Ary Hana
Dear Raya,
Kau tahu dari mana pohon pala berasal? Pernah kubaca dalam novel ‘Mirah dari Banda’ karya Hanna Rambe tentang mitos pala. Baiklah kuulang sedikit, mungkin kau belum membacanya. Alkisah, Raja Mata Gunda dan Putri Delima di Banda Besar dikaruniai seorang putri yang amat jelita. Putri Cello Bintang namanya. Paras sang putri membuat Putra Mahkota Kerajaan Timur ingin meminangnya. Putri Cello menerima, dengan syarat sang pangeran membawa seribu batang pohon pala. Sayang, ketika perjalanan sampai di Lonthoir, sang putra mahkota dibunuh oleh pengawalnya yang juga jatuh cinta kepada Putri Cello. Akhirnya, pohon pala pun tumbuh subur di Lonthoir.
Ah, mitos itu tetap tak dapat menjelaskan asal-usul pala Banda. Jadi pernah kutanyakan kepada seorang antua yang kutemui dalam perjalanan keliling Banda Besar. Apa jawabnya? ‘Dulu ada anak kecil maen bolasepak. Dia sepak itu buah, ternyata buah pala.’ Aduh, ngawur banget. Aku pilih mitos Putri Cello Bintang saja.
Myristica fragans memang buah asli Banda kepulauan. Kegunaannya sudah termasyur sejak jaman Romawi. Pernahkah kau dengar kisah pendeta Romawi yang gemar membaka dupa dari pala? Atau para rahib Santo Theodorus yang selalu memercik-mercik minyak pala di atas puding kacang polong sebelum disantap? Pala bahkan dianggap mampu mengusir wabah pes dan penyakit menular pada abad pertengahan di Inggris.
Tak heran jika harga pala di Eropa saat itu membumbung, lebih mahal dari emas. Inilah yang mengundang petualang mirip Francisco Serrao, Vasco de Gama hingga Jacob van Heemskerk merasa perlu mendatangi Banda langsung untuk mendapatkan pala dari tangan pertama. Untung yang mereka raup bisa lebih 1000%. Sebanding dengan nyawa yang mereka pertaruhkan saat mengarungi ganasnya lautan dan menembus badai di Tanjung Harapan..
Pala Banda kemudian menjadi cikal bakal imperialisme dan kolonialisme barat di timur. Kolonialisme yang merambat perlahan, panjang dan melelahkan. Di Banda, semua bermula dari genocide kecil yang dilakukan Jan Pieterszoon Coen. Mengerikan. Tak kalah ngerinya dengan ulah Hitller yang membinasakan Bangsa Semit demi kemuliaan Bangsa Aria. Atau orang-orang Serbia menumpas orang Bosnia hingga menyisakan segelintir mereka di enclave Gorazde demi dendam sejarah.
Demi monopoli Pala, JP Coen mengirimkan armadanya secara besar-besaran nuju Banda. Ada 13 kapal besar, 3 kapal layar, dan 36 kole-kole bertolak menuju Neira pada 27 Februari 1621. Mereka membawa 1665 orang Eropa, termasuk pasukan kompeni. Ada juga 286 budak asal Jawa yang menjadi kuli angkut, dan 100 algojo Jepang. Samurai Jepang inilah yang nantinya membunuh ke-44 orang kaya di Benteng Nassau. Orang kaya tersebut dipenggal kepalanya, lalu dibelah tubuhnya menjadi empat bagian, sebelum ditancapkan ke sebuah bambu dan diarak keliling Neira untuk menakut-nakuti penduduk Banda.
Sejak kedatangan armada JP Coen hingga 15 tahun kemudian, pembantaian penduduk Banda dilakukan secara besar-besaran. Ada yang digorok lalu dibuang ke laut, ada yang kampungnya dibakar. Dari sekitar 15 ribu orang Banda asli, hanya bersisa 560 jiwa. Sedikit sisanya dijadikan budak dan dibawa ke Batavia. Sedikit lagi menyelamatkan diri ke Seram, Aru, dan Kei.
