Serba-serbi Cap Go Meh

JC – Global Citizen

 

Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek akan ditutup dengan Cap Go Meh, yang tahun ini jatuh pada hari Senin tanggal 6 Februari 2012. Kata Cap Go Meh sudah begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Ada juga yang disebut dengan Lontong Cap Go Meh yang sudah jadi trade mark salah satu nama kuliner Nusantara. Apa sebenarnya Cap Go Meh? Kenapa disebut Cap Go Meh?

Di tempat asalnya di Tiongkok, tidak dikenal sebutan Cap Go Meh, lazim disebut Yuan Xiao Jie (元宵节, baca: yuen siau cie). Ini adalah penutup dari seluruh rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek (baca: Rangkaian dan Makna Perayaan Imlek, http://baltyra.com/2011/01/26/rangkaian-dan-makna-perayaan-imlek/), yaitu hari ke 14 yaitu Cia Gwe Cap Go (zheng yue shi wu, 正月十五, baca ceng yue se u). Yuan Xiao Jie adalah bulan purnama pertama dalam penanggalan Imlek (baca: Serba-serbi Tahun Baru Imlek, http://baltyra.com/2012/01/17/serba-serbi-tahun-baru-imlek/). Dalam lafal Hokkian disebut dengan Goan Siau, yang artinya sama dengan Yuan Xiao. Yuan Xiao Jie sering juga disebut dengan Shang Yuanjie (上元节).

 

Bagaimana asal usul Yuan Xiao Jie?

Hasil dari berdiskusi dengan Mea yang sekarang sedang menempuh studi di negeri asal Cap Go Meh ini, menurutnya ada beberapa versi:

Perayaan Yuan Xiaojie ini selalu ditandai dengan pemasangan lampion, makan ronde/yuanxiao (元宵), main tebak-tebakan, ke luar rumah untuk melihat bulan, dan makan bersama seluruh anggota keluarga.

Yuan Xiaojie sudah dilaksanakan di Tiongkok sejak 2000 tahun yang lalu. Ada beberapa versi seputar sejarah Yuan Xiaojie. Yang pertama yaitu pada masa pemerintahan Raja Mingdi yang saat itu mulai tertarik dengan ajaran Buddha. Raja mendengar bahwa dalam agama Buddha setiap malam bulan purnama adalah malam penghormatan terhadap Sang Buddha. Salah satu cara untuk menghormati Sang Buddha adalah dengan memasang lampion. Maka diapun memerintahkan setiap keluarga untuk memasang lampion di rumah masing-masing setiap malam bulan purnama.

Pada masa pemerintahan Raja Hanwen, ditetapkan bahwa pemasangan lampion cukup dilakukan di malam purnama di bulan pertama saja. Karena malam purnama pertama di tahun baru ini sebagai suatu lambang keoptimisan, menyongsong hari depan yang lebih baik.

(Wikipedia)

Versi kedua, bahwa tradisi pemasangan lampion ini berasal dari Daoism, yaitu ajaran tentang ‘3 unsur utama’, yaitu malam purnama di bulan pertama merupakan bulan naik yang melambangkan unsur ketuhanan, purnama di bulan ke-7 adalah bulan pertengahan yang melambangkan unsur bumi, dan purnama di bulan ke-10 merupakan bulan turun yang mewakili unsur kemanusiaan. Oleh sebab itu di setiap purnama di 3 waktu itu harus memasang lampion. Maksudnya untuk menghormati ketiga unsur terpenting itu.

Seiring dengan perkembangan jaman, Yuan Xiaojie mengalami perubahan. Pada dinasti Han cukup menggantung lampion selama 1 hari, masuk dinasti Tang diperpanjang menjadi 3 hari, kemudian pada dinasti Song menjadi 5 hari, sampai masuk dinasti Ming pemasangan lampion dimulai sejak hari ke-8 (lunar calendar) sampai hari ke-17 (10 hari). Beragam bentuk lampion digantung di setiap sudut kota maupun rumah-rumah penduduk. Tidak hanya lampion, berbagai kegiatan lain pun diselenggarakan. Bahkan pada dinasti Qing ditambah dengan tarian Naga, Barongsai, dan kegiatan lainnya. Jadilah hari raya ini semakin meriah.

