Edan-edanan (9): Amung Sanyari Bumi, Ngapa Ditohi Pati

Kang Putu

 

BERATUS, bahkan berjuta, orang setiap tahun, menjelang lebaran, senantiasa harap-harap cemas: ingin bersegera pulang ke kampung halaman, ke tanah kelahiran. Beragam cara mereka tempuh. Berjubelan di gerbong kereta, berimpitan di dek kapal, berdesakan di bus-bus, atau bersepeda motor menempuh ratusan kilometer, bukan alangan. Melainkan, romantika perjalanan yang kelak dapat dikenang sebagai bagian dari kegembiraan.

Tujuan mereka sama: bertemu sanak kadang? Kalau benar, apakah sebenarnya yang mendasari hasrat di sebalik hiruk pikuk dan “kegembiraan” mudik itu?

Rohmad N (24), pekerja sebuah pabrik lakban di Jakarta, misalnya, menyatakan mudik seolah-olah suatu keharusan. Lulusan jurusan elektronika STM itu empat tahun sudah merantau ke Ibu Kota. Setiap tahun, saat libur lebaran, dia pulang ke kampung halaman, Dukuh Kaliwangan, Desa Mlangsen, Blora.

Pernah, suatu ketika, anak bungsu dari tujuh bersaudara itu memutuskan berlebaran di Jakarta. Namun makin mendekati lebaran, terasa ada yang menggayuti benak. “Ada yang selalu terpikirkan. Namun semua itu hilang begitu tiba di rumah, di kampung halaman,” kata dia, suatu malam dua hari setelah lebaran lalu, di sebuah warung lesehan, di tepian alun-alun Blora.

Apa yang mendorong dia selalu pulang? “Kangen pada keluarga, pada tanah kelahiran,” ujar dia. Cuma itu? “Entahlah. Mungkin ada semacam kenangan. Dan, ketika saya memutuskan tidak pulang ada yang terasa hilang.”

 

Ikatan Nostalgik

Barangkali itulah cermin ikatan emosional, itulah ikatan dengan masa lalu yang senantiasa terkenang? Masa lalu yang merupakan sejarah pribadi masing-masing. “Sejarah” itu meruang dan karena itulah muncul ikatan emosional dengan desa, kota, atau negara?

Dalam perjalanan waktu, yang lurus atau melingkar-lingkar, selalu ada yang hilang, tak terlacak. Yang tersisa kemudian adalah dimensi keruangan. Lalu, orang pun merasa perlu melancong atau menziarahi masa silam.

Itulah yang terjadi ketika kita pulang kampung, kembali ke tanah kelahiran? Sekadar satu-dua hari atau memutuskan menetap pada hari tua?

Bagaimana bila tanah kelahiran telah hilang, terbuncang oleh kuasa alam atau (yang kerap terjadi) oleh tangan-tangan kekuasaan negara – terlindas roda pembangunan, modernisasi? Terlipat oleh pembalikan kulit bumi atau terkubur, misalnya, di dasar di Waduk Kedungombo? Tentu pedih dan menyakitkan, misalnya, bagi orang-orang yang ditransmigrasikan secara paksa ke Muko-muko, Jambi, ketika “pulang” tak lagi menemu tanah tempat mereka bisa mengenang masa silam atau memiara ikatan emosional dengan nenek moyang.

Agam Wispi, dalam sebuah puisi tentang Kedungombo, menorehkan sebuah kesaksian: selamat tinggal, kampung halaman/selamat tinggal, kuburan nenek moyang//kalian tenggelam dalam “durjana” pembangunan//atap dan kelapa tenggelam dalam air/baginya air mata kami mengalir//di bawah air rumah kami tampak bagai bayang-bayang/beranda masa kecil kami, keranda berjuta kenangan.

Rasa sakit yang laten, agaknya, juga dirasakan orang-orang yang terpaksa hidup di tanah pengasingan di berbagai belahan dunia karena faktor politik. Orang-orang buangan, exile, yang terbuncang setelah pertikaian politik 1965/1966, misalnya, adalah orang-orang yang punya tanah air, namun tak bisa merengkuhnya. Pulang, yang dilandasi rasa kangen dengan segala nostalgik sentimentalnya, bisa jadi justru siksaan, seperti membuka luka lama, hingga kembali nganga. Itulah, antara lain, yang dialami Mang Karta – dalam fragmen “Pulang yang Malang” yang dikisahkan Sobron Aidit (Cerita dari Tanah Pengasingan).

