Sam, kapan kau pulang (2)?

Cinde Laras

 

Artikel sebelumnya:

http://baltyra.com/2012/01/11/sam-kapan-kau-pulang/

Angin kencang berhembus menggoyangkan pepohonan di sepanjang tepian jalan setapak di areal parkiran. Mataku menatap lurus ke depan. Hhh…, hari ini bakal menjadi hari yang panjang…. Ada tiga pekerjaan yang harus selesai siang ini, dan bakal ada banyak lagi barang yang harus kupesan ke supplier atau Senin nanti  pabrik tak akan bisa operasi. Hari Jumat yang akan penuh dengan ngotot dan debat kusir saat meeting antar departemen. Selalu ramai seperti pasar sampai meeting selesai.

Aku lemparkan badanku ke kursi kerja, masih sepagi ini dan rasanya aku sudah penat memikirkannya. Hff…, semoga saja hari ini akan ada vitamin yang bisa menjernihkan mata. Gadis karyawati baru yang sudah tiga minggu ini bekerja di departemenku. Muda, cantik, cerdas, dan …ini yang penting – roknya mini. Betul-betul vitamin buat mata bila sedang suntuk memikirkan pekerjaan yang selalu menumpuk di setiap harinya. Tapi aku bukan lelaki bangsat seperti beberapa rekan kerjaku yang dengan sengaja selalu mencari cara agar bisa menggoda gadis itu. Aku cukup sopan dan selalu menjaga jarak dengannya. Cukuplah hanya melihat dari jauh, atau bicara sekedarnya saja soal pekerjaan. Tak lebih.

Pikiranku sedang penuh dengan Hermin. Sudah seminggu ini aku meninggalkannya sendiri di rumah kami yang mungil. Dia perempuan yang aku kawini. Dia perempuan paling bawel dan manja. Seperti kucing. Sebentar-sebentar mengeong minta perhatian, sedikit-sedikit menggerutu seperti tawon berdengung di telingaku. Aku mengawininya dengan sebongkah cinta dan seraup asa. Tapi itu ternyata tidak cukup bisa memuaskannya. Dia tetap bawel dan manja. Semua yang kukerjakan bermasalah baginya. Begini salah, begitu salah. Sumber kekesalan yang membuatku sebal adalah mendengarkan ocehannya tentang ini -itu yang tak berkesudahan. Bosan? Tentu saja aku sangat bosan pada keluhannya.

“Jangan kau letakkan sepatumu di bawah meja, Sam…. Siram toilet setelah kencing, Sam…. Apa kau tak bisa meletakkan piring kotormu ke rak cucian piring, Sam…? Nye…nye…nye…nye…nye….”, mulutku mencibir menirukan suara perempuanku. Peduli amat! Sebal….

Aku tak menyangka bakal sesulit itu hidup bersamanya. Sudah lima tahun kami menikah, dan dia masih saja suka mengatur-atur apa yang harus aku lakukan. Harus begini, harus begitu, jangan begini, jangan begitu…. Seperti polisi pengatur dunia. Semua harus berjalan dengan aturannya.

Huh…! Apa sih salahnya meletakkan sepatu di bawah meja? Dia kan di rumah seharian? Dia kan bisa menyimpankan sepatuku pada tempat yang dia mau. Dan aku memang sering kali terlalu capek sesampaiku di rumah. Hingga aku tak lagi memedulikan harus diletakkan dimana sepatuku. Masih untung aku bisa berjalan masuk ke kamar meski dengan kaki pegal begitu, kalau tidak bisa-bisa aku memilih tidur saja di sofa ruang tamu. Apa bedanya? Toh yang kubutuhkan hanya tidur…tidur…dan tidur.  Aku lelah, Hermin…. Jadi jangan lagi kau tambah lelahku dengan ocehanmu yang seperti burung beo itu.

“Kau selalu saja tak mau membalas pesanku. Apa kau benar-benar tak ada waktu? ” tanyanya tiap kali.

Hhh, perempuan itu…, sudah berapa kali aku katakan padanya supaya tak menggangguku dengan kiriman sms. Aku sibuk. Tapi tiap kali dia tetap saja mengirimiku sms, seolah tak cukup baginya hidup hanya dengan mendapatkan ciuman di pipi dan lambaian tangan saat aku berangkat ke kantor. Lihat istri-istri tetangga itu…. Tak ada seorang pun di antara mereka yang mendapat ciuman istimewa dari suaminya saat akan ditinggal ke kantor. Jadi kau harus bersyukur, Hermin…. Kau sudah mendapatkan cintaku yang tak terkira besarnya padamu, meski hanya tergambar dari sebuah ciuman di pipimu.

“Kenapa aku tak boleh telpon ke kantor, Sam? Lalu bagaimana kalau nanti ada urusan darurat yang harus aku sampaikan padamu? Kau ini…”, keluhnya suatu kali.

