Erotisme: Sebuah Route dan Root di Nusantara

Djenar Lonthang Sumirang

 

Kemenangan yang sejati adalah mengalahkan diri sendiri” (Miguel de Cervantes dalam Don Quixote). Manusia-manusia mulia atau mereka yang tercerahkan mengajarkan bahwa solusi untuk berbagai derita hidup tidak berada di luar, tetapi di dalam diri kita.

 

Keberangkatan Pikiran – Rasa

Keberhasilan menemukan jati diri ditopang oleh keinginan kuat untuk mengenal gejolak-gejolak batin, mengamati gerak-geriknya, menenangkannya, dan berkuasa atasnya. Salah satu dari gejolak kejiwaan yang tersulit untuk dihadapi adalah pikiran. Banyak tradisi mistis menekankan perlunya menenangkan pikiran. Bila berhasil, pikiran yang teduh akan muncul dan membuka jalan menuju keintiman dengan Yang Ilahi. Proses inilah yang kerap digambarkan sebagai rute tubuh-pikiran-jiwa-roh (body-mind-soul-spirit).

Saat ini ada gejolak pikiran yang cukup ramai dibicarakan, yaitu pikiran erotis (erotic mind). Sigmund Freud, teoretikus besar tentang dorongan seksual manusia, mengakui dominasi hasrat seksual dalam perilaku manusia. Erotisme adalah kemampuan manusia untuk mengalami dan menyadari hasrat dan dorongan seksual, orgasme dan hal-hal lain yang menyenangkan dari seks. Aktivitas seksual, misalnya berhubungan seks, ditujukan untuk mencari erotisme. Orang menikah, berpacaran, pergi ke pelacuran dan semacamnya, didorong oleh erotisme. Lalu misalnya Anda tertarik dengan laki-laki atau dengan perempuan adalah karena adanya erotisme itu. Mereka, yang Anda sukai, menimbulkan erotisme bagi Anda.

Sering kali, hasrat ini hadir dalam simbol yang sekilas tidak berkaitan dengan organ-organ seksual. Dalam mimpi, pohon atau pisau bisa berarti penis; goa atau kapal bisa berarti vagina. Anehnya lagi, gambar-gambar seksual yang eksplisit kadang-kadang tidak berkaitan hasrat erotis. Di Candi Sukuh di Karanganyar kita bisa melihat lingga (penis) dan yoni (vagina) sebagai artefak terpajang. Begitu erotiskah pikiran leluhur kita sehingga memuja penis dan vagina?

Tentu saja, TIDAK. Lingga dan yoni adalah simbol pengalaman religius tentang penyatuan manusia dan Yang Ilahi yang berujung pada pengalaman pencerahan atau transformasi diri. Ini mirip dengan apa yang dalam bahasa Jawa diistilahkan curiga manjing warangka, warangka manjing curiga (keris menyatu dengan sarungnya; sarung menyatu dengan keris).

Relief erotis yang ada di Candi Sukuh akan lebih menarik jika dibandingkan dengan keberadaan Kuil Khajuraho di India. Di tembok kuil Khujaraho tersebut dipenuhi dengan gambaran seks yang eksplisit. Sangat jelas ditampilkan setiap posisi seks yang dapat dibayangkan yaitu pertunjukan seks. Meski diukir ribuan tahun yang lalu, ukiran-ukiran ini masih memiliki kekuatan untuk membuat malu dan membangkitkan gairah. Dunia arkeologi hingga saat ini belum benar-benar mendapat jawaban yang memuaskan mengenai asal-usul pembuatan kuil-kuil ini.

Proses pemaknaan serupa perlu diterapkan bagi karya seni yang merupakan jalur menetaskan simbol-simbol ketidaksadaran. Salah satu sarat penting mencapai pribadi sehat adalah membuat sadar yang tidak disadari. Mungkin ini alasan Plato untuk mengatakan bahwa seni adalah sarana memurnikan diri.

