Diriku Adalah Sandsackmu

Dian Nugraheni

 

Salah satu kata yang membuatku sangat tidak nyaman, adalah kata dasar dalam bahasa Jawa,“cothot”, yang kemudian membentuk kata berimbuhan, di antaranya adalah kata pecothot, dan mecothot.  Karena kata-kata tersebut, menurut kesan pemikiranku, adalah sesuatu yang terpaksa menonjol, keluar dari jalur, atau keluar dari ukuran yang ada. Dan anehnya, yang serba mecothot ini sering menghampiriku….

“Sini Dek, tak liatin sesuatu,” kata Mbak Aryani sambil membawaku di kamarnya. Ternyata dia sedang membuka Facebook di laptopnya. Dia menunjukkan foto seseorang, “Ini yang terbaru, namanya Mehdi, dia masih sangat muda, kok, Dek, 30 tahun, hot’e minta ampun, ndusel aja maunya, nggak pernah marah, nurut banget orangnya… ” Dari nada suaranya, nampak benar Mbak Aryani bangga terhadap seseorang bernama Mehdi ini. Aku cuma tersenyum, karena ini bukan yang pertama kalinya mbak Aryani memamerkan “barang barunya” kepadaku.

Mbak Aryani adalah bekas TKW, Tenaga Kerja Wanita, yang pada jamannya, dia dikirim ke Arab Saudi, kemudian setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya dia terdampar di Amerika, sudah 12 tahun dia ada di Amerika, dan sampai hari ini dia nggak mau pulang ke Indonesia. Usianya sudah 48, dia punya satu anak perempuan yang ditinggalkannya di Indonesia sejak dia menjadi TKW di Arab Saudi, maka anaknya itu sekarang sudah dewasa, sudah menikah, dan Mbak Aryani biasa mengirim uang jatah secara rutin kepada anaknya ini.Penghasilan Mbak Aryani di Amerika cukup bagus, dia bekerja menjadi babby sitter pada sebuah keluarga bule.

Tiba-tiba, suara dering terdengar dari Blackberry mbak Aryani, diangkatnya telponnya, “Injih, Bu..? Menopo.., sakmeniko.., ngangge jas..?  Iya, Bu..? Apa, sekarang.., pakai jas..? Wahh, jas kulo niku sampun sesak, je.. wahh, jas saya sudah kekecilan, tuh.. Ohh, biar tampak keren..? Yaa, kalau begitu biar saya cari jas saya yang lain, ya Bu…, see You nanti jam sepuluh yaa….”

“Wahh, Dek, sorry yaa, aku meh pergi je. Apa ikut aja, ntar pulang jam 5 sore lah..,” kata Mbak Aryani.

“Lha mau ke mana to Mbak..?” tanyaku sambil memperhatikan mbak Aryani mengaduk-aduk kloset tempat baju-bajunya tergantung, aku duga, dia sedang mencari “jas”nya.

“Itu lho, Bu Ina, tau nggak, suami istri, kan mereka aktif di Embasi, nahh, karena aku sering ketemu pas latihan  Campursari, makanya sekarang kenal baik. Dia ngajak ke Atlantic City. Ikut nggak..?” tanya mbak Aryani  lagi. Embasi yang dimaksud adalah Kedutaan Besar Indonesia yang bertempat di Washington, DC. Mbak Aryani juga aktif latihan menyanyi dengan kelompok Campursari yang biasa latihan dan menggunakan peralatan musik di salah satu ruangan di gedung Kedutaan Besar Indonesia di Amerika.

“Lha ke Atlantic City tuh mau ngapain, Mbak..?” tanyaku lagi.

“Gimana to Dek, nggon amusemen kuwi lho.., tempat hiburan, judi, kayak Casino, gitu.., Wehh, lha nggak gaul beneran, kamu ini, Dek. Makanya ikut yok, Bu Ina seneng kok kalau banyak yang ikut, bahkan kalau mobile nggak cukup, dia rela nyari-nyari mobil lengkap sama sopirnya lho…,” bujuk Mbak Aryani.

“Aku ra duwe duit kok Mbak.., nggak punya uang..,” jawabku jujur.

“Wes to, tak pinjemi, nanti kalau judine menang, baru kembalikan..,” Mbak Aryani terus membujuk.

“Judi, dengan modal duit pinjeman..? Wahh, nggak berani deh..ha..ha..ha.., Wes selamat bersenang-senang, nek menang jangan lupa traktir aku yaa..,” kataku bercanda. Mbak Aryani sudah selesai mengenakan pakaiannya, setelan celana panjang dan blazer warna merah marun yang dia bilang sebagai jas, yang sudah nampak kesempitan, membuat dia nampak mecothot di beberapa bagian tubuhnya.

*****

Ini hari lain, ketika sepulang kerja, aku akan membeli curly fries di food court lantai dasar Ballston Mall. Curly Fries adalah kentang iris goreng, tapi ini cara memotong kentangnya, melingkar dari atas ke bawah tanpa putus, sehingga terbentuk sebuah spiral kentang. Ballston Mall hanya 3 menit dari apartemenku, dan ketika berangkat atau pulang kerja, pastilah aku melewati mall ini, karena aku menggunakan “jembatan” dalam mall, untuk langsung sampai ke mulut stasiun kereta Bawah Tanah, yang juga bernama sama dengan Mall ini, Ballston Station.

Sore itu Mbak Aryani duduk bersama Mehdi, sedang makan nasi goreng, langsung dia memanggilku, dan dalam bahasa Jawa, dia berkata “Dek, rene, tak kenalke pacarku.., Dek, sini aku kenalkan pacarku..

Aku tersenyum, menghampiri mereka, setelah berkenalan sedikit, mereka mempersilakan aku duduk. Mbak Aryani  nampak lelah, “Aku mumet, pusing ki Dek…, nggak tau kenapa..”

“Mehdi, buy me coffee Starbuck, please, no sweet-sweet lho yaa, and buy me Tenol at CVS..,” begitu Mbak Aryani memerintah Mehdi. Yang diperintah langsung berdiri menyadongkan tangan untuk menerima uang untuk pembelian pesanan mbak Aryani.Tenol, yang dimaksud adalah Tylenol, obat penghilang rasa sakit, pain relief, dan CVS adalah toko farmasi yang ada di dalam Ballston Mall.

Kulihat sekilas, Mehdi menggeloyor pergi menuju geray Starbuck. Mukanya brewokan, dan badannya agak gempal, tapi nampaknya cukup berotot.Melihat penampakannya, sepertinya Mehdi berasal dari negara di daerah Midlle-East sana. Mbak Aryani tersenyum, “Liat Dek, Mehdi ki manut, nurut  bener sama aku to…wes, pokoke puas aku…ha..ha..ha..”

Di mataku, nampak Mbak Aryani makin mecothot  aja, kali ini kelakuannya, cara pandangnya terhadap sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan….

******

Ini pertemuanku paling parah, paling mecothot dengan Mbak Aryani. Sore itu dia meneleponku, “Dek.., di mana…, aku mau minta tolong nih, cepetan..!”

“Aku lagi jalan ke gym, Mbak, mau fitness..,” jawabku.

“Gym yang mana, yang deket Ballston Mall..? Yo, aku nyusul..,” katanya mantap. Waduhh, ngapain nih Mbak Aryani ngotot bener mau nemuin aku, mau minta tolong…, hmmm…

Sampai di gym, setelah menyimpan tasku di loker, aku awali dengan melentur-lenturkan tubuh untuk pelemasan. Kemudian aku akan membakar kalori dengan treadmil kira-kira sepuluh menit, habis itu aku akan melatih otot- otot tangan dan punggung dengan menarik beban dari arah belakang, dari arah depan, dan dari samping kiri kanan tanganku. Selanjutnya, aku akan membentuk otot perut dengan menarik beban dari belakang pundakku, melampaui kepalaku, dan ditarik sampai arah perut. Ketika membentuk otot perut ini, ketika menarik beban, jangan tumpukan kekuatan pada tangan, tapi tumpukan kekuatan pada perut, sehingga yang menarik beban adalah otot perut, bukan tangan, begitu kata instrukturku.

Habis itu aku akan tidur dengan posisi bersandar dengan kemiringan yang sudah diatur oleh alat fitness tersebut, dan ujung kakiku akan mendorong beban yang dipasang, naik turun, sehingga tubuhku pun akan lurus dan menekuk bergantian, ini akan membantu membentuk otot pantat agar tetap kencang.Rutinitas fitness ini aku lakukan hanya dalam waktu 30 menit saja, tak usah terlalu lama, yang penting, peredaran darah dalam tubuh lancar, bugar, dan tentu saja menjaga tubuh biar enggak sampai pada mecothot

Tepat ketika selesai dengan latihan otot pantat, Mbak Aryani muncul di hadapanku dengan ekspresi muka yang bener-bener mecothot. Dan kemudian, tiba-tiba, mengeluarkan kata-kata yang patingpecothot juga, “Ngerti nggak, Dek, Mehdi itu kurang ajar bener, sudah 2 minggu ini dat nyeng, leh methuk aku, kadang jemput kadang enggaklha aku kan ya cotho, repot, to Aku kan sudah belikan dia mobil, itu gunanya ki selain buat senang-senang ya, dia harus antar jemput aku kalau jalan ke tempat majikanku. Lha kok dua minggu ini dihubungi aja susah, ditelpon nggak mau angkat, di sms gak bales, piye jajal, gimana coba. Ini pasti dia punya pacar lain, aku nggak terima…!!”

“Terus…?” tanyaku sambil mengelap keringat yang meleleh di leherku.

“Mehdi ki juga sering ke gym ini Dek, di sana itu.., pojokan sana, dia sukanya main tinju-tinjuan…, aku juga kadang nungguin dia kalau lagi fitness..,” kata Mbak Aryani. Aku belum pernah berpapasan dengan Mehdi di gym ini, karena aku baru dua minggu pindah ke fitness ini. Aku longokkan kepalaku ke seberang ruangan gym, yaa, nyaris hanya member laki-laki yang sering menggunakan alat-alat di sebelah situ, nampak beberapa sandsack, karung pasir yang biasa buat latihan pukul para petinju, tergantung di sana.

“Ini hari minggu, biasane Mehdi fitness.., aku sms yaa…,” kata Mbak Aryani.

Kemudian Blackberry mbak Aryani mak klunthing, berdenting dengan lembut, message masuk, dibacanya, dia nampak girang, “Hmm, tumben langsung bales sms, ya begini ini kalau aku sudah ngancam-ngancam dia. Kata Mehdi, dia akan datang nemui aku di apartemenku, setelah fitness, aku pura-pura nggak di sini yaa, aku tak ngumpet..,” katanya.

Aku belum sempat nanya, apa rencananya, sepertinya Mbak Aryani nggak butuh-butuh amat pertolonganku, maka aku menggunakan alat-alat fitnes ringan yang lain untuk pendinginan saja.

Kira-kira seperempat jam kemudian, di luar sana nampak mobil sedan warna hijau, memasuki ruang parkir, Mbak Aryani langsung nyolot, “Itu mobilku, Dek.., mobil yang aku belikan buat dipakai Mehdi..,” Aku menghentikan aktifitasku dan ikut nengok ke arah luar. Ya, area parkiran tampak jelas dari ruang fitness ini, karena semua dinding ruang fitness ini terbuat dari kaca.

“Lhaa, rak tenan to…delengen, beneran, kan, lihat, tuh Mehdi nggandeng cewek leh fitness… Hmmm, jangan tanya ini dosa siapa.., awasss, tak krampyang, aku omelin nanti dia..!!” kata Mbak Aryani geram.

Ketika aku ingin memberinya saran, Mehdi sudah telanjur memasuki pintu utama ruang fitness, tertawa-tawa sambil menggandeng tangan seorang perempuan muda, yang nampak sexi, dan semakin nampak sexi karena model pakaiannya yang melipit-lipit ketat dan minim, yang membungkus tubuh perempuan itu. Mestinya, Mehdi dan perempuan itu tidak menduga ketika hal ini akan terjadi, “hei.., Mehdi.., dasar tikus mlenyok.., tukang ngeret, berani-beraninya kamu pakai mobilku buat seneng-seneng sama perempuan lain, sementara antar jemput aku aja kamu nggak beres. Kembalikan mobilku.., bayar utangmu, you owe me six thousand dollar.., cepat..!!”

Kemudian, mbak Aryani masih meneruskan omelannya, “Rumangsane, aku ki bagaikan sandsackmu, nggo latihan antem-anteman thok po piye.., bareng wes kemringet kok aku malah ditinggal gondal-gandul dewe…!!”  (“Kamu pikir, aku ini bagaikan sandsackmu, cuma buat latihan pukul-pukulan, setelah kamu berkeringat kok aku ditinggal tergantung-gantung sendiri..!!”). Aku ngakak tertahan mendengar kata-kata Mbak Aryani.

Mehdi terkejut tanpa sempat menjawab apa yang dikatakan mbak Aryani, karena Mbak Aryani juga marah-marah dalam bahasa campuran, Bahasa Indonesia, Jawa, dan sedikit bahasa Inggris. Si cewek juga nampak sangat terkejut, dan nampak tidak suka, “What heck are you doing..?” teriak si Cewek kepada Mbak Aryani.

“Nggak usah heck-heckan, wes kowe rasah melu-melu, sudah kamu nggak usah ikut-ikutan. Ini between me and Mehdi…,” semprot Mbak Aryani dengan muka yang sangat galak dan menakutkan. Si cewek mengkeret, dengan muka merengut, dia terdiam berdiri di samping Mehdi.

“Honey, please…, calm down, let me explain…,” kata Mehdi akhirnya.

“Rasah hona-hani.., wes pokoke, give me the key..!! And you.., give me my money back…, atau kamu aku laporkan  polisi…, I call police!!” ancam Mbak Aryani kepada Mehdi.

“Please, Aryani.., I still love you..,” kata Mehdi.

Sejenak wajah Mbak Aryani hampir meleleh dengan rayuan Mehdi. Tapi kemudian, “Wes, nggak laku rayuan gombal mukiyomu kuwi…No Love..!! Give me the key..!! Now..!! And tomorrow, don’t forget, six thousand dollar, my money..!!”

Demi melihat ada yang ramai-ramai, maka sekuriti gym segera datang menghampiri, ” Hei, apa yang terjadi.., bisa saya bantu selesaikan.., anda tidak harus saling berteriak di sini.., kasihan para member lain yang dengar, mereka akan takut.., mari ke ruang kerja saya saja…”

Mbak Aryani langsung menyahut, “No, thank you Mister Security, enggak perlu deh ke ruanganmu, saya hanya mau minta mobil saya dari orang ini.., I just want my car back..!!”

Akhirnya, Mehdi nampak tak ingin meneruskan perdebatan, tampaknya dia takut juga bila berurusan dengan polisi, karena Mehdi adalah ilegal alien, alias pendatang haram, penduduk ilegal, kalau berurusan dengan polisi, bisa-bisa dia langsung kena deportasi, dipulangkan ke negaranya. Dia segera menyerahkan kunci mobil ke mbak Aryani. Aku dari tadi hanya berdiri melihat dari jarak dua meter di belakang mbak Aryani. Kemudian, “Dek, ki kuncine, nanti bawa pulang mobilnya yaa, parkirke di parkiran apartemenku..” Ooh, ternyata Mbak Aryani pengen minta tolong dibawakan mobilnya, untuk diparkirkan di apartemennya….

“Hwahh, aku nggak bisa bawa mobilmu pulang, Mbak…,” kataku.

“Lho katanya wektu neng Indo biasa nyopir..piye to..?” todong Mbak Aryani, masih dengan sisa muka mecothot.

“Lha aku nyupir ya bisa Mbak, tapi kan aku gak punya lisence nyopir di sini..he..he..he..,” jawabku santai, dan aku benar-benar nggak mau melawan hukum, nggak punya SIM Amerika, kemudian nekad nyopir, kalau ketangkep polisi, dendanya bisa ratusan dollar.

Ya wes, ya sudah, aku hubungi Joko dulu buat ambil mobilku…,” kata Mbak Aryani. Aku tidak tau, siapa itu Joko yang dimaksud oleh Mbak Aryani, yang jelas, itu nama laki-laki Indonesia. Apakah dia juga salah satu “pecothotannya” mbak Aryani, atau bukan, aku tak peduli. Kubiarkan semuanya mengalir begitu saja, toh ini benar-benar bukan urusanku.

Dan untuk meredakan emosi, aku ajak Mbak Aryani ke kafe dekat gym, minum Bubble tea, makan eggrol, alias lumpia goreng isi ayam, sambil nunggu Joko, temannya mbak Aryani, datang.

Salam pating pecothot…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Sabtu, 7 Januari 2012, jam 1.57 siang..

(Maka, berusahalah untuk tidak nampak pating pecothot…hixixixi…)

 

 

20 Comments to "Diriku Adalah Sandsackmu"

  1. Kornelya  30 January, 2012 at 21:36

    Pacaran kalau melibat duwet bakal ruwet. Njaluk menjaluk lalu kabur. Hahaha

  2. probo  30 January, 2012 at 15:23

    PakDj, masih ingat cothot to?

    Mbak Lani duduhke wae sing PKI (pake kotang ireng), njur diomongi iki lo jenege mecothot hehehehe

  3. HennieTriana Oberst  30 January, 2012 at 13:28

    Lucu membayangkan mbak Aryani

  4. Lani  30 January, 2012 at 13:16

    DIAN : wakakakak……..ngakak ngasek jempalik-an aku…….ampe ditanya ama ehm2……WHAT IS SO FUNNY?? wahahaha…..njur pie jal aku kudu njawabe…..aku melok mumet meng-translate……mecothot…pating pecothot…….mlethot……wakakak…….ediaaaaaaan tenan iki…….

  5. Dj.  30 January, 2012 at 11:57

    Bu GuCan benar….
    Cotot jajanan pasar yang ditaburi dengan parutan kelapa juga enak….

  6. probo  30 January, 2012 at 11:41

    ayo tuku cothot…karo clorot

  7. [email protected]  30 January, 2012 at 10:05

    ora melu melu ahhh…

  8. J C  30 January, 2012 at 09:48

    Hahahaha…pating pecothot, pating plenthung, pating mbuh lah… hahahahahaha…

  9. Anastasia Yuliantari  30 January, 2012 at 08:34

    Wis…wis….aku nganti metu luhe terlalu banyak ngakak….hehehe.

  10. Linda Cheang  29 January, 2012 at 19:25

    cothot, mencothot… puyeng, ah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *