Goodbye

Wesiati Setyaningsih

 

Pagi ini saya membongkar rak buku dan almari buku. Banyak buku-buku almarhum bapak yang bisa disingkirkan agar buku saya bisa dapat tempat. Juga buku-buku adik saya bisa dipak agar bisa dibawa ke rumahnya. Satu almari terselesaikan. Buku-buku saya bisa masuk.

Dengan puas saya pandangi deretan buku-buku saya. Ternyata dari judulnya, interest saya agak ‘gila’. Ada buku pembelajaran yang dulu saya gunakan untuk membuat karya ilmiah guru, ada buku tentang meditasi, ada buku-buku spiritual modern, buku-buku motivasi, ada novel-novel paulo coelho dan mitch albom penulis favorit saya, bahkan ada buku cara meramal menggunakan tarot, juga buku Wiwien yang belum saya kembalikan. Saya tersenyum. Sekarang buku-buku itu menempati tempat yang lebih layak karena lebih lapang. Kemarin saya mesti menjejalkan ke lemari yang tidak terlalu luas. Itu saja saya mesti membuang buku-buku Dila yang waktu itu ternyata tidak terpakai. Buku-buku saya makin banyak sementara tidak ada tempat.

Saya membongkar bagian lemari yang lain. Bagian bawah lemari ini masih kacau. Saya keluarkan satu persatu. Tiba-tiba saya menemukan satu benda seperti tempat pulpen atau sebesar tempat kaca mata. Tapi benda ini berat seperti terbuat dari metal. Saya buka, ada sebuah benda seperti pulpen besar tapi ujungnya tumpul. Butuh waktu beberapa saat untuk menerka benda apa itu. Baru kemudian saya ingat bahwa itu adalah suntikan insulin yang dulu digunakan bapak saya saat hidup menjelang meninggalnya. Beberapa tahun menjelang meninggal bapak sudah mulai menyuntik insulin ke badannya sebelum makan. Tubuh bapak sudah tidak mampu melawan diabetes yang menyerang dua puluh tahun lebih.

Kenangan tentang bapak menghunjam dengan serta merta. Lima tahun dan semua masih seperti kemarin. Bagaimanapun memang kita sendiri yang bisa melepaskan apa yang pernah melekat dalam pikiran kita. Tak ada orang lain yang bisa. Dan mau tak mau saya mesti merelakan kepergian bapak. Saya tahu saat ini tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi kuatir, tidak ada lagi kesedihan yang dialami bapak. Jadi apa yang mesti saya sedihkan? Menangisi kenikmatan yang dialami bapak saat ini adalah sebuah ironi. Kalaupun saya menangis, saya hanya menangisi diri saya sendiri yang kini kesepian setengah mati sepeninggal bapak. Itu saja.

So, I guess it is time to let it go, to let him go… So long…

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Goodbye"

  1. Yeni Suryasusanti  30 January, 2012 at 12:01

    Anoew, Wydha, Thanks ya… Insya Allah setiap hari selalu tersenyum penuh rasa syukur untuk semua hal lain yg saya terima

    Oom DJ, Saya punya rak buku setinggi 2 meter. Penuh buku cerita saya hehehe…. meski sudah tau isinya dan disimpan di benak saya, tapi dikala senggang saya suka mengulang membacanya

  2. R. Wydha  30 January, 2012 at 10:53

    mengingatkan pahlawan dalam hidupku yang sudah tiada karena diabetes,,(eyang)

    tabah dan sabar yaaa mbak yen

    Keep smile sist..

  3. anoew  30 January, 2012 at 10:32

    Jadi saya berjanji tidak akan meratapi kepergiannya… meski hingga kini terkadang masih mengalirkan air mata jika kangen padanya

    Konon, kalau sebatas teringat saja sih gk papa. Masalahnya adalah jika terus meratapi dan rasa gk rela kehilangan lebih kuat dari pada kasih, itu malah akann menyusahkan dia yang pergi karena serasa “diikat”. Entahlah.

    Tabah ya Yen.
    *smile

  4. Yeni Suryasusanti  30 January, 2012 at 09:59

    Kata yang sama aku ucapkan ketika putriku nada berpulang. Air mata darah pun tidak akan membuatnya kembali hidup….
    Jadi saya berjanji tidak akan meratapi kepergiannya… meski hingga kini terkadang masih mengalirkan air mata jika kangen padanya…

  5. J C  30 January, 2012 at 09:45

    Sama kayak Hennie, mengingatkanku akan kedua mendiang orangtua…

  6. HennieTriana Oberst  29 January, 2012 at 20:35

    Sedih, ingat kepergian kedua orang tua

  7. Dj.  29 January, 2012 at 17:02

    Mbak Wesiati….
    Buku-buku disimpan dan kalau tidak dibaca lagi, untuk apa.
    Mending, kalau sudah dibaca, dikasikan orang yang beleum baca ( di perpustakaaan / Bibliothek ).
    Lha ditaruh di rak lemari, hanya sarang debu saja.
    Dj. beli buku, baca, selesaai ya kaksi anak, atau orang lain.
    Kan kalau sudah baca, sudah tau isinya dan sudah ada disimpan dalam benak kita.
    Olehnya Dj. tidak punya rek buku, yang kadang Dj. lihat hanya sebagai pameran saja.
    Tokh seperti buku-buku ayahanda, akhirnya dipack juga dan anda tidak perlukan lagi.
    Demikian juga nanti anak–anak anda terhadap buku-buku anda yang anda sayangi……

    Buku yang Dj. simpan hanya satu, yaitu Alkitab, karena setiap hari dibaca, berkatnya selalu baru.

    Maaf, kalau kata-kata diatas terlalu o´on….
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  8. anoew  29 January, 2012 at 10:48

    Sedih..

  9. Handoko Widagdo  29 January, 2012 at 09:10

    Merelakan mereka yang pergi memerlukan kekuatan cinta.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *