Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (2)

Josh Chen – Global Citizen

 

Artikel sebelumnya:

Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (1)

 

Akhirnya nampak pengumuman dan terdengar pengumuman di pengeras suara kereta bahwa 2 stasiun berikutnya sampailah tujuan saya yaitu Wenzhou. Pukul 7 lebih sedikit, sampailah saya di Wenzhou. Setengah jam sebelumnya penjemput dan rekan bisnis di Wenzhou sudah beberapa kali menelepon menanyakan posisi saya. Peron yang besar dan luas menyambut saya. Udara tidak terasa dingin sama sekali malam itu. Mr. Zhu sudah siap dengan Buick van menjemput saya.

Satu hal yang saya perhatikan cukup berubah di Tiongkok adalah pengumuman di tempat-tempat umum. Salah satunya seperti di kereta api malam itu, pengumuman dalam dua bahasa, pertama Mandarin dan kedua bahasa Inggris. Bagi yang tidak berbahasa Mandarin tidak perlu terlalu kuatir. Demikian juga pengumuman di LED display, dalam aksara kanji dan juga dalam alfabet biasa.

Dari stasiun saya langsung diantar ke hotel, yang ternyata hotel tsb bukan di Wenzhou, tapi di kawasan yang bernama Yongjia, sedikit di luar Wenzhou (sekitar 50 menit dari Wenzhou). Dalam perjalanan ke hotel, kota Wenzhou nampak semarak dengan gemerlap lampu dan saya ingat melintasi jembatan yang cukup panjang dengan kilauan sungai di bawahnya yang lebar sekali. Belakangan waktu meninggalkan Wenzhou, saya baru tahu itulah Ou Jiang (Sungai Ou).

Check in tidak berlangsung lama dan akhirnya sampailah ke tempat tujuan. Dengan segera saya mandi sepuasnya berlama-lama di bawah shower hangat. Setelah mandi, sempat ber-Skype dengan keluarga di rumah. Saya kemudian keluar hotel dan mata saya tertumbuk dengan deretan becak berjajar di depan hotel.

(dua foto becak ini “dipinjam” dari internet, karena saya lupa foto becaknya)

Becak? Betul sekali, becak berjejer menunggu penumpang di depan hotel. Ternyata di Wenzhou ada becak! Saya sudah melihat keberadaan becak ketika tiba di hotel, berjajar di luar hotel menunggu penumpang. Saya tanya kepada petugas hotel yang ada di lobby kalau ke pusat keramaian, tarifnya berapa. Ternyata tidak mahal sama sekali, hanya RMB 5 sudah bisa ke arah pusat keramaian Yongjia sekitar 2km dari hotel. Saya melihat-lihat suasana Yongjia. Kawasan pusat kota kecamatan yang cukup ramai, beberapa hotel (tertulis international hotel) terlihat di sana sini, pusat keramaian dan pusat bisnis di satu jalan panjang dengan kanan kiri berderet toko.

Karena sudah cukup capek, saya berjalan kembali ke hotel dan tidak lupa sempat mampir ke KFC yang cuma sekitar 200m dari hotel, yang paling cepat, praktis dan jelas tahu rasanya. Sesampainya di hotel, segera saya terlelap sampai paginya.

Pagi bangun dengan segar dan melihat keluar jendela cuaca yang cukup cerah. Otomatis jendela saya buka, dan bbbbrrrrrrr…wuiiiihhh dinginnya, sampai terkaget-kaget karena hanya berkaos tidur biasa. Jendela segera saya tutup lagi dan menyalakan TV mencari tahu cuaca hari itu. Ah, tidak heran, karena temperatur di luar hari itu diperkirakan berkisar 5-8°C…wuuuaaahhh…hari sebelumnya 18-20°C, hari berikutnya terjun bebas dengan perbedaan yang sangat tajam.

