Jejak Kehidupan

Dewi Aichi – Brazil

 

Saya benar-benar jadi merenungkan beberapa kalimat singkat yang saya dapatkan dari bapak Anwari Doel Arnowo, yang intinya demikian,

“Tulisan-tulisan merupakan warisan yang akan saya wariskan sesudah saya nanti tiada lagi ada di dunia ini”

Itulah sebaris kalimat dari pak Anwari Doel Arnowo yang membuat saya menuangkan dalam tulisan saya ini. Pak Anwari bilang bahwa verba Volant scripta manent, yang artinya sama dengan apa yang diucapkan bisa dilupakan orang, tetapi yang ditulis akan selama-lamanya ada.

Nah bagaimana agar kitapun sebagai manusia, keberadaan kita tidak begitu saja hilang jejak setelah nanti kita mati. Yaitu dengan menulis. Menulis apa saja yang penting menulis. Tulisan itu bisa kita simpan, kita bukukan, lalu disimpan. “Kau, nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tau kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angina,akan abadi sampai jauh, jauh dikemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” (Pramoedya Ananta Toer).

Aduh, bagaimana dengan orang-orang yang tak pandai menulis seperti saya ini. Sungguh, menulis bagi saya sesuatu yang sangat sulit. Saya tak pandai menuangkan apa yang ada dalam otak saya ke dalam sebuah tulisan. Bagaimana mengekspresikan perasaan yang ada dalam benak ke dalam tulisan. Bagaimana mengkhayal, lalu lahirlah sebuah cerita pendek ataupun novel.

Apakah saya akan hilang dari sejarah? Apakah saya akan hilang begitu saja, tanpa ada yang mengenal jejak saya? Bagaimanapun kisah hidup saya, indah atau tidak, bahagia atau tidak, bahwasanya saya pernah ada dalam suatu bagian masyarakat.

Dari sebuah tulisan yang saya ambil dari sebuah milis,”saya adalah contoh korban dari kakek nenek yang tak menulis. Kakek saya bahkan meninggal jauh sebelum ayah saya menikah. Dari pihak ibu, kakek nenek saya benar-benar tak saya kenali sedikitpun, karena mereka meninggal sebelum lahir. Jadi saya tak pernah tau kiprah kakek nenek saya. Apa yang pernah dialaminya, bagaimana kehidupanya, apa yang sering dipikirkannya, bagaimana gejolak perasaannya menghadapi situasi-situasi kehidupan di masa silam, dan sebagainya.”

Sama persis dengan apa yang saya alami, bahwa sayapun tidak mengenal wajah kakek buyut dan nenek buyut saya. Bagaimana wajahnya, bagaimana kehidupannya. Samar-samar saya mengingat wajah nenek buyut saya (ibu dari nenek dari pihak ibu saya) dan nenek buyut, atau nenek dari ibu saya.

Yang saya ingat, nenek buyut saya yang saya sebutkan pertama adalah sering mendongeng masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kakek buyut saya hilang entah ke mana. Tak pernah diketemukan lagi. Terakhir kalinya melihat kakek buyut saya, ketika itu ada rombongan londo (Tentara Belanda) bertamu di rumah nenek buyut saya dengan maksud membeli beras beberapa karung, kemudian kakek buyut saya mengantar beras tersebut ke markas tentara , yang ternyata tak pernah kembali lagi ke rumah.

Yang saya ingat dari nenek buyut satu lagi, adalah seorang nenek yang sangat galak, tegas dan disegani anak-anak dan cucunya sampai cicitnya termasuk saya. Saya tidak suka, dan takut sekali , itu yang saya rasakan tentang nenek buyut saya yang satu ini. Punya anak 9, anak pertama yaitu nenek saya, adik-adik nenek saya rata-rata menjadi guru dan angkatan laut.

Itulah batas cerita yang masih bisa saya ingat dan tuangkan ke dalam tulisanku kali ini. Sebelum nenek buyut saya, sudah tak ada lagi yang bisa saya ceritakan, blank dan saya mungkin harus menelusurinya nanti dengan bertanya kepada yang lebih tua, misalnya nenek saya bersaudara.

Dari orang tua saya sendiri tak ada tulisan-tulisan yang kelak bisa diwariskan. Apakah saya harus memulainya? Mungkin ini sesuatu yang harus segera saya lakukan, menulis. Kemudian kusimpan.

Saya tak mau hilang dari sejarah keluarga sendiri. Saya ingin, kelak anak cucu saya bisa mengenal saya, watak maupun sifat saya, kelakuan saya, kehidupan saya dan lain sebagainya.

Seperti juga tulisan-tulisan yang sangat beragam di Baltyra ini. Bagaimana kelak kelanjutannya? Siapa yang akan menyimpan begitu banyak tulisan yang sungguh disayangkan jika sampai hilang. Saya tak ingin kehilangan jejak persahabatan yang begitu indah dan hangat dalam sebuah rumah tanpa dinding. Sapaan teman-teman, semua menyatu dalam perbedaan.

