Ibu di sini

Ida Cholisa

 

Di mana pusara Ibu, di mana? Tujuh lebaran aku tak menyambanginya. Entah karena apa hingga aku alpa menjenguknya. Di mana pusara Ibu?Terus dan terus aku berjalan menyusuri tanah pekuburan. Sendiri saja, tanpa siapa-siapa. Sengaja aku menghampiri areal pekuburan nan sunyi, demi mendapati batu nisan wanita yang melahirkanku di dunia ini. Tapi di mana ia? Di mana pusara Ibu berada?

Ke mana pun aku menebar pandangan, tak jua ketemukan pusara Ibu. Hingga lelah menderaku.

Tujuh tahun lalu aku menggotong mayat Ibu ke sini. Menguburkannya bersama dua saudaraku yang lain. Kami menjadi piatu, hingga berpencar kami tak menentu. Ayah kami tak lagi peduli, ayah kami pergi meninggalkan kami.

Kukatakan pada adik-adikku; pergilah. Jangan kembali sebelum mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Dan nyatanya, tujuh tahun kemudian baru kuraih segala mimpi. Aku mampu berdikari. Dan itulah sebabnya aku berani kembali. Tetapi, di mana adik-adikku?

Aku tak menemukan kedua adikku. Ke sudut mana pun aku memburu, tak pernah aku bertemu dua sosok itu. Kupenggal kerinduan itu, dan kucari kemudian jejak pusara Ibu. Tapi sekali lagi, sia-sia aku mencari.

Di mana, di mana pusara Ibu?

Tujuh tahun lalu ibu pergi meninggalkanku. Tubuhnya keringnya, habis termakan penyakit menahunnya, diabetes.

“Jika Ibu pergi, rawatlah pusara Ibu. Tak ingin Ibu melihatmu membiarkan begitu saja makam Ibu. Tengoklah setiap ada waktu. Doa-doamu selalu Ibu tunggu.”

Nyatanya, wasiat sederhana ibu menguap begitu saja seiring berjalannya waktu. Keinginan dan harapan untuk merubah keadaan menbuatku alpa melaksakanan wasiat itu. Pun demikian halnya dengan dua orang adikku.

***

“Mas Yusuf?” sebuah suara mengagetkanku.

“I…iya, Anda siapa?” tanyaku.

“Aku kawan masa kecilmu, Sukarlam.” jawab pemilik suara itu.

Aku mengernyitkan dahi. Sukarlam?!

 

Kutelanjangi wajah pemilik nama Sukarlam itu. Bayangan masa kecil menari-nari di pikiranku. Bocah lelaki ingusan berkulit legam tertawa riang sambil sekali-kali usil kepadaku. Hah, aku ingat! Dia Sukarlam!

“Di mana kau sekarang, Sukarlam? Sungguh, aku pangling!” aku menepuk pundaknya.

Sukarlam tertawa.

“Saya di Kediri, Mas. Kebetulan istri orang sana, dan saya buka usaha kecil-kecilan di rumah. Kalau Mas Yusuf sekarang di mana? Tampaknya dah jadi orang berhasil, ya?”

 

Aku tersenyum kecut. Orang seringkali menilai dari tampak luar. Hm.

“Mas Yusuf mau ziarah ke makam Ibu?” ia bertanya.

“Iya, tapi puluhan kali aku mengitari areal pekuburan ini, tak juga aku menemukan di mana pusara ibu. Aku lupa di mana tempatnya…”

“Boleh saya bantu, Mas? Nama ibu Mas Yusuf siapa?

“Minah, lengkapnya Suminah. Beliau meninggal tahun 1992. Waktu itu aku baru lulus SMA. Dua orang adikku terpaksa putus sekolah dan hidup berpencar.

 

“Aku lupa di mana pusara ibu….,” kembali aku bergumam.

Sukarlam membantuku mencari lokasi makan ibu. Satu demi satu ditelitinya nisan yang tertancap di tanah pekuburan itu. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami, teramat susah mencari pusara ibu di areal pekuburan kampung yang luas ini. Saat kutanyakan juru kunci, ia pun tak begitu mengenali. Sudah terlalu lama tak diurus ahli waris, sehingga jejak pusara itu sulit dilacak.

 

Selain banyak yang telah ditumbuhi ilalang liar, nisan yang terbuat dari kayu banyak yang telah lapuk dimakan panas dan hujan. Dan salah satunya mungkin milik ibuku.

“Susah, Mas Yusuf…” Sukarlam mengusap peluh yang mengucur.

“Ya sudahlah, mungkin ini karena selama ini saya mengabaikan wasiat ibu untuk memelihara makamnya…” aku menjawab lirih.

Kami berpisah kemudian. Kutelusuri kembali makam itu dengan hati bimbang. Mestikah aku kembali ke tanah rantau usai gagal menemukan makam ibuku?

 

Kebimbangan kembali menyergap hatiku. Besok aku mesti kembali ke kota. Hanya ada waktu hari ini untuk menuntaskan pencarian makam ibu. Tapi di mana?

Aku dudk beristirahat di bawah pohon kamboja. Angin semilir membelai wajah. Kantuk menyerang. Mataku tak kuat menahan kantuk. Dan aku pun tertidur…

“Anakku, berjalanlah ke arah selatan. Di balik pohon besar itulah makam ibu berada. Jaga diri baik-baik, ya?”

