Perkenalan dan Ramah Tamah dengan Dubes Baru di KBRI Den Haag

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman pembaca Baltyra, cerita berikut ini berawal dari percakapan telefoon dengan jeng Maria (masih ingat khan, jeng Maria, Ratunya Isaku Iki), di hari Minggu malam, sepuluh hari lalu untuk lebih tepatnya.

Setelah berha, ha, hi, hi dan saling bertukar informasi yang terbaru tentang perkembangan di sekeliling kita, terdengar jeng Maria tiba-tiba bertanya : ”Mbak Nuk, hari Sabtu mendatang (Sabtu lalu) mau pergi ke Perkenalan dan Ramah Tamah dengan ibu Dubes baru enggak?”. Terus terang dihadapkan pada pertanyaan yang tidak terduga seperti ini saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Saat itu saya hanya mengatakan: ”Jeng, waaahhhh, saya belum tahu. Lha wong belum dapat undangan/ telefoon. Malu dong mosok datang nyelonong gitu aja…Nggak ach”.

Lalu untuk sementara waktu yang terdengar hanya keheningan yang kemudian diikuti dengan suara desahan nafas dari seberang sana. Sebentar kemudian terdengar lagi suara Jeng Maria yang tidak puas dengan jawaban saya. Dia masih berusaha untuk mengambangkan kalimat saya dengan mengatakan: ”Gini aja mbakyu, nanti kalau sudah dekat harinya kita bertelefoon ria. Mungkin kita bisa saling tukar informasi.”. Lalu kami masih melanjutkan acara obrol mengobrol.  Sebelum berakhir saya masih melanjutkan  dengan janji: ”Aduuuhh jeng lupa, rasanya saya nggak bisa datang lah karena di hari yang sama juga harus masak untuk Chantal dan beberapa temannya. Mereka akan makan di rumah.”… Tak lama kemudian percakapan telefoon terhenti.

Di hari-hari berikutnya kami semua disibukkan dengan urusan dan pekerjaan masing-masing. Sampai hari Jum’at malam minggu lalu, ketika saya baru memasuki rumah, tiba-tiba terasa ada getaran mobiel dari saku “blazer” saya. Ketika diangkat terbacalah nama diajeng Maria. Terjadi  percakapan yang ada akhirnya diambil kesepakatan bahwa kami akan pergi bersama-sama ke KBRI dan saya akan menjemput jeng Maria dan kangmas Huub keesokan harinya, Sabtu 28 /01.

Tepat jam 11.20 siang keesokan harinya, saya sudah memarkirkan mobil di depan Rumah Makan Isaku- iki. Lucunya pada saat yang bersamaan, jeng Maria dan kangmas Huub juga baru memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil saya… Kembali ke judul cerita.

Teman-teman seBaltyra mungkin sudah membaca di berbagai media yang terbit di Indonesia bahwa dalam awal tahun 2012 ini ada lebih dari 30 Dubes baru yang akan menunaikan tugasnya masing-masing di KBRI di negara-negara yang telah ditentukan oleh Pemerintah. Salah satu dari Dubes baru ini, sejak kurang lebih dua minggu lalu sudah menempati “rumah” barunya  di Belanda. Beliau adalah ibu Retno Marsudi. Sehubungan dengan kedatangannya dan penugasannya di Den Haag inilah diselenggarakan  “Perkenalan dan Ramah Tamah” dengan masyarakat Indonesia yang ada di Belanda.

Foto 1. Suasana santai tampak menanti kedatangan ibu Dubes Retno.

Yes, kalau anda membaca namanya, ibu Retno Marsudi,  dugaan anda  benar. Dubes kita di Den Haag untuk pertama kalinya dijabat oleh seorang Wanita. Seorang wanita diplomat karir dan wakil pemerintahan yang sudah menyandang segudang pengalaman dan jabatan dalam perjalanan waktu yang telah dilaluinya.

Ketika kami memasuki ruang Pertemuan KBRI masih ada 15 menit waktu luang untuk menunggu kedatangan ibu Dubes baru kita.  Kesempatan luang ini kami gunakan untuk berha ha hihi sambil berfoto ria dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu… Hi, hiii, mungkin sudah lebih dari 3 semesteran saya nggak mampir lagi ke KBRI… Kangen juga sih..