Segera bersiap dan turun untuk sarapan. Menu sarapan yang cukup standard umum (bukan standard Cina), ada pilihan menu minimal western dan oriental. Yang saya maksud standard Cina adalah menu sarapan yang sangat khas, bubur cair, cakue, 2-3 macam tumis sayuran, telur asin dan telur rebus, kacang goreng (banyak dijumpai di hotel di kota-kota kecil).

Seruputan kopi menemani saya menunggu di lobby. Tak berapa lama nampak Mr. Zhu dan koleganya memasuki lobby. Berangkatlah kami untuk urusan pekerjaan hari itu. Saya dibawa berkeliling di beberapa tempat dan kemudian ke kantor dan pabrik mereka. Setengah harian kami berurusan dengan pekerjaan, berdiskusi, negosiasi, tanya jawab, perencanaan dsb, dsb. Tak terasa jam makan siang sudah terlewat panjang, tapi karena tanggung, semua dituntaskan saja.

Mendekati 14:00, kami meninggalkan kantor tsb dan mencari tempat very late lunch. Sempat ditanyakan ke saya ingin makan apa dan saya jawab apa saja, kalau ada yang sangat khas daerah sini. Tak berapa lama di tepi jalan nampak restoran sederhana dan dikatakan para tuan rumah bahwa makanan resto tsb sangat khas dengan pedasnya. Ayo saja buat saya untuk berpedas-pedas di tengah cuaca dingin hari itu.

Ternyata resto tsb menyajikan kuliner unik dari Suku Yao (瑶族), salah satu suku dari 56 etnis di China.

Melihat menunya, sungguh menggoda dan menantang untuk dicoba. Karena saya tidak paham sama sekali makanannya seperti apa dan bagaimana, saya pasrahkan ke dua tuan rumah memilih menu. Sementara mereka memilih menu, saya ke toilet sekalian cuci tangan.

Walaupun dalam pikiran sudah jelas to expect the worst you could ever imagine, tetap saja pemandangan di dalam toilet benar-benar menggetarkan jiwa. Dari jarak beberapa meter bau pesing sudah tercium kuat sekali, setelah memasukinya, haduuuuhhh…beberapa onggok kotoran manusia bertebaran di mana-mana, terutama dekat toilet jongkok di sudut. Benar-benar horor di depan mata, cepretan, klepretan di dinding sekitarnya sungguh merontokkan nyali. Momprot-momprot adalah kata yang paling tepat menggambarkan kondisi di situ…

Untung saja, saya bukan jenis yang berperut lemah yang gampang muntah, dalam waktu sekian milidetik, memalingkan muka, menahan napas, kencing dan dengan (mendekati) kecepatan cahaya, kabur dari toilet horor tsb. Sambil bergidik tak henti-henti, saya berjalan kembali ke meja. Butuh sedikit perjuangan sekian detik untuk mengenyahkan bayangan mengerikan barusan.

Paradoks yang mengherankan. Di resto-resto di Tiongkok yang saya pernah kunjungi, mereka (konon) selalu menomorsatukan higienis, pemeriksaan kesehatan dan kebersihan makanan secara rutin dari instansi terkait. Mereka biasanya bangga sertifikat-sertifikat tsb dipigura dan digantung di dinding resto. Tapi kok tidak memerhatikan kebersihan toilet. Ah, entahlah…

Sambil menunggu hidangan disajikan, buku menu yang sangat menarik, penuh dengan foto-foto artistik saya jepret. Sungguh luar biasa apik gambar-gambar di bawah ini.

Dan kemudian keluarlah hidangan Suku Yao ini. Bau yang menggoda dan penampilan yang semarak terpampang di depan mata. Taburan cabai kering yang generous di hampir semua hidangan makin menguatkan apa yang dibilang oleh dua tuan rumah bahwa menu di situ menantang indera pengecap kita. Satu per satu sajian saya coba.

