Keputusan

Anwari Doel Arnowo

 

Waktu itu saya berumur sekitar 45 tahunan.

Suatu hari, seorang bekas teman sekolah berinisial D yang umurnya lebih tua dari umur saya, bertanya, minta pendapat dan menunggu persetujuan saya.

Apa pasal?

Sebenarnya pada hari sebelumnya istri D yang juga saya kenal, dan telah diberi berkah dua orang anak yang sudah duduk di Sekolah Menengah Atas, meminta saya berdua istri saya, datang ke rumahnya malam hari sekitar pukul 20:00 di daerah Setiabudi di Jakarta. Singkat cerita sang istri akhirnya berterus terang membuka sebuah berita baru bagi kami, bahwa D telah sering bepergian dengan perempuan lain. Ini memang nyata, sesuai dengan fakta bahwa kami berdua telah datang di ruang tamu di dalam tempat tinggal Rumah Tangga D pada petang hari seperti itu, tetapi sang suami tidak berada di rumahnya. Sang istripun dengan panjang lebar bercerita dengan gamblang mengenai tindak tanduk sang suami dan lain-lain hal yang kurang sedap didengar. Di dalam kurun waktu kami mendengarkan cerita-cerita sang istri D ini, saya teringat ketika mereka menikah di negeri lain, waktu itu saya pun hadir dan pernikahan mereka telah diadakan di sebuah Masjid Turki. Saya sendiri secara langsung menyaksikannya dan melihat bagaimana mesranya mereka, semesra layaknya pengantin.

Tetapi setelah sekitar duapuluhan tahun kemudian, saya terpaksa mendengarkan hal ini.

Sang istri akhirnya meminta pertolongan saya untuk berbicara kepada suaminya, begini kata-katanya: “Saya ingin minta pertolonganmu, Anwari, temuilah D dan katakanlah bahwa yang dibuatnya selama ini telah menyusahkan kami sekeluarga. Tolong diingatkan dia, bahwa anak-anaknya kan sudah SMA!”

Mendengar hal ini saya tidak memerlukan waktu yang lebih dari satu menit, mengalirlah kata-kata dari mulut saya sebagai berikut ini: “ Begini, ya, saya dan istri saya telah faham dengan semua kejadian yang telah kami dengar tadi. Tetapi saya selaku temanmu sejak lama, merasa bahwa masalah tersebut sesungguh-sungguhnya adalah masalah Rumah Tangga kalian berdua. Menurut pendapat saya, saya harus membatasi diri untuk tidak mencampurinya, akan tetapi bukan dengan maksud mengatakan bahwa saya tidak mau memberi perhatian terhadap masalah ini. Hal ini menurut hemat saya, kalau menuruti kemauanmu, maka saya akan menemui jalan buntu bagi saya. Masalah ini sepenuhnya ada di dalam area yang hanya kalian berdua, antara D dan istrinya, anda, yang paling mengetaui. Saya hanyalah orang luar, dan saya merasa tidak harus dan ingin mencampuri, tetapi tetap dengan maksud baik. Apalagi kalau saya harus menyebut kedua anakmu, yang sesungguhnya saya beranggapan bahwa saya akan jelas-jelas mencampuri Rumah Tangga orang lain, sebab tidak ada hak saya sama sekali. Ingatlah D juga teman saya, tetapi dengan satu kalimat saja dia akan bisa dengan mudah akan membungkam mulut saya, karena dia tidak mau dicampuri masalah dirinya yang pribadi. Bukankah demikian?”

Istri D ini dengan muka menahan tangis, akhirnya bersedia menyetujui isi jawaban saya.

Yang saya tidak tahu adalah dari mana saya peroleh, secara tiba-tiba, saya bisa mengalirkan kata-kata seperti di atas.

Juga saya tidak bisa menyangka bahwa keesokan harinya saya bertemu dengan D, tanpa direncanakan, di tempat yang tidak saya duga. Dia menggamit saya seperti impulsif saja, seperti telah saya gambarkan di kalimat kedua pada bagian awal tulisan ini. D berkata jelas dan singkat, setelah sedikit menggambarkan bahwa dia sedang jatuh cinta dengan wanita lain.

Saya tidak mengungkapkan bahwa saya sudah dengar versi cerita dari istrinya, tetapi saya jawab juga dengan tegas dengan sedikit melucu: “Wah saya sekarang sedang berhadapan dengan seorang Janoko yang berasal dari Ras Makassar, nih!! Tetapi beginilah yang paling bisa saya katakan kepadamu. Urusan yang kamu ungkapkan tadi sebenarnya sama sekali bukan urusan saya, tetapi urusanmu seratus persen. Saya tidak akan bilang  menyetujui, apalagi tidak juga akan tidak setuju terhadap apa yang terjadi kepada dirimu saat ini. Kamu seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta kepada wanita lain, meskipun sudah memiliki istri dan anak-anak. Saya sekedar ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang ingin kamu mau untuk menjawab sejujur-jujurnya. Ini pertanyaan saya nomor satu: -Apakah perempuan ini memang sudah kamu niatkan untuk dinikahi?. Yang kedua: – Apa kamu ini sudah sadar bahwa kamu adalah Pegawai Negeri, yang mempunyai peraturan masalah seperti ini dan telah menyadari apa akibat yang akan kamu terima karenanya?”

Dia menjawab cepat: “ Iya, aku mau nikahi dia, soal status aku selaku Pegawai Negeri itu sudah aku hitung-hitung dan pikir, dan keputusannya adalah aku kawini dia, lain-lain urusan belakangan deh!”

Jawab saya, yang tiba-tiba saja keluar dari akal saya, adalah: “Apa kamu sudah siap satu hal lagi yang paling penting?”

“Apa pula rupanya lagi, hah??” Tukasnya memotong kalimat saya dengan nada suara tinggi.

Saya jawab: “Uang!!!” saya ucapkan lebih keras dari nada suara dia..

Kelihatan di terpana dan bengong. Dia tidak berkata apa-apapun untuk beberapa menit. Sunyi .. dan matanya memandang ke langit-langit dan dia juga menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan mata saya, tetapi tidak ada kata sepatahpun yang keluar darinya. Dia pandang saya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Khawatir juga saya kalau-kalau dia tersinggung perasaannya dan dia marah untuk sesuatu yang saya ucapkan kepadanya. Marah gaya Makassar, seperti pernah diperlihatkan olehnya kepada saya, pada suatu saat di waktu kita sama-sama belajar tempo dulu. Rupanya dia sudah lebih dewasa dan tidak marah, dan berkata lembut: “ Iya benar juga kau, Anwari, aku belum berpikir seperti itu!!”

Saya bilang: “Begitulah. Cuma itu yang terbaik yang bisa kukatakan kepadamu saat ini. Pikirkanlah dengan baik dan berbuatlah yang terbaik bagi dirimu dan seluruh Rumah Tanggamu. Selamat berpikir dan semoga selamat juga setelah keputusan apapun yang akan kamu ambil!!”

Saya tidak pernah bertemu dia lagi sejak saat itu sampai saat ini. Saya hanya dengar beritanya dari teman lain: D tetap menikah lagi dan mempunyai dua Rumah Tangga serta dua buah rumah yang tidak berjauhan letaknya. Suatu saat D sakit dan dirawat di rumah sakit dan kedua istri merawatnya dengan baik. Kira-kira dua belas tahun yang lalu D meninggal dunia dan akhirnya, menurut berita yang saya dengar: kedua istri hidup bersama di dalam satu rumah, di bawah satu atap.

Bukan main. Hebat sekali kau, kawan. Ini mengingatkan saya sebuah judul lagu dangdut: Tidak Semua Laki-Laki …..

Tetapi apapun yang telah terjadi, saya yakin kawanku itu telah melakukan kebohongan, nomor satu pasti untuk menikah kedua kalinya dia tidak mendapat ijin dari istri pertama dan kedua dia juga tidak mendaftar dan mencatatkan istri keduanya di tempat dia bekerja, karena dia tetap dapat masih bekerja untuk  beberapa lamanya di tempat kerja yang sama.

Ya, seperti biasanya kebohongan-kebohongan yang kecil-kecil selalu diikuti oleh kebohongan yang lain untuk selalu menutupi kebohongan-kebohongan yang sebelumnya, sehingga berguling-guling seperti bola salju. Makin lama makin besar seperti biasanya salju (snowballing) yang akhirnya akan pecah juga. Bagaimanapun hal itu bagi D hanyalah akan merupakan sebuah pengalaman, sejarah yang dia tidak akan mampu untuk menghindarinya.

Saya pernah membaca bagaimana nilai diberikan kepada tingkat stress seseorang. Kalau saja nilai tertinggi adalah seratus, maka nilai 80 sudah mudah didapat bagi yang akan menikah, bercerai, pindah pekerjaan (juga dipecat, dapat promosi jabatan) dan pindah tempat tinggal (atau diusir dari tempat tinggalnya atau sebaliknya memasuki rumah barunya meskipun jauh lebih baik kondisinya). Saya tidak tau bagaimana nilainya kalau menikah untuk yang kedua kali, sedang istri pertama masih ada dan berstatus istri yang sah. Apalagi masih ditambah dengan berbohong mengenai soal ijin dari istri pertama, selain melanggar kaidah agama, juga melanggar undang-undang Negara. Bagaimanapun pasti yang lebih berat adalah perang yang ada di dalam bathin sendiri. Dalam masalah perceraian saya tidak pernah mendukung pelaksanaannya karena saya adalah orang lain, saya bukan mereka berdua, karena ini menyangkut dua pihak yang telah TIDAK sesuai, sejalan dan sehidup semati. Bagi mereka berdua hidup sudah seperti neraka kalau diteruskan juga, hanya mereka yang bisa merasakan, bukan orang tuanya, bukan pula orang lain. Apapun yang  mereka putuskan, itu dengan tujuan mencari suasana kehidupan yang lebih baik, meskipun di kemudian hari mereka tidak bermusuhan, seperti saudara biasa saja.

Menghadapi yang seperti ini di dalam hati, saya ulang di dalam hati saya saja, saya menyetujui perceraian yang memang harus telah dilakukan itu. Di bagian awal sebuah surat cerai versi Islam ada ditulis kata-kata yang intinya berarti Allah tidak menyukai perceraian, akan tetapi talak (cerai) adalah perbuatan yang sah. Siapapun yang telah bercerai maka dia harus berani menghadapi kehidupan sesudahnya, membuat suasana harmoni, tidak saling menjelekkan satu dengan yang lainnya, menyadarkan anak-anak dari hasil perkawinannya pada setiap saat, bahwa urusan cerai adalah murni urusan dua orang, yakni ayah dan ibunya. SAMA SEKALI BUKAN URUSAN ANAK-ANAK MEREKA.

Saya yakin bahwa kedua belah pihak PASTI merasakan kehancuran tata kelola, ketidak mampuan mengelola Rumah Tangga. Bukan rahasia lagi bahwa hal seperti ini membutuhkan kearifan mereka berdua, terutama dalam membela dirinya sendiri yang dianggapnya paling benar dan pihak lain itu salah. Dengan emosi tinggi mencari dukungan dari anak-anak dan anggota keluarga serta dari para teman dan sahabatnya. Dengan semangat tinggi, bersuara keras, menyerang bekas pasangannya, selama bertahun-tahun; hal ini dilakukan pada setiap  saat setelah berpuluh tahun terjadinya perceraian.

Bekas pasangan, kalau menghadapi yang seperti ini harus melawan. Tetapi bukan melawan bekas pasangannya, melainkan harus melawan dirinya sendiri, agar menutup mulut dan bungkam tidak menanggapi apalagi dengan membuka hal-hal yang lebih buruk. Di sini berlaku peribahasa: Menepuk  air di dulang, terpercik muka sendiri. Semua pernikahan harus selalu disadari bahwa kedua pihak datang dari dua buah keluarga dan kelompok (clan) yang berbeda, maka perbedaan lingkungan asal mereka mau atau tidak mau telah melekat di dalam pertumbuhan mereka sampai datang masa pernikahan. Hal seperti ini biasanya membawa sengketa pendapat, tetapi amat membutuhkan kesabaran dan kearifan yang matang, padahal usia mereka belum mencapai tingkat seperti itu dalam “bertempur”.

