Jobber$

Kornelya – New York

 

Banyak orang mengira, wanita Indonesia yang menikah dengan bule itu, menikmati hidup bak Cinderella. Walau menikah dengan mister, karena saya hidup di alam nyata bukan dongeng,   sesuai profesiku sebagai inang-inang, selain menjadi supplier merchandise pada boutique dan gift shop, menjajakan daganganku pada flea market dan craft fair selalu menjadi moment yang aku tunggu namun tidak diharapkan oleh suamiku.

Pertengahan Desember tahun lalu, saya menjadi vendor pada craft fair yang diadakan oleh salah satu Jews Temple, tempatnya di aula Sinagoga. Melihat daftar jumlah vendornya yang lebih dari seratus, aku pun berbunga-bunga membayangkan jumlah dolar yang akan nyangkut di punditku.  Hari H pun tiba, harapan tinggal harapan pengunjung yang datang kebanyakan berbuntle ria dengan kemasan gaun warna gelap a la Yahudi Ortodox yang tampak hanya kepala dan jari tangan. . Setelah aku tanyakan pada event organizer, jawabannya, “We tried to limited people from out side, only for our member of congregation”. Dalam hati aku ngedumel ‘Dasar sombong”.

Sambil menanti pembeli yang tak kunjung datang, akupun berkunjung ke stand di sampingku. Seorang ibu menjual bahan drapery katun merk Laura Ashley hanya $2/yds, kudapati motif bunga abstrak warna kesukaanku kuning dan biru. Aku tanyakan kalau aku ambil se roll berapa harganya? Deal $1. 50. Pecahan dolar yang aku siapkan untuk kembalianpun berpindah tangan.  Setelah kembali ke boothku, naluri inang-inangkupun bereaksi, aku check harga bahan seperti yang baru aku beli di Amazon dan Ebay harganya berkisar $12 – 20/yds.  Aku telp seorang teman kelasku yang menjadi supplier  bahan interior design di Manhattan, jawabannya; “sent me the pictures & spec asap”.

Dengan sigap pintanya aku laksanakan. Satu jam kemudian,   temanku mengirim sms meminta saya untuk memblock beberapa motif dengan kesepakatan harga $3. 5. Lumayan dapat supplement income untuk daganganku yang sepi peminat. Ibu Stephanie pedagang bahan tersenyum bahagia,   ketika tahu saya akan membeli dagangannya dalam jumlah yang banyak. Sementara suamiku, antara patuh dan tak setuju bersedia mengantarkan check book ke lokasi, sekalian pulangnya membawa belasan roll belanjaanku dengan penuh tanda tanya.  Sa’at mengangkat roll terakhir, sebelum pamit, do’i berkata “ I never really understand you”. Hahaha, baru tahu dia kalau wanita itu seperti bawang Bombay berlapis-lapis.

Saya menanyakan pada ibu Stephanie asal-usul barang dagangannya; ternyata barang-barang itu peninggalan mertuanya yang baru meninggal, perusahaan Interior decorationnya tutup karena tidak ada anak/cucu yang mau meneruskan, suaminya anak tunggal, sementara anaknya yang sulung sedang menuntut ilmu di law school dan satunya lagi vet. Dia pun bercerita bahwa selain fabric ia juga memilik stock bahan kulit; dari ular, buaya, leopard,   bahkan jaguar.

Kamipun membuat kesepakatan agar dia mengirimkan sample min 4 inch setiap item sebelum Natal dan awal January saya akan datang ke rumahnya untuk melihat dan mengiventaris stock yang ada. Sambil mengucapkan Merry Christmas, Happy Holiday atau say hello, sayapun menyisipkan foto sample bahan kulit dan fabric available pada teman-teman yang berkecimpung di dunia fashion atau interior. Ada yang menyarankan, “hati- hati” bertransaksi bahan kulit hewan di Manhattan, mata dan telinga anggota “Animal right” ada dimana-mana. “Maintain the legal paper as much as you can, to prove that, you’re not imported them”.

Beruntung pemilik stock masih menyimpan invoice dan delivery note dengan rapi.  Ada yang mengusulkan untuk mengontak Izak Mirazhi, yang dengan cepat aku menjawab “No”, I need quick cash. Sudah menjadi rahasia umum, bertransaksi dengan perusahaan besar/ celebrity, bagus untuk refrensi tetapi tidak untuk menghasilkan cash. Due datenya minimal 3 – 6 bulan. Belum lagi komplain quality standard yang mereka sampaikan saat menerima tagihan untuk mendapatkan diskon. Inang-inang sepertiku bisa kolaps.

Dengan harga jual yang murah menguntungkan, perlahan tapi pasti setiap hari ada order atau negosiasi.   Karena ada permintaan delivery tanggal 3 Januari, maka tanggal 31 Januari sa’at orang sibuk menyiapkan pesta menyambut Tahun Baru, saya bekerja mengubek-ubek gudang di rumah Stephanie, dari jam 8 pagi – 5 sore.  Karena tahu aku lelah, suamiku mengusulkan, last dinner 2011 di restoran saja. Beruntung kami bisa mendapat tempat di sebuah Italian Restoran tanpa reservasi. Namun sesampai di rumah, sambil menanti pergantian tahun aku tetap memasak gulai ayam kesukaan suamiku dan membuatkan beberapa loyang kue.