Yang paling menarik dan paling ditunggu-tunggu muda-mudi adalah acara tebak-tebakan. Setiap orang membawa satu lampion dan di lampion itu sudah ditempeli dengan kertas yang berisi teka-teki (biasanya 4 huruf). Yang wanita memberikan tebakan kepada yang pria dan sebaliknya. Kalau masing-masing bisa menebak dengan benar, bisa langsung nge-date lho. Maksudnya untuk mencari pasangan yang tingkat kepintarannya seperti yang diinginkan si pemilik teka-teki.

(Wikipedia)

Mengenai tradisi makan ronde, tak lain untuk melambangkan berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Pada Yuan Xiaojie ini semua berkumpul di rumah yang tertua untuk makan ronde yang disebut ‘tangtuan’ (汤团), ‘tang’ artinya soup, sedangkan ‘tuan’ artinya berkumpul. Jadi, Yuan Xiaojie juga sangat penting karena dengan adanya hari besar ini, meski berada jauh dari sanak keluarga, diusahakan untuk pulang, berkumpul bersama.

Dari yang saya pelajari, versi yang menurut saya paling menarik adalah versi ketiga:

Di era Han Wudi (156 BC – 87BC), jaman dinasti Han ada seorang wanita yang bernama Yuan Xiao. Dia datang dari desa yang jauh dan bekerja di istana sebagai salah seorang dayang-dayang salah satu concubines sang kaisar. Bekerja di istana tentu saja ada ketentuan-ketentuan yang harus ditaati. Salah satunya adalah tidak mungkin mudik ketika Tahun Baru Imlek datang.

Yuan Xiao sudah beberapa tahun tidak menjenguk orangtuanya dan merasa dia adalah anak yang tidak berbakti sehingga membuatnya sedih dan putus asa. Tak terasa Tahun Baru Imlek menjelang dan malam tahun baru serta hari pertama Tahun Baru Imlek sudah datang dan tetap saja si Yuan Xiao tidak bisa pulang. Masa itu filial piety atau bakti kepada orangtua merupakan salah satu nilai hidup tertinggi, salah satu wujudnya adalah pulang menjenguk orangtua ketika Tahun Baru Imlek. Saking putus asanya dia berpikir hendak mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat ke dalam sebuah sumur di belakang istana.

Umur pendek belum berpihak kepadanya. Sewaktu dia hendak melompat sambil menangis tersedu, salah seorang penasehat Sang Kaisar yang bernama Dong Fangsu lewat dan mencegahnya melompat sambil menanyakan si gadis sedang mengalami masalah apa sampai harus mengakhiri hidupnya seperti itu. Yuan Xiao menceritakan seluruhnya dan si Penasehat berjanji akan memikirkan satu cara agar si Yuan Xiao bisa bertemu dengan orangtuanya.

Si Penasehat kemudian menyamar menjadi tukang nujum di pasar di kotapraja. Dia menggelar lapak nujumnya dan mulai menggembar-gemborkan ramalannya bahwa nanti tanggal 15 bulan 1 di kotapraja akan terjadi kebakaran hebat karena Dewa Api akan turun ke bumi mengendarai kuda hitamnya. Kabar tsb menyebar dengan cepat dan sampai ke telinga Sang Kaisar. Tentu saja kaisar kuatir sekali mendengar kabar tsb. Dipanggillah Sang Penasehat untuk menanyakan pendapatnya.

Menggunakan kesempatan tsb, si Dong Fangsu pura-pura menerawang dan menghitung-hitung dan akhirnya menyarankan bahwa seluruh rakyat harus menggantungkan lampion berwarna merah di jalanan, jembatan, pintu-pintu rumah dan seluruh kota dihias dengan lampion merah pada tanggal 15. Kemudian juga menyuruh keluarga-keluarga membuat makanan terbuat dari tepung ketan yang dimakan dengan kuah manis untuk mencegah malapetaka dan menolak bala.