Yang pertama, entah apa namanya, sejenis mantau yang digoreng, disusun melingkar, di tengahnya ada isiannya dari sejenis sayuran kering yang dimasak dengan daging cincang. Cara makannya, sejenis mantau dibalik, ternyata di baliknya ada rongga kecil untuk mengisikan isian tsb.

Ayam goreng crispy dan harum luar biasa nikmat membelai lidah. Paduan rasa pedas menyengat dan pedas menyambar menyerbu mulut. Saya coba ambil sedikit taburan cabai kering iris dan saya makan dan terkejutlah saya akan serangan pedas aneh di mulut – kemranyas. Seketika itu mulut terasa kebas dan mati rasa! Ternyata di sela-sela potongan cabai kering terselip bunga-bunga kecil kering. Bunga ini disebut dengan hua jiao (花椒), yang ternyata disebut juga dengan Sichuan pepper (http://en.wikipedia.org/wiki/Sichuan_pepper). Luar biasa serangan pedas dahsyat seperti itu, belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Hua jiao ini dapat dijumpai juga di sekitar Danau Toba dan dikenal dengan nama andaliman, salah satu bumbu kuliner Sumatera Utara yang disebut arsik, yaitu ikan mas yang dimasak dengan gabungan bumbu-bumbu. Salah satu bumbu penting arsik adalah andaliman. Seingat saya, rasa andaliman tidak sedahsyat hua jiao kering. Arsik paling sedap dimasak dalam kuali tanah liat yang sudah semakin langka.

Kemudian ada kentang dengan daging asap yang khas. Dan menurut tuan rumah, yang paling khas dan paling sedap adalah kepala ikan yang dimasak dengan bumbu khas Suku Yao. Kepala ikan ini memang luar biasa sedap sesuai dengan rekomendasi tuan rumah. Dua hidangan lain hanya sayur pelengkap saja, biasa dapat kita jumpai di resto-resto di Indonesia.

(bara api yang menggunakan semacam lilin khusus)

Tak terasa sekitar 1.5 jam juga kami berbincang sambil menikmati hidangan Suku Yao yang luar biasa.

Akhirnya selesai juga acara berkuliner siang itu. Saya diantar balik ke hotel. Dalam perjalanan saya minta mampir ke salah satu toko kecil yang menjual kartu telepon prabayar. Saya beli satu dari provider China Unicom yang saya tahu kualitas jaringan dan kecepatan internetnya mumpuni. Dan ternyata benar, setelah saya pasang, berselancar internet, e-mail dan fungsi-fungsi lain berfungsi sempurna.

Sekitar pukul 16:00 saya sampai ke hotel. Akhirnya di sore hari itu saya berhasil ngobrol dengan Hennie Triana. Kami ngobrol cukup lama, bercerita sana sini. Ternyata Hennie sedang mengalami sedikit musibah karena tersundul mobil dari belakang (bagian ini mungkin lebih baik Hennie yang bercerita…haha). Sambil menunggu suaminya, kami ngobrol panjang lebar, tentang segala hal. Akhirnya telepon harus diakhiri karena Hennie masih harus mengurus kecelakaan tsb.

Sewaktu memeriksa isi lemari hotel, cukup terkejut juga menemukan satu kotak berisi masker dengan penjelasannya berbahasa Mandarin dan Inggris. Kotak masker tersegel rapi dan tertulis sudah diinspeksi instansi terkait dan lolos uji kelayakan pakai. Wah, cukup luar biasa juga kesiapan untuk menghadapi kebakaran. Pengalaman saya di Indonesia, di hotel berbintang 4 sekalipun rasanya tidak melengkapi tiap kamar dengan masker.

Sempat nyengir sendiri waktu menemukan bathrobe dengan Chinglish (Chinese English) seperti ini.

Saya lewatkan petang itu dengan menonton berbagai acara TV lokal. Rupanya saya terlelap beberapa saat. Bangun, mandi dan keluyuran lagi sambil mencari oleh-oleh. Tidak menemukan apapun yang cukup menarik.

