Selapis Cinta Dari Ujung Benua (1)

Ida Cholisa

 

Seseorang mengetuk pintu hatiku pagi ini, membawa nampan berisi hati.

“Sayang, selamat pagi. Adakah nyenyak tidurmu tadi?”

Sebaris nama asing dengan kalimat asing serta profil asing terpampang di layar laptop. Siapa ia, dari mana ia, serta bagaimana rupanya, semua ada di sana.

“Sayang, berikan aku alamat yahoo-mu.”

Ia masih saja mengetuk hatiku, membuatku kembang kempis tak menentu. Hingga kudiamkan ia akhirnya, hingga kumatikan chat on line yang tak sengaja kubuka mengawali pagi yang ceria.

Aku berselancar seperti biasa, datang dan pergi mengunjungi dunia maya. Bukan karena apa, sebab selalu ingin kutuang berlaksa kata. Itulah daya pikat mengapa aku konsisten berkencan dengannya, dunia maya yang sebenarnya semu belaka. Di sana, aku menemukan ruang untuk mengungkapkan berjuta ide di benak kepala, hingga mimpi-mimpi pun tergenggam sesdudahnya.

Tapi kedatangan  Bruce, pria bule yang selalu mengetuk pintu hati setiap pagi, membuatku berpikir ulang seribu kali. Hanya sesekali kubuka chat on line-ku, sekedar menngintip sosok siapa saja yang tengah berselancar itu. Dan sesudahnya, aku akan mematikannya dengan segera.

Tapi selalu saja, aku terpantau oleh Bruce yang ternyata telah siaga di sana.

“Baru bangun, Baby? Aku menunggumu sejak tadi.”

Busyet! Kumatikan segera chat on line-ku. aku serasa kehilangan ruang privasiku. Setiap ingin membalas chatting banyak kawanku, ia lelaki bule itu tak pernah lepas mengawasiku. Serangan kalimat-kalimatnya yang gencar itu yang membuat ciut nyaliku.

“Baby, aku selalu menunggumu. Suatu saat kau akan mengerti betapa besarnya cintaku kepadamu. Tunggu kedatanganku, sebab aku teklah tahu semua tentang dirimu. Peluk cium dari jauh, Bruce.”

Aku kembali merinding membaca pesan masuk itu. Hingga akhirnya sebuah tindaklan kulakukan, memblokir pria misterius itu. Aman, aku berpikir demikian.

Nyatanya tidak. Ia masih saja mengirimkan berbagai pesan melalui email kepadaku. Ia tak akan berhenti memburuku, demikian katanya. Aku hanya tertawa. Pria sinting tak tahu diri, aku mengumpat di dalam hati.

***

Bruce tak pernah lagi, menerorku dengan serangan cinta membabi buta itu. Sesekali emailnya masih datang menyambangiku. Hingga waktu pun berlalu, hingga terlupakan pria bule yang menyebalkan itu.

Karier di perusahaanku melesat dengan sangat cemerlang. Berbagai kesempatan mendatangiku untuk berkelana ke berbagai negara. Jerman salah satunya. Hm, negeri Ich liebe dich yang dahulu sempat kupelajari bahasanya waktu aku duduk di bangku SMA, kini akan menjadi tempat buatku untuk menetap dua minggu lamanya. Tentu saja aku girang tiada tara.

Hingga kemudian tiba saat spesial itu; berangkat ke negeri Jerman. Sejak pukul 22.00 aku telah berada di bandara Soetta. Meski terkantuk-kantuk aku menunggu waktu keberangkatan, hatiku sungguh berendam suka cita. Angan-anganku melambung setinggi angkasa. Oh, kakiku akan menginjak sebuah benua, jauh di negeri sana…

Pukul 00.15 pesawat Emirates yang kutumpangi take off menuju  Dubai. Setelah tujuh setengah jam perjalanan, pesawat pun mendarat di Dubai International Airport. Setelah transit selama tiga jam, perjalanan menuju jerman pun kembali dilanjutkan. Butuh waktu penerbangan sekitar enam jam untuk tiba di Farnkfurt Airport.

Thank God, akhirnya kakiku menginjak negeri Jerman yang selama ini hanya tergambar di benakku. Selama berada di negeri Jerman, aku akan tinggal di sebuah hotel mewah bintang empat, Excelsior Hotel. Hm, hotel mewah yang terletak di pusat kota utama Frankfurt  yang akan memanjakanku dengan beragam fasilitas dan pesona yang luar biasa. Di hotel ini pula akan menginap berbagai peserta seminari dan workshop dari berbagai belahan negara lain. Tercatat ada tiga puluh peserta dari dua puluh negara. Masing-masing negara mengirinkan satu atau dua peserta. Dan aku salah satu peserta beruntung yang mewakili Indonesia di ajang bergengsi ini.