Kemarin, matahari bersinar terang dengan suhu 55’c seolah spring season menjelang, aku menyusuri Manhattan, mendatangi calon customerku nan sugih tapi pelit,menggiringnya membuat keputusan untuk membeli; agar perjalananku memakai high heel yang menyiksa ini tak sia-sia.  Bersyukur, kesepakatan tercapai, transaksi ditandatangan, aku mendapat rejeki. Beliau menghantarkanku sampai ke pintu lift, setelah sampai di lantai dasar, lavatory menjadi tujuan utamaku. Aku tak sabar menggantikan high heel dari telapak kaki leperku dengan sepatu kets yang menunggu dalam tasku. Dalam perjalanan pulang, dengan hati bernyanyi ria aku memotret kawasan Grand Central  Manhattan.

Pintu masuk utama Grand Central Terminal

 

Seperti di Indonesia, ada saja yang ngga sabar menyebrang.

 

42 nd Street, Lokasi Grand Central.

 

Ruangan utama, sebagai pusat informasi, jadwal dan line kereta api. Grand Central.

 

1Trk 105 South East tujuanku. South East nama kotanya Brewster, walau letaknya di utara NY.

 

The pedesterian Tunnel to Subway line.

 

Pengamen selalu mendapat tempat di hati komuter.

 

Sambil menunggu jadwal kereta, Grand Central juga menyediakan Dinning concourse yang memadai bagi pengguna jasa kereta, atau sekedar rendenvous.

1. 48 PM masih terhitung Off Peak, banyak bangku kosong & tariff murah, bisa berleha-leha

Ini adalah pengalaman pertamaku menjadi jobber, satu lagi jurus surviveku di negeri orang, untuk menopang financial keluarga, harga diri dan pemanfaatan ilmu.   Demikianlah kisah lapak kecil dan petualangan hidupku dari New York.

 

Jobber : Pembeli barang-barang stock lot (left over, over production) dengan harga murah untuk dijual kembali.

 

61 Comments to "Jobber$"

  1. Kornelya  13 January, 2013 at 10:55

    Opanya David terima kasih. Inilah sebagian jurus survivor dan independent hidup dirantauan. Salam.

  2. Dj. 813  13 January, 2013 at 04:49

    Kornelya…
    Walau ppernah baca dan beberapa kali tinggalkan kommentar,
    Tetap tidak bosan membacanya….
    Satu keberhasilan yang tidak mungkin terlupakan.
    Salam manis untuk keluarga dirumah, dari kami di Mainz.

  3. Kornelya  13 January, 2013 at 03:01

    Pa Fidelis R.Situmorang, terima kasih. aku selalu sukses, walau tak sukses meraih yang diinginkan, aku selalu sukses memahami realita hidup. Horas, ba habis beras makan kentang.

  4. Fidelis R. Situmorang  11 January, 2013 at 22:52

    Seneng banget baca ini sama liat-liat fotonya
    Jadi tahu istilah jobber.
    Sukses selalu ya, Inang

  5. Kornelya  1 February, 2012 at 02:19

    Pa Oscar, terima kasih sudah mampir. Naik kereta gantung Sandia Peak senang tetapi merinding juga diketinggian. Woow, jauh sekali ikut pamerannya. Tetapi kalau hoby bawaannya senang aja, apalagi waktu ngitung duitnya. Hahaha. Salam.

  6. Oscar Delta Bravo  31 January, 2012 at 02:46

    Kornelya,katanya kereta gantung Sandia yang tertinggi dan terpanjang entah di Amrik/didunia,walaupun sering kesana tapi belum pernah naik karena belum ada kesempatannya dan waktunya,Demikian juga dengan Festival baloonnya di Oktober tiap tahun yang terbesar katanya
    Anak saya fokusnya bikin scarf dirajut dan ada juga mesin manualnya,waktu dapat bahan2 murah /obral diborong semuanya itu benang2 wool buat scarf sampai penuh kamarnya.Ahir Thanksgiving saya ikut ke boothnya(Craft Fair, ber-pindah2 tempatnya )di Colorada,hanya 2 hari saja dan perjalanan bermobil 4jam one way.Salam dari Florida

  7. Dj.  29 January, 2012 at 05:41

    Mbak Kornelya….
    Apa semuanya beres…???
    Dj. tunggu japrinya ya…
    Terimakasih….
    TUHAN MEMBERKATI…!!!

  8. Kornelya  29 January, 2012 at 04:19

    Bu Gucan, ibu-ibu Baltyra biar sudrun, bisa jadi gold mining juga lho. Habis kalau bergaya dibilang gold digger ama bule. hahaha. Salam.

  9. Kornelya  29 January, 2012 at 04:17

    Mba Alexa, kan generasi muda Indonesia, semangat empat limanya kemana-mana dibawa.Hahaha

  10. probo  28 January, 2012 at 10:02

    komen 46…….ya wsi saluuut Mbak Dewi…ndhak gela (kecewa) minta thoet-thoet kan kasihan … lantas sambil sudrun….

    mat berjuang ya Ibu-ibu…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.