengerjakan apapun juga.

Saya berpikir mengapa seperti itu?

Rupanya setelah berbicara beberapa kali dengan dia, saya bisa mengetahui bahwa dia tidak risau masalah uang. Ukuran dan jangkauan pemikirannya sederhana saja: asal beras masih cukup dan teman nasi bisa didapat, dia di rumah saja. Apakah dia berifikir untuk menabung dan menambah hari kerjanya? Wah jelas sekali kelihatan bahwa tidak ada perhatian ke soal-soal seperti itu.

Dia santai saja, meskipun tidak ada listrik dan tentu saja tidak ada keperluan yang menonjol yang memerlukan perhatian lebih.

Kesimpulan saya, tangan Pemerintah tidak sampai ke rumah dia. Tidak ada penerangan dari pak Camat maupun dari pak Kepala Dukuh (desa).

Penerangan seperti itu akan bisa menuntun bagaimana untuk dapat lebih mudah hidup berkelanjutan dengan lebih baik dan teratur.

Saya juga berbicara sendiri dalam hati dan tidak mengungkapkannya kepada siapapun.

Wah, kalau saja dia bisa memiliki daya aliran listrik, mungkin dia bisa menyimpan makanan lebih lama. Saya sadar bahwa itu adalah wishful thinking – pikiran impian, hampir seperti imaginary – khayalan. Tetapi saya merasa sebagai sesama warga negara Republik Indonesia, saya patut untuk ikut urun rembug, nanti pada saat dan kesempatan yang tepat.

Di dalam Kabupaten itu memang sedikit terdapat batubara, akan tetapi kita sama sekali belum tahu sumber energi apa saja yang bisa dikembangkan disana?

Kasihan benar, sudah hampir lima puluh tahun kita merdeka, dia dan keluarganya tidak bisa mengalami hidup yang bisa setara dengan warganegara lainnya, seperti yang hidup di daerah lain. Anak-anaknyapun tidak ada yang bersekolah karena memang tidak ada sekolah.

Pada saat itulah saya berpikir lebih keras lagi. Dengan listrik dan segala kegunaannya yang saya pikir akan lebih berarti plus bagi keluarga ini, betulkah mereka akan lebih berbahagia karenanya?

Bahagia ini ukuran saya atau ukuran dia?

Saya berusaha menaruh diri saya kalau saya menjadi dia.

Terkejutlah saya, karena saya tersadar bahwa yang saya impikan dan saya inginkan dia untuk mendapatkannya, belum tentu akan membuat dia sekeluarga menjadi lebih bahagia. Benarkah belum tentu lebih berbahagia?

Waktu saya mencoba me’transfer’ diri saya ke dalam dirinya, “saya” tiba-tiba merasa bahagia, telah menjadi manusia dari suku Dayak Kaharingan.

“Saya” mempunyai keluarga terdiri dari istri dan anak-anak, mempunyai sebuah rumah beratap yang bisa menahan derasnya hujan. Juga menahan teriknya sinar matahari. “Saya ” kalau mempunyai daya aliran listrik, maka “saya” akan menggunakan kulkas, menggunakan televisi dan keperluan lain, yang dengan sendirinya akan ada bebannya.

Saya lihat tidak lama sesudah matahari tenggelam dia sekeluarga sudah mulai tidur dan lelap sampai subuh. Tidak ada keharusan untuk menonton televisi atau mendengarkan siaran radio. Mereka tidak merasakan keperluannya.

Tenang, utuh sebagai sebuah keluarga.

Sedang saya sendiri masih sibuk mengamati alat Doppler untuk mengetahui hasilnya, telah berapa kali satelit lewat diatas kepala saya, dan lain-lain masalah pekerjaan.

Siapakah sebenarnya yang lebih bahagia dan lebih ringan bebannya, sayakah atau dia?

