Karti, Pelacur Yang Menjadi Politisi

Langit Queen

 

Namanya Karti. Dulunya ia suka nongkrong di bar, dengan  segala hingar bingar kehidupan malam, mencari pelanggan yang berkantong tebal, lalu check in selama beberapa jam di hotel berbintang. Katanya ia pelacur kelas bos besar, atau pejabat yang suka jajan, tak peduli latar belakang sang pelanggan, yang penting semua aman, ia bisa hidup dengan tentram, bisa makan dan jalan – jalan.

“Dulunya aku suka jual diri, menunggu pelanggan dari petang sampai pagi, sasaranku laki-laki berdasi, yang berkantong tebal meski dia hampir mati. Suatu hari aku bertemu dengan pak menteri, laki-laki yang baik hati, dia bilang : Karti, apakah kamu mau jadi politisi???. Ah… Ku rasa itu hanya mimpi pak menteri, aku tak punya keahlian ngeles  dan jual liur sana sini, keahilanku hanya jual diri, menjajakan tubuh yang seksi.  Tak di nyana, pak menteri menawariku kuliah di luar negeri, aku tentu bahagia sekali, ini bukan mimpi, kenyataanya sekarang aku telah menjadi politisi”.

“Pak menteri memang baik sekali, dia diangkat lagi menjadi menteri di republik ini, bersamaan denganku yang menjadi politisi, dari partai dengan lambang tiga jari. Tiga hari sekali pak menteri datang ke rumah dinasku ini, kita ngobrol sampai pagi, hingga lapar menghantui perut pak menteri, katanya : Karti mari kita sarapan roti, biar kayak di luar negeri,  roti bikinanmu enak sekali. Ah Pak menteri memang pandai sekali, selalu saja membuatku hampir mati karena lupa diri.”

Pak Menteri sudah punya anak istri, tapi ia betah ngobrol dengan Karti, wanita politisi yang ia kagumi.

“Kerjaku kini bukan jual diri, cukuplah cuap cuap sana sini, jual liur ke rakyat negeri ini, dengan 1001 macam janji. Uang yang kuhasilkan bukan untuk diriku sendiri, ternyata masuk ke partai dengan lambang tiga jari, aku hanya bisa gigit jari, ternyata ini balasan sekolahku dulu di luar negeri, juga waktu sogok sana sini  kampanye partai tiga jari.  Selain baik hati, pak menteri juga cerdik sekali”

Usia Karti 30 tahun, menjadi politisi baru 2 tahun, berkat jasa pak menteri yang baik sekali, merubah hidupnya menjadi politisi. Karti memutar otak, ia tak mau gigit jari karena gajinya lari ke partai tiga jari.

“Dari pada gigit jari, akhirnya aku belajar korupsi, nego sana sini, uang mengalir setiap hari. Aku bisa jalan-jalan ke luar negeri, tak peduli dengan rakyat yang menjerit sana sini. Meneriakiku maling berdasi.  Aku Karti, dulunya jual diri, sekarang ahli korupsi, menebalkan kantong kanan dan kiri. Jangan iri . Aku pelacur yang kini jadi politisi “

***

Di rumah dinasnya, Karti sedang menonton berita di televisi, kabar mengenai dirinya korupsi sudah tersebar sana sini. Tiba-tiba HPnya berbunyi, dari pak Kardi, seseorang yang bekerja di Kantor Urusan Korupsi, ia mengenalnya baru-baru ini,  katanya : Mbak Karti, kamu harus hati-hati, beritamu sudah tersebar sana sini, hari ini beritamu masuk televisi, kamu akan digeledah besok pagi, atau dini hari nanti, kamu tenang saja selama ada saya Kardi, siapkan saja dua dos “apel fuji”. Kartipun menyanggupi, dua dos “apel fuji” permintaan pak Kardi, untuk membeli hukum di negeri ini, sogok hakim juga polisi.

Tak lama berselang SMS berbunyi dari pak menteri, katanya : Karti ikuti saja apa kata pak Kardi. Jangan lupa jatah saya “apel fuji”.

***

Dini hari, enam orang mendatangi Karti, ini skenario pak Kardi, tidak akan ada bukti bahwa ia korupsi, hukum bisa dibeli. Satu lagi orang baik dalam hidup Karti, pelacur yang kini jadi politisi.

***

Kartipun diadili. Ini hanya basa basi. Skenario pak Kardi dan pak menteri, yang sudah ahli dalam bidang ini. Pak Kardi punya petinggi, namanya pak Suwandi, orang yang baik hati dan tidak suka korupsi. Tapi pak Kardi tidak peduli, yang penting kantongnya tebal kanan kiri. Kerjanya menyelamatkan pejabat-pejabat yang tersandung korupsi. Termasuk Karti.