Berkat jasanya, JP Coen dihadiahi 3000 gulden dan sedikit cacian akan kekejamannya di tanah asalnya. Namun tetap dia dianggap pahlawan, peletak dasar imperialisme Belanda di bumi Hindia. Tak tahu aku apakah bekas clerk pembukuan itu menjadi bahagia hidupnya setelah itu. Atau justru tak henti-henti dikejar-kejar hantu korbannya? Setidaknya aku sudah bertemu salah satu hantu itu saat melewati Benteng Nassau suatu petang.
Raya, di balik keheningan dan permainya alam Banda, bersembunyi tragedi demi tragedi. Baiklah kulanjutkan kisah yang urung selesai ini. Paska habisnya Orang Banda asli, JP Coen pun menghancurkan tanaman pala yang tersisa. Tujuannya agar penduduk Banda yang masih ada tak lagi bisa berdagang pala. Lalu dia membagi Pulau Lonthoir, Ay dan Neira menjadi 68 perek atau kebun pala. Dia mendatangkan orang kulit putih, umumnya pensiunan pegawai VOC sebagai perkenier atau tuan kebun yang mengelola perek-perek tadi. Buruh dan budak pun didatangkan dari Papua, Seram, Buru, Borneo, dan Jawa untuk bekerja di kebun pala.
Ketika aku menginjakkan kaki di Desa Lonthoir kali pertama, sebuah dermaga sederhana panjang menyambutku. Lalu barisan pasir yang menggelikan kaki. Tak berapa lama aku, Pak Haji, dan penumpang perahu motor lainnya segera memasuki desa, mendaki undak-undakan yang mirip tak ada habisnya. Rumah-rumah tembok tertata rapi di kiri dan kanan anak tangga dari semen itu. Anak-anak bermain di selanya dengan riangnya. Lalu ada hiasan dari kertas berkibar-kibar di antara tiang listrik. Lonthoir satu dari sedikit desa yang beruntung di Banda. PLN sudah masuk, sinyal HP dari XL maupun Simpati pun lancar di sini.
Tahukah kau Raya, tempat yang pertama kukunjungi setibanya di Lonthoir? Kebun pala! Siang yang terik menuntun langkahku menjelajah kebun pala, setelah menitipkan ranselku di rumah saudara Pak Haji. Untuk menuju kebun pala, aku harus mendaki tangga hingga ke ujung. Lebih tiga ratus anak tangga kurasa, mirip naik Kawah Bromo saja. Ketika sampai di rumah adat Lonthoir, aku harus membelok ke kanan, lalu berjalan sedikit menurun, tak putus-putus, hingga bersua kuburan kampung.
Sambil berjalan dan sesekali menyeka keringatku yang turun bak hujan, aku bertanya-tanya kenapa desa ini dinamai Lonthoir. Kupikir pengucapannya mirip lontar. Mungkin karena Pulau Lonthoir dulu berasal dari lontaran gunung api kala meletus hebat. Desa Lonthoir konon adalah tempat pertama di kepulauan Banda yang dihuni manusia. Jadi bukan di Neira, Hatta, Ay, atau Rhun. Mungkin juga saat armada Portugis sampai di pulau ini, mereka menemukan banyak sekali pohon lontar. Dengan lidah mereka yang pedhal pejal itu mereka lalu melafalkannya menjadi ‘lonthoir’.
Sempat kujumpa seorang ibu yang menggendong anaknya di jalan. Dia menyuruhku terus berjalan hingga sampai ke makam. Jadi aku pun terus berjalan, membenamkan wajahku dalam-dalam ke topi gunung yang sudah mangkak warnanya. Topi lama kesayangan. Lalu kulihat makam-makam itu. Makam warga Desa Lonthor. Di sebrangnya penuh pepohonan tinggi. Benar, tinggi sekali. Mungkin beberapa belas meter, mungkin juga di atas dua puluh meter. Di antara pepohon tinggi ada satu dua pohon yang kuanggap raksasa. Bagaimana tidak? Kutaksir diameternya saja setara dengan 2-3 orang dewasa yang membentuk lingkaran. Pohon apa ini? Pikirku takjub.