Saya yang telah datang dari jauh dan melakukan pekerjaan eksplorasi, belum tentu akan menghasilkan seperti diharapkan, harus meninggalkan keluarga saya jauh di Jakarta, menanggung banyak risiko dan harus mengeluarkan biaya ratusan ribu USDollar hanya untuk beberapa bulan ber”petualang”an seperti ini. Sebelum  sampai di Jakarta, masih di Banjarmasin, temperatur badan saya sudah menunjukkan panas yang tinggi. Dari bandara Cengkareng saya langsung menuju ke Rumah Sakit Tebet dan dirawat di sana untuk sepuluh hari lamanya, tanpa kepastian sakit apa. Keluar dari Rumah Sakit, setelah pemeriksaan beberapa kali di lebih dari lima Laboratorium yang berlainan, didapat hasil pemeriksaan darah bahwa saya telah diserang malaria. Itu adalah salah satu risiko. Mungkin baru dua bulan kemudian saya baru bisa aktip lagi ke Kalimantan.

Ambisi saya ubah, dan saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk “menolong” sebisa dan semampu saya, rakyat setempat kalau saja saya bisa berhasil memasuki fase dari tingkat eksplorasi ke tingkat eksploitasi.

Mereka adalah penduduk yang terlama tinggal di sini, sudah lama negara kita merdeka, akan tetapi saya lihat yang diberikan kembali kepada mereka hampir belum ada. Memang saya selidiki di daerah sang Bapak Dayak Kaharingan tadi, belum pernah ada tentara Jepang atau belanda yang muncul. Jadi, tentu saja perjuangan seperti Sepuluh Nopember di Surabaya, tidak pernah ada. Biarpun demikian orang Dayak Kaharingan adalah warga negara Republik Indonesia juga.

Satu tahun kemudian memang saya berpidato di depan pak Camat mewakili aktifitas para pengusaha pertambangan yang ada didaerah tersebut, melakukan pembukaan Sekolah Dasar dengan empat orang guru muda. Melihat bangunan Sekolah hasil sumbangan kita yang sederhana sekali, saya hanya bisa mengatakan antara lain: “Yang disebut kelas itu bukanlah bangunan yang kita sahkan pada hari ini. Yang disebut kelas adalah manusia yang belajar, yaitu murid, dan yang mengajar, yaitu guru. Murid dan guru itu biarpun berteduh dibawah pohon sekalipun, sudah patut disebut sebagai kelas”.

Itulah sekelumit kekayaan negara kita yang mungkin dipandang dengan sebelah mata oleh kebanyakan orang. Bumi, tanah usaha, air untuk kehidupan dan hutan yang melindungi alam di mana penduduk asli berada.

Mereka yang dengan setia hidup secara sederhana itu di mata saya adalah kekayaan yang tidak terhingga. Adalah sayang sekali untuk tidak diberdayakan dengan memberi mereka lebih banyak dari hasil kemerdekaan negara Republik Indonesia. Tanah yang mereka diami ini pada dua tiga tahun terakhir ini banyak telah dirusak oleh keserakahan dunia yang makin mengganas. Bahkan orang utan, uwak-uwak yang lucu-lucu, dan karariang itupun sudah hampir punah karena habitatnya diduduki oleh sifat-sifat durjana manusia.

Sekarang saya mengetik tulisan ini, menggunakan Lap Top Toshiba dan duduk di kota Toronto dimana listrik secara boros sekali digunakan orang Kanada. Mobil-mobil dan semua kendaraan jenis kendaraan menyalakan lampunya secara boros di tengah hari sekalipun. Demi keselamatan. Garasi yang mungkin bisa dimasuki lima puluh buah mobil, pada siang hari dalam keadaan kosong tidak terpakai, lampunya menyala dengan terang benderang. Sebenarnya menurut pengamatan saya sepuluh persen saja yang menyala, maka ruangan garasi itu masih bisa dilihat dengan jelas. Tetapi sudah menjadi kebiasaan di Kanada, listrik itu seperti matahari setiap saat, baik siang maupun malam.

Matahari tetap menyala terang di malam hari karena berada di balik planet bumi.

