Bukan Cinta yang Kudamba (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

AWAL DARI SEGALANYA

Pemalang adalah sebuah kabupaten yang menurutku indah, maklumlah aku dilahirkan di kota ini. Hampir 18 tahun aku hidup, aku tetap setia menjadi salah satu warganya. Hampir jarang bepergian ke luar kota, bahkan Semarang yang hanya berjarak sekitar 135 Km saja jarang aku kunjungi. Aku datang dari keluarga yang biasa-biasa saja, Ayahku bekerja sebagai pegawai Kantor Pos. Namun setahun lagi beliau akan memasuki masa pensiun. Dari 4 bersaudara, aku anak nomer 3 dan baru saja lulus SMU. Adikku laki-laki masih duduk di kelas 1 SMU.

Saat sebagian kawan-kawanku sibuk mencari tempat kuliah, aku justru sibuk mencari kerja. Bagiku bisa sekolah sampai lulus SMU adalah berkah. Aku tidak ingin menuntut terlalu banyak, bahkan aku begitu ingin membantu perekonomian keluargaku.

Ibu-ku hanya ibu rumah tangga biasa, untuk menambah pendapatan, ibu berjualan nasi pecel di depan rumah. Hasilnya lumayan, walau untungnya tak seberapa namun dagangan Ibu selalu habis. Kakak-ku yang nomer 2 seorang wanita yang ulet, ia berdagang pakaian di pasar dalam sebuah kios kecil, suami Kakak-ku bekerja sebagai montir di sebuah bengkel. Kakak tertua-ku laki laki, ia bekerja di sebuah Bank di kota Semarang, Ia seorang duda tanpa anak, Istrinya meninggal tepat 1 tahun usia pernikahan karena keracunan janin yang meninggal dalam kandungannya. Kini Kakak tertuaku secara tak langsung menopang perekonomian keluarga.

Aku selalu berharap suatu hari dapat ambil bagian dalam menopang kehidupan keluargaku, untuk itu aku tak hentinya melamar pekerjaan kesana kemari. Sahabatku sewaktu SMU, Narti diterima bekerja di sebuah Departemen Store di kota Pekalongan, sayangnya ketika aku ikut mendaftar, aku tidak seberuntung Narti.

Hingga tanpa diduga, aku diterima bekerja di sebuah toko SEMBAKO yang lumayan besar. Sungguh hatiku bahagia, walau gajinya tidak seberapa setidaknya aku memiliki penghasilan tetap.

*****

Dua minggu bekerja di toko itu, baru kusadari betapa bos-ku adalah wanita yang judes, selalu saja marah-marah, tiap kali memerintah selalu dengan intonasi tinggi. Kalau saja aku tak mengingat sulitnya mencari pekerjaan, aku mungkin memilih keluar saja. Seperti siang itu, saat aku hendak beristirahat makan siang tiba-tiba datang pelanggan dari kacamatan yang kerap berbelanja banyak untuk mengisi tokonya.

“Nitaaaa !!!!! Kamu lagi ngapain sih? ? Ini ada Pak Darto, dilayanin yang bener, tuh catetan ada di meja”, teriak bos-ku. Aku rasanya ingin mengamuk, dari pagi aku bekerja bagai budak, dan belum 5 menit aku duduk untuk mengisi perut, si bos sudah kembali memerintah. Rekan kerjaku Anwar dan Umar sibuk mengangkat aneka barang yang baru datang dari distributor. Sedangkan Mimin sedang sibuk melayani pelanggan, seorang ibu-ibu yang cerewetnya minta ampun…

Itulah gambaran situasi tempat aku bekerja, gaji Rp. 700.000 namun tenaga kami diperas tanpa ampun. Ibu sering menegurku, bagi Ibu buat apa aku dapat gaji segitu tapi kesehatanku tidak terjaga. Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum, meyakinkan Ibu kalau aku baik-baik saja. Keluar dari toko itu membuatku menjadi pengangguran.

Tak terasa sudah 6 bulan aku bekerja, biasanya saat pulang kerja jam 5 sore, aku menyempatkan membeli jajanan, tempe mendoan menjadi favoritku, tak ada bosannya aku memakan panganan dari tempe namun nikmatnya melebihi daging itu. Hingga akhirnya aku melangkah pulang dan saat langkahku mendekati rumah, kulihat kediaman Keluarga Sodikin begitu ramai. Gelak tawa begitu nyaring membuatku penasaran. Aku berjalan sambil menatap kearah rumah itu, tak lama muncul gadis muda yang menurutku dandanannya modis sekali. Ia keluar dari ruang tamu kediaman Keluarga Sodikin.

*****

Celana jeans sepinggul dipadu kaos ketat, rambut dicat kecoklatan. Gadis itu terlihat segar sekali. Tiba-tiba gadis itu melihat ke arahku sambil berteriak “Nitaaaaa ….. Apakabar heee”. Dan aku baru menyadari, itu adalah Susi tetanggaku yang sudah 4 tahun bekerja di Kuala Lumpur. Gadis itu menghambur ke arahku seraya memelukku dengan suara berisik.

