Road to PKK (2)

Adhe Mirza Hakim

 

Artikel sebelumnya:

Road to PKK (1)

 

Gong Xi Fa Cai…… semoga para Baltyrans masih tertarik untuk baca sambungan kisahku trip to PKK ku ini, maklum lagi kena virus “males nulis”, tapi tetap harus dilawan, hehe…. lanjut ya.

Minggu, 25 Desember 2011, Kuching , Serawak.

Perjalanan dengan bus malam dari Pontianak ke Kuching lancar jaya, walau cuaca hujan di luar.  Anak-anak tidur dengan nyenyak, aku mencoba memperhatikan suasana di luar, tidak banyak yang bisa aku perhatikan terlalu gelap di luar.

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul  05 subuh, cuaca masih terus mengguyur bumi.  Bus sudah mendekati perbatasan antara Indonesia dan Malaysia,  Pos Imigrasi Entikong terlihat dari balik jendela bus , tampak seorang bapak umur 40 an th mendekati dua orang penumpang laki-laki (usia 20 – 30 an th) yang kebetulan duduk di belakangku. Tampaknya  tampilan para TKI yang mau masuk ke daerah perbatasan sudah dikenali. Tak lama kemudian terjadi tawar menawar uang masuk agar bisa lolos ke pemeriksaan pihak imigrasi kedua Negara. Praktek percaloan memang tidak ada habisnya pikirku.

Salah seorang awak bus, menyampaikan pesan kepada semua penumpang bus, bahwa ada sedikit kendala mesin di bus, rem mobil agak bermasalah, jadi kami akan bertukar bus setelah memasuki  wilayah perbatasan. Kebayang deh dalam kondisi hujan harus ganti bus, huhuhu…

Para penumpang diminta turun dari bus untuk nge-cap passport di pos imigrasi, suasana kantor imigrasi tampak dipenuhi para pelancong yang mau melintas perbatasan, baik urusan pekerjaan maupun yang mau berliburan, serta wajah para calo yang siaga mengintai para calon TKI. Saat sedang mengantri ada seorang laki-laki bertanya apakah kami sudah mengisi slip melintas batas dari imigrasi Indonesia, aku yang belum mengisi disarankan membereskan dokumen tersebut sebelum antri di loket imigrasi.

Aku memandang wajah laki-laki yang menawarkan bantuan itu dengan perasaan curiga, aduh aku lagi berhadapan dengan para calo pelintas batas, aku berusaha mengacuhkan tawaran mereka, masih teringat dengan calo yang di atas bus sebelumnya yang meminta bayaran cukup tinggi, jangan-jangan untuk sekedar mengisi dokumen pelintas batas mereka mau mengutip cukup besar.

Akhirnya suamiku yang berurusan dengan para penawar jasa itu, pokoknya  yang aku tahu urusan isi dokumen beres. Kami bisa melalui pos imigrasi Entikong dengan lancar.  Pos imigrasi “Tebedu” menyambut kami,  tidak terlihat perbedaan menyolok soal tampilan kedua pos imigrasi ini.

Pos Imigrasi Tebedu

Pemeriksaan di Tebedu sama lancarnya,  kami sempat membaca beberapa  peraturan yang terpampang di billboard besar tentang larangan-larangan tertentu yang menghalangi seseorang melintasi pos imigrasi tersebut.

Kami mengambil beberapa foto sebelum meninggalkan pos Tebedu, pagi itu gerimis masih mengguyur dan kabut terlihat jelas menutupi puncak perbukitan yang menjadi batas alam antara Indonesia dan Malaysia.  Bus yang kami tumpangi berjalan perlahan (teringat soal kerusakan rem jadi ngeri), masuk ke SPBU milik Petronas, berhubung hari minggu dan bertepatan dengan Natal, SPBU itu tutup.

Kami harus segera pindah ke bus baru yang akan membawa kami ke kota Kuching. Hujan semakin deras, benar-benar tidak nyaman keluar bus dalam keadaan kehujanan plus mindahin barang pula, untungnya  bapake mau dengan sabar melakukannya, hehe.

Perjalanan pagi ke Kuching kurang lebih 1,5 jam, pagi yang basah hujan sepertinya tidak mau berhenti, aku memandang jalan raya yang kami lalui sangat mulus, bangunan rumah di kanan kiri jalan yang tertata rapih, menjadi tanda bagaimana teraturnya pemda Kuching menata wilayahnya. Aku baca di Wikitravel, bahwa Kuching adalah kota yang paling terbersih diantara kota-kota yang ada di Negara Malaysia.

Pemandangan yang aku lihat dari balik jendela bus agak membosankan, ditambah cuaca hujan bawaannya dingin, sangat mendukung untuk tidur,  bapake dan anak-anak tertidur pulas. Hanya aku yang terjaga karena ingin menikmati pemandangan kota Kuching selintas pandang.

Terminal Batu Tiga

Ini adalah terminal bus antar kota yang menjadi tempat terakhir dimana kami harus turun. Aku belum punya plan untuk memilih moda transportasi apa untuk city tour sesampai di Kuching, data nomor-nomor telpon jasa penyewaan mobil sudah aku kantongi, tapi koq aku merasa lebih sreg untuk meminta tolong ke supir bus SJS yang kami tumpangi.

“Pak, bisa bantu untuk mencarikan mobil sewaan buat city tour?”

“Oh bisa bu, tunggu sekejap ya,” pak supir tampak menghubungi beberapa nomor seluler, semua penumpang bus sudah pada turun semua, termasuk bapake dan anak-anak, tinggal aku saja yang masih membutuhkan informasi dari si pak supir.

Aku tidak mau terlalu lama menunggu, aku beri nomer selularku biar pak supir bisa menghubungiku jika sudah mendapat nomer telpon supir mobil carteran. Aku berjalan memasuki ruang tunggu terminal, luasnya hanya sebesar terminal Kampung Melayu, tetapi penataannya rapih dan tidak bau pesing khas terminal-terminal bus di tanah air, aku menemui bapake dan anak-anak, meminta mereka untuk menunggu beberapa saat sampai dapat mobil carteran yang kami maksud, sebenarnya mobil taksi banyak tapi aku tidak tertarik, lalu aku coba menghubungi beberapa nomor telpon jasa penyewaan mobil yang kudapat dari Wikitravel, tidak ada satupun yang diangkat, maklum ini hari Natal, hari besar jadi jasa penyewaan mobil juga tutup.

Mau naik bus, kalau cuaca cerah tidak masalah, ini hujan kebayangkan malesnya nunggu bus basah-basahan hehe. Akhirnya aku dapat konfirmasi mobil carterannya bisa menjemput kami, sebelum mobil datang kami diminta dulu naik ke lantai dua terminal, ada kafetaria di sana.

Tidak begitu ramai suasananya, kami memesan Nasi Kari, Khuai Mie dan Mie Goreng, pilihan yang berbeda sesuai selera makannya, buat minumannya kami kompak memilih Teh Tarik (teh susu). Berhubung memang lapar apa yang dimakan enak saja hehe, soal harga yah relative murah total yang kami bayar kurang dari RM 40. Ini murah untuk standart Malaysia, kalau mau dibandingkan dengan kelas Warteg nya Indonesia yah kalah jauh. Enak warteg kemana-mana, sekaligus murah  (bahkan bisa kas bon pula khusus buat anak-anak kost hehe), jadi perorang kena harga @ RM 10 (+/- Rp.30.000,-) untuk jajan sarapan pagi.

Makan selesai, kami turun ke bawah  kembali, aku di sms oleh supir mobil untuk menunggu beberapa saat lagi, duuh lama juga ya…tampak bapake sudah bosan menunggu, aku menelpon supir mobil carteran yang direkomendasikan tersebut, ternyata seorang perempuan, namanya ibu Dora. Hmmm….boleh juga dapat sopir perempuan.

Mobil carteran kami tiba juga, jenisnya sedan merk Proton Saga, warna biru muda metallic. Ibu Dora sangat familiar sikapnya, kami merasa nyaman bersamanya,  dia tidak sungkan untuk berkisah tentang apa saja yang kami temui di jalan, benar-benar guide yang baik.  Dia turut prihatin dengan kondisi cuaca yang hujan sepanjang hari, sudah jauh-jauh datang dari Indonesia mau melihat kota Kuching eh ketemu hujan, hehe…. kami harus menerima keadaan ini lha sudah tahu bulan Desember musim hujan.

Tune Hotel

Jam masih menunjukkan pukul 11 siang, mau check in ke Tune Hotel di daerah Waterfront belum bisa, tapi tidak ada salah untuk  mencari tahu lokasinya. Tune Hotel terletak di jalan Borneo, dekat Waterfront, lokasinya sangat strategis, recommended buat temans yang mau menginap di sini, kalau mau jalan-jalan ke mall dan pertokoan dekat, cukup jalan kaki tidak sampai 5 menit.

Aku menunjukkan print out reservasi online ku, ternyata check in tetap harus pukul 2 siang, jadi kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Waterfront. Hujan masih setia membasahi bumi, foto-foto sambil kehujanan sudah takdir yang harus dilalui hehe… tetep cheer up dong.

Waterfront

Waterfront adalah daerah di sepanjang sungai  Serawak yang membelah kota Kuching.  Di seberang sungai ada Astana suatu bangunan yang dibuat oleh Sir Charles Brooke (Gub jenderal inggris yang pertama di Serawak) yang dipersembahkan untuk istrinya. Kini gedung Astana (Istana) dihuni oleh Yang di Pertuan Agung Serawak bersama keluarganya. Di dekat Astana ada gedung Dewan Undangan Negeri  (DPR) tampilan gedung ini cukup menarik, aku membayangkannya seperti kue hehe. Karena hujan kami harus bergegas saat memotret dan dipotret.

Di tepi Waterfront ada bangunan tua yang bentuknya  mirip benteng, Fort Margherita merupakan bangunan yang berada di sisi sungai Serawak, dibangun th 1879 gunanya untuk melindungi kota Kuching dari serangan pihak luar. Saat ini bangunan sudah beralih fungsi menjadi Museum Polisi, sayangnya hari Minggu bertepatan dengan hari Natal, semua Museum tertutup.

Bu Dora menawari kami untuk turun di Little India street didaerah pertokoan tua dekat Waterfront, selintas aku perhatikan koq mirip jalan didaerah Pasar Baru Jakarta, hadeew…males ah, mana hujan masih turun. Mana enak menyusuri Little India sambil kehujanan.

Sunday Market

Akhirnya ibu Dora mengajak kami ke Sunday Market, yang banyak menjual pernak pernik khas Serawak, cocok nie buat cari oleh-oleh di jalan Satok,  Pasar ini hanya ada di akhir pecan, yaitu hari Minggu, kebetulan hari itu hari Minggu jadilah kami mampir kesana. Kami hanya membeli sedikit souvenir,  hujan yang masih terus turun membuat kami tidak bisa berlama-lama di Sunday market. Di pasar ini bukan hanya  menjual souvenir, ada juga makanan dan kue-kue  serta aneka pakaian dan kaos.

Kami membeli sedikit keripik dan soft drink buat ngemil dalam mobil, ibu Dora menyarankan kami mengunjungi Sinar Serapi Park,  tiba dilokasi ternyata suasananya mirip wahana  waterpark dalam bentuk kecil, ah sungkan mau memasukinya.

Kami melanjutkan perjalanan ke Santubong, kurang lebih 40 menit dari kota Kuching, ada lokasi wisata disana Damai Beach dan Sarawak Cultural Village, dimana kita bisa menyaksikan tarian  dan kehidupan khas suku-suku asli yang hidup disekitar Serawak, yaitu Bidayuh, Ulu dan Iban.

Dalam perjalanan, bu Dora menunjuk bentuk Gunung Santubong, jika dari jauh tampak seperti silhuet Puteri yang sedang tidur, ada hikayat yang berkisah tentang putri Raja yang  cantik diperebutkan oleh dua kakak beradik, entah bagaimana akhirnya  si putri cantik dikutuk jadi gunung, lha…koq mirip kisah Lara Jograng yang dikutuk jadi Patung  atau hikayat gunung Tangkupan Perahu yang bentuknya mirip perahu.  Kisah-kisah lama biasanya tercipta dari budaya leluhur yang senang mengkaitkan simbol-simbol alam dengan latar belakang kisah tertentu. Kota Kuching sendiri berasal dari nama Sungai Kuching yang bermulai dari pancuran mata air di Bukit Mata Kuching dimana terdapat banyak pohon buah Mata Kuching (kalau kita biasa sebut pohon Damar).

Saat mulai memasuki kawasan resort di Santubong, hujan masih terus mengguyur bumi, aku melihat Damai Beach dari jauh, ombak tampak bergelora menerpa pantai, hmmm….jadi ilfil untuk mendekat. Kami mengambil foto dari jauh, melewati Sarawak Cultural Village terlihat banyak turis yang berpayung ria berdiri di halaman dekat gerbang masuk.  Mau turun koq malas banget, kebayang becek dan lecek.

Mungkin agak menyedihkan liburan di musim hujan hihihi… ambil hikmahnya siapa tahu masih ada kesempatan untuk kembali liburan ke Kuching. Kami memutuskan pulang ke pusat kota, sebelum check in hotel, kami makan siang dahulu (sebenarnya makan sore, lha jam 3 sore waktu makannya). Ibu Dora membawa kami ke Saujana Food Court di Jl.  Masjid, ada banyak pilihan kedai makan disini soal harga standart , kami memilih makan sesuai selera, si sulung bersama bapake memilih nasi kari teteup…si bungsu memilih makan mie goreng, sedang aku nasi campur, aku tidak melihat menu Laksa Serawak, ini kuliner khas di Kuching, tapi aku sudah bisa membayangkan rasanya, kuliner melayu tidak jauh berbeda dengan kuliner  di tempatku. Aku sempat merasakan sambel tempoyak (sambel dari adonan durian), jadi teringat sambel di kampung halamanku.

Selepas makan siang, kami menuju ke Masjid Jamek, satu masjid yang ramai dikunjungi warga kota Kuching, untuk melaksanakan sholat, kami menjama’ qoshor 2 waktu sholat sekaligus, maklum musafir. Masjid ini bersih dan full AC, lantainya semua memakai karpet tebal, berbeda dengan di tanah air, aku tidak menemui jama’ah yang hobby tidur di dalam masjid, kalau di tanah air masjid yang full AC plus berkarpet tebal tentu sangat nyaman buat istirahat sekalian tidur, hehehe….

Kami check in ke Tune Hotel tepat pukul 16.30 sore dan meminta ibu Dora untuk menjemput kami esok hari pukul 9 pagi. Sore hari kami putuskan untuk istirahat  dan mandi, maklum kami belum mandi dari pagi hari, kamar yang kami pakai sangat nyaman, fasilitas lengkap disediakan TV dan Jaringan Internet tapi semua dengan bayaran terpisah dari tariff kamarnya. Berhubung kami lelah, nonton tv bahkan mau internetan tidak terpikir, yang utama itu tempat tidur yang empuk dan nyaman serta shower air panas yang lancar.

