(Tidak) Ada Pencuri di Rumah Kami

Benny Arnas

 

Pada suatu hari kami kehilangan uang di rumah. Saya lupa berapa jumlahnya. Anggap saja sekitar lima ratus ribu. Saya dan istri mencurigai seseorang yang selama ini sudah lama bekerja di rumah. Kami perhatikan gerak-geriknya. Ia berjalan seperti seorang pencuri. Ia memandang seperti seorang pencuri. Ia bicara seperti seorang pencuri. Ia duduk seperti seorang pencuri. Ia makan seperti seorang pencuri. Ia bekerja seperti seorang pencuri. Pokoknya kami sangat mencurigainya.

Namun begitu, kami tidak pernah mengungkapkan semua secara terang-terangan. Kami hanya membicarakannya berdua, diam-diam, lamat-lamat, seolah kami takut kalau-kalau ada orang lain yang tahu kalau kami sedang mencurigai seseorang, kalau-kalau kami sedang berusaha mengumpulkan sejumlah barang bukti, (atau bahkan) kalau-kalau kami sedang berusaha menangkap basah pencuri di rumah kami. Hari-hari kami lalui dengan penuh prasangka buruk. Kami berbicara dengannya dengan penuh selidik. Kami bersikap di depannya penuh intrik. Kami menyuruhnya ini-itu seolah tengah menggiringnya masuk ke dalam perangkap yang kami buat.

Kami benar-benar jengkel ketika tak kunjung berhasil membuktikan bahwa ialah yang mencuri. Sungguh, apa-apa yang ia lakukan sangat mirip seperti pencuri. Ia sangat-sangat mirip seperti pencuri. Sampai suatu hari, kami menemukan uang lima ratus ribu terselip di antara lipatan pakaian di dalam lemari. Kami saling berpandangan. Kami benar-benar merasa bersalah. Kami benar-benar merasa berdosa. Tapi, seperti kebanyakan orang Indonesia, kami masih merasa beruntung bahwa kami tidak sampai menuduhnya terang-terangan selama ini. (O, tak dapat dibayangkan bila kami benar-benar melakukannya waktu itu).

Sejak itu, saya dan istri tidak lagi mencurigai seseorang yang selama ini sudah lama bekerja di rumah. Kami perhatikan gerak-geriknya. Ia tidak lagi berjalan seperti seorang pencuri. Ia tidak lagi memandang seperti seorang pencuri. Ia tidak lagi bicara seperti seorang pencuri. Ia tidak lagi duduk seperti seorang pencuri. Ia tidak lagi makan seperti seorang pencuri. Ia tidak lagi bekerja seperti seorang pencuri. Pokoknya tindak-tanduknya seperti orang kebanyakan, seperti orang yang tidak mencuri, yang tidak pernah mencuri!

Di sela-sela rasa penyesalan yang mengerubungi, tiba-tiba—entah dari mana—sebuah suara menyusup dan membisiki kami: Jangan-jangan dia mengetahui bahwa kami telah mencurigainya sejak lama, dan secara diam-diam dia mengembalikan uang tersebut karena setelah mempertimbangkan banyak hal, ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya!

Kami berpandangan lagi. Kami perhatikan gerak-geriknya. Kadang ia bergerak seperti pencuri, kadang seperti orang yang suci. Kami berpandangan lagi.

Istri saya nyeletuk: Sepertinya gerak-gerik kitalah yang menyerupai pencuri!

Ya, seperti, hanya seperti, bukan benar-benar pencuri ‘kan? Jawab saya tak mau kalah.

Kami tertawa, terbahak-bahak, lalu membiarkan ia bekerja di rumah.

Seperti biasa. (*)

 

Lubuklinggau, 2011

Sejak awal Desember 2011, saya mengasuh sebuah kolom di Linggau Pos Minggu.

Namanya CATATAN BERNAS. Ini adalah tulisan minggu ketiga saya.

 

9 Comments to "(Tidak) Ada Pencuri di Rumah Kami"

  1. Kornelya  10 January, 2012 at 02:01

    Pak Beny, gambaran sikap yang sangat manusiawi. Salam.

  2. Dj.  9 January, 2012 at 23:37

    Bung Benny….
    Baru tadi pagi Dj, mengalami hal yang sama.
    saat mau menggunakan HP, kok tidak ada diatas meja kantor…
    Molai cari kiri-kanan….
    Keluar kamar dan nanya teman kerja, apa tadi ada orang yang masuk ketempat Dj…???
    Tai semua bilang tidak…..
    Makin bingung dan Dj. coba telpon dari telpon yang ada dimeja kantor, siapa tau lupa naruk,
    kan akan bunyi dan tau dimana dia.
    Tapi tidak ada suara sama sekali….
    Makin pusing…dimana dia….???
    Siapa yang berani ambil HP Dj. ??? ( prasangka yang sangat buruk )
    Karena jam 8:00 masih Dj. akai telpon susi, sekarang sudah raib…???
    Secara reflek Dj. langsung berdoa….
    TUHAN…. Tolong kembalikan HP ku…. ( E….seolah-olah TUHAN yang curi HP Dj. )

    Sedang sedikit bingung mikir dimana HP Dj. taunya telpon kantor berdering….
    Nomor dari kantin dan suara perempuan muda yang merdu bertanya….
    Dj. ini ada HP, apa HP mu, karena kamu tadi kan bayar sesuatu yang kamu beli disini, merk Nokia dengan tas kulit hitam.
    Dj. langsung teriak…. HALELUYA….!!!
    Tamara…. terimakash…!!! Aku sudah cari-cari….!!!
    Dj. berlutut lagi dan sangat bersyukur seperti anak kecil,
    Begitu cepat jawaban doa Dj.
    TUHAN telah kembalikan HP Dj.
    TERIMAKASIH TUHAN….!!! ( GOTT SEI DANK… ! ).
    TUHAN HIDUP….!!!

  3. anoew  9 January, 2012 at 23:01

    Bungkus tak selalu mencerminkan isinya.

  4. Linda Cheang  9 January, 2012 at 15:16

    prasangka menentukan sikap, ya.

  5. GC  9 January, 2012 at 13:49

    bagus, suka membacanya

  6. Titin rahayu  9 January, 2012 at 10:45

    Jadi sebuah dilema karena kata ‘ sungkan ‘ buat bertanya

  7. J C  9 January, 2012 at 09:47

    Catatan ringan asik untuk awal minggu…terima kasih Benny Arnas…

  8. [email protected]  9 January, 2012 at 09:07

    nomor 2….. absen….

  9. Handoko Widagdo  9 January, 2012 at 08:25

    Selamat Bernas!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.