Maka listrik dinyalakan meniru terangnya sinar matahari selama dua puluh empat jam sehari semalam, tigapuluh hari sebulan, tiga ratus enam puluh lima hari setahun. Semua tahu, Walikota, anggota parlemen dan Perdana Menteri juga tahu.

Biarpun mereka juga membicarakan penghijauan dan membicarakan lingkungan hidup yang lebih sehat, tetapi kebiasaan yang tidak sehat dengan memboroskan aliran listrik, tidak akan sanggup melaksanakan penghematannya. Bukankah dengan lebih banyak menggunakan listrik, maka coal fired power plant yang ada, akan bekerja lebih berat? Demikian juga dengan yang menggunakan bahan bakar minyak, nuklir serta hydro seperti di Niagara. Kecerobohan Kanada seperti ini juga diimbangi dengan kecerobohan yang memboroskan segala kekayaan kita di Indonesia. Menebang pohon tanpa pengaturan yang baik dan menggunakan lahan usaha tani menjadi industri serta membiarkan uang “berbicara” sekehendaknya.

Membandingkan Kanada dengan Indonesia ternyata kita semua telah mendapatkan kesamaan, bukan perbedaannya. Kesamaannya adalah kecerobohan manusianya.

Nun jauh di sana di Indonesia penduduknya telah mencapai hampir sekitar dua ratus empat puluh juta jiwa dan area negaranya yang 1.919.440 kilometer persegi hanya sekitar seper-limanya Kanada yang 9.984.670 kilo meter persegi, hampir separuh penduduknya tergolong miskin bahkan mungkin amat miskin.

Penduduk Kanada saat ini mempunyai jumlah sekitar tiga puluh lima juta orang, merupakan sekitar sepertujuh jumlah penduduk Indonesia.

Orang kaya di Kanada dan Amerika Serikat bukan alang kepalang banyaknya. Negerinya kaya, penduduknya kaya merupakan kebalikan keadaan Indonesia sekarang, negerinya disebut ‘kaya” tetapi penduduknya miskin.

Bagi kita orang yang biasa-biasa saja, tidak pernah membayangkan bagaimana memakai arloji yang harganya mencapai enam ratus ribu USDollar, entah system waktu yang seperti apa yang bisa ditampilkan. Jumlah milyarder USDollar pada tahun 1985 adalah hanya 13 orang di Amerika Serikat dan dua puluh tahun kemudian menjadi seribu orang, termasuk Oprah Winfrey, wanita bintang Talk Show yang berkulit hitam dan digemari pemirsa seluruh dunia. Dia telah menyumbangkan puluhan juta USDollar kepada banyak negara di Afrika secara langsung, tanpa melalui tangan Pemerintah setempatya.

Dalam tahun 1985 saja telah timbul jutawan USDollar Amerika yang baru sebanyak diperkirakan dua ratus dua puluh tujuh ribu orang . Seseorang menyindir bahwa orang-orang kaya ini sekarang “tidak mempunyai nasionalitas”, karena komunitasnya adalah kekayaan. Mereka boleh orang Kanada yang tinggal di Toronto, orang Amerika yang tinggal di New York atau orang China yang tinggal di Shanghai, tetapi sesungguhnya mereka ini adalah warganegara uang. Mereka tinggal di dalam ruang dan waktu model mereka sendiri.

Mereka mempunyai satuan uang dan satuan waktu sendiri pula. Mereka mempunyai system kesehatannya sendiri, mempunyai system transportasi sendiri (pesawat jet pribadi, lapangan terbang pribadi) dan system pengamanan diri pribadi mereka sendiri.

Saya pernah membaca di suatu media internasional bahwa Singapura yang kaya raya itu, pernah mempunyai seorang menteri keuangan yang menyuruh bawahannya agar pergi ke pelabuhan.

Apa pasal?

Sang menteri melihat melalui kaca jendela kamar kerjanya ada sebuah kapal pesiar yang cukup mewah sedang lewat.