Ahh…, perempuan itu tak juga mau mengerti. Aku tak bisa seenaknya menerima telepon saat aku bekerja, atasan pasti akan menegurku. Aku heran menghadapinya. Bagaimana mungkin dia tak juga mengerti? , sementara aku sudah sering kali memberitahunya hal-hal seperti ini.

Aku pikir aku sudah cukup memberinya kasih-sayang dan cinta. Aku juga sudah merasa cukup bersabar dengan kerewelannya. Aku pernah berpikir kalau kebawelannya itu cermin dari kesepian yang dirasakannya setiap saat di rumah kami. Bisa jadi belum hadirnya buah hati di antara kamilah yang membuatnya jadi perempuan bawel seperti sekarang ini. Tapi aku pikir seharusnya dia tak perlu bertingkah menyebalkan seperti itu. Dan kian hari, rewelnya kian parah saja. Bikin pusing.

“Kak Sam, ini file yang kemarin diminta…. Saya letakkan disini, ya? ”, Sonia, gadis muda anak baru itu meletakkan file yang kemarin kuminta di atas meja. Dia tersenyum manis, lalu berbalik ke mejanya sendiri. Gerakan panggulnya saat berjalan membuatku harus menahan napas. Gadis itu memang menarik sekali.

Aku ambil file itu dan memeriksanya. Gadis itu ternyata tak cuma cantik, tapi juga sangat cekatan. Tak mudah mencari file setipis ini di antara tumpukan arsip di lemari yang berantakan, hasil kerja Jono karyawan lama yang dulu memegang itu. Dan Sonia bisa mencarinya dengan sabar. Hmm…sabar…. Sebuah kata yang sangat sulit kutemui pada diri Hermin.

Dulu, Hermin selalu melayaniku dengan telaten. Dia adalah pacar yang bisa kuandalkan. Penuh perhatian, pengertian, dan dia memberiku rasa nyaman. Itu juga alasanku menyuntingnya. Meski tak mudah untuk bisa saling menyamakan persepsi dalam banyak hal, tapi kami sangat saling mencintai. Hanya saja, yang kulihat pada diri Hermin kini sungguh jauh berbeda dengan yang aku rasakan dulu. Dia jadi terlalu sensitif dan posesif. Dan entah mengapa akhir-akhir ini dia begitu menyebalkan, seperti anak kecil mencari perhatian.

“Sudah enak apa belum opornya? ” tanyanya suatu kali.

Aku coba mencicipi. Aku pikir rasanya sudah enak, jadi aku mengangguk saja. Tapi Hermin marah, katanya kuah opornya keasinan. Dia bilang seharusnya aku bisa merasakan bedanya. Jadi….itu salahku? Bagiku tak ada bedanya opornya keasinan atau kurang garam, karena kesanggupannya memasak untuk kami pun sebenarnya sudah cukup membuatku berselera makan. Lalu apa yang dia ributkan? Menyebalkan…. Dan kian hari kerewelannya semakin bertambah saja. Tak cuma memasak yang selalu dia khawatirkan, tapi juga dekorasi interior rumah kami, bentuk badannya yang menurutnya tambah berisi (padahal menurutku tidak), model baju yang harus dia kenakan saat akan pergi denganku, riasan wajahnya, dandanan rambutnya, model sepatunya, la la la la la la……. Membosankan sekali.

Dulu Hermin tak seperti itu. Dia kini sangat berubah. Di tengah kesibukanku yang semakin menyita waktu, haruskah dia bertingkah begitu? Salahkukah semua ini?

Aku tersadar dari lamunanku dan segera menyibukkan diri dengan setumpuk berkas yang teronggok di depanku. Perusahaan berniat untuk menambah jenis produk dan akan segera launching bulan depan nanti. Semua harus kami persiapkan dengan seksama. Aku menekuninya hingga tak ingat lagi pada apa yang kupikirkan tentang Hermin. Hmm…, biarlah aku melupakannya barang sejenak, Tuhan. Aku kan sudah berusaha menjauhinya agar kami masing-masing bisa saling mawas diri. Moga-moga dia menyadari sikapnya, seharusnya begitu. Ah…, tololnya…, mengapa aku memikirkannya lagi? Hhh….