Raya, aku memang bodoh soal ilmu tanaman. Tidak sepertimu yang dibesarkan di antara kebun kelapa dan karet di kampung. Aku anak kota. Satu-satunya tanaman yang pernah kutanam dan tumbuh subur hanyalah kacang hijau. Iya, kacang hijau. Saat itu guru biologiku memberi pelajaran tentang akar pada tanaman jagung dan kacang hijau. Sayang, hanya biji kacang hijauku yang berakar, sedang biji jagung hilang dipatuk ayam tetangga.
Sejenak aku terpesona berjalan di antara rerimbun pepohon raksasa. Udara begitu sejuk, semilir angin melipir ke sekujur kulit tubuhku. Kakiku menginjak empuk dedaun kering. Sungguh berbeda dengan terik di luar sana. Inilah obat Tuhan buat cuaca ekstrim di pulau ini.
Hutan ini sangat teratur. Pada beberapa pohon menggantung buah kekuningan, buah pala yang harum bauhnya. Nah, kalau buah pala aku ingat bentuknya. Bukankah sebelum ini aku sempat ke Ternate, Tidore dan Jailolo? Tepat saat musim cengkeh dan pala berbuah ketika aku sampai di sana tahun lalu.
Raya,
Aku masih bertanya-tanya soal pohon raksasa itu ketika seorang lelaki tiba-tiba muncul dari sebuah pondok kayu. Kupikir dia hantu bekas buruh pemetik pala di masa lalu. Ternyata bukan. Rumah panggung kayu atau bedeng kini tak lagi dihuni budak pemetik pala. Tapi menjadi tempat melepas lelah para buruh kebun.
Lelaki itu nampak curiga, wajahnya tak bisa dibilang ramah. “Panei buat apa di sini?” tanyanya dalam logat yang kutak paham.
Kujawab saja sedang ronda-ronda. Aku baru datang dari Jawa dan tinggal di rumah penduduk. Seringai curiganya berangsur menghilang. Dia berkata sedang menjaga pala-pala di kebun ini. Rupanya ini sisa kebun pala peninggalan Belanda dulu. Dia petugas PT Banda Permai, perusahaan pengelola kebun pala yang ditunjuk oleh pemda Maluku Tengah sejak 1997.
“Itu kenari,” katanya menjawab pertanyaanku. Aku melongo. Dulu di Ternate, tak sempat aku singgah melihat pohon kenari raksasa. Kenari kering yang kubeli berasal dari pasar setempat. Kupungut sebutir buah kenari yang jatuh di antara rerumputan. Hijau keunguan warnanya. Masih terbungkus kulitnya yang tebal. Kuamati sejenak, lalu kumasukkan ke kantong celana. Tak kupedulikan pandang awas lelaki itu. Aku kembali berjalan. Lelaki itu mulai bosan memataiku walau matanya masih sibuk menyapu langkahku.
Masih kuingat percakapan dengan pak haji dan keluarganya tadi. “Hari ini ada taksasi di hutan, untuk menentukan panen pala minggu besok,” kata saudara ipar pak haji. Amboi.. panen pala. Sebuah kemujuran bagiku datang disambut panen pala. Kata pak haji, ada tiga kali panen pala di Banda; satu panen besar dan dua panen kecil. Panen pala secara serentak disebut panen besar, umumnya di kebun pala milik penduduk. Sedang panen di kebun pala bekas Belanda disebut panen kecil.
“Lalu, apa itu taksasi?” tanyaku terbengong.
“Oo.. itu perkiraan dari petugas tentang jumlah buah pala yang dipanen di setiap blok yang dikelola penduduk,” jawab pak haji.
Ah, blok, taksasi, semua membuatku pusing. Kelak kutahu bahwa kebun pala warisan Belanda ini terbagi menjadi blok-blok. Setiap blok terdiri dari beberapa pohon pala, dan digarap oleh penduduk setempat yang ditunjuk petugas PT Banda Permai.