Sungguh, saya tak mau kehilangan semua yang ada di Baltyra, dalam sebuah artikel yang disempurnakan atau dikacaukan  di kolom komentar yang tak akan ada duanya. Semua bersapa ramah, berargumentasi, berbagi pengalaman, berbagi ilmu, berbagi resep masakan, kritik, saran, dan juga kabar dari penjuru dunia bisa didapat dalam satu wadah.

Bagaimana caranya agar semua itu tak hilang begitu saja? Dibukukan? Termasuk tulisan-tulisan di kolom komentar saya kira tulisan lebih terasa ada nyawanya.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

42 Comments to "Jejak Kehidupan"

  1. anoew  1 February, 2012 at 17:21

    Lho Wik? Itu jempol bersejarah lho, berkhasiat pulak..

  2. Dewi Aichi  1 February, 2012 at 16:58

    Alvina…..duh terima kasih sudah mengingatkan, segera laksanakan he he…sedang aku rencanakan itu…! Dalam bentuk visual…sudah ada….!

  3. Dewi Aichi  1 February, 2012 at 16:56

    Ayla…..belum tentu kan keturunan kita mempunyai passion yang sama, minat yang sama…Dirimu sudah jelas, akan banyak buku buku yang akan terlahir dari tanganmu, karyamu….he he…itulah nikmatnya, jika sudah mempunyai sebuah karya yang bisa dimasyarakatkan..

  4. Dewi Aichi  1 February, 2012 at 16:54

    Linda, di baltyra gampang mencari tulisan kita, apalagi menelusuri kembali komentar komentar dari teman teman, wah…aku kira juga layak dibukukan, mana ada komentar komentar yang begitu seru di baltyra ini, ada yang serius, ada yang OOT, ada yang sudrun, ada yang RKS alias RODO KENTHIR SITHIK, contohnya cari sendirilah he he he….

  5. Dewi Aichi  1 February, 2012 at 16:51

    Pak DJ, itulah yang saya maksud, seperti orang orang terdahulu, yang mempunyai penemuan penemuan hebat, peninggalannya akan selalu diingat sepanjang masa, ilmu ilmunya yang bermanfaat, tetap akan menjadi bagian dari penerus, sedangkan yang tidak meninggalkan apapun, bisa jadi terselip dari ingatan masyarakat, bahkan keturunannya sendiri. Saya contohkan saya sendiri dalam tulisan ini, bahwa hanya sebatas eyang buyut yang bisa saya kenal, sebelum eyang buyut, saya sudah tidak mengenal lagi apapun dari beliau, memang benar pernah ada, tapi tidak bisa saya punyai sesuatu dari beliau.

    Pak DJ hati hati…..jangan ngebut he he….nanti bisa teerkenal di Jerman , lha fotonya mejeng tiap hari karena ngebut..!

  6. Dewi Aichi  1 February, 2012 at 16:44

    Anoew, komen 26, halah…jempol neyeng lho….malah bikin AIDS …eh apa tuh namanya, aib ya he he….anak cucumu..!

    Pak Handoko……ya sudah kalau ngga mau dijejaki, nanti ditatap saja…

    Kornelya yang kedinginan….salam hangat, dan terima kasih, salam mencari jejak…

  7. Dewi Aichi  1 February, 2012 at 16:41

    Atite, halooooo….ya ampun ke mana saja…(peluk-peluk), aku mencari jejakmu tapi ngga nemu he he…apa kabar? Sama, aku juga kangen denganmu, dengan tulisan tulisanmu, dengan foto fotomu yang ngga jelas itu ha ha..

    Tadinya aku juga ngga kepikir akan hal ini, tapi sekelumit tulisan Pak Anwari membuatku memikirkan akan hal ini. Aku akan membuat sebuah memo, untuk kusimpan, biar nanti anakku dan keturunannya bisa mencari jejakku, entah dalam bentuk foto atau tulisan yang sama sekali tak bermutu he he..tetapi, bisa membuat anak keturunanku mengenalku.

  8. Alvina VB  1 February, 2012 at 03:22

    Dew…
    Ya udah bikin memoir aza buat anakmu dewe…

  9. Anastasia Yuliantari  31 January, 2012 at 22:27

    Lho, kan ada generasi berikutnya di Baltyra, santai aja Wik….serahkan pada Buto dan juniornya….hehehehe.

  10. Linda Cheang  31 January, 2012 at 11:10

    DA : nah, inilah parahnya aku. Kalau mengingat-ingat tulisan karya teman-teman dan orang lain itu bisa, tapi kalau mengingat tulisan sendiri, koq, malah lupa mulu, ya? Enggak ingat lagi berapa tulisan yang sudah diproduksi.

    Paling kalau di Baltyra sini, ya, mengandalkan sistem dokumentasinya saja, dan yang pernah tayang di media sebelumnya. Yang di luar itu, mbuh, lali tenanan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.