Tradisi Amplop di Acara Nikahan

Evi Widi

 

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada segenap hadirin yang nanti akan hadir menyampaikan atau memberikan doa restu. Kami tidak menerima bingkisan kado ataupun semacamnya,” 

———–

Dulu kala kita sudah pernah memiliki tradisi untuk memberikan semacam bingkisan kecil kepada pasangan pengantin yang telah mengundang kita. Kado ataupun bingkisan bisa macam-macam bentuknya, pigura foto, album foto, jam dinding, gelas, dll.  Entah siapa yang memulai, tradisi itu meluntur sejak banyak orang lebih menghimbau untuk memberikan “bingkisan” nya tidak berupa barang, tapi uang! haha..

Ya kalau dikembalikan lagi sih, memang ada sisi baiknya, khawatirnya ntar barangnya yang dikasih gak cocok, trus gak kepakai, mubazir dong.. dan dari “logika” sederhana itulah, akhirnya memberikan amplop berisi sejumlah uang pada acara nikahan seakan menjadi “kewajiban” bagi setiap tamu yang diundang.

Kalau dikembalikan lagi logikanya: yang diundang gue, kenapa jadi gue yang ngasih duit? :p 

Jadi sekarang itu begini logikanya:

Undangan =  kalau datang harus bawa amplop berisi duit untuk bayar makan di resepsi.

Jadi ini acara resepsi untuk menghadiri nikahan dan mendoakan penganten yang akan menempuh hidup baru atau bayar makan ceritanya?

Terkadang beberapa acara resepsi nikahan diusahakan oleh penyelenggaranya dengan modal hutang sana-sini dengan mengharap pujian kalau pestanya “wah” dan mengharap modalnya kembali dari uang amplop undangan yang datang. Ada beberapa yang bisa balik modal, ada yang tidak, bahkan sampai habis hartanya hanya untuk mewujudkan pesta pernihakan yang hanya berlangsung 1 hari. Ough.

Dalam tradisi beberapa keluarga juga ada yang mencatat;  misalnya si A, memberi amplop sekian ratus ribu. Nah, nanti kalau si A menikah akan diberikan juga amplop yang kurang lebih sama dengan yang si A beri. Ya, begitulah. Tradisi “mengembalikan” itu rupanya juga masih banyak melekat di di masyarakat kita.

Jika undangan pernikahan setiap tamu yang hadir harus membawa amplop, dampaknya kadang undangan yang sedang kantong cekak, mungkin lebih memilih tidak hadir saja.

Bahkan ada yang lebih ekstrem, entah karena ingin menghemat, di undangan tertulis “Harap membawa seorang pendamping“, juga ada yang dengan kupon makan. olalaaa…

Yang lebih lucu lagi, kadang tuan rumah secara ceroboh bicara ke keluarganya yang kebetulan menjadi panitia acara dan didengar oleh salah satu tamu, dengan bilang:

“eh, mereka yang datang, udah pada kasih angpao belum, jangan-jangan numpang makan ajah, tolong liatin yah, mereka dah kasih amplop belum..”

Kemudian saat acara selesai, marah dan ribut sendiri karena ternyata para undangan tidak memberikan uang di amplop yang cukup banyak, dan dia merasa rugi karena acara tersebut.

Jadi sebenarnya, makna mengundang sendiri itu apa?

Mengharap amplop berisi duit?

Mengharap kedatangan dan doa restu kepada penganten baru?

Menghitung untung rugi?

Apakah esensi resepsi pernikahan itu sudah sedemikian dangkalnya?

Kira-kira, kalau udangannya seperti ini:

Atau seperti ini:

Mau ngasih amplop yang isinya berapa?

Cheers,

Eviwidi

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Evi Widi…make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra kepada Evi Widi…

 

21 Comments to "Tradisi Amplop di Acara Nikahan"

  1. probo  1 February, 2012 at 12:07

    geli……memang begitulah…….
    datang harus modal….nggak datang nggak enak….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.