 

Route dan Root Erotisme di Nusantara

Nusantara di masa lampau, negeri yang melimpah dengan simbol-simbol seks. Kita punya Candi Sukuh, dan relief Karmawibhangga di Borobudur, yang kaya ilustrasi seksual. Ada Tadulako dari Sulawesi Tengah. Ada Brayut, patung batu kapur dari masa Kerajaan Majapahit abad ke-13 sampai ke-16. Begitu pula Hampatong Shaman, patung batu dari abad ke-18 buatan masyarakat Dayak Basap di Kalimantan Timur. Juga patung Ancestor Figure dari Papua, buatan awal abad ke-19.

Patung Shaman tampil dalam atmosfer Dayak yang kental: bermata bulat besar, rahang kekar, lengan tangan kecil, dan kaki panjang melingkar-lingkar. Dalam tradisi Dayak, patung berfungsi sebagai penjaga rumah dari gangguan roh jahat. Tak aneh jika patung yang diukir di jendela rumah ini kerap berwajah mistis. Aura serupa bisa kita temukan pada patung masyarakat Papua—meski “bahasa” yang dipakai pematung Papua lebih “bebas.” Sebagian kelamin laki-laki digambarkan panjang melilit kaki dan yang lain tegak menantang langit, seperti dongkrak mengangkat beban. Tak usah heran jika sebagian besar patung mereka tampil telanjang karena pemahaman yang berbeda dalam memaknai busana.

Selanjutnya, pemahaman anatomi tubuh tak hanya melahirkan karya bercorak realis, sama dengan obyek aslinya. Para seniman patung melakukan improvisasi bentuk. Misalnya Lingga dari Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Patung batu kapur cokelat muda kemerahan ini berbentuk penis sebesar betis orang dewasa. Tingginya kira-kira setengah meter. Ia tegak seperti Monas yang menjulang di tengah Jakarta. Seharusnya lingga memiliki dua testis. Tapi entah kenapa patung dari abad ke-19 ini malah memiliki empat testis. Candi yang didirikan masyarakat Hindu Tantrayana pada 1437 di Karanganyar, Jawa Tengah, ini memang dikenal sebagai candi paling erotis. Beberapa reliefnya berbentuk alat kelamin laki-laki dan perempuan yang hampir bersentuhan. Sebagian relief Candi Sukuh menggambarkan legenda Dewi Uma yang dikutuk suaminya, Batara Guru, karena berselingkuh dengan seorang penggembala.

Relief tentang selingkuh, erotisme, dan ketidaksenonohan juga digambarkan di Candi Borobudur itu dikenal dengan cerita Karmawibhangga di lantai dasar candi (kamadhatu). Ukiran pada dinding di sepanjang lorong merupakan cerita bergambar tentang kehidupan erotis Gandhawa dan Sidha. Sebagian relief itu pernah ditutup, yang menimbulkan kontroversi.

Erotisme lain pun muncul dalam bentuk karya sastra. Sastra Jawa kaya dengan ragam pengucapan yang bernada erotis dan mistikal. Nada erotis tidak hanya dijumpai dalam karya yang termasuk jenis roman atau kisah petualangan bercampur percintaan seperti siklus Cerita Panji, Damarwulan, Angling Darma, Cerita Syekh Mardan, dan lain-lain. Tetapi juga dalam wiracarita (epos) dan alegori mistik. Salah satu karya Jawa Kuna yang dipandang masterpiece ialah kakawin Arjunawiwaha (Pernikahan Arjuna) karangan Mpu Kanwa, pujangga Kediri yang hidup pada zaman pemerintahan Erlangga dalam abad ke-11 M. Dalam bait-bait tersebut tampak kemahiran sang penyair membuat sabdalamkara atau permainan kata untuk melukiskan keadaan ketika para bidadari bersiap turun ke gunung Indrakila menemui Arjuna dan juga pada saat mereka sampai di pertapaan Arjuna. Yang lebih penting lagi ialah penggunaan arthalamkara, permainan arti, yang selain bertujuan menyajikan ungkapan yang indah ialah untuk membangkitkan apa yang disebut rasa atau pengalaman estetik tertentu kepada pembacanya.

