Pengalaman Tinggal di Cairo (9)

Titin Rahayu

 

Di Indonesia kalo orang mati sebagian besar bakalan dimakamkan dalam tanah, tapi tidak begitu dengan di Cairo. Kuburan di Cairo baik Muslim ataupun Kristen adalah berupa sebuah bangunan dengan ruangan di dalamnya buat menaruh mayat.

Besar kecilnya bangunan itu tergantung seberapa kaya si empunya bangunan. Terkadang banguan kuburan itu juga ada yang menjaga, dan adakalanya juga mereka itu adalah orang-orang miskin yang gak mampu menyewa tempat tinggal akhirnya mereka tinggal di kuburan itu sekalian jadi penjaga makam.

Seperti yang aku bilang, mayat tidaklah dipendam tapi cuman ditaruh di atas bangku yang beralaskan pasir, setelah jadi tengkorak barulah tulang belulangnya dipendam. Bisa di bayangkan kalo pas musim panas di Cairo dan ada orang yang meninggal, bayangkan sendiri saja yaa…

Sebetulnya secara tidak sengaja kita melewati area pemakaman. Saat itu yang kita lihat adalah bangunan yang berjajar tapi tidak ada penghuninya, karena pengen tahu tempat apa itu, akhirnya kita turun dari mobil dan jalan-jalan di sekitar situ, sampai ada pak tua yang datang menghampiri kita.

Sama pak tua yang jaga makam kita diijinkan ambil foto mayat yang ada di salah satu bangunan itu, tapi suamiku menolaknya. Sebelum meninggalkan tempat itu tidak lupa kita harus memberi baksis (tips) ke pak tua penjaga makam tadi.

Jangan salah pengertian yaa, meskipun kuburannya orang Kristen ornamen-ornamen di dinding juga di tulis dalam bahasa dan huruf Arab. Orang Kristen Koptik menyebut Tuhannya juga Allah, sama seperti orang Muslim, mereka mengucap salam juga sama seperti orang Muslim mengucap salam, mereka juga bilang alhamdulilah kalo di tanya keadaannya, sama seperti orang Muslim juga. Kitab suci mereka juga di tulis dalam huruf Arab.

“ Bukra, Insya Allah “ adalah sebuah perkataan yang sangat lazim di ucapkan baik itu orang Muslim ataupun Kristen.

Kalo membuat janji sama orang Cairo dan mereka bilang itu, artinya mereka gak bakalan menepati apa yang sudah di sepakati.   Bukra, insya Allah kalo diartikan dalam bahasa kita adalah; besok, kalo Tuhan mengijinkan, tapi bisa juga di artikan kapan-kapan kalo saya ingat akan hal itu.

Sangatlah bertentangan dengan adat kita kalo kita bilang insya Allah, artinya 90 prosen “ iya “, aku datang atau apa yang sudah disepakati bakalan dilakukan, tapi tidak begitu di Cairo.

Balik ke cerita soal trip hari itu, setelah melewati area pemakaman kita lanjut perjalanan kita buat melihat danau  (Lake Qarun el fayyum) di tengah gurun pasir. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan dan lagi-lagi saat kita mau minum di sebuah tempat yang bersih, sangat susah menemukannya. Karena kita sudah sangat kehausan, dan di kejauhan terlihat papan nama sebuah restoran, akhirnya kita memutuskan buat mampir ke sana.

Saat kita memasuki restoran itu terlihat tempat duduk yang sudah tua dan berdebu, aahhh di mana-mana sama saja, kita sudah tidak terheran-heran lagi di buatnya. Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan dengan membawa menu makanan dan minuman.

Terlihat dalam daftar menu kalo mereka tidak mencantumkan daftar harga, kita berempat tertawa bebarengan, “perasaan mereka bakalan merampok kita “ kata salah satu dari teman perjalanan kita.   Akhirnya kita cuman minum teh, selanjutnya kita memutuskan nyari sebuah hotel buat makan siang di sana.

Setelah kenyang makan dan puas menikmati pemandangan yang sangat indah di belakang hotel itu, kita lanjut jalan-jalan menikmati indahnya padang pasir dan oase. Yang membuatku terheran-heran adalah di tengah-tengah padang pasir terdapat air terjun, sungguh sebuah pemandangan alam yang menakjubkan !!

Sepanjang jalan pulang adalah pemandangan padang pasir yang indah dan bersih dari sampah…, kurang lebih 50km sebelum jalan raya tiba-tiba suami bilang kalo lampu alarm warna kuning sudah menyala, artinya kita kehabisan bensin di tengah-tengah padang pasir.

Waduh !! Siapa yang mau ndorong mobil sejauh itu ?? Setelah berunding bersama kita memutuskan buat nunggu orang lewat, dan berusaha minta tolong buat mendapatkan bensin.  Hari itu kita benar-benar beruntung karena gak lama kita menunggu, di kejauhan terlihat 2 pengendara sepeda motor, kita berusaha menghentikan mereka dan berusaha minta tolong buat jadi tukang ojek kita untuk mendapatkan bensin, ternyata mereka malah menawarkan bensin dari tanki sepeda mereka buat mobil kita, tentu saja kita tidak menolaknya. Sebagai tanda terimakasih kita ingin memberikan sejumlah uang buat mereka berdua tapi mereka menolaknya !! Duuuhhhh. . kita benar-benar berterimakasih kepada mereka berdua. Kalo gak ada mereka berdua kita semua pasti bermalam di tengah-tengah padang pasir, karena sepanjang jalan kita gak ketemu seorangpun di jalanan yang sepi itu.

Note: foto-foto dalam cerita kali ini akan saya sambung di Pengalaman tinggal di Cairo 10, takut gak muat kalo semua foto saya taruh di sini.

 

Bersambung….

 

23 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (9)"

  1. Lani  1 February, 2012 at 15:37

    18 MAS DJ : aku urun ngakak ampe ke-puyuh2 moco alinea terakhir………asliiiiiiiiiiii…………..wahahahah……..

  2. Linda Cheang  31 January, 2012 at 12:32

    Tammy, Titin, : justru itulah, kenapa para pejabat RI dan anggota DPR yang (katanya) berpendidikan tinggi, ninimal S-1 alias Bachelor, masih saja berpikiran sempit, berpandangan picik.

    Maaf, ya, Titin, saya numpang mengumpat, mereka itu T * L * L

  3. Titin  31 January, 2012 at 11:59

    Pak Han, mungkin juga seperti itu, tapi saya belom pernah tahu tata cara beribadah mereka..

    Kornelya, jasad mereka di taroh di ruang bawah tanah, tidak di geletakkan begitu saja di luar ruangan

    Pak DJ, yeah begitulah Indonesia kita..

    Linda, Tammy, kita semua toh sudah tahu gimana kualitas para penggede di sana, capek saja ngomongin mereka…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.