Bunyi perintahnya: “Selidiki itu kapal mewah milik siapa dan berapa lama disini. Usahakan mendapatkan data yang detail mengenai dia dan cari akal agar dia dapat menginvestasikan uangnya di Singapura!”

Menjadi pertanyaan saya sekarang, adakah para petinggi kita, para penguasa negara Republik Indonesia, yang sigap seperti Menteri Singapura itu?

Menteri atau penguasa petinggi yang bersedia untuk ikut memikirkan negaranya seperti itu?

Kalau saja presiden kita bisa dan mau menugasi seseorang, tidak usah dia pejabat negara, untuk mendekati para super rich, para maha kaya, baik dia di dunia Barat maupun di Asia. Rusia pun sekarang sudah mulai maju.

Kalau memang dari kalangan diplomat kita ada yang memerlukan bantuan para wiraswastawan bangsa sendiri untuk melakukan upaya pendekatan itu, siapa tahu?? Mengapa tidak dicoba??

Saya sekarang tidak tahu apa yang terjadi terhadap sang bapak warga Dayak Kaharingan itu. Apakah dia sudah lebih baik kehidupannya sekarang dengan jumlah area hutan yang makin jauh berkurang?

Apakah anak-anaknya telah bersekolah?

Saya sungguh megharapkan agar mereka mendapatkan yang terbaik yang bisa dicapai.

Di sekeliling saya sekarang dunianya lain sama sekali.

Di Kanada masih terlihat orang miskin. Kemarin tanggal 25 Juni 2007, saya sedang duduk di daerah elite di Toronto bernama Yorkville. Seseorang berpakaian rapi dan bersepatu bersih, berbaju kotak-kotak dan bercelana bukan sederhana, berjalan santai. Tiba sekitar tempat saya sedang duduk, tanpa saya sangka sebelumnya, dia membungkukkan badannya dan melongok ke dalam tempat sampah, memasukkan salah satu tangannya ke dalamnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik putih serta mengeluarkan isinya, berupa sebuah kotak makanan. Dari kotak inilah dia menemukan sisa makanan, dan langsung melahapnya. Istri saya terkejut karena dia baru pertama kali ini melihatnya, sedang bagi saya ini sudah yang kedua kali pernah melihat yang serupa, di musim gugur yang lalu.

 

 

Created by Anwari Doel Arnowo

26 June, 2007

 

12 Comments to "Kaya"

  1. Alvina VB  12 January, 2012 at 00:32

    Pak Anwari,
    Kaya/ miskin memang relatif banget, dilihat dari kaca mata siapa. Ada org yg kaya ttp selalu mengeluh kekurangan, ttp ada org yg kurang mampu ttp merasa kaya/berkecukupan. Ada lagi org yg tidak merasa kl mereka itu sebetulanya kaya kl dilihat dari segi ekonomi ttp miskin banget secara spiritual.

    Di Canada masih banyak kok yg miskin (sec. financial) kl dilihat kehidupannya sehari-hari. Kebetulan saya berkecimpung di dunia anak-anak dan mereka polos aja kl cerita ttg kel. mereka. Ada yg lapar ke sekolahan krn memang gak ada yg bisa dimakan, ada yg tidur di dlm bathtub, krn tdk punya tempat tidur. Lihat saja anak-anak penduduk asli Canada yg tinggal di perkampungan reservasi, mereka ditempatkan pem. di wilayah yg susah dijangkau kendaraan umum dan tidak dpt perumahan yg cukup layak utk ditempati. Baru-baru ini kan jadi bahan sorotan media masa krn musim dingin spt ini tidak ada heater sama sekali di perumahan tsb, ttp stl itu berita tsb lenyap, seolah-olah hilang tertelan berita aktual yg baru.

  2. Ivana  10 January, 2012 at 15:53

    Bagus sekali artikelnya, terima kasih. SG juga boros sekali untuk AC. Kami memiliki 2 musim yang bisa dinikmati bersamaan sepanjang tahun, yaitu winter di dalam ruangan dan summer di luar ^_^

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.