“Guten Morgen,” seseorang tiba-tiba menyapaku.

Seorang pria bule dengan postur tinggi besar berdiri gagah di depanku. ia menyalamiku dengan senyum tersungging. Untuk seketika mataku terbelalak menatap ketampanan wajahnya…

‘Guten Morgen…,” aku membalas sapanya.

“Ihre auszubildende? (Anda peserta workshop?)” tanyaku dengan bahasa Jerman yang masih belepotan.

“Ja,” jawabnya singkat.

“Woher Sie kommen?” tiba-tiba ia bertanya.

“Indonesien. Sie?” (Indonesia. Anda?)

“Ich bin vor hier.” (Saya dari sini)

“Oh, ja?

Aku mengangguk-anggukkan kapala sambil berpikir keras, kalimat apa yang akan kutanyakan sesudahnya. Sumprit, perbendaharaan kataku yang miskin membuatku kocar-kacir untuk berkomunikasi dengannya. Kursus kilat yang kuikuti selama tiga bulan tak cukup membuatku lancar berkomunikasi dan berinteraksi dengan pria bule asal Jerman ini.

***

Kami berpencar menuju kamar di mana kami akan menginap selama dua minggu. Di samping pria bule itu, aku bertemu dengan banyak kawan bule lainnya. Ada sekitar dua belas peserta wanita dan delapan belas peserta pria. Tiba-tiba saja aku merasa bodoh. Mengapa aku tak menanyakan nama pria bule yang menyapaku barusan, ya? Waduh…, siapa tahu wajah gantengnya akanmenjadi milikku, heheheee….! Pikiran ngeresku mulai berkeliaran. Tapi bukan itu masalahnya. Dengan mengenal lebih dekat pria bule asal Frankfurt ini, setidaknya aku punya kesempatan mengenal lebih dalam tentang negeri ini. Siapa tahu ia bisa membawaku berkeliling menjelajahi negerinya tanpa perlu aku mengeluarkan banyak dana, hahaha….! Kembali pikiranku menyemburkan banyak andai-andai yang melenakan jiwa…

Aku bertemu pria bule itu lagi. Sesi perkenalan antar peserta tiap bangsa membuatku lebih jauh mengerti tiap indivudu yang mengikuti seminar dan workshop IT ini. Sungguh kesempatan emas aku bisa mengikuti acara bergengsi ini. Sekali lagi, bertemu dan berbincang dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia adalah obesiku sejak dahulu kala. Kini saat usiaku menginjak tiga puluh empat tahun, berbagai kesempatan datang menghampiriku. telah enam negara yang berhasil kuinjak, dan Jerman adalah negara ke tujuh yang berhasil kupijak.

“Okay Ladies and gentlemen, that’s time for coffee break…”

Aku segera keluar ruangan. Rasa kebelet ingin pipis yang kutahan sejak tadi karena sayang meninggalkan acara seminar yang sangat bagus membuatku bagai cacing kepanasan sekarang. Sungguh rasa kebelet itu sangat tertahankan…

Saat menuju rest room, tak sengaja mataku bersirobok dengan pria bule yang kemarin berbincang denganku. Ia berjalan pelan dari arah rest room pria. Aku menghentikan langkah.

“Hi…!” ia menyapa.

Aku membalas lambaian tangannya dengan terbirit-birit memasuki rest room wanita. Sungguh tak tahan rasanya…

Saat kumasuki ruangan di mana terhidang banyak snack dan minuman panas yang aromanya membelai hidung dan segala rasa, mataku jalang mencari keberadaan sang pria yang sempat membuatku bermandi tanya. Di mana ia gerangan berada? Yes, itu dia!

(bersambung)

 

11 Comments to "Selapis Cinta Dari Ujung Benua (1)"

  1. Ida Cholisa  21 January, 2012 at 23:38

    hahaaaa… mbak Dewiiii… aku malah lupa pernah nulis ini cerpen. kukira tulisan siapa, hahahaa….
    makasih ya Mbak emmbanmgkitkan kembali memoriku ttg tulisan itu. tar kulanjut lagi story-nya. hehehe…nulis sendiri kok kelalen yaaaa…..
    @thanks utk semua komen yaaaa…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.