Hal-hal yang seperti begini ini telah menyebabkan saya selalu berpedoman bahwa barang siapapun membuat masalah, maka dia wajib dan harus bertanggung jawab, kemudian harus bisa  menyelesaikannya sendiri dengan tuntas.

Itu yang terbaik, terutama sekali yang mengenai persoalan yang bersifat amat pribadi.

 

Anwari Doel Arnowo – 2/28/2009 10:26:20 PM

 

10 Comments to "Keputusan"

  1. Dj.  31 January, 2012 at 04:51

    Cak Doel…
    Terimakasih untuk cerita diatas…
    Memang seharusnya demikian, kita tidak harus mencamuri urusan orang lain.
    Apalagi persoalan intern, adalah urusan mereka sendiri.
    Saat senang, mereka juga tidak memimnta pendapat kita kan…???
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  2. Anwari Doel Arnowo  31 January, 2012 at 02:54

    Komelya,
    Bilamana ditanya saat ini anda ingin bisa menjadi anak kembali yang umurnya berapa, apa anda ingin menjadi yang berumur tiga atau enam atau duabelas tahun atau malah yang limabelas tahunan? Ternyata pada semua umur, manusia itu mempunyai risiko yang terbukti dia tidak bisa mendesign menurut kemauannya sendiri. Saat ini saya hampir 74 tahun dan kenangan baik saya adalah umur 14 tahun, sudah mengemudi mobil sendiri, sudah sering berkelahi serta naksir seorang gadis dan bisa mendengarkan pembicaraan orang dewasa masalah politik !! Mereka yang lebih muda dari saya, tidak akan sama dengan pikiran saya. Saat ini, yang Taman Kanak-Kanak saja bisa memberi sepucuk bunga bagi teman gadisnya. Ha ha ..
    Anwari – 2012/01/31

  3. Kornelya  30 January, 2012 at 21:57

    Pa Anwari, kasihan ya jadi anak, tidak punya hak untuk mencampuri urusan perceraian orang tuanya. Mereka secara hukum dipaksa untuk pasrah menerima keputusan egois orang tua. Salam.

  4. el hida  30 January, 2012 at 20:03

    menarik, ya… salam malam….

  5. Handoko Widagdo  30 January, 2012 at 13:53

    Sulit untuk tidak berkomentar ketika orang lain curhat.

  6. Titin  30 January, 2012 at 12:43

    Berkomentar tanpa memihak, seperti yang pak Anwari sudah lakukan……

  7. anoew  30 January, 2012 at 11:54

    Tidak Semua Laki-Laki

    Saya malah teringat ke lagu (masih dangdut juga) yg berjudul Sepiring Berdua.
    Hanya saja kali ini, piringnya yang ada dua.

  8. Linda Cheang  30 January, 2012 at 11:09

    di sisi lain, masih saja ada yang mau ikutan campur urusan internal rumah tangga orang lain. Orang tua ingin ikut campur rumah tangga anaknya, sampe kakek-nenek ingin ikut mencampuri urusan rumah tanggan cucunya, hehehe…

    kalo saya, mah, teteup tegas : stay away from another’s private business…

  9. [email protected]  30 January, 2012 at 10:20

    ngekor buto wae….

  10. J C  30 January, 2012 at 09:55

    Setuju pak Anwari, sering saya juga kudu mendengarkan curhat beberapa sahabat mengenai masalah rumah tangga mereka. Dan saya setuju banget dengan pak Anwari, urusan internal rumah tangga orang lain, sebisa mungkin kita tidak menyentuhnya, mendengarkan boleh saja, tapi terkadang kalau kita berkomentar sedikit saja, bisa-bisa komentar kita dijadikan “referensi”.

    Suatu hari bisa-bisa dibilang: “kata si X saja begini, begini, begitu, begitu” (X = kita sendiri), gawat bener…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.