Hot…! Panas…!

Anoew

 

Padahal waktu baru menunjukan pukul 10.00 wib tapi kok matahari amat sangat panas bersinar bahkan, ruangan ber-AC yang tertutup korden pun tak mampu meredam panasnya. Minuman dingin yang baru saya minta dari messboy pun tidak mampu mendinginkan kepala ini. Begitu pula saya lihat si Windy yang beberapa kali menyeka peluh di dahinya, tapi tetap berusaha fokus ke monitor di depannya. Resah karena tak bisa berkonsentrasi di depan komputer, pikiran saya pun melayang. Ini adalah panas yang pertama.

“Gesekan yang ditimbulkan oleh beradunya dua benda akan menimbulkan  panas dengan diikuti suatu tindakan nyata….”

Aah…. salah, bukan itu. Jelas bukan.

 “panas yang ditimbulkan akibat beradunya benda tumpul dengan benda setengah padat bisa terjadi menurut…”

Aaaah…. apa lagi yang itu, jelas bukan sangat!

” Benda-benda yang bergesekan akan menjadi panas karena menimbulkan energi, dimana perpindahan energi kolor.. “

Wah, salah lagi..! Kenapa tiba-tiba semua terasa buntu??

 “Untuk menentukan kondisi panas dari tiap lubang sumur bisa dengan menghitung nilai porositas, saturasi air, litologi tiap sumur, korelasi antarsumur dan memetakan po…”

Aaaah…, kok lupa ya?!

 “W = m.g  atau W = F.S   dimana W =usaha, m = masa, g = gravitasi.”

Naaah.., malah ini kayaknya yang pas. Lupakan rumus kalor. Rumus sederhana tentang usaha itu sungguh menyatakan keadaan sekarang ini. Adalah diperlukan suatu usaha untuk melawan panas yang menyiksa ini dengan bantuan m (masa) tapi tanpa memerlukan g (gravitasi) karena, otomatis itu akan melawan gravitasi bila “panas yang lain” sudah datang. Hmmm…, dari pada pikiran semakin ngaco gara-gara panas di luar dan panas di bawah, lebih baik saya pergi ke lapangan saja, siapa tahu ada yang bisa dikerjakan di sana.

“Yuk Wind, ikut..”, ajak saya ke tenaga medis yang masih saja (sok) serius di depan komputernya dan membuat saya semakin panas.

Dia mengangguk, tersenyum lantas berdiri sambil merapikan baju dan roknya. Ini adalah panas yang kedua.

“Saya boleh ikut nggak, pak…?” Susan, asisten medis itu menatap saya dengan penuh harap. Saya menggelengkan kepala dan menjelaskan bahwa, dia harus menyelesaikan pekerjaan in puting (maksudnya, inputting) data yang masuk dari lapangan via Radio Room. Meskipun kecewa, akhirnya dia nurut tapi mengajukan syarat agar dibelikan es krim.

“Biar adem, paaaak….”, ujarnya sambil tersenyum manis. Saya mengiyakan permintaannya dan saat itu sempat terpikir tentang merah bibirnya, yang saya bandingkan dengan buah tomat karena sama-sama segar. Aaaaah…., saya segera keluar menuju mobil untuk menghilangkan pikiran mboten-mboten dari kepala ini, diikuti si Windy yang menjulurkan lidahnya ke si Susan. Untunglah kali ini saya tidak terlalu memperhatikan dengan cermat lidah si Windy yang terjulur itu,  bisa-bisa malah menambah pusing kepala.

Masuk ke mobil dengan ditemani Security Officer (SO) dan paramedis yang manis, membuat perjalanan yang panas ini agak tenang meskipun sedikit tegang akibat, lagi-lagi panas yang ditimbulkan hawa di luar dan dari bangku belakang. Heran, kenapa juga sudah berada di mobil dengan AC menyala separuh tetap terasa panas. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka kaca jendela supaya angin segar mengalir masuk dan sekalian merokok demi menghilangkan rasa pening di kepala ini.

“Pak, pinjem korek” , saya menoleh ke pak SO yang duduk di belakang bersama si medis yang bernama Windy itu.

“Wah, ketinggalan di meja kayaknya, tadi buru-buru sih..”, sahutnya sambil tangannya merogoh-rogoh saku yang untungnya, bukan saku sebelah. Dan tiba-tiba pandangan saya terarah ke pistol yang ada di pinggangnya.

“Pinjem yang di pinggang itu, deh pak. Hahaha.., mancis kan?” saya iseng.

“Hati-hati lho, ini ada isinya”, wanti-wanti dia sambil mengangsurkan pistol.

Benda itu saya perhatikan, saya timang-timang, saya usap-usap dan tiba-tiba… “DOOOOR..!”  saya berseru ke arah Windy sambil menodongkan pistol itu kepadanya. Dia terlonjak kaget.

