Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Seandainya

Saturday, 28 January 2012

Viewed 425 times, 1 times today | 21 Comments |

R. Wydha

 

Seandainya…..

“ Damai ku lihat dirimu yg indah
Tercipta kau hadirkan rasa
Tak dapat memungkiri kucinta
Ingin miliki berharap nyata

Bahagia jika kau ada di sini
Temani bertatapkan cinta
Yang slalu berpijar di benakku
Meskipun itu sekejap saja

Seandainya ku bisa sentuh hatimu
Selamanya aku akan setia
Terlebihnya hanya kau satu bagiku
Tiada terganti tulus cintaimu”

 

Duduk berdua di bawah pohon mangga yang rindang dengannya suara petikan gitar yang merdu menyanyikan sebuah lagu yang berirama melankolis. Tatapan mata yang tajam dan berkaca-kaca seolah bibir tipisnya ingin mengatakan sesuatu tapi begitu susah. Karena hari itu dimana hari terakhir dengannya bertemu.

Genggaman tangan yang erat seolah tak ingin lepas. Serasa hati yang lemah tak ingin bangkit dari tempat duduk itu.

“ Hun,, mungkin ini hari terakhir kita bertemu. Saya tak bisa lagi denganmu walau jalan kita salah yang kini ku tlah menduakanmu. Sebenarnya hati ini berat untuk meninggalkan dan melepaskanmu. Tapi, wanita yang pertama bersamaku dialah istriku nanti. Karena kamu yang memintanya. Maafkan aku hun…”, seorang lelaki itu mengatakan dan menangis. Dia harus memilih wanita itu karena seorang wanita kedua yang memintanya.

Wanita keduanya menangis dalam hati tak ia tampakan di depan lelaki itu karena memang dialah yang meminta. Meminta untuk  menikah dengan wanita pertamanya karena orang yang pertama bersamanya lebih membutuhkan lelaki itu untuk menemani hidupnya dan calon babynya. Hemmm…….. Berat rasanya harus mengikhlaskan orang yang kita sayang untuk menikah dengan wanita lain. Tapi memang ini yang harus terjadi.

Sepenggal lirik “seandainya”, ia berikan untuk wanita keduanya. Tangan yang menggenggam erat perlahan-lahan melepas dan tiga kata yang terlontarkan “aku cinta kamu”. Berlanjut suatu kalimat pesan untuknya, “walau kita tak bisa bersatu, ijinkan aku selalu menyayangimu. Maafkan aku wahai wanita keduaku”.

Lelaki itu pergi dengan pelukan terakhir dan selembar kertas putih berisikan lirik lagu. Wanita itu pun menangis dan pergi dari tempat duduk itu. Tapi dengan hati yang lemah ia mencoba tegar dalam menerima kenyataan ini. Semoga kau bahagia dengannya dan babymu kelak. Amin.

 

Share This Post

Posted by Saturday, 28 January 2012 on 07:21.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

21 Responses to “Seandainya”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 21
    qq Says:

    oh..ok,sist..nice to chat with u

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)