Perkawinan Arjuna dengan tujuh bidadari, secara simbolik melukiskan tercapainya persatuan mistik. Tujuh bidadari adalah lambang dari unsur sakti (kekuatan) yang dalam Tantrayana digambarkan sebagai perempuan dengan lambang lahirnya yoni. Tanpa bantuan sakti tertentu, Arjuna tidak akan memperoleh kekuatan berjuang dan menjalankan darmanya selaku kesatria. Dalam kaitan ini pelukisan rasa cinta diikuti oleh rasa-rasa lain seperti karuna (sedih), hasya (riang), dan vismaya (takjub) yang secara silih berganti dan jalin menjalin membentuk kesatuan yang semuanya bersumber dari srangararasa. Keenam rasa itu ialah hasya (riang), karuna (sedih), raudra (berang), wira (berani), bhayanaka (dahsyat, ngeri) dan vismaya (takjub, kagum).

Hanya satu rasa yang belum dinikmati sebagai hadiah bagi keperwiraan dan kedisiplinan melaksanakan yoga, yaitu srangara (cinta berahi). Yang terakhir ini baru diperolehnya setelah dia memperoleh kemenangan atas Niwatakawaca. Kelak apabila ketujuh rasa (atau kedelapan dengan bhibatsarasa telah dialami), maka rasa tertinggi santarasa dialaminya pula. Dalam melukiskan adegan yang berkaitan dengan srngararasa, Mpu Kanwa cukup realistis dan piawai. Kesan erotis dari pelukisannya itu tampak misalnya dalam melukiskan adegan pertemuan Arjuna dan Supraba di kamar pengantin. Rasa dalam jiwa manusia disebut sthayi-bhava (keadaan jiwa yang langgeng) dan dalam seni disebut rasa. Walaupun masing- masing rasa itu seolah-olah terpisah, namun saling mempengaruhi dan jalin menjalin satu dengan yang lain. Di antara rasa yang paling sering disajikan karya sastra ialah rasa ’wira’ (patritorisme), ’srngara’ (cinta berahi) dan ’santa’ (damai).

Selanjutnya, erotisme pun menyentuh ranah seni gerak atau tari. Di sekitar Jawa Tengah berkembang seni tayuban, ronggeng, ada pula gerak-gerak tari Karonsih. Kemudian di Jawa Barat muncul jaipongan, seni tayuban di daerah Kacirebon, Kasumedangan, dan Cianjuran. Di Kalimatan ada pula Bagandut, sebuah tari tradisional berpasang-pasangan menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatra.

 

Melihat Diri – Menguasai Diri

Menyitir kata Ayatrohaedi, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, “pemahaman anatomi tubuh dan fantasi seks nenek moyang kita memang luar biasa.” Seksualitas dan Erotisme telah menjadi satu jejak sejarah bangsa ini. Berbagai gambaran mengenai seksualitas dan erotisme yang tergambar di atas telah memberi bukti bahwa seks dan erotisme itu merasuk dalam kehidupan dengan semangat spiritualitas dan tidak diintervensi oleh kepentingan politis, apalagi semacam Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi. Undang-undang ini mungkin ingin jadi dasar untuk meruwat manusia-manusia yang dikriteriakan sebagai pelanggar dengan definisi-definisi seks berdasarkan tendensi dan kepentingan tertentu. Namun, tampaknya ruwatan itu mestinya lebih cocok dilakukan untuk orang-orang dalam parlemen atau para pejabat yang merusak moral masyarakat dengan perilakunya.

 

**********************************

Djenar Lonthang Sumirang (pegiat Komunitas Salunding)

 

 

 

13 Comments to "Erotisme: Sebuah Route dan Root di Nusantara"

  1. J C  5 February, 2012 at 06:12

    Uediaaaannn…tulisannya muanteeeeeeeepppp puoooolllll…

    hasya (riang), karuna (sedih), raudra (berang), wira (berani), bhayanaka (dahsyat, ngeri) dan vismaya (takjub, kagum).

