Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Guru ‘Migunani’ vs Guru ‘Apikan’

Wednesday, 1 February 2012

Viewed 1164 times, 1 times today | 35 Comments |

Probo Harjanti

 

Di setiap sekolah tentu ada guru yang amat disayang siswa, guru yang disegani siswa, yang ditakuti siswa, sekaligus yang tidak disukai siswa. Sebagai guru tentu amat tidak nyaman ketika berada di posisi yang tidak disukai siswa. Terlebih, siswa pun diam-diam memberi julukan yang cukup sadis kepada guru yang tidak mereka sukai. Kadang julukan itu ‘diwariskan’ kepada adik kelasnya, sehingga siswa baru yang belum tahu apa-apa pun ikut menjuluki gurunya. Ya, sebagian teman ada yang dijuluki Dora Emon, Emprit, Mbah Gedheg, Kanjeng Mami, dan Babon. Saya penasaran, julukan apa yang diberikan pada saya. Mereka (murid-murid saya) bilang tidak ada, tapi…siapa tahu?

Tetapi bukan berarti guru yang disukai bisa berbangga hati, pasalnya ada guru yang disukai bukan karena kelebihan (cara mengajarnya), melainkan karena kekurangannya, kurang tegas misalnya. Ini benar adanya, ada guru yang disukai karena membiarkan siswa berbuat semaunya, ramai di kelas, jalan-jalan tanpa alasan, bahkan naik meja. Itu bisa terjadi ketika guru kurang peduli terhadap siswa, atau karena tidak bisa menguasai kelas. Jadi, ketika ada anak nyontek tidak tahu, begitu pun kecurangan lain. Kalau sudah begini, ‘nilai’ apa yang ditanamkan guru tersebut, harus dipertanyakan ulang.

Selain itu ada pula yang disukai karena sering tidak hadir di kelas. Yang namanya anak, pasti senang kalau mendapat kebebasan. Bebas bermain, ngobrol, atau yang lainnya. Secara umum, jam pelajaran/ kuliah kosong, pasti disambut dengan sukacita oleh siswa/ mahasiswa.

Guru yang obral nilai, juga disukai, yang begitu mudah memberi nilai bagus/ bahkan amat bagus untuk anak. Tidak semua suka tentunya, anak yang benar-benar belajar pasti tidak suka, nilanya disama-ratakan dengan temn yang tidka pernah serius belajar.

Guru yang hobi menilai pun ada, memberi PR melulu, hingga siswanya merasa tidak mendapat materi apa-apa, tetapi memiliki banyak nilai kuantitatif. Guru ini terlalu sibuk memeriksa PR/ mencocokkannya sehingga lupa membekali siswanya dengan ilmu yang dikuasainya, yang mestinya menjadi bekal siswa di kelak kemudian hari.

Berbeda dengan guru yang ‘migunani’, mungkin bagi sebagian siswa justru kurang disukai, karena ‘greteh’, sering menegur siswa apabila berkata atau bertindak kurang pas. Baju tidak dimasukkan, berkata kotor, rambut gondrong, dan lain-lain menjadi perhatiannya. Yang seperti itu, jelas sangat berguna bagi anak, meski anak baru merasakan kebenaran atau manfaatnya sekian tahun ke depan.

Saat istirahat di tengah pelajaran, biasanya saya ngobrol dengan anak-anak saya, biasanya saya selalu menyisipinya dengan banyak hal yang harus mereka tahu, tetapi tidak terakomodasi dalam mata pelajaran. Misalnya kewaspadaan dalam perjalanan, bagaimana saat harus menolak ajakan teman yang tidak baik, bagaimana menyikapi teman dalam pergaulan sehari-hari, juga fesbukan dengan aman, dan lain-lain.

Idealnya, antara guru dengan siswa terjalin interaksi yang dekat, hangat, namun tetap hormat. Bukan membiarkan siswa ‘nranyak’ dengan kata ataupun tindakan. Kalau dibiarkan, nanti di tengah masyarakat yang sesungguhnya, dia bisa terkena masalah, karena tidak menghargai orang lain, atau tidak pandai membawa diri. Jadi, tetaplah menjadi guru ‘migunani’, yang nantinya akan dikenang karena kepedulian dan nasehat yang diberikan. Bukan sekedar menjadi guru ‘apikan’ yang disuka sekaligus ditertawakan.

 

Jogjakarta, 26 jan 2012

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 1 February 2012 on 07:09.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

35 Responses to “Guru ‘Migunani’ vs Guru ‘Apikan’”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 35
    probo Says:

    Alvina, hehehe….
    kayaknya umum juga sih, kadang sudah ‘tua’ pun masih menyebut dengan julukannya
    saya kasihan juga kalau julukan dikaitkan dengan fisik yang tidka bisa dipesan……
    meski kadang sang guru memang boleh jadi ‘mengundang’ untuk diberi julukan.
    saya (dan seorang teman) baru saja diajak makan-makan sama alumnus(semalam), kami bercanda-canda , merka udah pada kerja, ada yang hampir wisuda, ada pula yang baru lanjut s-2.
    saya bersykur termasuk yang diingat dan kaang sms-an, atau tukar komen di fb….

  2. 34
    Alvina VB Says:

    Bu guru Probo,
    Temen-temen saya punya julukan utk guru-guru dulu, he..he….soalnya kl ngomongin di depan orgnya gak ngeh, ha..ha…..wis murid-murid kurang ajar ya…. Kebanyakan guru-guru saya sekarang dah almarhum(ah). Sungguh sayang gak bisa ketemuan hanya utk mengucapkan terima kasih, bagaimanapun juga besar kecilnya didikan mereka ada artinya.

  3. 33
    probo Says:

    kuwi dha ngomongke apa ta ya, anoew, P3, PakDj…..nggatekke nek diwulang…..
    dha ra

    nih ada tugas, Anoew nggambar pelangi, P3 nyanyi Pelangi2, PakDj milih…mau apa

  4. 32
    anoew Says:

    Wah, pe-er dari pak Dj susah dijawab
    Coba nanti saya cari contekan dulu, kebetulan teman sekelas saya malah lagi duduk mepet ke Pelangi..

    @Pas, maho? Haha bahasanya kaskus abisss.. Sundul gan.

  5. 31
    P@sP4mPr3s Says:

    DA : jadi BU to itu seorang wanita?….. waaah…. maho dia ternyata…

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)