Makan Sirih, Yuuukkk…

Anastasia Yuliantari

 

Entah ide dari mana, Dewi Aichi mengajak kami para perempuan untuk nginang (makan sirih) saat ketemuan bulan Juli nanti. Aku, sih setuju saja sambil tertawa-tawa, apa sulitnya makan sirih?

(Tanaman sirih Meitasari S)

“Tapi…” kata Nyonya van Brazil itu menyimpan rencana kejutan sampai detik terakhir, “Makan sirihnya di mall sambil menenteng tas LV, pakai rok mini, dan sandal high heel,”

Lhaahh??  Bisa dibayangkan Tumpuk Artati pun (Tumpuk Artati kisahnya bisa dibaca di Baltyra) akan kalah rock n roll dibanding ide ini.

Karena Mrs. Dewi van Brasil ini hobby meni pedi maka kuusulkan pula, “Ntar nginangnya sambil  manicure pedicure, ya.” Dan kegiatan ini dilakukan di salah satu gerai kosmetik yang tentu saja indah dan wangi.

“Wooo…dasar edan!” Balasnya.

Eh, bukan hanya dia saja yang punya ide cemerlang, kan?

Nginang atau makan sirih bukan hal aneh bagi kebanyakan perempuan atau bahkan lelaki di Indonesia, selain di Jawa kegiatan ini juga dilakukan di Manggarai (Flores). Makan sirih di wilayah ini dinamakan cepa. Bahan-bahan untuk makan sirih di kedua daerah ini agak berbeda. Di Jawa, mereka menggunakan suruh (sirih), enjet (kapur), gambir, dan mbako (tembakau), bahan terakhir ini dipergunakan untuk nyusur (apa, ya bahasa Indonesianya? Semacam membersihkan mulut dengan tembakau agar ludah merahnya jangan mengalir keluar dan belepotan di seputar mulut dan dagu, hahaha).

Di Manggarai bahannya terdiri dari kala (sirih), raci (pinang), tahang (kapur sirih) dan mbako (tembakau). Fungsi mbako di kedua tempat sama, yaitu sebagai pembersih bibir dan gigi. Hanya saja mbako susur di Jawa dibentuk bulat dan bisa ditempelkan di mulut sampai lama dengan volume yang lebih banyak, sementara di Manggarai hanya sejumput saja. Mungkin karena di Jawa tembakau ditanam secara intensif di beberapa wilayah, sementara di Manggarai (menurut ema tu’a Frans si penjual tembakau) harus mencari sampai ke Nanga Ramut di daerah pantai dan hanya ditanam sekedarnya.

Kesamaan lainnya adalah penggunaan tempolong atau kaleng untuk menampung dubang (kata eyang dari kata idu abang =ludah yang berwarna merah) Penggunaan tempolong ini hanya dilakukan bila aktivitas makan sirih dilakukan di dalam rumah, tapi bila di luar rumah langsung diludahkan saja tanpa repot-repot. Salah satu hal yang harus kami pikirkan adalah ke mana harus dibuang dubang itu kalau makan sirih di mall, masa harus bawa tempolong sendiri-sendiri? Mungkin plastic kresek bisa jadi alternative, tapi nanti malah bikin mual karena kantong plastic identik dengan tempat muntahan kalau naik kendaraan. Hmm…amit-amit, baru menuliskannya aja sudah mulai mabuk.

Jadi mengapa orang makan sirih dan apa manfaatnya? Berdasarkan sumber-sumber yang aku baca, orang makan sirih: pertama, karena bisa membantu mengatasi kebosanan, mungkin semacam makan bubble gum (permen karet) saat tak ada kegiatan, sekedar merintang-rintang waktu. Hanya saja saat mengunyah bubble gum bisa membentuk balon darinya, kalau makan sirih??? Kedua, makan sirih juga dilakukan sebagian orang untuk menahan lapar, berarti layak direkomendasikan buat yang ingin langsing, namun justru larangan buat aku dan Dewi yang sudah berbadan cungkring (kerempeng) Ketiga, dan paling sering dijadikan motivasi adalah menyirih bisa menyehatkan gigi dan mulut. Benarkah?