Foto 2. Jeng Maria (selendang Batak) bersama ibu-ibu ODW Den Haag.

Pembaca Baltyra, dalam alinea di atas kata “rumah” dan “perkenalan” saya tuliskan dalam tanda kutip. Tentu hal ini dapat anda mengerti karena Den Haag sesungguhnya bukanlah kota yang asing lagi bagi ibu Duta Besar Retno Marsudi. Sebetulnya mungkin lebih tepat kalau di katakan bahwa beliau sedang “pulang kampung” karena antara tahun 1997- 2001, beliau pernah bertugas sebagai pejabat Counselor Ekonomi di KBRI Den Haag . Acara pulang kampung ini nampak pula dari jalannya perkenalan dan ramah tamah yang lalu.

Foto 3. Ibu Dubes tersenyum ria melihat wajah salah seorang yang masih dikenalnya.

Terlihat bahwa beliau masih cukup banyak mengenali teman-teman lama yang hadir turut menyambut kedatangannya baik untuk menyampaikan ucapan Selamat Datang maupun untuk sekedar bertatap muka kembali. Nampak dan terasa hangatnya genggaman jabat tangan dan ciuman (di pipi yang tiga kali) ketika beliau menyalami para tamu yang hadir. Yang jelas ibu Dubes tetap terlihat seperti dahulu,  begitu “sumringah” yang dalam bahasa Indonesianya mungkin bisa diterjemahkan sebagai nampak segar, sehat dan ramah..

Foto 4. Sedang mengikuti acara doa bersama

Seperti yang berlaku pada acara Perkenalan dan Ramah Tamah, setelah acara pembukaan dan sambutan dari panitera tentunya ibu Dubes juga didaulat buntuk membawakan sepatah dua kata. Kesempatan ini telah beliau gunakan untuk mengajak masyarakat Indonesia yang ada di Den Haag secara bersama-sama  mengupayakan pembangunan dan menjadikan Indonesia agar menjadi lebih baik. Untuk  hal ini beliau dan KBRI memainkan perannya sebagai  mitra masyarakat  yang akan berjuang bersama untuk mewujudkan cita-cita  yang salah satunya terrangkum dalam peningkatan hubungan bilateral dengan Belanda.

Dalam sambutan beliau yang singkat dan padat  tercakup setidaknya dua hal penting, yakni: Hubungan bilateral Belanda dan Indonesia serta pemanfaatan sifat-sifat khusus dari ragam kemajemukan masyarakat Indonesia yang ada di Belanda.

Foto 5. Ibu Retno Marsudi, Dubes RI untuk Belanda sedang menyampaikan sambutannya.

Beliau mengingatkan bahwa memang hubungan RI-Belanda memiliki sifat khusus yang terutama dapat ditinjau dari latar belakang sejarah Indonesia yang panjang. Untuk saat ini menurut beliau hubungan yang ada bisa dikatakan sudah dalam tingkatan yang matang dan baik.

Menurut ibu Dubes, salah satu dari sifat khusus yang ada ini ditandai dengan besar dan beragamnya jumlah masyarakat Indonesia yang bermukim di Negeri Belanda. Yang kalau dilihat lebih lanjut lagi semuanya ini bisa mencerminkan kemajemukan Indonesia. Dari pantulan cerminan kemajemukan yang ada beliau mengajak kita semua untuk mensyukurinya karena dari sifat-sifat kemajemukan ini kita dapat:

-Belajar dari berbagai aspek yang ada dalam perbedaan ;

-Mewujudkan rasa empati, tenggang rasa dan hormat menghormati bagi sesamanya;

-Melaksanakan ajaran dan norma baik yang telah kita pelajari dan jalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memanfaatkan segi-segi positief dari kemajemukan yang ada, ibu Dubes mengajak kita semua untuk saling merekatkan hubungan yang ada demi kesatuan bangsa dan negara kita, Indonesia.

Foto 6, 7, 8, 9. Mulai dari atas kiri searah jarum jam, ketika acara ramah tamah berlangsung

Dalam akhir sambutan beliau telah memperkenalkan diri dengan mengatakan:

“Nama lengkap saya Retno Lestari Priansari Marsudi. Cukup panggil saya Retno saja. Dan ini suami saya Agus Marsudi. Saya biasanya memanggilnya dengan Mas Agus,” Ibu Dubes mengakhiri kata sambutannya yang langsung disambut dengan tepuk tangan dari para tamu dengan meriahnya..

Sambil bertepuk tangan tanpa dirasa terucap: “Wouuuuuwwww. Het is toch onmogelijk. (Nggak mungkin dong)”. Langsung terucap seruan itu ketika saya  mendengar akhir sambutannya. Terus terang saya jadi teringat percakapan telefoon yang lalu. Di antara percakapan itu saya menanyakan:”….. Jeng Retno, terus bagaimana saya harus menyapa panjenengan. Pakai ibu Dubes atau Jeng Retno saja?”.

Beliau mengatakan: ”Waduuuh, kalau memanggil pakai sapaan ibu Dubes, bisa jadi obrolan kita jadi tersendak di jalan dan nggak lancar lagi, mbak Nuk. Sudah toch, pakai sapaan Jeng Retno saja”. Saat itu saya setuju walaupun dalam hati saya berniat:  ”Untuk hubungan pribadi saya akan menyapa dengan jeng Retno tetapi dalam hubungan resmi saya tetap akan menyapanya dengan ibu Retno atau ibu Dubes”. Saya akan mencoba menerapkannya. Bukan apa-apa. Alasan yang dapat saya berikan tentunya ada pertaliaanya dengan systeem dan budaya yang sampai saat ini masih menjadi bagian dari kehidupan saya, walaupun saya juga menggunakan systeem dan budaya Negeri yang saya tinggali. Negeri Belanda, yang dalam kesehariannya toch juga masih terasa adanya penggunaan bentuk toto kromo.

Foto 10. Ibu Dubes sedang berbincang dengan dua “Mahasiswa”.

Pembaca Baltyra semua, yang jelas terutama untuk saya adalah fakta bahwa  selama kita tetap menjadi bagian dari systeem dan budaya Indonesia, walaupun tinggal di Luar Negeri,  rasanya tetap sukar untuk menyapa seorang Dubes hanya dengan namanya saja… Bayangkan kalau ibu Dubes dipanggil oleh salah seorang stafnya hanya dengan : ”Retno, Retno…”.. Waaahhhh, bisa-bisa Kemlu babak belur di serbu oleh departemen lainnya…  Belum lagi kalau peristiwa itu terjadi dalam acara yang resmi… Whalah, whalaaahhh, saya kira yang wajahnya berubah jadi merah dan merasa malu   ya semua yang turut mendengarkannya…

Kadang memang sukar untuk memilih  penggunaan bentuk sapaan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terutama kalau kita berhubungan dengan seseorang yang mempunyai latar belakang adat dan budaya yang sama (Indonesia) tetapi kita juga berkeinginan untuk menerapkan kebiasaan Barat (Eropa) di dalamnya. Dalam hal ini saya kira, kita tidak dapat melupakan dan mengabaikan dengan begitu saja prinsip-prinsip kehidupan yang ada dalam adat dan budaya Indonesia. Untuk hal ini yang satu ini saya pernah menuliskannya di Baltyra.  Mungkin hal-hal ini juga bisa kita kembalikan lagi  pada sambutan ibu Dubes sehubungan dengan point-point sifat khusus yang positief dari kemajemukan yang perlu kita syukuri… Yang di dalamnya tentu termasuk pemakaian bentuk sapaan dalam berkomunikasi dengan sesamanya……

Sebelum lupa pembaca Baltyra yang saya cintai, ketika kita memasuki ruang pertemuan Nusantara, alunan  merdu suara penyanyi KBRI terkenal, mbak Retno ( kebetulan namanya sama dengan nama ibu Dubes) dengan kelompok musiknya turut menyambut kedatangan tamu-tamu.

Foto 11. Mbak Retno sedang menghibur para tamu dengan berbagai lagu merdunya.

