Saturday, 28 January 2012
Dwi Klik Santosa
Terkenang pada masa bocah saya, film petualangan anak-anak yang keren dan suangat menyenangkan. Arman si “Djendral Kantjil” yang diperankan dengan tengilnya, tapi unik dan hepy oleh Achmad Albar merupakan figur yang setidaknya harus saya akui sangat nyenthel di kepala saya. Tentang sebuah epos barangkali, soal gagah dan indahnya sebagai sosok anak Indonesia yang kreatif sekaligus heroik. Film hitam putih itu, kalau tidak salah, saya tonton di TVRI malam minggu, ketika saya kelas 5 SD. Atau entahlah, tepatnya saya lupa.
Secara keseluruhan alur film ini kocak dan mengalir. Pingin punya mainan berupa pistol-pistolan. Secara garis besar seingat saya, ketengilan seorang Arman adalah kenakalan yang kreatif bagi seorang bocah seusianya. Namun oleh ayahnya, keinginan Arman itu tidak diperbolehkan, bahkan dimarahi. Beruntungnya, sang ibu membela Arman. Dan seterusnya Arman pun mengajak Hamdan untuk membuat pasukan berani mati. Keceriaan ala anak kampung yang sedang mempersiapkan diri sebagai tentara Nasional Indonesia yang hebat, seingat saya sepenuh semangat dan hepinya. Nah, kebetulan, pada saat yang sama, kampung dimana mereka tinggal, sedang tidak aman, karena teror pencurian. Dengan aksinya yang polos, cerdas tapi berani akhirnya prajurit yang dipimpin oleh sang Djendral Kantjil itu berhasil menggagalkan aksi pencurian itu. Bahkan para pencurinya, lantas ditangkap kepada polisi. Orangtua-orangtua laskar Djendral Kantjil akhirnya bangga mempunyai anak seperti mereka.
Bagi saya, film yang konon keluaran 1958 itu sangat monumental. Seringkali kenangan itu mengisi arus pada buli-buli pemikiran. Dan pada saat-saat tertentu pada diam saya, terkadang meloncat sebuah gumamam ,“memunculkan lagi Djendral Kantjil .. hmmm …”
Meski pula pada saat tertentu, teringat lagi kenangan itu, saat membacakan puisi Emha Ainun Nadjib, di mimbar diesnatalis fakultas kampus saya sewaktu jadi mahasiswa dulu di Jogja.
………..
Kemana anak – anak kita itu
Anak – anak yang dilahirkan oleh seluruh bangsa ini
dengan keringat, luka, darah dan kematian
Anak – anak yang dilahirkan oleh sejarah
dengan air mata tiga setengah abad
Kemana anak – anak itu
Siapa yang menyembunyikan mereka
Siapa yang menculik mereka
Siapa yang meracuni dan membuang mereka
……………
Zentha
25 Januari 2012
January 31st, 2012 at 12:09
Oh iya Om JC, Pak Alwi Dahlan itu adalan ahli ilmu komunikasi ternama dalam dunia akademi. Kalau tak salah beliau adalan murid dari Marshall McLuhan atau siapa gitu a guru of communications di Amrik sana. Beliau jg dosen terbang UI-UGM dan staf ahli menteri KLH Emil Salim dulj. Biasa gang Minangkabau.
Alwi Dahlan adalan keponakan Usmar Ismail. (kalau saya tak salah ingat).
January 30th, 2012 at 09:39
Membaca komentar mas Iwan, satu lagi cuilan sejarah negeri ini yang tak banyak orang tahu…
January 29th, 2012 at 22:30
Alhamdulillah…..akhie saya bisa melihat visual film “Djenderal Kantjil”. Ketika saya masih kelas 4 SD, TVRI sekitar tahun 1977 pernah memutar film ini dan saya jatuh cinta dan selalu mengenang film dan jalan cerita ini. Akhirnya,,,
Yang saya banggakan, ternyata penulis skenario film ini adalah Alwi Dahlan. Tahun 1986, sekitar 28 tahun setelah film ini dibuat, Pak Alwi menjadi dosen Pengantar Ilmu Komunikasi. Hebatnya, saya sampai 3 kali mengulang mata kuliah wajib di jurusan saya, setelah mendapat nilai D dua kali (hanya ada di semester genap).
Pak Alwi terkenal strengh kalau mengajar dengan air liurnya yang memutih di tepi bibir bila mata kuliahnhya sudah berjalan 3 jam nonstop (dari 08.00-11.00).
Untunglah Pak Alwi menjadi Menteri Penerangan terakhir Presiden Soeharto.
Nah, untuk ini saya jadi Jenderal Keledai.
Terima kasih tulisannya… Salam kenal.
January 29th, 2012 at 11:27
Lho, bukankah jenderal kancil itu presiden yang sekarang?!
Salam,
osa KI
January 29th, 2012 at 07:09
keren!
January 28th, 2012 at 21:59
Mbak Kornelya, komen no 4,
tahun 2007 pernah diputar film Anak-anak Borobudur, karya Arswendo Atmowiloto, meski filmya bagus, tapi karena berbicara tentang kejujuran anak desa, tidak menjual mimpi, nggak begitu bergema, apalagi hampir tidak dipromosikan. diputar 1 saja minggu di 21, yang nonton bisa dihitung dengan jari
kebetulan anak saya ikut main jadi pemeran pembantu anak-anak, dia jadi Siti, teman Amat (peran utama)
January 28th, 2012 at 21:15
Bener Anoew, jangan-jangan ya…
January 28th, 2012 at 20:01
Atau jangan-jangan kita itu dulu tetanggaan
January 28th, 2012 at 19:50
Jangan-jangan tetangga kita itu sodaraan ya hehehe…
January 28th, 2012 at 19:42
Lho Hen, kok sama ya?! Aku hafal lagu “Heli Anjing Kecilku” ini juga gara-gara numpang denger radio tetangga yg hampir tiap jam muter lagu itu. Bedanya sih, gk pake lagu India nehi-nehi.
Ah, indahnya masa kecil ya..