Arsenal

Handoko Widagdo – Solo

 

Di mobil dalam perjalanan dari bandara, istri saya lapor: “Hagai (nama anak saya) kemarin buat ulah. Sapu masih bisa dipakai dipotong-potong.” Hagai yang ada di bangku belakang senyum-senyum saja. “Memangnya ada apa?”, saya tanya balik. “Lihat sendiri nanti di rumah.”

Ternyata korbannya bukan hanya sapu yang masih layak pakai, tetapi papan penyangga pot bunga telah hilang. Lakban yang biasa saya pakai untuk menjilid kliping tinggal kartonnya. Korek api hilang wadahnya. Gagang aluminium bekas tangkai alat pel juga terpotong-potong. Senter kecil yang biasa kami letakkan dekat tempat tidur raib.

Di sudut halaman depan saya lihat sisa-sisa korban berupa potongan-potongan karton. Guntingan-guntingan lakban hitam, serta serpihan papan dan kayu. Ternyata di sudut halaman depan inilah semua barang yang hilang tersebut bermuara. Hasilnya? Beberapa pucuk senapan bergeletakan di lantai.

Ternyata gagang sapu telah berubah wujud menjadi loop senapan. Papan penyangga pot bunga telah menjadi popor bedil. Wadah korek menjadi wadah magasin dan lakban menjadi pembungkus senjata.

Senter yang hilang ternyata terpasang di salah satu pistol.

Sementara aluminium gagang alat pel telah berubah menjadi pelontar roket.

Jadilah rumah kami sebagai gudang senjata. Arsenal.

”Ternyata persis seperti bapaknya”, demikian istri saya berkomentar. Memang saat kecil saya suka membuat mainan sendiri.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

46 Comments to "Arsenal"

  1. Wiwit  25 January, 2017 at 15:27

    wah…Hagai kereen…

  2. Handoko Widagdo  31 January, 2012 at 12:57

    Ilhampst, makanya banyak ayam tetangga yang hilang.

  3. ilhampst  31 January, 2012 at 12:55

    Saya dulu suka bikin sumpit dari pipa paralon di gudang, pelurunya dari paku2 di kotak perkakas Papa. Buruannya klo gak cicak-cicak di dinding ya tikus2 got yang berkeliaran hahaha…

  4. Handoko Widagdo  24 January, 2012 at 08:00

    Terima kasih untuk komennya teman-teman.

    Terima kasih untuk kue BOM-nya PASPEMPRES

    Romo Budiman tentu saja saya akan mengarahkan Hagai untuk lebih cinta dinosaurus daripada terus membuat senjata.

  5. Anastasia Yuliantari  23 January, 2012 at 03:47

    Sangat kreatif….emang seperti Bapaknya (hanya menirukan kata2 Bu hand, lho ya)

  6. probo  21 January, 2012 at 23:05

    waduuuh…hebat! benar-benar hebat….musti dicontoh tuh…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.