Honeyfood Kami Yang Seruuu…(2)

Lembayung – SOLO the spirit of java

 

Rasanya sangat puas sekali kunjungan kami ke Naught Nuri’s siang itu. Perjalanan kami lanjutkan ke toko oleh-oleh Krisna yang berlokasi di Jalan Sunset Road Legian. Seperti inilah suasana toko Krisna yang sangat besaaaaarr…. sekali.

Krisna Pusat Oleh-oleh

Agak-agak kalap, saya dan DB cumat-cumut ambil banyak oleh-oleh. Mulai dari kaos, celana pendek, kacang, pia, manisan, keripik, sampai ke kalung manik-manik. Total belanjaan kami sekitar 500ribuan. Itu pun yang untuk saya sendiri hanya dua buah celana pendek motif bunga-bunga (satu warna ungu, satu lagi warna kuning-oranye genjreng) seharga Rp.16.000, -/pc dan kalung manik warna merah maroon seharga Rp.15.000, -.

DB juga hanya mengambil sebuah celana pendek warna crème seharga Rp.20.000, – selain itu semuanya adalah oleh-oleh. Tak apalah, wong ya tidak sering-sering. Hehehe…. Hampir satu jam kami habiskan di Krisna ini tanpa terasa. Yang jelas terasa adalah isi dompetnya menyusut drastic. Hahaha…. Setelah membayar di kasir, kita ditawarkan oleh mbak kasir apakah ingin menambah fasilitas packing dalam dus agar lebih rapih dan mudah dibawa? Kami mengiyakan dengan membayar biaya packing sebesar Rp.5.000, -. Menurut kami harganya cukup standar lah, mengingat kita tidak perlu ribet menyusunnya di koper kalau mau pulang nanti.

Selanjutnya, mari kita menuju ke Pantai Padang-Padangggg….. . Saya sebenarnya sangat excited sekali ingin melihat pantai ini, karena saya baca review tentang pantai ini sangat bagus-bagus. Wah, saya jadi penasaran. Sayangnya DB tidak terlalu antusias terhadap destinasi ini. Bukan anak pantai, dan katanya pantai panas dan berdebu serta lengket. Ya iyalahhh…., namanya pantai ya panas, ada debu pasir dan lengket karena air garam. Hedeeehhh… tapi ya dia manut saja ketika saya bilang POKOKnya harus ke Pantai Padang-Padang. Hehehe….

Perjalanan dari Krisna menuju ke Pantai Padang-Padang ini memakan waktu sekitar 45 menit. Cukup jauh dan cukup macet. Ketika sampai di parkiran, Bli Nyoman, driver sekaligus tour guide kami menjelaskan arah masuk pantai dan rute menuju pantai. Sementara dia akan menunggu di parkiran mobil. Belakangan saya tahu mengapa Bli Nyoman memilih tinggal di parkiran, ternyata untuk menuju ke pantai harus menuruni tangga-tangga yang sangat curam dan cukup jauh, yang mengakibatkan ketika pulang dari pantai nanti, menuju ke parkiran juga harus menaiki tangga yang terjal dan jauh pula. Hiks….

Tetapiiii…..worthed kok! Ketika menyusur tangga saja saya sudah excited, karena masuk ke lorong keciiiilll dan kanan kirinya itu tebing batu.

Jalan menuju ke pantai Padang-Padang

Agak ngos-ngosan juga sih, daaannn….. terbayarlah sudah ketika mata kami menyapu pantai bersih dengan pasir putih. W O W !!! DB pun spontan berkomentar, “Bagus ya, hun!” Yup, pantai ini memang sangat bagus. Bersih, tidak seramai pantai Kuta, Legian, Nusa Dua, Tanjung Benoa. Terlihat beberapa turis asing berjemur sambil rebahan, sementara yang lain asyik berenang dan berselancar. Hanya ada dua warung kecil yang menjual kepala muda dan masakan cepat saji seperti mie instan rebus dan goreng, nasi goreng, omellet dan makanan kecil. Saya sempat ingin membeli es kelapa muda, tetapi keinginan itu terlupa karena DB sudah mengeluarkan kamera. Saya dan DB segera foto-foto karena memang kami tidak berencana lama menghabiskan waktu di sini. Saya hanya ingin membuktikan rasa penasaran saja dan memang terbayar abis!!!

