Bermain Layang-layang

Nyai EQ

 

Lapangan luas itu masih kosong tapi tidak lagi terlalu terik, meskipun matahari masih menyengat dan membakar angin yang bergerak tak tentu arah. Angin, ya ya angin bergelombang, angin bertiup, angin bergerak, angin berputar tak tentu arah. Dan panas.

Lapangan luas itu tidak lagi terasa terlalu panas, namun cukup menyilaukan dan gerah. Menguras tenaga, mengeringkan cadangan air mata.

Di langit yang juga luas, warnanya biru dengan bercak-bercak abu-abu kehitaman, aku bisa melihat layang-layangku terbang sendirian.

Hanya sendirian. Benangnya terurai menjuntai kaku di dekat kakiku dalam gulungan tajam oleh racun gelasan yang setiap saat bisa melukai jari dan bahkan leher.

Dan kurasa, ya kurasa sebagian darah di jariku sudah mulai menitik. Sebentar lagi, jika angin tak kunjung tenang, maka jantungku pun pasti akan terluka.

Ah, atau mungkin bahkan sudah terluka, hanya saja aku tak ingin merasakannya.

Yang kulakukan hanya berdiri diam, mendongakkan kepala, memegang erat benang gelasanku yang tajam, memandangi layang-layang yang tak menentu arahnya karena angin yang tidak mau jujur padaku. Ada kalanya tanda-tanda angin disampaikan melalui kesiur yang lembut dan ramah seperti mimpi-mimpi di pagi yang ranum, ada kalanya angin bergerak pelan dan manis, namun lebih dari itu, pada kenyataannya angin panas kuat-kuat menarik layang-layangku menjauh di keluasan langit . Memaksaku untuk terus menegang benang, merentang erat dan memasang mata beradu dengan cahaya matahari yang silau, dan menancapkan kepala kuat-kuat pada leher yang lelah dan kaku.

Kawan-kawan datang silih berganti, menyambangiku, memberikan nasehat, menawarkan payung, sebagian memberikan senyumnya, sebagian lagi mentertawakanku dan yang lainnya mencemooh atau membagikan senyum sinis yang tak bisa kutolak. Ah, biar saja, itu hak mereka untuk melakukan apapun. Apalagi mereka hanya pengunjung lapangan yang mampir sambil lalu saja.

Aku mungkin tampak bodoh atau gila. Berdiri diam di tengah keluasan lapangan, di bawah pancaran sinar matahari yang panas, diantara dentum angin yang tak pasti arahnya, merentang layang-layang yang tidak jelas terbangnya karena sudah terlanjur terbang tinggi melangit. Tenggelam dalam hiruk pikuk langit luas yang tak pernah bisa kulihat dengan jelas. Sebagian karena silau, sebagian lagi karena bercak-bercak warna abu-abu. Dan mataku berair.

Ah, ini bukan air mata. Yang itu sudah lama mengering. Ini hanya air yang keluar dari pelupuk mata karena lelah dipaksa beradu dengan matahari.

Dan tanganku mulai berdarah. Kepala dan leherku mulai sakit. Kakiku mulai kesemutan. Lalu untuk apa aku tetap bertahan berdiri di tengah lapangan luas ini. Bermain layang-layang seperti ini. Tapi jika kulepas benangnya, layang-layangku akan terbang menghilang. Ah, aku sendiri tidak tahu. Karena layang-layang itukah maka aku bertahan, atau karena keangkuhanku, atau karena aku tidak tahu harus pergi kemana dan berbuat apa jika layang-layangku hilang.

(Bali, 2012-01-30   2:33 Waktu Bali )

(http://namakubintang.blogspot.com/2010/12/si-layang-layang.html)

Layang-layang itu tidak besar tidak kecil. Layang-layang itu tidak kokoh tidak rentan. Layang-layang itu kadang berwarna-warni, kadang kosong tanpa warna. Layang- layang itu terikat kuat pada benangnya yang tajam. Tapi bukan berarti tidak bisa putus lalu terbang entah kemana.

Layang-layang itu jauh dari jangkauan tangan. Jauh dari pandangan mata. Jauh dari tanah tempatku berpijak. Aku melihat tapi tidak melihat. Hanya berupa bayang-bayang yang tidak memberikan informasi apapun karena bentuknya yang absurd diantara bercak-bercak abu-abu dan kilauan sinar matahari. Dipermainkan angin.

Layang-layang itu dibuat dari kertas yang disobek dari buku cerita tentang sebuah kehidupan. Direkatkan dengan cairan putih kental yang di sebut mani. Digambari dengan tinta merah darah. Diikat dengan benang yang dijalin dari urat-urat syaraf  yang dilumuri gelasan tajam beracun yang diramu dari jantung dan pecahan-pecahan hati.

Dulu layang-layang itu begitu indah terbangnya. Membuatku tak lelah bermain dan ingin membawa pulang bila selesai bermain. Dan semesta menemaniku bermain dengan manis.

Aku rindu saat-saat itu. Masa-masa yang tidak lagi bisa kutemui, meski dalam mimpi sekalipun.

Semesta menyembunyikannya dariku. Angin menarik benangnya kuat-kuat hingga membuatku lelah, nanar dan berdarah.

Aku lelah.

Tapi lapangan ini memaku kakiku kuat-kuat. Matahari ini membakarku hingga tak mampu lagi aku bergerak. Dan layang-layang itu, dengan benang gelasannya yang tajam, mengikatku, jantungku, syaraf-syarafku, kesadaranku.

Aku ingin berbaring. Dan membiarkan layang-layangnya terbang sendirian di keluasan langit. Dan kutunggu saja sampai dia lelah lalu jatuh tersesat diantara daun-daun entah di bagian mana dari lapangan luas ini. Mungkin dia akan robek-robek dan compang-camping. Mungkin ketika dia sudah tak mampu lagi terbang. Mungkin ketika dia dikoyak angin.

Aku masih akan menyimpannya dalam sisa-sisa pecahan jantung dan hidupku.

Aku lelah.

Tapi tak bisa berbaring di sini.

Ah…entahlah

Tuhan, selesaikan saja permainan ini. Aku sungguh lelah sekarang.

Aku ingin pulang. Membawa layang-layangku pulang. Kudekap dalam dada.

 

Tapi, ah…..

Tunggu, mungkin aku salah mengira….itu bukan layang-layang. Itu elang.

 

Kerobokan, Bali, 2012-01-30       11:14 am Bali time.

 

13 Comments to "Bermain Layang-layang"

  1. Dj.  2 February, 2012 at 04:44

    Terlalu jauh…

  2. Dj.  2 February, 2012 at 04:40

    Maaf lupa kirim photonya….
    Layang-layang di Bali…

  3. Dj.  2 February, 2012 at 04:33

    E.Q…
    Nyanyi yuuuk…!!!

    Ku ambil buluh sebatang..
    Kupoting sama panjang…
    Kuraut dan kutimbang dengan benang…
    Kujadikan layang-layang….

    Bermain…
    Berlari…
    Bermain, layang layang…
    Bermain kubawa, ketanah lapang…
    Hati gembira dan riang…..

    Gubraaaaak….!!!
    Taunya Dj, jatuh dari atas genteng……

    Salam manis dari Mainz ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.