Bila dilihat dari komposisi bahannya, Sirih berguna untuk membunuh kuman, antioksidan, dan anti jamur. Tak heran banyak yang menganggap menyirih berguna untuk mencegah gigi rusak atau keropos. Gambir berguna untuk kumur-kumur (mungkin maksudnya mencegah bau mulut) dan mencegah sariawan. Pinang bisa digunakan untuk membersihkan gigi, walau dalam jumlah banyak akan merusak gigi. Tembakau justru menimbulkan kecanduan seperti merokok, makanya kalau biasa menyirih, lalu tak menyirih akan membuat badan lemas, karena ketagihan tentunya. Sementara kapur kurang jelas gunanya.

Kembali pada rencana nginang di mall, bila menilik tujuan orang menyirih akan sangat tidak klop, pertama (harus terperinci biar Dewi percaya) bisa dengan mudah mendapatkan permen karet bila hanya untuk merintang waktu, lagian kalau bertemu teman lama pasti lebih banyak chit chat daripada memamah permen karet apalagi sirih. Kedua, bila ingin menahan lapar terus apa gunanya food court dan gerai-gerai makanan cepat saji di Malioboro Mall seperti Pizza Hut, Hoka Hoka Bento, Texas Chicken, McDonald, ehm…apa lagi ya?? Oh, ya starbuck dan entah gerai apa lagi dari Amrik yang menyediakan yoghurt aneka rasa di ujung selatan mall itu. Ketiga, bila untuk mencegah gigi keropos atau menjaga kesehatan mulut kayaknya sudah ketinggalan, bukan masalah teknis pelaksanaannya, namun gigi terlanjur keropos dan banyak tambalan, entah kalau gigi Miss Di. Mungkin karena rajin nginang sambil memutari Sao Paulo maka masih sempurna adanya.

Tapi, semua argument itu bisa dipatahkan bila tujuan menyirih adalah untuk personal relationship agar guyup-rukun (kerukunan) antar individu, ada kegiatan sampingan sembari bercakap, dan last but not least menjadi trendsetter! Memformulasikan acara menginang alias menyirih menjadi gaya hidup baru. Sebuah penggabungan antara tampilan modern canggih yang diwakili rok mini atau celana umpan juga boleh, tas tenteng keren, dan high heel di satu sisi, dengan menjaga kesehatan mulut secara tradisional di sisi lain.

Hmm…siapa tahu kolaborasi ini bisa berjalan menakjubkan. Paling tidak satu hal yang langsung tampak yaitu pengalokasian budget pembelian lipstick untuk bahan menyirih sampai sekarung, hehehe.

 

(Keterangan tentang manfaat dan tujuan menyirih dirangkum dari beberapa sumber)

 

Artikel terkait: Nginang (http://baltyra.com/2010/01/13/nginang/)

 

47 Comments to "Makan Sirih, Yuuukkk…"

  1. Meitasari S  13 January, 2012 at 12:48

    Mbak yu guru…. aku seksi penyandang doa, moga2 gak pada keracunan gambir.

    wkwkwkk

  2. Lani  11 January, 2012 at 13:23

    AY : di-anduk-i????? la anduk-e adooooooooh je kkkk

  3. probo  11 January, 2012 at 12:56

    ooo Meita arep melu nginang…ya….
    aku seksi dokumentasi wae…….

  4. Meitasari S  11 January, 2012 at 12:40

    weh jebule kuwi potoku to? Ha ha ha. Lha malah ora rasa’an kie. Wkwkwk.

    Pdhl itu bukan sirihku itu rumah omku. Kmaren jumat beliau meninggal. Nah pas layat aku liat itu, jd inget rencana kopdar sambil nginang. Wakakak ,..terus aku jepret n upload. Xixixi. Sempet2e ya? Wkwkwk

  5. Anastasia Yuliantari  10 January, 2012 at 23:02

    Mbak Nur….eh, Meita, yo matur nuwun wis nyumbang gambar suruh. Thank you to Buto yg melengkapi gambar suruhnya hehehehe.

  6. Anastasia Yuliantari  10 January, 2012 at 23:00

    Mbak Imeii, mungkin utk jamu ato obat tertentu. Di sini daun sirih bisa dipakai sebagai obat antiseptik utk perempuan.

  7. Anastasia Yuliantari  10 January, 2012 at 22:57

    Yu Lani…hadddohhh, nek kebes mbok ndang dianduki wkwkwkwk. Maksude kodanan to soale saiki musim hujan….wkwkwkwk. Nah, perlu diperjelas apakah DuRen semacam Brad Pitt yg dimaksud….wkwkwk.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)