Hamil

Lembayung – SOLO the Spirit of Java

 

Pertanyaan yang sering ditanyakan pada pasangan yang baru menikah biasanya adalah, “gimana, sudah hamil belum?”. Yang sebenarnya tidak esensial untuk ditanyakan. Toh kalau hamil juga nantinya akan kelihatan. Mengapa sama sekali tidak ada yang bertanya, “Bagaimana kehidupan berumah tangga itu?” atau “Apakah kau menikmati peranmu dan tugasmu sebagai istri/suami?” atau “Menurutmu apa perbedaan kebahagiaan ketika masih lajang dengan sudah menikah?”. Bentuk-bentuk pertanyaan yang lebih edukatif, kritis, dan supportif. Membuat yang ditanyai merasa diperhatikan, bukan dihakimi jika yang ditanya memang belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

Pernah suatu kali saya ditanya oleh ibu-ibu yang saya tidak terlalu kenal dekat (hanya sesekali ketemu di gereja) baru saja usia pernikahan saya tiga minggu, eh lhaaa kok pas ketemu tanpa ada prakata langsung menanyakan apa saya sudah hamil belum. Helllooowww……. ???

Saya membayangkan, saya saja yang baru dua bulan menikah dan belum hamil saja sudah puluhan kali diberondong pertanyaan soal kehamilan. Lalau bagaimana ya dengan pasutri yang sudah menikah setahun, dua tahun, delapan tahun, bahkan sepuluh tahun yang belum diberi berkat berupa putra dan putri? Sudah berapa juta kali pertanyaan yang mereka terima? Bagaimana ya perasaan mereka, sementara saya saja yang baru berpuluh kali saja sudah merasa risih. Sebenarnya saya sudah merasa risih sejak pertanyaan itu pertama kali ditujukan kepada saya. Sepertinya tak ada yang mempedulikan apakah kehidupan kami bahagia atau tidak. LOL.

Well, bukankah tujuan dari perkawinan itu adalah saling membahagiakan? Barulah prokreasi terletak pada nomor sesudahnya. Jika kita tidak punya anak, apakah lalu tujuan pernikahan kita tidak tercapai? Apakah kita boleh berpisah karenanya? Tentu tidak, bukan? Kalau dalam kehidupan pernikahan tidak ada saling membahagiakan, memang kemudian tujuan pernikahan menjadi tidak tercapai. Alih-alih boleh berpisah, kita harus mengupayakannya. Saling membahagiakan. Seperti kata buku panduan kursus persiapan hidup berkeluarga. Seperti kata Momo Cuyo, pastur yang memberi materi. Bukankah demikian?

Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan yang memberi. Seperti halnya Manusia boleh berbicara, tapi tak perlu saling menghakimi.

 

Solo, 19 Januari 2012

Lembayung

(ditulis karena sudah mulai gerah dengan pertanyaan soal kehamilan. Mind your own business, will you? Bukan karena tak menghargai perhatian sang penanya, hanya saja pahami juga perasaan yang ditanya….)

 

44 Comments to "Hamil"

  1. RF  10 November, 2012 at 09:58

    bagusan hamil duluan biar gak ditanya…wkwkwkwkk

  2. yuci  26 September, 2012 at 21:48

    yak aku setuju banget yg yung bilang: pertanyaan-2 pribadi yg bikin gerah yg ditanya memang harusnya tidak ditanyakan. kita orang indonesia memang banyak yg ga care dengan perasaan yg ditanya padahal katanya bangsa indonesia menjunjung tinggi sopan-santun dan tata krama.

  3. Evi Irons  13 February, 2012 at 09:53

    Naaahhh….kalau baru menikah sudah hamil, pasti ditanya sudah berapa bulan?

  4. SU  4 February, 2012 at 09:38

    Suami dan saya menikah lebih byk tahun sebelum akhirnya kami memutuskan utk punya anak. Dari tahun ke tahun pertanyaan ini dan nasehat2 nya selalu harus kami hadapi.Bahkan mama mertua bicara langsung ke mama saya utk nasehatin saya agar punya anak cepat2. Mama saya jawab bahwa yg memeutuskan ga mau punya anak itu kan suami dan saya dan kami berdua sudah dewasa dan sudah punya perhitungan sendiri jadi mama bilang untuk membiarkan kami saja.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.