Tanah dan rumah tempat tinggal sang istri dan anak-anaknya di negeri ini bukanlah tanah milik dia, yang berpuluh tahun terlunta-lunta di daratan Eropa. Ketika pulang, Mang Karta ditempatkan di kamar tersendiri, tidak seruang dengan Mak Rukayah, sang istri. Dia merasa nelangsa dan tak diterima. Pulang tanpa “ruang” penerimaan, apa pula artinya? Kenangan bagi dia pun tinggal kenangan, yang tak menemu ruang ekspresi keintiman justru di tengah keluarga tersayang. Mereka menolaknya! Betapa menyakitkan.

 

Sanyari Bumi Itu Kuburan

Tanah, ya, itulah wujud kasatmata yang menjadi pengikat kita, yang belum sepenuhnya lepas dari kultur agraris, dengan masa silam, dengan kenangan, dengan “sejarah”. Maka menjenguk kampung halaman, menjenguk tanah kelahiran, adalah manifestasi pemeliharaan ikatan itu. Dan, mudik adalah momentum bagi sebuah “keluarga besar”, trah, untuk mengukuhkan kerukunan secara simbolis. Karena itulah, bermaaf-maafan (setahun sekali!) menjadi wahana paling tepat?

Pada saat seperti itu, ketika semua sanak kadang berkumpul, segala ganjalan dalam hubungan antarpribadi seolah-olah melenyap jauh ke bawah permukaan hidup keseharian. Itulah, paling tidak, yang saya rasakan.

Lebaran tahun lalu, Ibu mengumpulkan kami berenam, anak-anaknya, beserta semua menantu dan cucu. Dua perkara Ibu sampaikan kepada kami. Pertama, Ibu berharap kami semua selalu hidup rukun. Kedua, inilah kali terakhir Ibu mengingatkan siapa pun di antara kami, yang belum menegakkan rukun iman dan rukun Islam, segera sadar dan menunaikan.

Saya tertempelak. Benarkah Ibu kehabisan kesabaran, karena capek terus-menerus mengingatkan? Saya pun ingin menguji keragu-raguan itu. Maka, lebaran tempo hari – siapa pun tahu, saya tidak puasa dan belum mendirikan salat – saya tidak sungkem kepada Ibu. Ketika semua saudara dan para keponakan bersimpuh dan mencium dengkul Ibu, saya ngeloyor ke kamar mandi: membersihkan diri. “Kau cuma membersihkan tubuhmu, bukan batinmu,” bisik Kluprut, dalam bilik nurani saya.

Ya, ya, inilah tamparan paling memedihkan. Bila Ibu, perempuan yang saya kasihi, tak lagi mau menegur saya, siapa lagi yang bisa? Siapa lagi yang berani? Untuk mengurangi rasa kuwur, khawatirkesiku, saya ngombyongi seluruh keluarga untuk kirim donga, tilik kubur nenek moyang. Tiga kompleks pekuburan di tiga pojok kota kami datangi. Kami bersihkan rumput dan sampah di seputar kijing leluhur kami, para mendiang adik, mas, mbak, ibu, bapak, bulik, paklik, bude, pakde, eyang, eyang buyut, canggah, wareng, udheg-udheg gantung siwur, entah sampai generasi ke berapa lagi, yang sebagian besar tidak kami kenal. Kami kirimkan doa, kami taburkan bunga, seraya berbisik menyapa mereka.

Itulah saat kami berdamai dengan masa silam, lewat sejengkal tanah bernama kuburan. Dengan takzim kami memasuki kompleks pekuburan, dan keluar dengan wajah berbinar. Namun saya – yang berbelas tahun tak pernah berziarah kubur – merasa masih ada yang kurang. Ya, kubur Bapak belum tertemukan, entah sampai kapan.

Karena itulah, selama ini, saya beranggapan kirim donga tak harus ke pekuburan. Apalagi sesungguhnya banyak kubur yang hilang, banyak kubur tak pernah tertemukan, banyak orang, sangat banyak, yang tak terkuburkan. Dan, bumi inilah, tanah yang kita pijak inilah, sesungguhnya kuburan sebenar-benar kuburan. Jadi, tanpa pulang, tanpa berziarah ke pekuburan, dari mana pun doa terlayangkan bakal sampai ke haribaan-Nya bila ada kekhusyukan.

Namun, yang saya lupakan berbelas tahun pula, adalah berziarah bersama-sama juga pengukuhan simbolis kerukunan antarpribadi yang masih hidup. Selain, tentu saja, rekonsiliasi dengan para leluhur, dengan masa silam – yang mungkin juga kelam.

Tanah itu cuma sejengkal memang. Cuma sanyari bumi. Namun, kerap kali, untuk menjenguk sepetak kecil tanah itu kita rela berkorban, toh pati. Tanah sejengkal, sanyari bumi, rumah kita pada masa depan? Itulah Tanah Air?

