Ibarat Uang Logam

Adhe Nita

 

Sekitar tiga hari yang lalu saat mengawas ulangan akhir semester siswa ada yang bertanya tentang apa itu congklak, ular-ularan, dan lain-lainnya yang semestinya usia mereka masih bermain itu. Zaman sudah berubah tapi apakah semua harus luntur dan memudar begitu saja dari kehidupan yang tak akan bisa terulang usia kanak-kanak dan remaja itu? Miris melihat dan sedih mendengarnya betapa mereka tidak tahu sama sekali akan mainan-mainan tradisional itu, apakah moderennya teknologi yang canggih membuat mereka tidak mengenal apa yang sedari dulu selalu berkembang di masyarakat saat kakak bermain congklak bersama adiknya, bermain ular-ularan bersama teman-temannya dan bermain yang lainnya.

Zaman memang sudah berubah tapi tak haruslah semuanya ikut berubah dan memudar bahkan hilang dari kehidupan, hidup masa kini ibarat uang logam dengan hidup pada masa lalu, berbalik dengan cepat dan di sini bukanlah zaman yang harus disalahkan namun kita yang pernah merasakan marilah kita kenalkan pada mereka tentang budaya kita, tentang apa yang semestinya mereka tahu saat seumur mereka agar mereka paham, mereka mengerti dan mereka menjaganya jangan setelah semua di klaim oleh negara tentangga kita baru demo, kita baru sibuk mengakui itu milik kita milik Indonesia tapi kita sendiri yang lalai untuk menjaga dan melestarikannya hingga anak masa kini lebih mudah menerima dan senang dengan kecanggihan yang ada.

(http://jogjaicon.blogspot.com)

Bukan hanya mainan-mainan tradisional yang terlupakan namun lagu anak-anak pun mereka tak tahu…miris sangat-sangat miris mendengar dan menyaksikannya. Dunia mereka dunia anak-anak sudah tak terlihat jelas di saat ini, haruskan kita dia?? Tidak, tapi jadilah tangan yang menggenggam dan menuntum mereka para belia sugukan dan menelkan lagu anak-anak dan mainan tradisional agar kembalinya rasa cinta pada negeri dan saling bertenggang rasa antar sesama tercipta bukan hanya tertera pada pelajaran pancasila dan kewarganegaraan di sekolah-sekolah sd dan smp. Sebab kalau bukan kita siapa lagi.

 

13 Comments to "Ibarat Uang Logam"

  1. adhe nita  20 January, 2012 at 02:55

    @all: mksh semuanya atas komentarnya. sambil mengenang masa indah saat kanak-kanak dulu akan mainan tradisional dan lagu anak-anak, yang kini sangat sulit di temui anak-anak yang masih memainkannya dan menyanyikannya. mari kita kenalkan pada mereka tentang itu semua (sulit kalau untuk khalayak ramai) akan tetapi mulailah kenalkan pada anak kita atau anak-anak di lingkungan kita sebab biasanya lebih cepat bila penyampaiannya seperti pesan berantai atau secara estafet….#indahnya berbagi.

  2. Mawar09  18 January, 2012 at 00:04

    Adhe Nita: terima kasih ya artikelnya. Sepertinya main-mainan tradisional memang sudah ngga trend lagi, padahal itu malah lebih bagus dan sehat dari pada main game di computer. Jadi ingat dulu paling sering main congklak dan bekel. Aku juga sangat suka lihat anak2 di kampung yg main dolanan (betul ngga ya tulisannya?/) dihalaman rumah. Sekarang ngga pernah lihat lagi. Sayang kalau sampai hilang.

  3. Anastasia Yuliantari  17 January, 2012 at 04:31

    Anoew…komen no 2 ki maksudnya apa??? Perasaan saya ga pernah dengar tuh.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.