Pengalaman Tinggal di Cairo (7)

Titin Rahayu

 

Pagi itu seperti pagi-pagi yang lainnya, Mina (supirku) datang bawa mobil dari kantor ke rumah, langsung parkir depan rumah dan tidur sampai aku membangunkannya. Lama-lama capek juga mataku lihat dia tidur melulu, akhirnya aku suruh dia datang kalo aku mau keluar saja. Biasanya aku keluar belanja sekitar jam 11an karena toko-toko sebagian besar bukanya agak siang sekitar jam 10an dan tutupnya lumayan malam.

Dia selesai kerja jam 3 an sore setelah anakku pulang sekolah … meskipun jam kerja dia pendek masih juga punya alasan buat datang terlambat  dengan alasan habis  begadang sama teman-temannya semalaman dan paginya gak bisa bangun.

Suatu hari aku bilang sama dia kalo aku mau ke Khalili bazaar, dengan kening berkerut dia bilang kalo dia gak pernah dengar atau tahu dengan Khalili bazaar. Perasaan kok yaa aneh banget kalo dia gak tahu Khalili bazaar, padahal itu adalah tempat yang terkenal di Cairo.

Dengan susah payah kita berusaha menerangkan ke dia soal Khalili bazaar, tetap saja dia menggelengkan kepala. . .

Sampai suatu sore aku harus jemput suami ke kantor, aku tanya suamiku apa ada orang yang bisa menerangkan ke dia dalam bahasa Arab kemana kita mau pergi, saat kita bilang mau ke Khalili bazaar dengan cepat orang itu menerangkan kemana kita mau pergi ke Mina.

“ Ooooo kalo Khan khalili bazaar saya tahu mister tapi kalo Khalili bazaar, saya gak pernah dengar “ jawab dia,  duuuuhhhh. . . . kita cuman bisa geleng kepala saja.  “ ya sudah kalo gitu besok pagi kita ke piramid dulu, kalo masih ada waktu kita ke Khalili bazaar, ngerti khan di mana Khalili bazaar ?? “  tanya suamiku sambil mesem,  dengan tertawa terkekeh dia bilang “ iya, saya tahu sekarang di mana Khalili bazaar “.

Esok harinya setelah kita menyiapkan kamera, berempat kita pergi ke piramid. Sengaja kita pergi agak pagian karena gak kuat dengan matahari yang menyengat di siang hari.

Jalanan yang biasa dilewati turis biasanya selalu bersih dan lumayan hijau seperti halnya jalanan yang menuju ke piramid. Sejak awal yang membuatku terkesan adalah dari jalan tol kita bisa melihat puncak piramid.

Memasuki area piramid terlihat beberapa laki-laki bergerombol dan beberapa dari mereka berusaha menghadang mobil kita, akhirnya Mina berhenti dan membuka jendela, telihat mereka berteriak-teriak dan menggebrak kap mobil, suasana jadi menegangkan, karena kita gak tahu apa mau mereka dan kenapa mereka menghadang kita. Supirku cuman menggelengkan kepala dan bilang tidak dalam bahasa Arab. Dengan mobil yang berdecit dan suara gas pedal yang di tekan dalam-dalam akhirnya kita bisa lepas dari situasi yang menegangkan itu.

Sesampainya di atas kita tanya apa yang barusan terjadi, ternyata mereka meminta kita parkir di bawah dan ke atasnya kita bakalan dipaksa naik onta atau kuda dengan tarif yang lumayan tentunya.

Hal itu tidak bakalan terjadi kalo yang datang pake bus, atau orang lokal.

Setelah parkir mobil dan membeli tiket, kita masuk ke area dalam pyramid, ternyata pyramid cuman cantik di foto saja. Di dalam kita langsung di sambut oleh seorang guide dan dia mulai menerangkan sejarah pyramid tanpa tanya apa kita mau di guiding atau tidak.

Ternyata kerja dia bukan hanya jadi guide tapi juga sebagai makelar onta dan kuda. Setelah nego dengan dia akhirnya kita menyewa 2 onta dan 1 kuda, karena Mina gak mau naik onta. Total kita harus bayar 900 EGP atau sekitar 120 Euro buat 45 menit tour.

Naik onta ternyata juga cukup mengerikan kalo si onta mau duduk, rasanya seperti mau di jatuhkan dari ketinggian.  Setelah tour selesai aku gak bisa jalan secara normal, soalnya selangkangan sakit banget, dan jangan tanya juga soal baunya si onta. . :).