Aroma minyak wangi langsung semerbak, dan ini bukan minyak wangi kelas supermarket seperti yang biasa ku pakai. Susi benar-benar berubah total, persis gadis kota besar.

“Ya ampun Mbak Susi? ?!!! Aku pangling banged, Masyaallah kamu sekarang keren banged yaa”, ujarku benar benar tidak mampu menutupi rasa kagumku. Susi tertawa renyah.

“Iyo Nit, aku baru sampe tadi siang, aku kan dapat liburan 2 minggu. Lha piye kabarmu Nit? (Gimana kabarmu Nit)”, Susi bicara penuh semangat, sementara aku terus mengamati Susi dari ujung rambut ke ujung kaki, sungguh sungguh beda penampilannya, begitu moderen.

“Halah … Kabarku ya gitu gitu aja Mbak, aku kerja di toko SEMBAKO, kalo ndak karena butuh kerjaan, aku dah kabur kali, bos-ku judes banged”, ujarku tanpa bermaksud mengeluh. Susi tersenyum ceria, ia memandangku sesaat lalu kembali bicara dengan penuh semangat.

“Yok makan bakso Mas Diman, asli aku mau puas puasin, mumpung mudik, ayoo Nit, aku traktir”, ujar Susi seraya menggandeng tanganku menuju warung bakso Mas Diman yang jaraknya sekitar 200 meter. Mata Susi sempat melirik bungkusan yang kubawa, ” Lha iku mendoan tho? (Lho itu mendoankan? ) Bagiiii” Susi tanpa permisi langsung merampas kantong kresek yang ku bawa dan melahap isi-nya dengan nikmat, aku tertawa melihat tingkahnya yang begitu sangat rindu kampung dimana dia dilahirkan.

*****

Sambil menikmati bakso yang nikmat aku asyik melepas rindu dengan Susi. Selain itu aku diam-diam berharap dapat bekerja mengikuti jejak Susi. Dari tampilannya juga kehidupan keluarganya, semua tampak jauh dibanding sebelum Susi bekerja di luar negeri. Akhirnya aku tak mampu menahan rasa keinginanku, aku nekad mengutarakan keinginanku pada Susi.

“Mbak piye carane kerjo neng luar negri, mbok aku diajak …… (Mbak gimana caranya kerja di luar negeri, aku diajak dong)”, aku bicara menatap wajah susi yang merah padam karena kepedesan. Bakso di hadapannya adalah mangkok kedua.

“Ouuu mau? Nanti aku hubungi Pak Narto, waktu itu dia yang ngurus, kamu siapin aja berkas berkas yang diminta juga dananya, sekitar 6 jutaan kalo ndak salah”, Sahut Susi sambil menggigit kerupuk coklat.

“Mbak, kamu seperti orang ngidam, apa nggak kenyang tuh”, Aku memandang Susi dengan takjub yang saking kangennya sama bakso Mas Diman sampe sanggup makan dua mangkok, Susi hanya tertawa renyah. “Mbak, biayanya mahal juga yaa? Tapi dijamin masuk ndak? Aku mau kerja barengan sama kamu”, Lanjutku lagi.

“Insyaallah bisa Nit, asal kamu lulus semua test dan memenuhi syarat, dijamin deh, lagian Pak Narto itu bisa bantu. Soal kerja yaa nanti moga-moga bisa disalurkan ke tempatku, aku kan kerja di cafe, kebetulan bos-ku orang kaya banged”, Sahut Susi sambil tetap konsentrasi dengan bakso-nya.”Eh besok temenin aku berburu makanan khas Pemalang yaa  nasi grombyang, lontong dekem, sate loso, tauto, kamir dan apem comal, aduuhhh aku kangen semua”, Lanjut Susi semangat 45, aku hanya mengangguk meng-amini ajakannya.

****

Malam itu pikiran Nita terus tersita, membayangan bekerja di luar negeri, andai lolos pasti kehidupannya menjadi jauh lebih baik lagi. Tapi mengutarakan niatnya kepada Bapak dan Ibu bukanlah hal mudah, pasti orang tua-nya akan takut dirinya mengalami kesulitan, apalagi berita kekejaman yang menimpa TKI sudah menjadi lagu duka yang terus terulang.

Nita akhirnya terlelap, dan malam itu dirinya bermimpi tengah berada dalam pesawat yang membawanya terbang ke luar negeri, memulai hidup baru dengan segala pengalaman baru.

*****

Malam itu Ibu memasak sambel goreng ati, sayur bening dan tempe goreng, Kami menyantap hidangan itu dengan nikmat. Melihat wajah Ibu dan Bapak yang nampak ceria, ku beranikan diri mengutarakan niatku untuk bekerja di luar negri mengikuti jejak Susi. Benar saja, apa yang ku bayangkan benar benar bagaikan impian yang menjadi kenyataan. Ibu-ku langsung tidak setuju.