Setelah hakim ketok palu  menyatakan Karti tak bersalah dan tak ada bukti, wanita itu berdiri…

Aku Karti, hari ini mau bicara dari hati ke hati, kepada rakyat seluruh negeri. Dulu aku pelacur yang suka jual diri, sekarang aku poltisi yang gemar korupsi. Aku datang dari partai tiga jari atas ajakan pak menteri. Aku makan uang rakyat negeri ini. Itupun bukan hanya aku yang menikmati. Aku sudah bagi-bagi “apel fuji” untuk membeli hukum negeri ini, katanya biar aku bebas dari kasus ini dan  sudah terbukti.  Jangan bungkam suara saya di sini, biarkan dulu saya bernyanyi, akan saya bongkar siapa-siapa yang menikmati “apel fuji”. Ada bukti, meski aku tau hukum bisa di beli, seperti hari ini. Bukti yang saya milikipun nanti jadi basi. Aku tak peduli setelah ini aku masuk bui, lebih baik aku menjual diri, dari pada jadi politisi yang jual liur sana sini, bohongi rakyat seluruh negeri , setiap hari yang terpikir hanya korupsi, dipikir – pikir kalian dan saya tak lebih baik dari kotoran babi, hobby korupsi dan sogok sana sini.”

“Hari ini akan saya bongkar satu persatu, siapa saja yang menikmati “apel fuji”, biarkan saja saya masuk bui… Lebih baik saya mati dari pada lagi lagi harus korupsi. Beliau ini orang – orang yang….

“Doorrr……..!!!!”

Hening….

Suara tembakan membuat hadirin tak lagi konsetrasi mendengar nyanyian Karti. Karti juga tak lagi berdiri. Nyanyiannya berhenti. Peluru menembusnya dari pelipis kanan hingga ke kiri. Karti diam  tak bergerak lagi. Ia mati.

***

Penikmat apel fuji tetap menjadi misteri. Demikian juga si penembak Karti. Tapi kata berita tadi pagi, penembaknya adalah suruhan pak Suwandi, atasan pak Kardi yang tidak suka korupsi. Pak Suwandi pun masuk bui, meski tidak ada bukti. Jangan heran kawan seluruh negeri, hukum bisa dibeli, yang bersalah bebas korupsi lagi, yang tak bersalah masuk bui atau mati. Ancaman dan teror akan datang kanan kiri, korupsipun makin menjadi-jadi.

Dulu sewaktu masih menjual diri, Karti suka nonton berita korupsi di televisi, dia bicara pada diri sendiri : “Aku Karti, lebih baik mati dari pada korupsi, menyengsarakan rakyat  negeri ini”.

Karti sudah mati. Korupsipun tetap menjadi jadi di negeri ini.

 

16 Comments to "Karti, Pelacur Yang Menjadi Politisi"

  1. Tammy  31 January, 2012 at 12:49

    ngikut hennie, gak tau komentar apa. soalnya aku nggak suka apel. sukanya jeruk.

  2. HennieTriana Oberst  31 January, 2012 at 12:24

    Nggak tau mau komentar apa.
    Memprihatinkan

  3. Titin  31 January, 2012 at 12:17

    Gak ada habisnya ngomongin para politisi….

  4. R. Wydha  31 January, 2012 at 11:19

    kug muter – muter yaa dari yang A minta “apel fuji” yang B juga mnta “apel fuji” yang C omong kosong gak ada bukti, yang D menembak yang E sampe Z minta apa lgi tuh trus – trus saja yaaa di negeri ini hkum bermain lidah dan duit…. sampe kapan gini trus hukum di negeri ini? sampe nggak ada yang namanya “jual dan beli” kali yaaa? hehehehehehe,,,,

  5. Linda Cheang  31 January, 2012 at 10:56

    apa daya, para politisi sudah pada menjual diri, melacurkan diri…..dan tetap saja korupsi.

  6. anoew  31 January, 2012 at 10:10

    Si Karti ini bikin blog juga gk ya? Pengen mampir ke blognya buat minta nomer hape, siappa tau bia diajak rame-rame.

  7. [email protected]  31 January, 2012 at 09:16

    Wuiiih…. mending liatin pelacur daripada politisi….

  8. Sumonggo  31 January, 2012 at 09:10

    Sebaliknya, yang banyak beredar malah politisi yang menjadi pelacur, masih mending yang jual diri, daripada yang menjual kekayaan negeri diobral pada para cukong dan makelar, lalu tampil dengan wajah suci sambil bagi-bagi nasi

  9. Handoko Widagdo  31 January, 2012 at 08:18

    Di negeri yang konon memuja demokrasi, semua orang berhak jadi politisi, termasuk mereka yang suka korupsi

  10. probo  31 January, 2012 at 08:04

    hadirrr, bacanya nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.