DB pamer udel @Padang-Padang Beach

 

Cipak-cipuk @Padang-Padang Beach

 

Berpelukaaaannn…. @Padang-Padang Beach

 

Setelah saya puas main air dan DB hanya melihat dari kejauhan (capeekkk deeehhh DB, wong namanya ke pantai kok ngga mau basah sama sekali. Tepok jidat deh! >_<), hanya sekitar 45 menit saja, kami segera memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami, which is menuju ke Pura Uluwatu.

Ternyata jarak dari Pantai Padang-Padang ke Pura Uluwatu hanya sekitar 10menit. Dekat sekali. Tujuan kami ke lokasi ini sebenarnya adalah hanya ingin melihat Tari Kecak. Saya sangat ingin sekali melihat Tari Kecak secara live sejak saya masih SD. Sayangnya, tidak pernah kesampaian, karena setiap ada darmawisata atau piknik ke Bali, pasti dari travel agent nya mengagendakan Tari Barong saja dalam agendanya. Tak pernah ada Tari Kecak. Fiuh…. Makanya, sejak sebelum berangkat ke Bali, saya sudah mewanti-wanti ke DB bahwa HARUS melihat Tari Kecak di Uluwatu. Dan diberi anggukan kepala oleh DB.

Untuk masuk ke area Pura Uluwatu, bagi pengunjung yang menggunakan busana di atas lutut harus ditutupi dengan kain yang disediakan di bagian entrance, sedangkan yang sudah berbusana tertutup sampai bawah lutut hanya perlu memakai slendang yang dililitkan di pinggang saja. Karena saya memakai sackdress santai yang panjangnya 3cm di atas lutut (padahal hanya 3cm kurangnya lho hiks), maka saya harus menutupinya dengan kain panjang. Dan untungnya kainnya berwarna UNGU!! Love it!! Beginilah tampilan saya setelah bagian bawahnya ditutupi, hehehe…

Gadis savannah @Uluwatu

Tiket box pertunjukan Tari Kecak waktu saya datang ternyata belum dibuka, dan sungguh beruntungnya kami karena Bli Nyoman malah mengajak kami untuk mengeksplorasi Pura Uluwatu. Bli Nyoman bilang, bahwa rugi kalau datang ke Pura Uluwatu hanya untuk melihat Tari Kecaknya saja. Dan Bli Nyoman sungguh benar. Kami dibawa berkeliling Pura-Pura, melihat pemandangan yang sangat indah! Tebing-tebing yang dihiasi dengan karang di sana-sini dan ditemani deburan ombak memecah pantai.

Semilir [email protected]

 

Di depan [email protected]

 

Dan yang paling menyenangkan adalaaahhh…. banyak monyettt!!! Lucu-lucu dan nakal-nakal (beberapa kali malah saya sempat membandingkan antara monyet dan DB, tapi ternyata masih gantengan DB dech :P). Ketika masuk, kami disarankan untuk melepas jam tangan, anting, kalung, dan pita rambut. Bahkan anting yang dipakai di kuping kiri Bli Nyoman dicolong dengan sukses oleh seekor monyet nakal. Dia bilang memang seharusnya ngga pakai anting, tapi saya sudah hati-hati dan waspada terus, tapi kok tetap kena. Sial dia. Hehehe….. Monyet yang mengambil anting Bli Nyoman berbadan kecil langsing, sehingga setelah menyamber anting itu, dia bisa lari melesat dan naik memanjat pohon. Sementara di bawahnya duduk seekor monyet lain yang sedang menikmati pisang. Saya duga monyet itu mengalami obesitas akut. Lol.

Monyet Obesitas @Uluwatu

Ketika kami asyik mengobrol dan bertukar dengan Bli Nyoman, tiba-tiba terdengar bunyi riuh ramai dari belakang kami. Ternyata ticket box untuk pertunjukan tari kecak sudah dibuka. Pertunjukan tari kecak di Uluwatu ini diadakan setiap hari pukul 18.00. Pemandangan sangat indah sekali, karena menghadap laut yang dibayangi oleh pura batu.

