Serasa Ikut Imlek

Anastasia Yuliantari

 

Imlek atau Tahun Baru Cina dirayakan oleh kebanyakan komunitas Tionghoa di seluruh dunia, juga di Manggarai. Walau  mempunyai seperdelapan darah  Tionghoa dari pihak ayah, aku tak pernah bersentuhan dengan budaya ini, kecuali bersukacita karena tanggal merah yang berarti hari libur di saat Imlek.

Namun, keadaan justru berbeda ketika aku tinggal di Manggarai dan mulai ikut-ikutan Max memberi bimbingan belajar bagi putra-putri keluarga etnis Tionghoa di sini. Sejak beberapa tahun belakangan ini, aku selalu kecipratan suasana dan parcel Imlek dari mereka. Juga cerita manis dari para murid tentang berapa banyak angpau yang mereka dapat dari sanak saudara selama perayaan.

“Ini coklat untuk Ibu Tia.” Kata salah seorang muridku sambil menyodorkan sebatang Toblerone.

“Wah, jangan, dong. Kan, mama membelikan ini untukmu.” Tolakku.

“Bukan, Ibu. Coklat ini saya beli dengan uang angpau. Nih, masih banyak yang lainya.” Tunjuknya ke dalam tas.

Terima kasih kalau begitu. Lalu mulailah kisah berapa angpau  untuk masing-masing anggota keluarga dimulai. Tentu saja dengan canda dan tawa yang membuat suasana setelah belajar menjadi begitu ceria.

Dua hari menjelang Imlek tahun ini, anak-anak juga mulai memperingatkan agar les libur saat Imlek. “Senin kami libur, ya Ibu. Kan kami Imlek.”

“OK, saya juga akan pergi ke kampung untuk liburan, nih.”

Bila anak-anak minta libur les, orang tuanya justru meminta datang ke rumah dengan melalui telepon. “Ibu nanti sore bisa ke rumah kah?” Lho, keperluannya? “Kami ada sedikit bingkisan.”

Lalu mulailah Max dititipi beberapa parcel oleh orangtua murid dimulai dari buah-buahan, yang pasti buah-buahan begini sangat langka di Ruteng, lengkap dari apel Washington, Kiwi New Zealand, anggur California, pir dari Cina, sampai manggis yang tak pernah kulihat keberadaanya selama tinggal di sini. Esoknya giliran macam-macam snacks, cakes, dan cookies. Hadduhhh dari siapa, sih?

“Biasalah,” kata Max sambil menyebutkan beberapa keluarga yang sangat akrab dengan kami.

Dan hari Minggu ini kami tak pulang ke kampung karena ada pesanan untuk menunggu hantaran makanan dari salah satu keluarga.

“Hari Minggu malam kami antar, ya Bu. Kira-kira jam enam.”

Ah, berarti kami tak perlu masak paling tidak sampai hari Selasa (walau biasanya kami juga jarang masak, hehehe) Gantung periuklah kami dan giliran memasak ditiadakan tentunya. Bisa leha-leha sambil membaca dan bercengkerama jadinya.

Jadi, walau tak merayakan Imlek rasanya jadi ikut merayakan juga dengan berbagai macam masakan, buah-buahan, dan  makanan ringan yang ada. Tinggalah menunggu mungkin ada yang datang berkunjung ke rumah untuk ikutan mencicipinya. Eiitttsss…tapi jangan lupa bawa angpau untuk kami, ya.

Selamat memasuki tahun Naga Air, bagi saudara-saudari yang merayakan Imlek. Semoga tahun baru ini membawa berkat yang melimpah untuk anda semua. Gong Xi Fa Cai.

 

16 Comments to "Serasa Ikut Imlek"

  1. erni  9 February, 2012 at 15:15

    ha..ha.. mas sumonggo, pantunnya bisa aja ha..ha…

  2. Dj.  26 January, 2012 at 02:22

    Mbak Anastasia….
    Maaf, baru saja Dj. lihat lagi artikel mbak Anastasia, lha kok komentar Dj. ngilang…
    Dj. pikir mungkin terlalu kasar, jadi tidak diterima….hahahahahaha…!!!
    Dj. ulangi dan jangan marah ya….

