Pengalaman Tinggal di Cairo (6)

Titin Rahayu

 

Suatu hari aku bilang sama supirku kalo aku mau pergi ke daerah Nasr-city, daerahnya anak-anak mahasiswa Indonesia yang kuliah di universitas Al Azhar. Setelah lihat-lihat di internet aku tahu kalo ada warungnya anak-anak mahasiswa yang jualan makanan Indonesia di sana.

Setelah tanya-tanya akhirnya ketemu juga warung mereka. Di Cairo kalo jalanan gak di aspal yaaa pastilah jalanan berdebu, maklum kota di pinggir gurun pasir, begitu juga jalanan di depan warung itu.

Sebuah warung yang di atasnya adalah  gedung apartment, terlihat lalat berterbangan di mana-mana, lantai yang gak begitu bersih dan aku lihat di menu  woow. . . ada bakso dan mie ayam, belom juga lihat pentolnya sudah ngiler duluan.

Aku tanya supirku apa dia mau makan di situ, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Perut sudah keroncongan dari tadi  tapi  ada keraguan mau makan di sana, akhirnya aku pilih bungkus buat pulang saja.

Selama menunggu, aku lihat ada seorang pemuda yang sedang makan dengan lahapnya, aku tanya  apa dia dari Indonesia, dia bilang iya, aku tersenyum, aku bilang kalo aku barusan saja pindahan ke Cairo dan belom punya kenalan orang Indonesia.

Dia bilang kalo dia kerja buat perempuan Indonesia yang tinggal di New Cairo.  Aku minta tolong sama dia buat kasih no telp ku ke Bu Z (majikan dia). “ Iya, saya akan sampaikan “ kata dia.

Itulah awal aku mendapatkan teman dari Indonesia.  Sehari kemudian si  Z menelponku, ngajak ketemuan. Seorang perempuan yang sangat cantik, dia pernah main film ‘panas‘ ala Indonesia, juga pernah jadi model kalender di Jakarta.

Ternyata dia tinggal gak jauh dari tempatku. Z cerita kalo ada banyak ibu-ibu dari Indonesia yang tinggal di Maadi, dan tiap hari Senin mereka pada ngumpul buat  acara pengajian, sebulan sekali ada acara arisan dan sering juga mereka ngadain acara jalan-jalan.

Dari si Z pula lah aku mendapatkan babysitter dan orang yang bantuin aku bersih-bersih paruh waktu, dia masih kuliah di universitas Al Azhar. Aku sudah kapok ngambil orang lokal, soalnya standart kebersihan mereka sangat rendah dan cara kerja mereka juga asal-asalan saja. Lantai habis di pel bukannya bersih malah tambah belang bonteng di mana-mana karena gak mau pake vacuum cleaner sebelumnya, kalo di kasih tahu sukanya ngeyel melulu. .

Di Cairo bersih-bersih rumah harus tiap hari kalo gak, yang punya bengek pasti sering kambuh.

Aku juga cerita sama si Z  soal kelakuan supirku yang malasnya minta ampun, yang dia lakukan cuman tidur melulu di mobil dan gak peduli sama sekali sama mobil yang sudah kotor.  Aku sudah capek kasih tahu dia kalo dia harus menjaga kebersihan mobil. Sambil tersenyum dia bilang  “kau pikir kenapa aku ngambil anak Indonesia buat nyupiri aku? Aku sudah capek dengan kelakuan supir orang lokal yang malas dan seringnya makan hati “.

Saat itu si Z sudah 5 tahun tingal di Cairo, waktu aku tanya apa resepnya bisa bertahan selama itu di Cairo, dia cuman bilang kalo bisa jangan berhubungan dengan orang lokal (dalam arti mempekerjakan mereka).  “Tahun pertama di sini aku nangis melulu tiap hari, bayanganku soal Cairo benar-benar pudar setelah aku melihat gimana Cairo itu sebenarnya, sedangkan aku khan anak Jakarta asli, tukang dugem !! “ kata dia sambil tertawa ngakak.

Ada sedikit perasaan lega  di hati,  ternyata bukan cuman aku sendiri yang mengalami  culture shock di Cairo.

Di saat libur dari kerjaan, sering kali kita  jalan-jalan di sekitar Cairo, suati hari kita pergi ke Ain-sokhna, kurang lebih 2 jam pake mobil dari tempatku.

Ain sokhna artinya tempat yang panas, dalam kenyataanpun juga demikian.  Ain Sokhna terletak di pinggir Laut Merah, sebuah kota yang sangat gersang, yang ada cuman hotel dan resort serta restoran.

Dari Cairo ke Ain Sokhna kita harus melewati jalanan padang pasir, salah satu hal yang  menyenangkan di Cairo adalah jalanan yang mulus dan lebar, sebetulnya di dalam kota juga demikian tapi berhubung terlalu banyak mobil dan mereka sama sekali gak tertib di jalan raya, gak heran kalo di Cairo kota selalu macet dari pagi hari sampai tengah malam.

Di lain waktu kita pergi ke kota  Ismailia, sekitar 3 jam dari Cairo, sebuah kota kecil  yang lumayan hijau, terlihat juga perkebunan mangga dan pisang dari  pinggir jalan, gak heran kalo waktu musim mangga, harganya bisa sangat murah di Cairo.

Mangganya besar-besar dan manis. Memasuki kota terlihat ada sungai yang mengalir, tapi sangat disayangkan kalo sungai itu terlihat sangat kotor dan penuh dengan sampah.

Suasana di pusat kota terlihat berbeda dengan di Cairo, lebih bersih, lalu lintas lebih tertib, dan mereka juga mematuhi lampu lalu lintas, sungguh pemandangan yang sangat berbeda, walaupun jaraknya Ismailia tidaklah seberapa jauh dari Cairo.

Setelah kita berputar-putar di pusat kota Ismailia dan gak menemukan tempat yang nyaman serta bersih buat sekedar minum kopi akhirnya kita memutuskan pergi ke sebuah hotel di sana.

Meskipun hanya sekedar minum kopi dan menikmati sepotong kue coklat  ternyata pemandangan dari belakang hotel itu sangatlah indah, kita bisa melihat langsung dari dekat terusan Suez.

 

Bersambung. . .

 

35 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (6)"

  1. anoew  10 January, 2012 at 21:12

    Zak zisa…, zokok’e zelas Zosh Zen..!

  2. Titin  10 January, 2012 at 17:08

    Mas Oscar, thanks buat info nya
    Kornelya, nanti aku sampaikan ke dia
    JC, mas Anoew and lani, Selamat bersibuk ria sama si Z yaaa…

  3. Lani  10 January, 2012 at 15:02

    AKI BUTO : wadooooooh, saiki pakai pokok-e…….nyerah to?

  4. J C  10 January, 2012 at 14:58

    Pokok’e Zanoew atau Zlani!

  5. Lani  10 January, 2012 at 14:46

    KANG ANUUUUU : wakakkaak……..se777777

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.