    Hanya satu rasa yang belum dinikmati sebagai hadiah bagi keperwiraan dan kedisiplinan melaksanakan yoga, yaitu srangara (cinta berahi). Yang terakhir ini baru diperolehnya setelah dia memperoleh kemenangan atas Niwatakawaca. Kelak apabila ketujuh rasa (atau kedelapan dengan bhibatsarasa telah dialami), maka rasa tertinggi santarasa dialaminya pula.

    Sudah lamaaaaaaa sekali membaca ini, sampai lupa semua, dan baru diingatkan setelah sekian belas tahun berselang…

    Aku rasa di tiap kebudayaan pasti ada bagian erotisme dengan caranya sendiri. Di Jawa dikenal karya-karya yang disebut DLS di artikel ini, di India dikenal Kamasutra, di China dikenal Dream of the Red Chamber (Hong Lou Meng) dan The Plum in the Golden Vase (Jin Ping Mei). Beberapa karya Pearl S. Buck juga mengandung erotisme ciamik…

  2. nu2k  5 February, 2012 at 01:07

    Dimas Djenar, wouwwwww.. Alangkah indah, apik dan rincinya tulisan seksualitas dan erotisme yang anda tayangkan.. Memang dua hal ini bukan sesuatu yang baru lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam pengungkapan dan tayangan tentang seksualitas dan erotisme di masa-masa lalu memang tidak pernah dicampuri dengan masalah politik dan segala macam tetek bengeknya. Yang ada adalah tayangan “akibat” dan “hukuman” yang akan dialami oleh para pelaku yang menyalahgunakannya. Seperti yang ada di sementara lukisan plafond ruang Pengadilan (jaman dulu) yang ada di Puri Taman Gili di Klungkung (sayang waktu kunjungan kami terakhir kali dua tahun lalu, tampak banyak lukisan yang jamuran dan terkikis karena lembabnya cuaca yang ada). Entah kapan Pemerintah bisa dan mau menghargai hasil karya para leluhur kita..
    Dimas Djenar dan pembaca Baltyra dear, masih jelas dalam ingatan saya kapan dan bagaimana ibu dan eyang saya mulai mengajarkan hal tentang seksualitas dan erotisme pada saya dan adik-adik wanita di rumah. Mereka tidak pernah mengajarkannya secara langsung. Hampir semuanya tersirat dalam petuah dan ceritera setelah seorang gadis mendapatkan “menstruasinya” untuk pertama kali dan mengalami perkembangan perubahan lahiriahnya. Misalnya dengan semakin sempurnanya bentuk tubuh seorang gadis, bukan berarti lalu boleh mengeksplotasikannya tetapi justru harus berhati-hati dalam berpakaian dan bertingkah laku. Lalu masih ditambahkan bahwa hal mendapatkan menstruasi juga merupakan awal mulainya seorang gadis untuk mulai memberikan perhatiannya pada kegiatan yang berhubungan dengan kewajiban spiritualnya… Dulu kami diwajibkan paling tidak untuk berpuasa “mutih / ngadem” pada hari kelahiran masing-masing… Hal ini perlu untuk mendapatkan ketenangan dan kekuatan baik lahiriah maupun batiniah….
    Memang sering saya terbingung-bingung membaca apa yang tersurat dan tersirat dalam media cetak/ elektronik yang ada di Indonesia… Sampai ada polisi yang mengurusi panjang/pendeknya rok yang dikenakan seorang wanita atau dilarangnya seorang wanita memakai celana pendek di ruang umum… Achhhhh, achhhh… Bukannya itu hanya :” De aantasting van de vrijheid van de vrouwen”. SERANGAN pada KEBEBASAN kaum WANITA.. TIDAKkah ada masalah lain yang LEBIH PENTING SERANGAN pada KEBEBASAN KAUM WANITA….
    Salam hangat dari yang sedang kedinginan…. Nu2k

  3. DLS  4 February, 2012 at 19:55

    nah..anomali2 mengenai pengetahuan erotis itu yang kini menjamur. Bahwa, Suci, Subur, Seks, Erotique semua menjadi komoditi tabu, dan celakanya regulasi tentang Tabu dan Saru menjadi pemaksaan… Salam Budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.