(Wikipedia)

Sang Kaisar mengumumkannya dan seluruh negeri dengan sukacita menyiapkan “tolak bala” yang diperintahkan kaisar. Tepat tanggal 15 bulan 1 (penanggalan Imlek), seluruh negeri merah menyala penuh lautan lampion dan suara petasan, keluarga-keluarga membuat ronde dan menyantapnya bersama keluarga. Diharapkan Dewa Api akan lewat begitu saja karena menyaksikan dari langit kota-kota seakan seperti dalam kobaran api. Kotapraja dibuka pintunya dan rakyat dari tempat-tempat yang jauh juga mendatangi kotapraja menyaksikan kemeriahan yang ada. Salah satu dari rakyat yang mendatangi kotapraja adalah orangtua si Yuan Xiao. Bertemulah mereka dan Yuan Xiao tidak jadi mengakhiri hidupnya.

Sang Kaisar sangat senang bahwa ritual tolak bala tsb berhasil, kotapraja tidak jadi terbakar, kemudian mengumumkan bahwa untuk seterusnya tanggal 15 bulan 1 seluruh negeri menyalakan lampion dan membuat ronde.

 

Cap Go Meh di Indonesia

Itu tadi merupakan beberapa versi asli asal usul tradisi perayaan hari ke 15 setelah Tahun Baru Imlek. Sebutan Cap Go Meh sendiri lebih dikenal di Indonesia daripada di tempat mana pun di dunia. Istilah ini kemudian dikenal juga di Malaysia dan juga di Singapore.

Cap Go Meh sendiri sebenarnya adalah penamaan yang salah kaprah yang mungkin sudah beratus tahun sehingga menjadi benar karena tradisi. Cap go meh artinya adalah “malam ke 15” (十五夜) yaitu tanggal 15 bulan pertama, yang disebut dalam dialek Hokkian “cia gwe cap go”. Perayaan ini merupakan puncak perayaan sekaligus penutup dari serangkaian perayaan Imlek. Di Indonesia sendiri, sejak dulu kalo orang lebih kenal dengan sebutan Cap Go Meh daripada sebutan lain walaupun dalam versi aslinya.

Perayaan Cap Go Meh di kota-kota besar di Indonesia kembali marak sejak era keterbukaan 10 tahun belakangan ini. Perayaan Cap Go Meh pernah mencapai masa keemasan yang dirayakan segenap lapisan masyarakat, suku dan agama terjadi di tahun 1950-1960. Menurut penuturan Papa saya, perayaan Cap Go Meh di Semarang selalu meriah dan merupakan saat yang dinanti-nanti semua orang. Arak-arakan dari berbagai kelenteng di daerah Pecinan, akan memenuhi jalanan, beriringan dengan kemeriahan suara mercon alias petasan, tabuhan khas atraksi barongsai dan naga, berbaur menyatu di mana-mana.

Masing-masing kota di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing dalam merayakan Cap Go Meh ini. Di Jawa terutama, dikenal dengan menyajikan hidangan khas lontong cap go meh. Sementara di Kalimantan, ada acara besar-besaran termasuk atraksi Tatung. Di Medan juga lain lagi, sembahyang di kelenteng mendominasi kegiatan di malam Cap Go Meh ini.

Jejak langkah imigran pertama dari Tiongkok diperkirakan sekitar 1400’an di Nusantara ini.  Laksamana Cheng Ho yang membawa pasukan perdamaian menurut catatan sejarah singgah ke berbagai kota di Indonesia ada sebanyak 7 kali. Referensi mulai dari yang ilmiah sampai yang fiksi sejarah Remy Sylado: Sam Po Kong, menunjukkan bahwa asimilasi pendatang dan penduduk asli sudah berjalan dengan mulus tanpa adanya paksaan, tanpa adanya “program pembauran”, tanpa adanya politik dsb.