Bli Nyoman segera membelikan tiket untuk kami, harga tiketnya Rp.70.000, – per orang. Memang agak mahal ya, tapi demi memuaskan rasa penasaran dan memenuhi keinginan saya yang terpendam bertahun-tahun ya harga sedemikian ini menjadi “agak” terabaikan. Hehehe… Setiap pembelian tiket akan disertakan teks berupa sinopsis cerita yang akan dimainkan dalam pertunjukan tersebut.

Teks sinopsis tersedia dalam berbagai bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, China, Belanda, dan Jerman. Mungkin ada beberapa teks dalam bahasa yang lain, tetapi sepanjang pengetahuan saya hanya beberapa bahasa itu saja, karena kebetulan sempat mengintip milik turis yang duduk di sebelah kanan-kiri dan atas-bawah saya. Cerita yang akan dimainkan pada petang hari itu adalah Ramayana. Ceritanya dibawakan dalam bahasa daerah Bali yang sesekali diselingi dengan joke bahasa Inggris dan Jepang. Sangat menghibur. Dan yang menjadi bintang pada pertunjukan itu adalah Hanoman, sang kera putih. Hanoman menampilkan gerakan tarian dan olah tubuh yang lucu dan sangat menarik untuk diikuti. Bahkan tak jarang sang hanoman ini melompat ke arah kursi penonton dan berlagak pura-pura sedang mencari kutu di rambut penonton. Hehehe…. Pertunjukan yang berdurasi 60menit itu terasa sangat singkat dan saya tidak bosan untuk menontonnya lagi next trip to Bali!

Tari Kecak

Selesai pertunjukan, para penonton dipersilakan untuk berfoto dengan para pemainnya. Ada Rama, Shinta, Laksmana, Trijatha, dan lain-lain. Dan yeahh…, yang paling laris adalah Hanoman yang menyebabkan saya tidak tahan berdesak-desakan dengan turis-turis yang lain sehingga saya mengurungkan niat saya untuk berfoto bersama Hanoman. Saya putar balik dan memilih berfoto bersama dengan para penari kecaknya saja.

Penari Kecak

Sedih rasanya harus meninggalkan Pura Uluwatu yang sangat indah dan bertabur kesenian. Perjalanan pulang kami ke Tune Hotel memakan waktu 1 jam 15 menit, karena 30menit di dalamnya ada saat kami mampir makan bakso dalam perjalanan.

Kami sampai hotel sekitar pukul 21.00 dan tak rela malam kami hanya berakhir sampai di situ. DB segera mengambil motor dan kita bermotor ria menyusuri Kuta dan berakhir di Poppies I, (lagi-lagi) pengen makan di Bamboo Corner. Hehehe…. Kita tidak bosan makan di sana, karena di samping makanannya enak harganya juga sangat terjangkau. Kali ini karena tadi sudah terisi bakso, maka saya memesan Club Sandwich saja. sementara DB penasaran dengan nasi goreng babinya. Minumnya, seperti biasa, hot plain black tea for both of us.

Club Sandwich – Bamboo Corner

Sayang sekali nasi goreng babi DB tidak sempat terdokumentasikan karena sudah terlanjur disantap. Rasanya kata DB standar. Tidak seenak babi kecap kemarin. Agak kecewa katanya. Tapi setelah mencicip Club Sandwich punya saya, DB pun memproduksi komentar yang sama dengan saya. Club Sandwichnya yummy!! Meskipun nasi gorengnya standar, tapi DB bilang nggak kapok makan di sini dan pengen mencoba menu yang lain lagi. Kapan-kapan pasti balik ke Bamboo Corner lagi ah, apalagi malam itu kami hanya mengeluarkan 14rb untuk Club Sandwich, 10rb untuk nasi goreng babi, dan 10ribu untuk 2 gelas teh tawar. Great!!

Kami pulang lagi ke hotel dengan keadaan badan letih tapi hati sangat senang dan puas atas eksplorasi hari itu. sayang sekali, besok hari waktu liburan kami sudah usai. Harus berkemas dan pulang kembali ke alam nyata. Hehehe…

Beruntung pesawat kami dari Denpasar berangkat malam, sehingga paginya kami masih sempat bermotor sekitar Legian dan mencari sarapan di Warung Darsana. Warung makan yang menjual makanan khas Bali, yaitu nasi lawar. Warung ini direkomendasikan oleh Bli Nyoman yang katanya sangat enak dan murah. Dannn…, we luv it!! Rasanya sangat, sangat, sangat enak!! (lihat saja bagaimana beringasnya DB memakan sate lilit!)  Nasi lawar dengan lauk sate lilit, bakmi goreng, babi kecap, bakwan jagung, babi goreng hanya ditagih seharga 10rb saja. Jadi total kami makan berdua plus tambah soup dan minum hanya membayar 27rb rupiah. Kami terharu dengan rasa dan harganya!

DB kalap di Warung Darsana

Selesai sarapan kami kembali ke hotel dan mengunjungi spa yang masih berada di area hotel. Mau pijit, karena badan pegal-pegal.

Well being spa

Massage selama 60menit seharga Rp.82.500, – per orang cukup sebanding dengan pelayanannya. Pijitannya enak dan musik tradional Bali sebagai backsong sangat membuat kami rileks bahkan tertidur pulas. Sebelum tertidur saya sempat mengobrol dengan mbaknya tukang pijit, bahwa untuk menjadi tukang pijit di tempat-tempat spa yang professional harus mempunyai sertifikat sekolah spa. Wow! Jadi memang bukan sembarang orang lho yang boleh memijit pelanggan.

Kami menuju kamar hotel dengan gontai mengantuk karena keenakan dipijit. Hehehe…. tapi apa daya kami harus berkemas dan mandi lalu segera bersiap ke bandara. Ah, rasanya sungguh tak ingin meninggalkan Bali beserta harum udaranya. Makanya, saya tinggal saja pashmina hitam saya di Mie Solaria Bandara Ngurah Rai. Konon kata simbah buyut, kalau kita ketinggalan suatu barang maka di lain waktu kita akan secara tidak sengaja kembali ke tempat itu. Semoga ya! Sampai jumpa di Bali lagi ya, kawan!!

Cheers,

Lby (30/12/11;12:34)

 

50 Comments to "Honeyfood Kami Yang Seruuu…(2)"

  1. Dj.  25 January, 2012 at 01:25

    Dj. Says:
    January 13th, 2012 at 18:15

    lembayung Says:
    January 13th, 2012 at 09:31

    Iya oom, 82500 itu untuk pijit selama 1 jam. Memang murah karena itu tempat pijat kecil yang ada di lokasi hotel Tune dengan fasilitas yang terbatas. Tetapi well being spa yang pusatnya ada di Seminyak dengan fasilitas yang lebih komplit. Berikut ini website nya:
    http://www.wellbeingspabali.com/

    ————————————-

    Terimakasih Yung, untuk Link yang sudah kami catat, kami akan coba kesana, kalau kami sudah ada di Bali.
    yang jelas, kami ada 9 hari di Bali, pasti akan kami cari, paling tidak akan kami telpon dulu.
    Sekali lagi…
    TERIMAKASIH …!!!
    Salam manis untuk kalian berdua, dari kami di Mainz.

  2. lembayung  14 January, 2012 at 08:18

    Wah, besok2 kalau ke Bali harus lho ke pantai padang-padang. Baguuuss banget. Bersih!
    Nasi lawarnya (agak) pedas sich, dan enaaaakkkk!!!! Sayangnya saya memang agak2 ngga makan pedas ya. Tapi kalau pedasnya dikiiittt banget masih bisa lahh.. Hehehe… salam juga dari solo yang tiap hari ujaaann….. ( i luv rain!!)

    _____________________
    Mawar09 Says:
    January 14th, 2012 at 04:32
    Yung : lanjutan ceritamu memang seru. Pantai Padang-Padang nya indah ya, aku belum pernah kesana walau sering ke Bali. Nasi lawarnya bikin ngiler! pedas ngga?? Ditunggu kisahmu yang lain untuk dituangkan jadi artikel. Salam dari jauh yg lagi menggigil kedinginan!

  3. lembayung  14 January, 2012 at 08:16

    Iyo CikDhe, semoga bisa kembali lagi dolan ke Bali ah. Amiiinnnn…. Eh tapi ini aku nggak sengaja ketinggalan pashminanya. Kalo Cik Dhe kan memang disengaja ya. Apa bakal terwujud juga nich aku?

    _____________________________
    Adhe Says:
    January 13th, 2012 at 13:47
    Yung…..kereen kisahmu, thanks ya. Pantai Padang2 cakep yam jd pengen kesana. Bbrp Kali ke Bali blum pernah kesana, kasiaaan ya hahaha…. kisahmu soal pashmina itu jd inget dg kisahku sendiri, yg meninggalkan bbrp barang pribadiku di tanah suci dg harapan bisa kembali kesana, Alhamdulillah terwujud.

  4. lembayung  14 January, 2012 at 08:15

    Bu Meita, iya, horny banget nih liat foodnyaaaa…

    _________________________
    Meitasari S Says:
    January 13th, 2012 at 13:07
    Wadhuh Senangnya yang bisa ber honeynhornyfood kara kan anoew… selamat ya lembayung……

  5. lembayung  14 January, 2012 at 08:14

    Contohin dulu dunk omaaaaaaaaaaa

    _____________________________
    SU Says:
    January 13th, 2012 at 13:03
    Aduh Yung kudunya pas pakai dress itu jangan pakai kaos merah lagi didalamnya. Lebih keren deh. Coba sekarang ambil fotonya sesuai saran saya dan pajang sini. Pasti banyak yg setuju sm saya

    Itu monyet lagi hamil kali…..

  6. Mawar09  14 January, 2012 at 04:32

    Yung : lanjutan ceritamu memang seru. Pantai Padang-Padang nya indah ya, aku belum pernah kesana walau sering ke Bali. Nasi lawarnya bikin ngiler! pedas ngga?? Ditunggu kisahmu yang lain untuk dituangkan jadi artikel. Salam dari jauh yg lagi menggigil kedinginan!

  7. Dj.  13 January, 2012 at 18:15

    lembayung Says:
    January 13th, 2012 at 09:31

    Iya oom, 82500 itu untuk pijit selama 1 jam. Memang murah karena itu tempat pijat kecil yang ada di lokasi hotel Tune dengan fasilitas yang terbatas. Tetapi well being spa yang pusatnya ada di Seminyak dengan fasilitas yang lebih komplit. Berikut ini website nya:
    http://www.wellbeingspabali.com/

    Kami juga tidak mampir ke Hard Rock Cafe Kuta karena udah jiper lihat harganya yang MENURUT KAMI MAHAL. hehehe…. jadi ya cari2 makanan yang enak dan harganya juga enak di kantong saja. Dan kebetulan kami lebih suka model coffee shop daripada club.
    ———————————————————————

    Selamat Siang Yung…..
    Dj. yakin akan hal tersebut….
    Olehnya , walau kami nanti tinggal di hotel banyak bintangnya…..
    Kadang kami malah senang pijat di pinggir pantai.
    Pernah mala Susi rambutnya dikepang kecil-kecil di pantai Kuta.

    Mengenai H.Rock, memang mahal, tapi ada juga oleh-oleh kecil yang murah.
    Saat harus beli untuk oleh-oleh anak-anak, karena mereka pesan kaos….
    Busyeeeet….!!! Lebih mahal daripada di Hard Rock Kuala Lumpur.
    1 Kaus oblong, harganya lebih dari € 30,-
    Tapi ya….sekali-kalai tidak jadi soal, asal tidak setiap kali…hahahahaha….!!!
    Salam manis dari Mainz….

  8. Adhe  13 January, 2012 at 13:47

    Yung…..kereen kisahmu, thanks ya. Pantai Padang2 cakep yam jd pengen kesana. Bbrp Kali ke Bali blum pernah kesana, kasiaaan ya hahaha…. kisahmu soal pashmina itu jd inget dg kisahku sendiri, yg meninggalkan bbrp barang pribadiku di tanah suci dg harapan bisa kembali kesana, Alhamdulillah terwujud.

  9. Meitasari S  13 January, 2012 at 13:07

    Wadhuh Senangnya yang bisa ber honeynhornyfood kara kan anoew… selamat ya lembayung……

  10. SU  13 January, 2012 at 13:03

    Aduh Yung kudunya pas pakai dress itu jangan pakai kaos merah lagi didalamnya. Lebih keren deh. Coba sekarang ambil fotonya sesuai saran saya dan pajang sini. Pasti banyak yg setuju sm saya

    Itu monyet lagi hamil kali…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.