“Aaauuuu…., pak Anoew ngagetin ajaaa…! Kalau mau nembak jangan pake pistol yang itu dooong…” jeritnya sambil melirik manja dan saya menyesal melakukan itu karena, kepala saya malah jadi semakin pening dan udara di mobil terasa semakin panas.  Ini panas ketiga dan pak SO terbahak melihat saya garuk-garuk kepala dan salah-salah saja menyalakan rokok. Sialnya,  jempol saya tersundut api pula.  Haiyaaah…., panas keempat!

Hmm.., seandainya mendung sedikit saja, saya lebih suka berada di kantor dari pada harus “keluyuran” ke lapangan dalam keadaan cuaca panas seperti ini. Sebenarnya perjalanan dari base camp ke lokasi tidaklah terlalu jauh, hanya kondisi jalan saja yang menjemukan dan terasa lama.

Dan seperti kata pak Handoko dulu di artikelnya tentang kesenian (bagi yang belum kenal pak Handoko, itu adalah Baltyrans yang memakai avatar monkey dan dari jaman kependudukan Jepang sampai sekarang tak pernah berubah), maka kami pun merasa perlu melakukan itu. Membuang air seni.  Tanpa melibatkan si tenaga medis tentunya,  karena si Windy ini bukanlah tenaga paramedis seperti di artikel kemarin yang mengatakan “sudah lama tidak melihat ularnya bapak.” 

Sampailah kami ke lokasi yang menjadi tujuan dan berarti, rutinitas yang kadang membosankan akan segera dimulai. Panas, berdebu dan sangat gersang. Kami turun dari mobil dan berjalan ke lokasi. Inilah panas yang kelima.

Meski pun demikian, si pak SO penganut faham narsisme akut ini tetap memaksakan kehendak untuk berpose dulu dengan latar belakang rig.

Tiba-tiba.

“Aduuuuh…., pegeeeeeel….” ujar si Windy sambil mengibaskan-ngibaskan kakinya tanpa memperdulikan roknya yang sedikit terangkat.

“Wah..”, saya garuk-garuk kepala.

“Wow…”, ujar pak sopir.

“Ehem-Ehem…,” pak SO berdehem.

“Kayaknya enak deh jalan-jalan nggak pake sepatu..” Lalu tanpa mengacuhkan pandangan teman-teman prianya, dengan masih berdiri Windy menekuk kakinya untuk melepaskan sepatu sebelah kanan, sementara tangannya terapung-apung di udara demi menjaga keseimbangan.

Lalu setelah sukses melepaskan sepatu dari kakinya dengan cara seperti itu, mulailah dia berjalan-jalan bertelanjang kaki merasakan “pijatan” bebatuan panas yang menurutnya “idiih geliiii…, kayak dikitikin..!”

Dan saat itu sungguh saya cemburu kepada batu. Aaaah… panas keenam, batin saya sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir rasa pening yang malah semakin menyerang ini.

“Ayo pak, kita tunggu dia di seberang aja sambil mekokok eh, merokok”, usul rekan yang saya temui di lokasi. Saya setuju, dengan merokok paling tidak gangguan-gangguan di mata maupun pikiran bisa dihilangkan. Meski sebentar.

Maka kami duduk-duduk di tanah sambil membicarakan pekerjaan di lapangan yang ternyata, malah semakin tidak fokus gara-gara setelah bermain “pijat-pijat batu”, sekarang si Windy malah bermain “elus-elus air” di pinggiran sungai persis depan kami duduk.

“Enak lhooo…. dingiiiin….” dia tersenyum manis ketika mengatakan itu sambil mengayun-ayunkan kakinya ke air dan ulahnya kali ini, membuat saya kepingin menjadi air.

Lalu gumaman itu kembali terulang.

“Waaaah..,” saya semakin garuk-garuk kepala.

“Woooow…”, pak sopir semakin melongo.

“Ehem-Eheeeem…,” pak SO semakin serak berdehem.

Hmmm…. mungkin memang benar bagi dia enak dan dingin, tapi tidak bagi kami para pria yang disuguhi pemandangan bening-segar seperti itu. Dan ini merupakan panas ketujuh.

Aaaaaah…., panas yang berulang-ulang ini akhirnya tak mampu saya tahan dan akhirnya, saya memutuskan pulang. Ya, pulang ke seseorang yang bisa menyembuhkan sakit kepala saya gara-gara panas ini! Tak ketinggalan, bisa menyembuhkan jempol yang tersundut api rokok itu gara-gara panas satu, dua, tiga dan seterusnya. Tidak kunjung hilang bekasnya setelah tiga hari meski sudah diolesi odol, minyak jelantah, minyak wangi, minyak nyong-nyong atau bahkan minyak dari lapangan.

Salam Cerita Panas.

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

152 Comments to "Hot…! Panas…!"

  1. anoew  31 January, 2012 at 13:44

    Hampst, aku tau sebenarnya bukan ID-Card yg bikin penasaran, tapi kelanjutan dari si kaki bening.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.