Puisi-puisi di Koran Tempo

Benny Arnas

 

Hijau Pagi

Pertama-tama aku mendatangkan sebatang timun yang merambat di dekat jendela kamarmu dan tiba-tiba pada hari itu juga ia berbunga. Bunga kuning dan berambut—berbulu, mungkin. Kau geli. Kukelitik kau. Pinggangmu. Ketiakmu. Lehermu. Telingamu. Aku bukan mentimun, katamu sambil menggeliat di dekat rimbun alang-alang, rumput kanji, dan semak karimunting.

Lalu aku lamat-lamat membuka pintu yang tak kaukunci, lalu mengelitik beberapa bagian tubuhmu. Aku tak ingin dianggap mentimun, katamu sambil berlari kecil di atas kasur yang dirambati mentimun. Bunga-bunga mentimun. Daun-daun mentimun. Daun-daun mentimun yang sepertinya cukup gatal.

Kau terus mengeluarkan suara. Tidak keras. Tidak pula pelan. Agak manja. Tidak lirih. Batang-batang mentimun merambat ke tiang-tiang jendela. Kau bangkit sembari meliuk-liuk. Kau adalah ikan di atas ranjang. Kupotong mentimun. Tipis-tipis. Bundar-bundar, jadinya. Menghiasi wajahmu. Menghiasi ranjangmu.

Kau masih menggelinjang. Hanya karena sebatang timun yang kukirim pada pagi itu. Ah, tunggu. Tunggulah, istriku. aku tahu betapa kau sangat

setia

merinduiku

 

(Lubuklinggau, 2011)

 

 

Bayam Merah

Sebatang bayam merah. Merah marun yang pucat. Bulan pucat. Bulan yang telat datang. Lewat lima hari dari tengah bulan. Seharusnya pada hari yang ketujuh belas. Tanggal pernikahan kita. Atau usia ketika kaupinang

aku sangat menyukai sayur bening bayam merah, katamu dulu. Sungguh, sebuah alasan yang takpantas untuk memesan pelaminan di bulan yang gerimis. Maka, aku ingin kau membuat alasan yang lain. Aku tak suka mengarang-ngarang, jawabmu seakan merasa tersinggung dengan permintaan bidadari berpipi merah. Pipi bayam merah, kata ibuku. Mungkin inilah sebab kau menyuntingku. Pipiku. Pipiku yang merah. Merah bayam merah!

Seikat bayam merah. Merah marun yang cerlang. Bulan merah. Semerah darah. Semerah kuah sayur yang tengah kumasak dengan abai dan sesal tanpa kau

tahu bahwa pada ulangtahun

pernikahan

      kita,

bayam merah kali

ini kupetik

   dari jantungmu!

 

(Lubuklinggau, 2011)

 

 

Jalan Tuhan yang Kecil

Anak-anak kecil, kaki-kaki yang kecil, mata-mata

yang berbinar merah buah merah. Mereka menujuku,

menunjuk-nunjukku. Seakan-akan aku yang menyihir

mereka jadi kecil,

kecil, kerdil

kecil-kecil

 

Anak-anak kecil, jari-jari

jari-jari mungil

menggengam kerikil

Aku berlari, mereka

berlari, menyudutkanku

ke sudut yang kecil

tubuhku mengecil

seperti warna merah

jatuh,

di jalan-

jalan Tuhan yang kecil—mungkin begitu,

mungkin

 

(Lubuklinggau, 2011)

 

 BENNY ARNAS, pengarang tampan, baik hati, tidak sombong, senang berkawan, suka tersenyum, dan tidak narsis. Ia tengah menantikan kelahiran anak pertamanya dengan perasaan yang bungah tak tepermanai. Ahaaiiii!

 

5 Comments to "Puisi-puisi di Koran Tempo"

  1. Seroja  15 January, 2012 at 19:36

    ketimun…ahh..ketimun…hehhee, keren uda Benny.

  2. Dj.  15 January, 2012 at 00:18

    Twerimakasih bung Benny…..
    Selamat menikmati yang mungil dan merah….
    Salam,

  3. anoew  14 January, 2012 at 11:29

    Selamat menantikan kehadiran anggota baru di rumah Anda.

    Ah ketimun…!
    Ketimun – Terong, kenapa ya selalu kedengaran seksi..!

  4. Handoko Widagdo  14 January, 2012 at 07:43

    Thanks BERNAS.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.