 

22 Desember 2002

 

6 Comments to "Edan-edanan (9): Amung Sanyari Bumi, Ngapa Ditohi Pati"

  1. kang putu  20 January, 2012 at 12:05

    matur nuwun, terima kasih, atas respons panjenengan semua. ada bandingan yang lebih mengiris:

    Berkunjung Boleh, Pulang Jangan

    “… , aku hanya bisa ke Indonesia kalau aku menanggalkan keindonesiaanku….”

    GILA! Betapa getir, betapa menyakitkan, segala apa yang harus dialami dan dirasakan “aku” dalam “Naturalisasi II”, satu dari 15 cerita pendek karya Sobron Aidit yang diantologikan dalam Razia Agustus (2004: 118-119) itu. Dan, itu lazim terjadi pada kaum eksil –- orang-orang yang hidup di pengasingan di berbagai belahan dunia karena alasan politis yang bersangkut paut dengan Gerakan 30 September (G30S).
    “Aku” dalam kisah Sobron Aidit harus menunggu belasan tahun untuk menjadi warga negara Prancis. Sebelumnya, dia “terusir” dari Tiongkok karena perubahan sikap dan orientasi politis pemerintah Negeri Tirai Bambu. Awal tahun 1980-an pemerintah China ingin kembali menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia. Padahal, rezim pemerintah Jenderal Soeharto-lah yang membuat mereka menjadi kaum eksil dan tercerai-berai di luar negeri.
    Tak gampang bagi “aku” memperoleh kewarganegaraan Prancis. Paling tidak ada lima syarat mutlak harus dipenuhi (Sobron Aidit, 2004: 108-109). Pertama, sudah tinggal selama 10 tahun di Prancis, dengan lima tahun terus-menerus. Kedua, mempunyai mata pencaharian. Ketiga, mempunyai tempat tinggal sendiri. Keempat, mempunyai bukti pembayaran pajak secara teratur selama tinggal di negeri itu. Kelima, mengerti bahasa Prancis.
    Nyekar Tak Sampai
    Namun “aku” – dalam “Ziarah” (2004: 153-163) – setelah tiba di Jakarta bersama anak dan cucu, mesti memendam hasrat untuk nyekar, berziarah, ke makam orang tuanya di kampung halaman. Padahal, itu acara pokok bagi dia ketika memutuskan berkunjung ke Tanah Air.
    “Jadi, apa saja acaramu yang pokok?”
    “Menengok kampung halaman, bertemu keluarga, kenalan, sahabat, dan mau baca-baca, melihat-lihat, dan yang paling tak dapat tidak, ziarah,” kataku mantap. ….
    “Ziarah?” katanya agak lama.
    “Ya, ziarah,” kataku tanpa ragu. “Nyekar di pemakaman Umak dan Ayah di Belitung. Maksudku ini sebenarnya adalah mata acara pokok dari kunjunganku kali ini. Setelah berpisah selama 30 tahun lebih dengan kampung halaman. Ketika masih hidup tak kesampaian jumpa, baiklah, ke makamnya pun dapatlah untuk menawar rasa rinduku. Lagi pula menghadapi bulan puasa, betapa baiknya ziarah dan nyekar. Waktunya baik, bulannya baik. …” (2004: 156).
    Namun dia harus membatalkan keinginan berziarah. Karena, niat baik itu bisa jadi petaka bagi orang lain. Bang Tamrin, saudaranya, pun tak pernah ke Belitung setelah kembali dari Moskow dan lepas dari “sekolah Pulau Buru”. Dia tak menginginkan kehadirannya di tanah kelahiran berdampak buruk bagi saudara dan sahabat. Ya, bukankah teramat dahsyat risiko yang bakal dialami siapa pun yang diberi stigma “tak bersih lingkungan”?
    Karena itulah, Bang Tamrin meminta “aku” mengurungkan niat nyekar ke makam leluhur.
    “……. bagi kau, sesudah ziarah kau terus kembali ke Paris, habis perkara. Nah, keluarga dan orang lain yang kau temui lalu yang menemuimu, apa bagi mereka sesudah itu? Bagaimana nasib mereka?” (2004: 157).
    Sangat mudah membayangkan risiko apa yang bakal dialami orang-orang dekat “aku” jika dia ngotot ziarah ke makam orang tuanya di Belitung. Sebab, dia adalah adik Bang Amat — yang secara referensial mengacu ke sosok kakak Sobron, Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI). Bang Amat dikabarkan gugur “disembur logam panas” di dekat Boyolali dalam perjalanan penahanan ke Ibu Kota. Dan, “Jangankan jasadnya, nisannya pun tak berjejak” (2004: 9).
    Selalu Tamu
    Lain lagi kisah Mang Karta dalam “Pulang yang Malang”, satu dari belasan cerita Sobron Aidit dalam Cerita dari Tanah Pengasingan (1999: 132-136). Bagi dia, pulang kembali ke Tanah Air setelah berpuluh tahun hidup di pengasingan, untuk berkumpul dengan anak dan istri adalah keinginan tunggal sebelum maut menjemput.
    Namun apa yang terjadi? Mak Rukayah, sang istri, dan anak-anaknya menempatkan Mang Karta di kamar tersendiri. Ya, dia menjadi “tamu” di rumah sang istri. Eko, Tugal, Teguh, dan Sri, anak-anaknya, lebih berpihak pada ibu mereka. Mereka menyetujui tindakan sang ibu “mengasingkan” ayah mereka tidur di kamar terpisah. Ironis, dia menjadi “tamu” dan mengalami pengasingan kedua di rumah sang istri.
    “Keadaan demikian sangat mengherankan, bahkan sangat menyakitkan hatinya. Tetapi dia tidak bisa dan tidak mungkin menyalahkan mereka. Ini rumah mereka, dan dia boleh dikatakan tidak berbuat apapun ketika mereka sengsara tak berketentuan nasibnya dulu itu, selama 30 tahun itu. Memang benar bahwa dia tidak mungkin dapat dan mampu berbuat sesuatu untuk ‘menyelamatkan’ keluarganya, semua orang juga tahu, dan banyak keluarga bernasib sama-sama sengsara, menderita, miskin dan bahkan terkadang terlunta-lunta.” (1999: 133).
    Tokoh “aku” dan Mang Karta cuma sebagian kecil dari kaum eksil, yang selalu merindukan bisa pulang ke negeri leluhur. Namun mereka tak pernah sepenuhnya diterima. Bagi mereka, berkunjung boleh, pulang jangan. Getir memang. (gunawan budi susanto)