Perayaan Imlek mulai dikenal penduduk setempat, yang jelas merasa sebagai sesuatu yang benar-benar baru, aneh, dan menyenangkan. Adaptasi berjalan dengan cepat. Selayaknya pendatang, mereka juga memperkenalkan segala jenis budaya, pengajaran, makanan, dan pengetahuan lain seiring dengan pembelajaran mereka sendiri dengan kebiasaan setempat. Termasuk rangkaian dalam setahun menurut penanggalan Imlek diperkenalkan dan disesuaikan dengan kebiasaan penduduk setempat. Mulai dari hari pertama Sincia atau Imlek, yang aslinya dari China adalah perayaan menyambut musim semi (春节), tapi karena di negeri tropis yang tidak akan pernah mengalami “winter”, nama chun jie (baca: juen cie, menyambut musim semi) tidak pernah dikenal dalam menyebut perayaan Tahun Baru Imlek. Yang dikenal adalah “Imlek” atau “Sincia”.

Demikian juga dengan penutup rangkaian perayaan tahun baru Imlek ini yang di tempat asalnya disebut dengan Yuan Xiao Jie (元宵节, baca: yuen siau cie) tidak pernah dikenal di Indonesia, karena pemaknaan yang sedikit berbeda, apalagi tidak akan pernah dikenal dengan nama Shang Yuan Jie (上元节, baca: shang yuen cie). Apalagi lidah orang lokal dan imigran yang sudah membaur mungkin sulit mengucapkannya baik dalam versi asli Yuan Xiao atau dialek Hokkian, Goan Siau. Untuk menyederhanakan sebutan, di kemudian hari kemudian disebut dengan Cap Go Meh, yang diambil dari dialek Hokkian, yang artinya “malam ke 15” alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Sederhana, gampang diingat dan mudah dipahami oleh semua orang, dibanding dengan sarat dan dalamnya makna serta cerita di belakang nama “resmi” Yuan Xiao Jie.

 

Lontong Cap Go Meh

Seperti disebutkan di atas, perayaan Cap Go Meh di Jawa dikenal dengan hidangan lontong cap go meh. Apa saja lontong cap go meh versi lengkap untuk perayaan Cap Go Meh ini?

Lontong

Menurut dugaan saya, lontong menggantikan sajian ‘resmi’ di negeri asalnya yaitu yuanxiao alias ronde. Melambangkan bulan purnama yang bulat bundar, melambangkan kebulatan dan kebersihan hati dari warna putih yang dihasilkan dari bahannya. Yang tidak jelas adalah entah kapan sajian ini menggantikan sajian ‘resmi’ aslinya.

 

Ayam Opor

Dari warnanya jelas terlihat kuning. Sebenarnya opor di Jawa terdiri dari 2 macam, opor putih dan opor kuning. Opor putih di sini lebih banyak diminati oleh kalangan emak-emak (sebutan), yaitu para wanita Tionghoa yang sudah membaur dengan kebiasaan setempat mengenakan baju kurung (bukan kebaya) dan sarung selayaknya penduduk setempat.

Sementara opor kuning, biasa dimasak oleh penduduk asli dengan menambahkan kunyit, dengan alasan ‘luwih ayu’ (lebih cantik), tidak pucat dan lebih menyehatkan badan karena kunyit sebagai penyeimbang santan. Seperti diketahui bahwa fungsi kunyit sangat baik untuk kesehatan tubuh.

Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran dan kemakmuran. Saya pribadi lebih suka opor kuning, yang memang terlihat lebih cantik dan rasanya lebih ‘sedep’.

 

Sambel Goreng Ati Ampela

Warna merah mencorong sambel goreng ati ampela dengan jelas menyiratkan warna wajib perayaan Imlek dan segala sesuatu yang dipercaya oleh orang Tionghoa, warna keberuntungan, kebaikan, dsb.

Jelas sekali bahwa makanan ini adalah lintas budaya asimilasi yang melebur total karena jelas di China tidak ada masakan seperti ini, dan mayoritas masyarakatnya tidak meyukai pedas, apalagi masakan dengan banyak rempah dengan rasa dan aroma yang tajam seperti sambel goreng. Terkecuali beberapa wilayah di China yang memang akrab dengan pedas, seperti Sichuan, dan itupun tidak menggunakan santan dan rempah seperti masakan khas ini.

 

Telor Pindang

Jelas juga bahwa telor di manapun juga melambangkan rejeki, murah rejeki, kemakmuran, harapan baik, segala sesuatu yang baik. Pemasakan telor pindang ini juga khas Indonesia, lebih spesifik lagi di Jawa, dengan daun jati atau rempah lain yang menghasilkan telor pindang nikmat yang gempi (apa ya bahasa Indonesia’nya?).

