Pengalaman Tinggal di Cairo (8)

Titin Rahayu

 

Apa aku menyukai Cairo sekarang ?? Eehhmmm bisa di bilang ‘ hate and love relationship ‘ saat ini hubunganku dengan Cairo.  Ada saat di mana aku mulai ‘ menyukai ‘ tinggal di Cairo karena cuaca yang menyenangkan, matahari bersinar, cukup hangat dan gak terlalu panas di siang hari,  rumah cukup bersih,  bahan makanan lumayan murah, seafood kesukaanku sangat mudah mendapatkannya dan lumayan murah harganya, makanan Indonesia gampang mendapatkannya, sangat bersyukur karena anak-anak mahasiswa Al-azhar yang cukup kreatif bikin tempe dan bakso kesukaanku, teman-teman yang menyenangkan baik teman dari Indonesia atupun non Indonesia, dan ada kalanya aku begitu membenci Cairo kerena debu-debunya, karena sampahnya, karena orang-orangnya sangat tidak peduli dengan lingkungan mereka dan selebihnya aku cuman ‘ tutup mata ‘ saja dengan sekitarku.

Saya yakin betul, bukan cuman aku saja yang ‘ tutup mata’ dengan keadaan orang-orang itu, tapi kalo kita berusaha membantu secara langsung bukan trimakasih yang kita dapat, tapi bisa-bisa kita di jadikan salah satu sumber pendapatan pribadi mereka, dan untuk melepaskan diri bukanlah hal yang mudah pula.  Aku belajar, kalo memang berniat membantu sebaiknya di berikan atau di salurkan ke organisasi sosial yang ada di Cairo.

Dari mereka pula aku tahu kalo ada banyak anak-anak di bawah umur yang di pekerjakan oleh orang tua mereka dan kalo mereka pulang dengan tidak membawa uang, mereka akan di pukuli.  Mungkin hal ini juga terjadi di Indonesia tapi  sampai saat ini aku belom pernah tahu.

Terkadang aku bertanya-tanya kenapa di masa lalu Egypt sangat terkenal dengan adat dan budayanya, sedangkan saat ini yang aku lihat cuman kemiskinan dan kesemrawutan yang ada, dalam hati aku bertanya, apa benar cerita sejarah itu ?? atau itu cuman isapan jempol belaka ?? Banyak yang bilang kalo orang-orang Egypt itu banyak yang pintar. Pintar ??? yeah. . nenek moyang mereka jelas orang-orang yang cukup pintar dengan bukti dibangunnya pyramid, tapi generasi mudanya, cuman tanda tanya saja (AKA generasi memble).

Kalo ada yang marah dengan pernyataanku di atas, biasanya aku suruh mereka ke Sakara pyramid, karena di sanalah kita bisa melihat gimana kehidupan mereka di masa lalu.

Menurutku di Sakara pyramid lah sumber informasi dan sejarah Egypt di masa lalu, tidak di pyramid besar. Kalo berkunjung ke Sakara pyramid sangat, sangat di anjurkan buat membawa guide. Yang mengejutkan di jaman itu kemungkinan ada kaum gay, kata guidenya.

Jangan suruh aku mengulang cerita dari guidenya yaaa, aku sudah lupa, tapi yang pasti mengunjungi Sakara pyramid gak bakalan mengecewakan.

Dari cerita si guide pada jaman itu penduduk Egypt sangatlah makmur dengan hasil bumi mereka. Sepanjang jalan menuju Sakara pyramid memang terdapat ladang pertanian penduduk setempat, Kalo di Cairo sebagian besar daun-daunan sudah berwarna coklat tapi di sepanjang jalan itu dedaunan benar-benar berwarna hijau segar. Benar-benar menyegarkan pemandangan mata.

Bersambung…

 

22 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (8)"

  1. Dj.  25 January, 2012 at 01:34

    probo Says:
    January 23rd, 2012 at 23:09

    hahahha ora ngerti PakDj……
    embuh…..
    ——————————————-

    Bu GuCan….
    Ora ngerta apa….???

    Embuh…mbuh….mbuh..ra weruh….!!!
    Embuh…mbuh…mbuh…ra weruh….!!!

    Koyo ngene rasane…
    Dadi wong ora nduwe…
    Ngalor ngidul di ece…
    Karo kancane dewe….

    Embuh…mbuh…mbuh…ra weruh…!!!

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  24 January, 2012 at 12:56

    Kairo selalu miring dalam tulisan ini. Gimana kalau Kailitan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.