Sempat kudengar gerundelan ipar pak haji tentang kurangnya perhatian PT terhadap penggarap kebun pala. “PT tak pernah memberi bibit pala yang baru, padahal banyak pohon tua yang mati. Jadi beta buat bibit sendiri. Beta juga pelihara kebun, cabut rumput, tapi beta tarada dibayar. Begitu panen, PT tinggal ambil buah pala sesukanya, tanpa peduli beta yang pelihara itu kebun,” keluhnya.
Saat taksasi, PT dengan seenaknya menentukan berapa jumlah buah pala yang harus disetorkan penggarap. Sisanya, baru boleh dinikmati penggarap. Ukuran setoran ini kerap tak layak, membuat penggarap yang juga penduduk Banda hanya mendapat sedikit bagian, padahal mereka yang memelihara kebun pala tanpa mendapat bantuan apapun.
Pernah kubaca sebuah buku tentang sejarah pala Banda. Paska Belanda kalah dengan Jepang, tuan perek pun ditangkapi. Kebun pala dirombak Jepang menjadi kebun palawija. Tanaman pangan dinilai lebih penting dan bisa buat bertahan hidup di masa perang ketimbang pala. Kelak ketika Indonesia baru merdeka, rakyat Banda menggunakan kebun-kebun pala tinggalan Belanda ini dengan bebas. Mereka bisa menanam apapun sesuka hati. Bisa ubi rambat, singkong, pisang, bahkan sesayur. Ada juga . Sebagian pohon pala pun terbengkalai.
Ketika terjadi rasionalisasi kebun-kebun Belanda menjadi milik pemerintah daerah, kebiasaan penduduk Banda tak diusik. Baru tahun 1997 keluar peraturan pemerintah yang menunjuk PT Banda Permai untuk mengelola kebun-kebun pala tinggalan Belanda ini. PT juga ditunjuk mempekerjakan masyarakat setempat, seperti membantu pembibitan dan lainnya.
Kenyataannya, bantuan PT hanya di saat awal saja. Kini, ketika harga pala membumbung hingga Rp 130.000/kg dan fuli Rp 200.000/kg , pihak PT semena-mena menetapkan jatah panen tanpa peduli kemakmuran dan kebutuhan penggarap.
“Kami ingin kebun pala jadi milik penduduk saja. Biar nanti penduduk yang bayar pajak ke pemda jika panen. Seng perlu ada PT, urusan su lancar. Seng macam sekarang. Beta kerja tapi beta seng rasa banyak. Padahal harga pala su mahal,” keluh penggarap yang lain.
Tingginya harga pala membuat banyak orang mengira petani pala di Banda pastilah kaya. Padahal belum tentu. Penduduk yang memiliki kebun pala sendiri memang bisa menikmati sedikit kemakmuran. Sementara yang hanya menjadipenggarap kebun pala hidupnya tetap melarat. Itu sebabnya mereka masih mencari kenari dua kali sehari di hutan untuk menambah penghasilan. Apalagi kebutuhan pokok masyarakat masih bergantung kepada pasokan dari Jawa via Ambon dan Makassar. Entah itu beras, gula, minyak, garam, dan lainnya.
Penduduk lokal, mantan keturunan buruh dan budak pemetik pala itu, dimiskinkan karena tak memiliki tanah garapan sendiri. Setelah berabad-abad nenek moyang mereka didatangkan secara paksa atau lewat bujukan tuk menggarap kebun pala tuan perek, bukankah sudah sepantasnya kini mereka memiliki tanah sendiri? Maukah pemerintah daerah berlapang dada menjadikan mereka petani yang sesungguhnya dengan membebaskan tanah Banda buat mereka? Ataukah perbudakan pala modern ala Belanda terus berlanjut? Aku bertanya-tanya, Raya. Terus bertanya hingga lama setelah kutinggalkan kebun pala di Lonthoir itu.
January 19th, 2012 at 23:47
Ary Hana,
Kisah perjalanan yg menarik. Saya bacanya terbaik 3,2,1
Baru selesai baca bagian 1 & 2, ditunggu lanjutan ceritanya.