Hari sudah menjelang pukul 9 malam saat aku keluar dari kantor. Kemacetan di jalan membuatku enggan meninggalkan kantor cepat-cepat. Aku tak mau sesorean terjebak kesemrawutan lalu lintas kota yang kian hari kian memusingkan dan bikin stress juga boros ini. Mobil kubuka dengan kunci. Sudah hampir sebulan ini alarm mobil ngadat, tak mau berfungsi. Namanya juga mobil tua, aku maklumi saja bagaimana kondisinya. Saat ini perusahaan sudah tak lagi mau meminjamkan operational car pada karyawan. Semua pegawai hanya diberi uang pengganti transport bulanan. Biar irit, katanya…. Aku jadi iri pada pegawai-pegawai negeri yang bisa mondar-mandir bawa mobil kesana-kemari dengan kendaraan aset negara. Enak juga kelihatannya bisa jalan-jalan bawa keluarga dengan naik mobil plat merah, meski itu bukan di hari kerja. Tentunya tak perlu pusing bakal kena razia STNK dari pak polisi. Kan…milik negara.

“Coba kau dulu mendaftar jadi PNS, Sam…. Kita tak perlu lagi merasa was-was bila musim rasionalisasi pegawai tiba di saat krisis moneter seperti ini…”, celoteh Hermin suatu kali.

Aku dengarkan saja dia bicara. Hmm…, aku tak pernah bisa terlalu lama duduk berpangku tangan di depan meja kosong yang sepi aktifitas seperti di kantor instansi pemerintah. Aku suka bekerja, aku suka tantangan, karena itu semua membuatku hidup. Lalu apa jadinya kalau aku cuma jadi PNS yang lebih sering keluyuran di saat jam kerja seperti pegawai-pegawai berseragam sipil yang lalu-lalang keluar-masuk pasar di siang hari bolong itu? Aku tak mungkin bisa begitu….

Sebenarnya, kantor sudah berencana melakukan restrukturisasi pegawai lagi. Beberapa pegawai senior sudah digeser oleh tenaga yang lebih muda dan menguntungkan bagi perusahaan karena gajinya tidak begitu tinggi. Aku baru bekerja empat tahun disini, dan aku kira aku sudah cukup banyak memberikan kontribusiku pada perusahaan dan pekerjaanku. Seharusnya aku tak perlu khawatir karenanya. Tapi entah mengapa pikiranku tak tenang kali ini. Tekanan pekerjaan ini membuatku sedikit tertekan.

Biasanya Hermin menghiburku saat aku jenuh seperti ini. Aku biasa meletakkan kepalaku di pangkuannya dan menikmati setiap elusan tangannya yang hangat di rambutku. Saat-saat kami mesra bersama, saat-saat kami bisa berbagi rasa. Hanya saja, cerewetnya itu yang tertahankan.

“Apa sih maunya bosmu itu? Mengapa sih dia berbuat begitu? Untuk apa menyalahkan orang yang tak ada sangkut-pautnya dengan kerugian perusahaan? Kamu kan bukan staf marketing? Apa dia tidak bisa bersikap obyektif? Dia kan juga tak selalu benar…. Orang kok semau-maunya sendiri memperlakukan karyawan…”, perempuanku menggerutu.

Aku sudah mendengarkannya berkali-kali, dia mengoceh seperti beo sampai pagi. Aku jadi tak bisa tidur, karena dia terus saja mengoceh. Sampai pagi! Hermin…, kali ini kau tak mampu menghiburku. Kau malah bikin aku tambah pusing. Semua jadi tambah rumit ketika paginya aku mengantuk karena semalam kurang tidur. Aku jadi telat ke kantor. Bos mengomel. Dan aku jadi bulan-bulanannya sepanjang hari itu. Hermin! Ini semua karena ocehanmu!

Mobil memasuki halaman parkir sebuah rumah kost yang luas. Aku menginap di rumah Roy selama beberapa hari ini. Dia teman kuliahku dulu. Masih bujangan. Kakiku mendekat ke arah pintu ketika sekilas kudengar suara desah perempuan dari dalam kamar kost temanku. Sejenak aku terpaku, urung mengetuk pintu. Tanganku masih menggantung di atas pegangan pintu saat desah demi desah kembali kudengar. Lalu aku tersadar, aku tepuk jidatku sendiri.

Biiip….biiip…biiip….

Suara handphone tiba-tiba terdengar. Cepat-cepat aku membukanya.

Sam, kapan kau pulang?

SMS dari Hermin! Tiba-tiba aku jadi ingin cepat pulang….

 

 

13 Comments to "Sam, kapan kau pulang (2)?"

  1. anoew  25 January, 2012 at 23:44

    saat desah demi desah kembali kudengar.

    aaah… ssssshhh.. aaaah…..

    *kepedesan makan indomie..*

  2. anoew  25 January, 2012 at 19:44

    Rupanya gara-gara desah di balik pintu yg bisa mengingatkan Sam kalau masih ada Herminthuk yang meskipun bawel, tapi sangat mencintainya.

  3. Dj.  25 January, 2012 at 01:28

    Pulang nanti akhir bulan Juli.
    Bagaimana, apa kita bisa bertemu….???
    Kalau “ya”, dimana …???

    Mbak C.L.
    Salam manis dari Mainz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.