    Kan mbak anastasia guru, jadi Dj. yakin pasti sangat sabar ….

    Hanya ingin membandingkan aantara guru di Indonesia dan guru di Mainz atau Jerman pada umumnya….
    Kalau Dj. baca cerita diatas, bahwa mbak Anastasia, sebagai guru, masih boleh terima hadiah dari murid.
    Di Mainz, tidak mungkin, baik murid atau guru harus ada distan.
    Tidak mungkin bisa menerima haidah, apapun bentuknya, akan dicurigai, sebagai suap…
    Bisia jadi, kalau murid main kerumah guru dan bawa hadiah, tapi itupun belum pernah dengar.
    Tapi kalau anak-anak ( murid ) lulus ujiian, mereka ngumpulin uang dan beli hadiah untuk kenang-kenangan, itu Dj. pernah lihat dan tau.
    Guru juga tidak boleh marah ke murid, apalagi sampai mukul, pagang saja tidak boleh….

    Paling menasehati, baik didepan kelas, atau akan dipanggil untuk bicara 4 mata.
    Kalau tidak ada kesepakatan, paling ya nilainya yang akan jatuh ( jelek ).

    Pernah ada teman yang pulang ke Indonesia, untuk seterusnya.
    Karena sang ayah dapat pekerjaan yang sangat bagus.
    Mereka punya dua anak yang masih duduk di SMP dan SMA….
    Mereka hanya tahan 1 tahun, karena anaknya stress berat, harus mengikuti aturan yang untuk mereka tidak masuk akal.
    Bahkan kalau ada kesalahan, masih kena strap berdiri didepan kelas, atau nulis kalimat 100 X. Dll….
    Dan mereka sering adu argumentasi dengan guru, walau mereka mersa benar, tapi tetap saja kena strap…
    Akhirnya dokter manganjurkan agar kembali ke Jerman.
    Sekarang anak-anak mereka, satu sudah jadi dokter dan yang satu jadi pengacara.
    Mereka bilang, kalau nekat hidup di Indonesia saat itu, anak-anak pasti akan jadi pemberontak…
    Nah ya, lain ladang lain belalang ya….

    Di Jerman, anak-anak di minta menampilkan kemampuannya dan akan dihargai…
    Semua idee-idee anak-anak akan diseleksi dan mereka akan saling berjuang menjadi yang terbaik.
    Jjadi mereka juga saling bersaing untuk menampilkan kepandaian mereka….

    Nah, maaf kalau kata-kata diatas tidak berkenan….
    Ini hanya cerita kenyataan saja, dimana Dj. dulu juga sekolah di Indonesia, malah sering oleh guru dibilang…
    Kamu tau apa…???!!! Malah dengan menjenggung kepala Dj.
    Hahahahahahaha….!!!

    Salam manis dari Mainz…..

    Dj. yakin mbak Anastasia dan Max adalah guru yang baik.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  24 January, 2012 at 13:03

    Imlak akan menjadi simpul semua golongan dan kepercayaan untuk saling merayakan. Hari-hari besar lainnya kurang akrab, karena terbentur ego mereka. Tidak boleh-lah, haram-lah..Imlek untuk semua golongan siapa saja.

    Khung Tsi Fat Thsai.

  4. anoew  24 January, 2012 at 09:41

    Lalu mulailah Max dititipi beberapa parcel oleh orangtua murid dimulai dari buah-buahan, yang pasti buah-buahan begini sangat langka di Ruteng, lengkap dari apel Washington, Kiwi New Zealand, anggur California, pir dari Cina, sampai manggis….

    Wah, syedapnya.. Untung gk ada yang ngirimin dingklik dari Pakem..

  5. R. Wydha  24 January, 2012 at 08:13

    Gong Xi Fa Cai,,, salam hangat…

  6. Sumonggo  24 January, 2012 at 06:14

    Ada tokèk jilat ba’pia,
    biar bokèk yg pentIng sin-cia.

    Ada rayap makan ba’pao,
    mohon maap, nggak ada angpao.

    Buah lèchi daun kucai,
    ku ucapkan Gong Xi Fa Chai

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.