Dari pengalaman pertama naik onta itu akhirnya kita batalkan juga rencana pergi ke gunung Sinai yang katanya sangat indah.  Sudah kapok naik onta !!

Yang menggelikan lagi tukang ontanya minta tips 100 US dollar, sama suamiku cuman di kasih 10 EGP (1. 5 euro) saking jengkelnya.

Kalo di sana jangan asal foto sama onta, kuda atau para polisi itu, karena itu juga gak gratisan, kalo tipsnya kurang mereka juga berani teriak buat minta tambah tips, dan jangan mau di guide  juga karena gak worth enough ceritanya.

Saat kita cerita ke beberapa teman soal trip kita ke pyramid, serentak mereka bilang “they rip you off “.  Yeah mo gimana lagi, kita juga gak tahu berapa tarif normal buat naik onta.  Ternyata teman-teman kita yang biasa jadi guide  keluarga saat mereka  datang ke Cairo buat lihat pyramid cuman bayar 50 EGP buat naik onta selama 30 menit.

Menjelang sore setelah selesai keliling pyramid, kita memutuskan sekalian pergi ke Khan khalili bazaar.  Buat pergi ke Khalili bazaar sebaiknya pake supir atau pake taxi, karena sangat susah buat nyari tempat parkir.  Di Cairo transportasi umumnya jauh lebih mengerikan dari pada di Indonesia.

Hati-hati juga kalo pergi ke sana, karena yang jualan suka ngemplang pembeli, seringkali kasih harga yang sangat gak masuk akal, padahal barang-barang yang di jual sebagian besar adalah made in China.

Menurutku yang paling menarik adalah membeli lukisan papyrus. Yang asli memang harganya mahal tapi yang aspal ukuran 30cm x 90cm aku bayar cuman 5 EGP (90 cent Euro). Sangat menarik buat oleh-oleh waktu pulang kampung.

Khan khalili bazaar lebih ramai di malam hari dari pada siang hari, seperti halnya kehidupan sehari-hari di Cairo, di malam hari jauh lebih meriah dari pada siang hari.

Kalo kita melihat Cairo di malam hari juga terlihat sangat cantik dengan lampu-lampunya, tapi kalo siang hari, sebaiknya pake sun glasses saja.

 

Bersambung…

 

17 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (7)"

  1. Linda Cheang  19 January, 2012 at 10:06

    Titin : kalo menyimak ceritamu yang ini, kayaknya pariwisata di Indonesia masih lebih mending, sedikit…

  2. Mawar09  18 January, 2012 at 00:21

    Titin: terima kasih ya artikelnya. Dengan kondisi negara yang morat marit dan tidak aman ditambah dengan tindakan orang2 yg begitu beringas, tidak heran lah tourist memilih tidak kesana walau ada promosi apapun. Yang terpenting kan rasa nyaman dan aman utk tourist, tanpa itu jangan harap ada yg mau kesana.

  3. Titin  17 January, 2012 at 12:23

    Bu Probo, ide yang bagus tuh, biar selangkangan gak sakit setelahnya, setelah itu pertanyaan selanjutnya; apa yaa si onta mau di begitukan ??

    Anastasia , Sasayu, berkunjung ke Egypt emang enak kalo pake tour, kalo jalan sendiri bakal lebih banyak keluar duit, apalagi buat yang belom pernah ke sana …

    Lani, kalo mau naik onta ,carilah onta yang sudah mandi

  4. Lani  17 January, 2012 at 08:07

    11 MBAK PROBO : mo duduk dilehar sambil memeluk ontanya……..malah bablas semamput………..tuh dikatakan oleh TITIN bauuuuuuuuuuuu………..hoekkkkkkkkkkkk!

  5. Anastasia Yuliantari  17 January, 2012 at 04:29

    Kirain nonton piramid asyik, ternyata banyak pemalaknya, ya. Kalo pergi ke sana baiknya ikut tour aja kali, ya biar engga dipalakin sama tukang onta….hehehehe.

  6. Sasayu  17 January, 2012 at 04:14

    Ini gara2 Mba TItin, jadi tidak berminat ke sana…memedenikan sekali situasinya…@[email protected] Ditunggu cerita berikutnyaa

  7. probo  16 January, 2012 at 23:28

    mungkin kalau naik onta duduknya di belakang leher aja…sambil meluk leher onta…..biar aman nggak harus ngangkang hahahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.