  2. Dj.  20 January, 2012 at 01:29

    Kang Putu…
    Terimakkasih untuk renungannya….
    Jjadi ingat satu teman yang dulu sekolah di Russia dan tidak bisa / boleh pulang ke Indonesia.
    Beliau pernah cerita, walau dia sudah lama di Jerman dan bahkan memiliki passpor Jerman, saat di Halim, dia tidak poleh masuk Indonesia. Jadi liburannya dia habiskan di singapur dan Kuala Lumpur.
    Banyak teman yang menyarakan agar mengadu ke pangadilan, kan dia sudah warga negara Jerman.
    Masakan tidak boleh berlibur ke Indinesia.
    tapi dasar teman satu ini sangat sabar, dia terima dengan lapang dada.
    Sampai pada satu saat, karena ada cucu adiknya yang sudah jadi jendral jadi dia bisa masuk Indonesia.
    Dia terkagum-kagum melihat kampoeng halamannya yang sudah jauh berbeda dengan apa yang ada dibenaknya.

    Dj. juga sangat rindu kampoeng halaman dan bangga kalau biisa mempperlihatkan ke istri tercinta, dimana Dj. sekolah di SR, dimana Dj. mandiin kebo, walau sekarang kalinya sudah kering…. hahahahahaha….!!!
    Apalagi kalau masih bisa bertemu dengan teman masa kecil yang masih hidup di kampoeng.
    Walau saat kecilnya sering berantem, tapi bertemu dimasa tua sambil minum teh dan cerita masa kanak-kanak, sangatlah indah….!!!

    Selamat berkarya…!!!

  3. Lani  19 January, 2012 at 14:38

    AKI BUTO : 2……..bukannya falling fruit? wakakak………kan pepatah itu dlm bhs indo

  4. Kornelya  19 January, 2012 at 09:28

    Kang Putu, semakin jauh kita tinggal dari tanah kelahiran, kian bertambah umur; Panggilan tanah kelahiran untuk pulang makin kuat terdengar, menggugah jiwa, mengobok kantong. Salam.

  5. J C  19 January, 2012 at 07:57

    Matur nuwun Kang Putu. Seperti pak Hand bilang, keterikatan manusia dengan asalnya, di budaya mana saja terdapat kemiripan ini.

    Kalau dalam budaya Jawa: “sedumum bathuk, sanyari bumi” kalau dalam budaya Tionghoa ada yang disebut “luo ye gui gen” 落叶归根 terjemahan bahasa Inggrisnya berbunyi: “falling leaves”, tapi maknanya adalah daun jatuh tidak jauh dari akar pohonnya…

  6. Handoko Widagdo  19 January, 2012 at 07:27

    Keterikatan manusia dengan tempat asalnya. Semoga tidak lupa pada ajalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.