“Ndok lha ngopo tho kerjo wae kudu adoh teko omah? ? (Nak lha ngapain kerja saja harus jauh dari rumah? ?), nanti kamu kenapa kenapa kan Ibu juga sama Bapak yang susah. Syukuri saja nak yang ada, Ibu udah bahagia lihat kamu kerja di toko SEMBAKO itu, pun kalau kamu nggak betah ya keluar aja, kan kamu bisa bantu bantu Ibu dagang pecel? ” Ibu berbicara panjang lebar, aku hanya menunduk dengan hati yang tetap bertekad ingin mengikuti jejak Susi. Ini satu-satunya kesempatan untuk memulai hidup yang lebih baik.

“Bu, aku kan bukan cewek pertama yang kerja jadi TKI, itu Susi aja sekarang bisa banyak bantu keluarganya, aku juga pengen gitu. Coba Ibu bayangin kalau Susi bertahan kerja di pengerajin kulit ular, apa iya hidupnya sebagus sekarang? “, Sahutku lesu. Rasanya tak selera lagi melanjutkan makan. Hidangan favoritku itu tiba-tiba tidak senikmat biasanya.

“Ndok …. ora pareng ngiri karo rejekine wong lio ah (Nak …. nggak boleh ngiri sama rejekinya orang lain ah) belajar bersyukur nak, gini aja kita kan bahagia, bisa makan 3x walau sederhana”, Sahut Ibu tetap pada pendiriannya. Tiba-tiba Bapak yang dari tadi asyik makan ikut angkat bicara.

“Bu, maksud Nita itu bukan ngiri sama Susi, dia itu pengen merantau demi merobah nasibnya dan otomatis nasib kita semua, kalau Bapak percaya Gusti Allah bakal menjaga Nita koq”, ujar Bapak dengan suara tenang, ucapan Bapak membuat aku tiba tiba merasa bagai mendapat secercah harapan di tengah ketidak pastian.

Ibu mendengus kesal, “Bapak iki piye jal? ?? (Bapak ini gimana sih? ??), nggak pernah denger berita yaa kalo banyak TKI disiksa? Mau anakmu ngalamin gitu he? !!!”, Ibu memandang Bapak dengan sebal. Bapak tertawa melihat ulah Ibu yang bagai induk ayam melindungi anak anaknya.”Bune …. percoyo Gusti Allah ora? Yen percoyo yo dipasrahke (Ibu …. percaya sama Tuhan nggak? kalau percaya ya pasrahkan). Kalau harus mengalami cobaan, biar di dalam kamar ya pasti kejadian, bila Tuhan berkehendak ya pasti terjadi”, Sahut Bapak sambil memeluk pundak Ibu. Ibu diam sambil memandang ke arahku.

“Yakin nak kamu mau pergi jauh? ?? Kalau Ibu kangen gimana? ??”, Ibu berbicara pelan, matanya berkaca-kaca. Sebenarnya Ibu memang tidak ingin jauh dari anak-anaknya, Waktu Kakak tertuaku diterima kerja di Semarang-pun, Ibu lah yang paling berat melepaskan pergi.

“Sudahlah Bu, anak anakmu sudah besar, saatnya mereka mencari kebahagiaan dan pengalamannya masing-masing, kita berdua mendo’a-kan mereka agar selamat dunia akhirat. Kalau memang ada biaya-biaya, biarlah motor Bapak dijual saja buat modalnya”, Bapak berbicara sangat teduh dan bijaksana, tak terasa airmataku mengalir begitu saja. Memiliki orang tua yang begitu mencintaiku. Dan tiba-tiba ada mendung di hatiku, bagaimana kalau aku jauh kelak dan ada apa-apa yang menimpa Bapak dan Ibu? Seumur hidup aku tidak pernah jauh dari mereka. Aku bangkit dari kursi lalu kupeluk Bapak dan Ibu. Aku dan Ibu bertangisan, sementara Bapak hanya bergumam sambil geleng-geleng kepala, ia menyeruput kopi-nya, “Dasar cah wedok, durung opo-opo wes tangis-tangisan (Dasar perempuan, belom apa-apa udah tangis-tangisan)”

bersambung…

 

14 Comments to "Bukan Cinta yang Kudamba (1)"

  1. Enief Adhara  8 May, 2012 at 21:46

    Dear all

    makasih ya selama ini berkenan membaca tulisan saya yang masih sangat amatir
    kisah ini based on true story, semoga saya bisa menyampaikan tiap alurnya dengan baik

    GBU all

  2. Mu Ammar  18 January, 2012 at 13:47

    Duuuh, itu plang kota pemalang bikin kangen aja, mbok yao sekalian sama plang kampungku dimuat ben marem. Dulu waktu SMP suka keliling kota pemalang pake sepeda, ga sampe 1 jam wong kotane cuilik sak uplik. Hidup Pemalang IKHLAS.

  3. anoew  18 January, 2012 at 11:48

    Wydhar, kenapa kok dirimu tanya begitu? Hahah…

  4. R. Wydha  18 January, 2012 at 10:36

    kawan bersabarlah ,, Tuhan maha melihat dan maha tahu apa yang kita rasakan, kita butuhkan.. belajar iklas dan sabar… dan yakin pada NYA.. karena NYA kita akan bisa menjadi lebih dan lebih baik…. semangad

    anoew : knapa dg “woman”?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.