Hanya Karena Aku Cina?

Langit Queen

 

Dentang jam di ruang tamu 12 kali menandakan waktu tepat berada di tengah malam. Rumah mungil di dalam komplek ini sudah sangat sepi, hanya suara gemerisik daun jambu yang dibelai semilir angin tepat di samping rumah.

Ninda. Gadis berparas ayu dengan rambut hitam lurus sepinggang , tergolek malas di atas ranjang, ia dirundung gelisah. Kata-kata sang Ibu petang tadi sepulang ia dari kantorlah yang membuatnya demikian. Bukan hanya sekali, namun hampir setiap hari. Dan itu, lebih dari cukup membuatnya tertekan.

“Jauhi A Hao, dia tidak cocok untukmu… Kita beda nak.. Ingatlah kata-kata almarhum nenekmu. Jangan pernah menikah dengan etnis Cina”.

Memang, sewaktu beliau masih hidup, Ninda sendiri seringkali mendengar pertuah tersebut, namun ia tak memberi alasan. Mengapa tak boleh?

***

Pria itu, ia mengenal semenjak keduanya berada di gedung perkantoran yang sama. Sekitar dua tahun lalu. Perkenalan yang tak di sengaja di dalam lift, basa basi yang kemudian menimbulkan sebuah kedekatan diantara keduanya. Seiring waktu berjalan kedekatan itu telah menumbuhkan benih-benih cinta. Rasa yang tak bisa seorangpun menghalanginya. Bahkan Ninda sendiri melanggar petuah sang nenek, untuk jangan berpacaran apalagi menikah dengan etnis tionghoa. Cinta itu memang tak pernah melihat bukan? Dan Ninda, tak mampu mengendalikan rasa itu.

Caffe, adalah tempat yang paling nyaman untuk berbincang. Dan Ninda memilih tempat ini disetiap sore, sebelum pulang ke rumahnya. Laki-laki itu biasanya akan menemani sorenya, ngopi, sembari mendengarkan musik yang diputar di sana. Namun kali ini, ia memilih sendiri, bahkan SMS atau telpon dari lelaki itu sama sekali tak ia angkat.

Rintik hujan di luar membuat sebagian orang malas pulang, dan lebih memilih sekadar ngopi di sana, dan lelaki itu? Dengan santai sedang menuju meja Ninda. Kemudian duduk tepat di hadapannya tanpa permisi.

“Mengapa tak angkat telponku?” Tanpa basa basi pria itu bertanya.

Beberapa saat Ninda terdiam. Bingung dengan jawaban yang akan ia berikan. Sementara hampir setiap hari ia merasa terteror dengan kata-kata sang ibu. Batinnya serasa tertekan.

“Sebaiknya kita akhiri hubungan kita…”

Baginya mungkin inilah saat yang tepat, meski jauh di lubuk hatinya ada rasa perih yang tak terkira. Bahkan ia tak berani menatap laki-laki dihadapanya.

“Kenapa???!”

Lagi-lagi Ninda terdiam. Namun diam bukanlah jawaban yang tepat.

Karena kamu Cina…”

Ucapnnya lirih.

Keluargaku tak pernah menyukai hubungan kita. Setiap hari ibuku selalu melarangku untuk bertemu denganmu. Sebaiknya kita sudahi sampai di sini. Kita berteman saja”. Lanjutnya

Sebuah jawaban yang membuat A Hao lemas. Meski demikian, iapun tak mau menjadi laki-laki cengeng.

Hanya karena dirinya Cina, maka tak pantaslah cinta itu untuknya?

“Hanya karena aku Cina? Tidak adakah jalan lain?” Tanyanya lemah.

Dan Ninda hanya menggeleng pelan.

“Maaf…”

Ia bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan pria itu sendirian di sana.. Ia pergi demi menyembunyikan air matanya.

***

Waktu terus bergulir, namun cinta itu ternyata tidak pernah sirna. Ninda selalu membiarkan diri memendam rindu. Ia lebih suka melamun sendirian di kamar, merenungi cintanya yang kandas hanya karena perbedaan etnis. Hanya karena ia seorang keturunan Jawa kolot, dan tanpa alasan yang jelas melarang seluruh keturunannya menikah dengan etnis yang berbeda.

Tok.. tok.. tok..

Ketukan pintu dari luar kamarnya sontak membuyarkan lamunannya. Tanpa menunggu jawaban, sang ibu sudah nongol di sana, dengan kebaya rapi juga dengan riasan yang ayu.

“Keluar nak, tamu sudah menunggu di luar….” Perintahnya.

Dengan lemah, ia beranjak dari depan meja riasnya. Kebaya putih ia kenakan dengan sanggul modern yang menghiasi rambutnya. Ninda akan menikah hari ini. Dengan lelaki pilihan orang tuanya. Laki – laki 40 tahun yang memiliki usaha pabrik gula di kampung halamannya. Dan Ninda, akan menjadi istri ke tiga.

Penghulu dan para saksi sudah berada di sana, juga calon mempelai pria, ijab kabul akan segera di laksanakan. Ninda hanya pasrah, tanpa bisa melawan keinginan orang tuanya

***

Dua bulan telah berlalu

A Hao, pria itu memang sudah tau Ninda menikah. Dan keputusanyapun bulat. Ia tak akan mengganggu mantan kekasihnya yang kini istri orang. Kabar terakhir yang ia dengar adalah, Ninda telah di boyong ke rumah sang suami di daerah Jawa Tengah. Mengikuti sang lelaki.

Suatu siang ia menerima surat dari Ninda. Dengan dua baris kalimat.

“Aku masih selalu mencintaimu.

Dan aku masih selalu merindukanmu”

Dua kalimat saja. Namun sudah cukup mewakili seluruh perasaan wanita itu. Bagaimana keadaanya? Bahagiakah? Tersiksakah? Dan pria itu hanya bisa bertanta-tanya sendiri, ia sama sekali tak memiliki akses untuk menanyakan kabar mantan kekasihnya itu lebih lanjut. Bahkan suratpun tak ada alamat pengirim.

***

Januari 2012 di musim penghujan menjelang Imlek.

Sebuah kejutan. Wanita itu mengajak A Hao bertemu di caffe tempat biasa mereka ngobrol. Sebuah pertemuan yang sama sekali tak pernah di sangka – sangka. Ia bahkan mengira, tak akan pernah bisa betemu lagi. Dengan girang, tentu saja pria itu menyanggupi, sepulang kantor ia segera menuju lantai dasar di mana letak caffe berada.

Ninda berada di sana, dengan senyuman manisnya seperti biasa. Berkali kali ia mengucapkan kata maaf kepada A Hao karena tak mengundangnya dalam acara pernikahanya. Obrolan berjalan agak sedikit kaku. Hanya serputar masalah kabar dan pekerjaan.

Dan di akhir obrolan kali ini tak ada lagi ciuman lembut bagi keduanya seperti dahulu. Mereka ngobrol layaknya sepasang teman, bukan lagi sepasang kekasih. Meski cinta itu masih ada. Dan itu terlihat jelas dari tatapan mata keduanya. Ada segunung rindu di sana. Deguban jantungnya cukup mewakili segala rasa yang ada.

***

Hari yang sama sengan kemarin. A Hao tetaplah seorang pria yang di kantornya adalah pemimpin yang baik.. Disaat ia sibuk berkutat dengan beberapa tumpuk dokumen, seseorang datang ke ruanganya.

“Coba lihat berita ini… Seseorang meninggal dengan cara minum racun serangga di sebuah perkebunan. Mayatnya baru ditemukan 3 hari kemudian. Ninda Sutrisna….”

Pria itu hampir pingsan dibuatnya.

Ninda telah tiada? Sejak tiga hari yang lalu? Mantan kekasih yang masih selalu ia cinta? Dan siapakah yang bertemu di caffe denganya kemarin?

***

Dan ia mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun serangga…

Menggenggam selembar surat di tangannya.

Yang berisi tentang ketidak tahanannya menjadi istri ketiga.

Juga cinta yang kandas tak mendapat restu kedua orang tuanya, hanya karena kekasihnya adalah keturunan Cina.

Di akhir kalimat ia menulis :

Apa salahnya jika ia Cina?
Ayah, Ibu, Gita anak bungsumu juga memiliki kekasih seorang Cina,
jangan pernah kau melarangnya..
Apalagi memberikan jodoh seorang lelaki denga istri dua.Apakah kau tau betapa rasanya tersiksa?
Biarkan ia dengan pilihannya.

Dan alasan nenek??? Aku sudah tau.
Hanya karena ia pernah disakiti kekasihnya yang orang Cina.
Mengapa anak cucunya yang harus menanggung derita??
Cukup aku saja yang mengalaminya…

Ninda.

 

23 Comments to "Hanya Karena Aku Cina?"

  1. Nopti  7 April, 2019 at 21:56

    Saya suka cerpen ini cerpen ini membuat saya terhibur

  2. dav  20 July, 2012 at 12:48

    kolot banget tuh ortu

  3. Edy  25 January, 2012 at 08:26

    Ninda ninda….kenapa tidak kawin lari saja sih, drpd minum racun begitu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.