Plus minus jam 15.00 siang,  tampak ibu Dubes dan Bapak Marsudi mulai meninggalkan  ruang pertemuan yang kemudian diikuti oleh bapak  Wakil Duta Besar Umar Hadi dan ibu Nila. Sejalan dengan bergulirnya waktu  para staf KBRI Den Haag, para pemuka masyarakat, tokoh berbagai agama, dan mahasiswa pun mulai meninggalkan ruangan dengan wajah-wajah yang ceria….

Dalam acara siang itu ada hal-hal  yang juga menarik untuk diketahui oleh kita . Misalnya dari  percakapan dengan ibu Diana, Sekretaris Pribadi ibu Dubes. Tidak tampak sama sekali bahwa  ibu Diana ini  memiliki latar belakang AkPol (lihat foto 6).  Jadi untuk hal pengamanan ibu Dubes pastinya ya sudah ada lah, apalagi kalau melihat kurikulum dan pembekalan yang diberikan selama mengikuti perkuliahan di AkPol. Seperti menurut ibu Diana sendiri mungkin hanya pengalaman sosialisasi dan komunikasi di kalangan /lingkungan kerja baru yang masih harus dan terus diperkaya dan dibenahi. Walaupun kalau diperhatikan lebih lanjut dari percakapan yang ada tidak terlihat adanya kegagapan atau keraguan sedikitpun. Rupanya kerja sama antara Kemlu dengan Kepolisian di masa mendatang sudah terjalin dengan baik. Bravo.

Foto 12. Meja dengan buah-buahan dan makanan kecil; Foto 13. Para tamu sedang menyendok santapan makan siangnya.

Karena acara ini diadakan pada siang hari, tentunya sajian makan siang juga disesuaikan dan tertata rapih di atas meja makan panjang. Kali ini menu yang terlihat terdiri dari opor ayam, sayur lodeh, rempela-ati ayam, tahu, kerupuk dan sambal…

Hal menarik lainnya saya peroleh ketika para hadirin sedang menikmati santap siangnya,  dan sempat tercuri moment di salah satu sudut ruangan yang memperlihatkan betapa mesranya pasangan ibu Dubes Retno dan bapak Marsudi. Hmmm…Pasti akan banyak teman-teman yang iri melihatnya…

Foto 14. Lirikan maut yang mematikan dari ibu Dubes dan foto 15. Bisikan mesra di telinga sang pujaan hati.. Hmmm

Setelah acara resmi berlalu , para ibu dan bapak juga diperkenankan untuk berpoco ria dan menyumbangkan suaranya… Saya kebagian membawakan lagu: Als de orchiedeeën bloeien dan Rindu lukisan ( dipilihkan oleh mbak Retno; terima kasih mbak)…Dan banyak di antara para ibu dan bapak yang mengikuti tarian Poco-poco dan sebagian ada yang belajar langkah-langkah baru dalam Berpoco ria.

Ketika dalam perjalanan pulang terdengar di samping saya seseorang berbisik: ”Semoga di hari-hari mendatang akan masih banyak lagi kesempatan untuk bertatap ria dan ber ha ha hi hi”…Yang jelas Sang Matahari di siang itupun turut berbahagia dengan menyinarkan suryanya  dalam menyambut kehadiran Bapak dan ibu Dubes Retno Marsudi sekeluarga di Den Haag.  Werkt ze en tot weer ziens, Nu2k

 

82 Comments to "Perkenalan dan Ramah Tamah dengan Dubes Baru di KBRI Den Haag"

  1. nu2k  11 April, 2012 at 12:39

    Jeng Lani, lhoooo nyudrun kok nggowo konco toch… Ha, ha, haaa.. Enggak jeng, aq sedang banyak urusan dan sekarang baru mulai uthak-uthik di Laptop lagi…Piyé kabaré jeng, wis suwé nggak ono beritané… Kus, Nu2k

  2. nu2k  11 April, 2012 at 12:36

    Mbak Nada, sudah saya balas lewat e-mail.. Ayoooo, kangenan di rumahku ya… Ditunggu lhooo….Kus, kus, kus, Nu2k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.