Dunia oh Dunia, Tetangga oh Tetangga

Ida Cholisa

 

Nyonya Broto geram sekali sama tetangga-tetangganya. Lha, gak ada angin gak ada hujan koq si tetangga ngrumpiin dirinya. Sewat, nggak? Bu Broto nggak pernah “comel” ngurusin urusan orang, lha orang-orang koq ngurusin dirinya?

Bu Broto tipe perempuan yang punya prinsip 1-1. Seri. Lo baik gue baik. Lo jahat gue jahat. Nah, lho! Bukan tabiat Bu Broto berbuat sesuatu yang nyakitin ati orang. Tapi sekali orang nyakitin atinya. ia langsung bangkit dan pingin banget balas nyakitin aiti itu orang. Meski demikian ia selalu berusaha menahan emosi meledaknya. Dan syukurlah, ia juga bukan tipe perempuan pendendam.

Tapi hari ini lain lagi ceritanya. Bu Kokom yang sering datang mengunjunginya tiba-tiba mengipasi telinganya. Ia mengadu tentang omongan tetangga-tetangga Bu Broto.

“Kata mereka nih Bu, Ibu tuh gak pernah mau duduk ngrumpi di pos kayak ibu-ibu lain. Dll…dll….”

Untuk sementara Bu Broto tenang-tenang saja. Tapi begitu bu Kokom melanjutkan ceritanya, darah muda eh darah setengah tua Bu Broto langsung naik ke ubun-ubun.

“Tiap saya ke rumah Ibu, mata orang-orang di pos menatap tajam ke arah saya. Kata mereka, ada apa sih ke rumah Bu Broto? Apa sih yang diperbincangkan koq Bu Kokom bisa bertahan lama di rumahnya? Dlll…dll…”

Kali ini Bu Broto tak bisa menahan emosinya. Dikeluarkannya suara dengan keras, berharap tetangga yang sedang berkumpul di depan rumahnya mendengar suara kerasnya.

“Bu…, saya kan dah capek kerja. Pulang kerja saya manfaatkan untuk membereskan pekerjaan rumah dan pekerjaan lain. Ini saya pun masih kurang waktu. Kalau masalah ngrumpi di pos, saya memang berusaha menghindari, gak ada manfaatnya. Paling kalau ada acara tertentu yang mengharuskan saya datang, saya akan datang. Dan tiap arisan RT pun saya selalu menghadiri. Ketemu orang pun saya selalu tersenyum dan menyapa. Tapi untuk urusan “nangga” alias “ngendong” (bahasa jawa), saya “no way”. Saya nggak mau waktu terbuang hanya untuk ngrumpi yang nggak ada juntrungnya. Nambah dosa saja. Lagian saya memiliki banyak kesibukan,” kata Bu Broto.

Bu Kokom masih menceritakan kalimat-kalimat yang dilontarkan para tetangga Bu Broto. Kali ini Bu Broto terpancing.

“Bu, mereka-mereka hobi ngumpul dan ngrumpi karena gak ada pekerjaan. Maklum pengangguran. Abis masak, nyuci n beresin rumah, tentu mereka bete. Nah, ngumpul n ngrumpi ama tetangga itulah hiburan mereka. Kalau kita kan nggak, dah capek kerjaan kantor, pulang ke rumah ya buat istirahat…”

Bu Kokom manggut-manggut. Perempuan yang rajin bertandang ke rumah Bu Broto itu pun sebetulnya sama tipenya dengan tetangga Bu Broto, Suka ngelayap ke banyak tempat. Bedanya, Bu Kokom ngelayap yang punya tujuan, bukan ngelayap untuk nggosipin tetangga. Nah lho, kedatangannya kali ini koq nggosipin tetangga yang nggosipin Bu Broto? Jadi gimana, donk???

Beberapa hari kemudian seorang tetangga menyapu halaman rumahnya. Ia berjalan dan berdiri tak jauh dari rumah Bu Broto. Dengan lantang ia mengeluarkan suara, seolah sedang berbicara kepada tetangga lakinya, seorang lelaki muda yang biasa dekat dengan anak-anaknya.

“Pak Randi, nggak usah ndeketin anak kecil. Nggak usah ndeketin tetangga. Di rumah aja. Kita kan virus.”

Dada Bu Broto bergemuruh. Pagi itu ia siap berangkat kerja. Kalau saja ia tak bisa menahan emosi, ia akan keluar dan mendamprat mulut si tetangga. Tapi ia urungkan dan bersikap biasa seolah-olah tak ada apa-apa.

Bu Broto tetap menjalani hari-harinya. Tak ada waktu yang terbuang. Saat arisan RT ia datang, tapi saat ngumpul ngrumpi di pos, ia berusaha menghindar. Ia tetap baik dengan tetangga. Saat rumahnya mendapat giliran tempat arisan, ia pun menjamu para tetangganya dengan sangat baik. Ia tetap tersenyum pada mereka.

Setiap pagi Bu Broto berangkat ke kantornya. Ia menyapa para tetangganya yang mulai berdatangan membawa anak kecil sambil “ber-ngrumpi ria”.

Ah-ah-ah…., dunia oh dunia, tetangga oh tetangga….***

 

Bogor, 2011

 

13 Comments to "Dunia oh Dunia, Tetangga oh Tetangga"

  1. Linda Cheang  4 February, 2012 at 18:06

    enggak suka ngrumpi apalagi gossip. jadi enggak tau apa nikmatnya ngrumpi dan ngsossip? buat orag-orang yang enggak ada kerjaan pkus berpikir sempit kali, ya?

  2. Dj.  2 February, 2012 at 04:06

    Puji TUHAN…!!!
    Di Jerman kok nggak pernah ada ibu-ibu yang ngrumpi…
    Atau hanya istri Dj. yang tidak pernah ngrumpi…
    Lha dari guru-guru taman kanak-kanak setahun 2-3 X sama-sama kerestaurant untuk makan bersama.
    Istri Dj. juga tidak mau ikut mereka.
    Alasannya, dirumah masih banyak kerjaan…
    Dj. suka kkasihan dan Dj. minta agar dia sama-sama teman-teman kerjanya.
    malah dia jawab, setiap hari 8 jam ketemu mereka sudah lebih dari cukup…
    Hahahahahahaha….!!!
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  3. Sasayu  2 February, 2012 at 00:06

    Ibu2 kepo….gosip, makin digosok makin sipppp….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.