Aku terkesiap. Ibu, ibu! Aku bermimpi bertemu ibu…

 

Tanpa membuang waktu kucari makam ibu. Perhatianku terfokus pada pohon besar seperti yang dikatakan mendiang ibu dalam mimpiku. Setelah mataku menjelajah ke sana ke mari, kutemukan sebentuk nisan kayu yang telah lapuk.

Kueja nama yang tertera pada nisan itu. Meski huruf yang tercetak telah kabur, aku masih bisa membaca deretan huruf yang tertera di situ.

“S-U-M-I-N-A-H”.

Mataku terbelalak.

Kubaca tanggal lahir dan tanggal wafat yang tertera di situ. Sama persis dengan data milik mendiang ibuku! Aku menangis haru, aku telah menemukan pusara ibuku! Air mataku menetes. Bayangan ibu tujuh tahun silam menari-nari di kepalaku.

 

“Kau anak tertua, Yusuf. Tanggung jawab adik-adikmu ada pada tanganmu,” demikian pesan yang sering disampaikan ibu. Seketika ingatanku melayang pada dua adik lelakiku. Di mana, di mana mereka?

 

“Di mana adik-adikku, Ibu. Tunjukkan kembali lewat mimpi,” aku mengajak bicara ibu. Tapi tak ada jawaban.

Aku mencoba tidur di sisi makam ibu, berharap ada keajaiban datangnya petunjuk kewat mimpi. Tapi sia-sia. Hingga senja turun, hingga malam tiba, petunjuk itu tak datang jua…

Saat pagi tiba, kembali aku bertanya;

“Ibu, di mana adik-adikku?”

Tiba-tiba kulihat dua bocah kecil melintas di depanku, samar-samar. Kupanggil mereka, tertawa mereka. Adik-adikku! Aku tertawa, aku mengejar mereka…

 

“Mas Yusuf!!!”

Sebuah suara memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku terus mengejar dua adikku, dengan tawa yang sesekali keluar dari mulutku.

“Mas Yusuf!!! Kau tertawa dengan siapa? Kau mengejar siapa? Tak ada siapa-siapa di sini…”

Bagai bangun dari mimpi, mataku nanar….

Di mana adik-adikku?

“Hati-hati, Mas Yusuf. Orang bilang di sini angker. Kau jangan melamun di kuburan, bahaya! Ayo pulang!”

Sukarlam, kawan masa kecil yang kemarin bersamaku mengajakku pulang.

 

“Aku telah menemukan makam ibuku!” kataku riang.

“Di mana?” tanya Sukarlam.

“Di situ, di balik pohon besar!”

Aku menarik tangan Sukarlam.

“Mana? Mana pohon besar yang kau maksud, Mas Yusuf? Tak ada apa-apa di sini….”

Aku terperanjat. Mana pohon besar yang tadi kulihat? Mana makam ibu yang tadi nampak? Semua hampir sama, pekuburan kampung yang hampir tertutupi ilalang, tapi tak ada pohon besar…

“Tadi benar ada pohon besar di sini. Aku telah menemukan makam ibu,” aku meyakinkan sahabat lamaku.

 

Sukarlam tersenyum.

“Sudahlah. Doakan saja ibumu. Jangan menyendiri di tempat seperti ini. Tidak bagus. Doakan saja ibu agar ia tenang di sana.

“Tapi aku mau mencari adik-adikku. Ibuku menitipkan mereka padaku,” aku berusaha menolak ketika Sukarlam memaksaku untuk pulang.

“Besok aku bantu mencari adik-adikmu. Hari telah mendung, sebentar lagi hujan. Kau bisa sakit jika bertahan di sini. Mari singgah di rumahku.”

Dengan sangat terpaksa kuikuti langkah kaki sahabatku.

 

Tiba-tiba aku merasakan hembusan angin yang sangat kuat…

Aku berhenti melangkah. Angin berhembus semakin kencang, kencang dan kencang. Di antara deru bayu tak menentu itu, lamat-lamat aku mendengar suara ibuku;

“Yusuf…., Ibu di sini…, Ibu di sini…”

Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Gerimis mulai turun. Sukarlam telah jauh melangkah. Bulu kudukku merinding.

“Karlaaaam….., tunggu aku….”

Tapi Sukarlam terus saja berjalan, seolah tak mendengar teriakanku…*** (Selesai)

 

6 Comments to "Ibu di sini"

  1. R. Wydha  24 January, 2012 at 08:29

    terlihat suasana haru nyaaa…

  2. J C  23 January, 2012 at 22:16

    “….tunggu aku…kik…kik…kik” (ternyata Lani…haduuuuhhhh… )

  3. nu2k  22 January, 2012 at 22:38

    Mbak Ida, kalau mencarinya di komnpleks Pemakaman yang ada di foto mungkin malah bisa ditemukan. soalnya teratur sekali semuanya. Dan saya juga tahu dimana kotanya… ha, ha, haaaa… Jadi ikutan penasaran dan senewen karena acara pulang ini juga termasuk mau nyekar-nyekar ke keluarga dari pihak ayah… Mipir Selatan dan Timur pulau Jawa… Selamat beristirahat… Gr. Nu2k

  4. Mu Ammar  22 January, 2012 at 13:36

    wah bu ida, klo dlanjut tmbh seru nih, jd penasaran sama endingnya.

  5. Lani  22 January, 2012 at 10:56

    bikin merinding bulu kuduk-ku

  6. James  22 January, 2012 at 09:18

    ONE 4 Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.