Malam hari kami hang out di seputaran mall yang ada di dekat Waterfront, ada beberapa mall di sana yang kami masuki, dari hotel ke mall hanya perlu jalan kaki kurang dari 5 menit. Kami menghabiskan malam sambil duduk di Deli’s café menikmati  cappuccino, kue dan roti, hujan menghalangi kami untuk berjalan-jalan lebih jauh.  Sebelum pulang ke hotel kami mampir ke resto Mc. Donnald, kami tidak menemui menu nasi disana rupanya nasi bukan additional meal yang disediakan Mc.D layaknya di Indonesia. Malam semakin larut sedang hujan tiada tanda akan mereda, makin deras sih iya, jam menunjukkan pukul 22.00, saat kami tiba di hotel, time to sleep ya…. do’aku semoga hujan tidak menghalangi liburan kami di destinasi berikutnya.

Bersambung…..

AMH 23012011

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Road to PKK (2)"

  1. iwan  9 February, 2012 at 10:34

    minta email nya pak Adhe Mirza Hakim donk? ada yg mau saya tanya tx before ^^

  2. Dewi Aichi  26 January, 2012 at 07:58

    Iya nih mba Adhe…enak banget jalan-jalan terussssssss….! Saya juga tiap hari jalan-jalan, dari rumah ke kantor-..trus dari kantor ke rumah…!

  3. SU  26 January, 2012 at 07:50

    Makanan disana banyak yg enak2 ya….

    Asyiknya yang jalan2 terus

  4. Dj.  26 January, 2012 at 03:59

    [email protected] Says:
    January 25th, 2012 at 14:44

    Pengalaman check-in hotel di malaysia yang mirip2 om DJ… kagak boleh check in duluan walau udah sampe… mwahahaha…
    ——————————————

    Pambres….

    Benar, kami malah nunggu sampai jam 15:30.
    Sampai Susi dan anak-anak pada ketiduran di sofa.
    Kapoooook deh…!!!
    Mending ke Malorca, datang jam 7:00 pagi, langsung dapat kamar dan bahkan langsung dapat Breakfast.
    Yang jelas managementnya sangat jelek dan tidak ada service yang bagus.

  5. Dj.  26 January, 2012 at 03:49

    Mbak Adhe….
    Terimakasih untuk liputan perjalanannya ke kota Kuching….

    Ada kalimat yang menarik…
    Mau lihat kuching, ketemu hujan….
    Untung ketemu hujan, bayangkan kalau mau lihat kuchin, taunya ketemu macan…???
    Lebih serem lagi kan…???
    Hahahahahahahaha…..!!!!

    Di Mainz, di Mc. Donald, juga tidak ada nasi.
    Bahkan di KFC juga tidak ada nasi.
    Salam manis dari Mainz…

  6. Kornelya  25 January, 2012 at 23:07

    Mba Adhe, kontras ya , penataan kota serta kesejahteraan penduduk Indonesia dan Malaysia diperbatasan. Sudah beberapa kali ke Malaysia, untuk check in hotel selalu bermasalah. Dari Airport pagi buta pun, tidak menjamin sampai di hotel langsung bisa masuk kamar.

  7. J C  25 January, 2012 at 21:50

    Mbak Adhe, yang sangat menggoda adalah mie dan kari’nya…

  8. Sasayu  25 January, 2012 at 19:20

    Idem sama Kak Hennie, ketawa liat poster film horornya. Tempoyak itu rasanya seperti apa to (selain pedas tentunya), duren saja aku tidak suka, dibikin tempoyak bergidik membayangkannya…

  9. [email protected]  25 January, 2012 at 14:44

    Pengalaman check-in hotel di malaysia yang mirip2 om DJ… kagak boleh check in duluan walau udah sampe… mwahahaha…

    waktu ke KL dulu, kita dateng subuh… harus nambah 1/2 harga kamar buat early check in, berhubung cape banget… kita bayar…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.