Pembuatan telor pindang dari satu tempat ke tempat lain di seluruh Indonesia berbeda-beda, masing-masing dengan versi dan bumbunya sendiri.

 

Lodeh Terong atau Labu

Ini pelengkap dari hidangan ini semua, warna putih, dengan labu atau terong sebagai sayurnya, melambangkan harapan baik juga, labu atau terong, suatu harapan dan cita-cita yang baik, warna putih yang menyiratkan lembaran baru di tahun yang baru.

Perbedaan terong dan labu hanya perbedaan daerah saja. Di Semarang, lebih suka labu atau jipang, sementara di Jakarta lebih suka terong.

 

Ayam Abing & Kelapa Sangrai

Ini sangat spesifik dan khas hanya ada di Semarang, ada juga yang menyebutnya ‘sate abing’. Abing sendiri dari bahasa Jawa yang menggambarkan warna merah yang sangat merah, warna merah dalam bahasa Jawa disebut ‘abang’, dan sangat merah disebut ‘abing’. Masakan ini kalau boleh saya sebut nama lainnya bisa juga disebut ‘opor merah’ (istilah saya sendiri). Pembuatan yang lebih rumit dari opor biasa, karena harus menggunakan kelapa parut yang disangrai sampai kering dan kecoklatan yang kemudian digiling sehingga menghasilkan cairan kental warna merah tua kecoklatan.

Cairan kental merah kecoklatan ini sebagai pengganti santan dalam memasak ‘opor merah’ ini, sementara semua bumbunya sama persis seperti bumbu opor (minus kunyit, supaya warna merah tua terjaga). Rasanya bagaimana? Hanya orang Semarang yang mungkin bisa menggambarkannya. Walaupun saya juga cukup yakin bahwa mungkin banyak di antara kita semua yang sudah pernah merasakannya. Sepengetahuan saya, ayam abing ini tidak didapati di daerah lain.

Sesuai namanya yang ‘sangat merah’ menyimbolkan makna yang sama dengan sambel goreng ati tadi di atas, warna khas perayaan Imlek, dan masakan ini merupakan kemewahan tersendiri di saat menyambut Tahun Baru Imlek. Terlebih lagi tidak banyak orang yang bisa membuat ayam abing dengan benar dan menghasilkan masakan yang sedap. Sementara nama lain ‘sate abing’ adalah warna kecoklatan yang diasosiasikan dengan bumbu sate.

 

Bubuk Dokcang

Bawang merah goreng dan bubuk dokcang (tidak ada fotonya), sebagai pelengkap dan penyedap dari hidangan khas ini. Bubuk dokcang terbuat dari kedelai yang disangrai dicampur dengan sedikit kaldu (Maggi atau merek lain) dan kemudian digiling halus sampai jadi bubuk kecoklatan.Semoga uraian singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi titik awal penelitian dan penelusuran selanjutnya mengenai asal-usul lontong cap go meh yang nikmat ini. Saking nikmatnya dan sudah menjadi salah satu kuliner khas Nusantara, sampai-sampai namanya pun melekat erat dan menjadi trade mark yang dapat disantap kapanpun, di manapun juga.

Terima kasih sudah membaca.

Happy Cap Go Meh…

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

33 Comments to "Serba-serbi Cap Go Meh"

  1. Dewi Aichi  5 February, 2012 at 09:27

    Ha ha ha….komentar untuk Lani…Jc woi…..!

  2. Dewi Aichi  5 February, 2012 at 09:26

    Ya ampunnnnnnnnnn….edyannnnnnn…panganane enak kabeh (makanannya enak semua), tobat beneran aku kemecerrrrr…! Glekkkkk…..nelen lidah.

  3. Kornelya  5 February, 2012 at 09:17

    Suhu, foto makanannya buat mulutku asem-asem, nahan liur membayangkan nikmatnya lontong Cap Gome disirami kuah opor ayam, nyam-nyam. Selamat menikmati, aku hanya boleh ngiri.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.