Waktu kembali ke hotel, saya lihat ada yang jual pancake di pinggir jalan. Saya berhenti dan mengamati seorang pembeli yang sedang memesan. Saya ikut pesan dan saya bawa kembali ke hotel. Tidak terlalu lama setelah pancake ludes, saya tidur lelap.

Bangun pagi dengan kondisi di luar masih gelap gulita. Saya coba buka sedikit jendela, ternyata jauh lebih dingin dari hari sebelumnya. Dari TV, info cuaca hari itu temperatur berkisar 2-5°C. Segera saya bersiap untuk pekerjaan hari itu. Hari itu Mr. Zhao dari vendor lain lagi yang menjemput. Kami langsung menuju ke kantor dan pabrik yang letaknya lebih jauh lagi dari vendor hari sebelumnya. Setengah harian juga kami menyelesaikan pekerjaan hari itu.

Sehari sebelumnya saya sempat menanyakan informasi dari Wenzhou menuju ke satu kota kecil di dekat Wuxi, provinsi Jiangsu. Ternyata tidak ada jalur kereta api, yang ada hanya bus antar kota. Setelah urusan dengan Mr. Zhao selesai, saya diantar kembali ke hotel, segera saya urus check out dan berangkat ke stasiun bus antar kota dengan diantar Mr. Zhao.

bersambung…

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

48 Comments to "Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (2)"

  1. Lani  27 January, 2012 at 23:55

    AKI BUTO : video pertama undak2-an sawahnya mirip dgn yg di BALI……..trs pohon bambunya mengingatkanku spt yg di film silat……actornya pd mabur pating mbleber……..kkkkk

  2. Lani  27 January, 2012 at 23:50

    40 HAND : jelas banget ada hubungannya……..korelasinya ant makanan dan toilet jorok di cina……..wesssss nek aku ndak jd makan, klu toiletnya pating tlecek dgn yg momfrot2 kuwi mau………wueeeeeek nggilani banget

  3. Lani  27 January, 2012 at 23:49

    TAMMY : wakakak……itu jari tangan aki buto kegedean makane ngetik jd kebalik balik kkkkkkkkk…….

  4. Tammy  27 January, 2012 at 10:48

    itu kompor n wajan kecil kayak di foto di sini gampang juga carinya. mesti ke toko asia sih tp yg pasti ada. termasuk lilinnya. kalo di Indo aku malah gak tau ada nggak ya?

  5. J C  27 January, 2012 at 10:39

    Tammy: kalau guohuo masaknya panci kudu tengkurep…mbuh caranya gimana…

  6. Tammy  27 January, 2012 at 10:28

    huoguo kok bisa jadi guohuo iki piye

  7. Tammy  27 January, 2012 at 10:27

    JC: iya betuullll… di sini kalo guohuo-an kan beli bumbu kuahnya sachetan juga cari yg pedes ma la. uenak tenan!

  8. J C  27 January, 2012 at 09:41

    Kang Anoew: kalau sudah lihat yang kinyis-kinyis memang kowe selalu sangat curious…

    Tammy: huo guo yang pakai kuah ma la juga uenak…

    Titin: tips singkat, kalau mau makan, jangan ke toilet dulu dah. Setelah makan juga jangan ke toilet, ntar keluar semua… ditahan sampai balik ke hotel saja…

    Kornelya: pengaruh budaya selalu ada di mana-mana…

    Lani: makanya kayak aku bilang ke Titin, kalau mau makan jangan ke toilet dulu, dan sesudah makan juga jangan ke toilet, diampet saja, ditahan, sampai balik ke hotel…

    Juwi: tumben mampir… tengkyuuuuu…

    Tammy: kalau masih belum mudheng si Lani, kita ganti sandal saja, kaploki sandal pasti numb tenan…

    pak Hand: apakah itu korelasinya? Karena saking enaknya jadi toilet momprot-momprot, atau karena toilet momprot itulah salah satu faktor makanan enak?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *